
Setelah hampir 5 jam membaur dengan warga, aku kembali bersama Aji ke rumahnya. Kulihat pak Darmawan, sedang duduk santai di teras rumah sambil minum kopi di temani istrinya yang terlihat cerewet. Entah sejak kapan pak Darmawan pulang, aku tidak melihatnya pulang karena terlalu asik mencari informasi dari warga. Satu jam setelah kami berangkat ke lapangan, pak Darmawan juga menyusul ke lapangan, tapi beliau mencari informasi dari para tukang dan karyawan yang ada di dalam bangunan kerangka.
Aku merasa pegal di bagian kaki dan leher, karena kebanyakan berdiri dan menunduk saat di lapangan. Kulihat Aji juga terlihat letih, mungkin dia merasakan kesedihan para warga sehingga membuatnya hanya diam sekembalinya dari sana. Sepanjang jalan dia hanya beberapa patah kata bicara, selebihnya dia kebanyakan menghela napas.
"Assalamualaikum..." kata ami berbarengan
"Wa'aikumsalam... gima jalan-jalannya seru?" Sahut keduanya
"Lumayan pak! bu!" Sahutku dan duduk di teras selunjuran karena kaki terasa kram
"Kok perusahaan ayah, kedengarannya sangat kejam dengan warga?" Tanya Aji setelah ikut duduk selunjuran
"Hmmm... namanya kekuasaan pastinya ada yang menyalahgunakan! Tapi tidak semua karyawan perusahaan seperti apa yang kamu pikirkan!" Kata Pak kepala memberikan penjelasan singkat dan padat
"Bener juga kata ayah!" Kata Aji manggut-manggut
"Nak Ruka! Kalo capek istirahat aja dulu di dalam... lagian udah senja juga... nggak baik kalo pulang ke jakarta sekarang..." bujuk bu Darmawan padaku
"Eh... Iya bu..." aku tidak bisa menolak karena beliau sendiri yang menuntunku ke kamar untuk istirahat
"Kalo ada perlu apa-apa tanyakan saja sama ibu, nggak usah sungkan!" Kata beliau manis sekali
"Iya bu! Maaf kalo kedatangan Ruka kemari membuat ibu dan keluarga tidak nyaman!" Kataku dengan senyum menatap beliau
"Kedatangan kamu kesini sangat membuat ibu bahagia... jadi tolong kamu jangan menganggap diri kamu mengganggu disini, ngerti!" Kata beliau sambil manoel hidungku
__ADS_1
"Akan Ruka usahakan bu!" Kata ku masih dengan senyum
Setelah berbincang sebentar dengan bu Darmawan, beliau memberi ruang yang sangat bebas di rumah ini. Aku memutuskan untuk membersihkan badan dulu sebelum keluar menyapa keluarga pak Darmawan yang lainnya, kalau aku keluar sekarang takutnya malah membuat aroma yang tidak sedap nantinya. Untungnya sebelum berangkat kerja aku membawa baju ganti, kalau-kalau nanti terpakai, eh taunya instingku memang benar.
Setelah selesai mandi dan memakai baju, bu Darmawan masuk ke kamar mengajakku untuk sholat bareng. Tapi sayangnya hari ini aku masih berhalangan sehingga tidak bisa ikut sholat berjamaah dengan yang lain. Beliau tersenyum ramah, menatapku yang merasa masa haid ini datang di waktu yang tidak tepat. Setelah pintu di tutup beliau, aku merebahkan tubuh lelahku di kasur, sambil menikmati lantunan ayat suci yang di bacakan Aji di mushola kecil di rumah ini, yang tepat bersebelahan dengan kamar yang ku tempati sekarang ini.
Tiba-tiba pintu kamarku dibuka oleh seorang anak kecil berusia sekitar 4 tahunan yang berwajah lucu imut, manis dan tembam. Ia berjalan menghampiriku dengan malu-malu, saat aku memintanya duduk di sampingku, setelah bebera saat hanya diam mematung di pintu.
"Kamu siapa namanya?" Tanyaku saat anak ini telah duduk di sampingku
"Zain!" Katanya lirih karena malu
"Jadi namanya Zain! Kok imut banget gini sih!" Gemesku mencubit pipinya
"..." Zain hanya menatapku datar
"..." dia menatapku penuh ketertarikan
"Zain mau!" Kataku yang segera membuatnya mengangguk
"Zain mau!!" Katanya semangat
Aku memberikan permen coklat yang biasanya ku makan untuk membantu mengurangi kejenuhan saat bekerja. Setelah memakan coklat pemberian, Dian mulai banyak bicara, mengatakan segalanya yang ingin dia katakan. Dia juga menceritakan teman-temannya di taman bermain, dalam waktu sekejap Zain malah merasa akrab denganku yang baru di tamunya beberapa menit yang lalu. Kudengar di luar ada yang mencari keberadaan anak ini, sehingga membuatku bangkit berdiri serta mengajaknya keluar kamar.
Saat membuka pintu, kulihat seorang wanita cukup ganti, sedang tersenyum ramah kepadaku dan segera menatap Zain yang memegang tanganku. Di tangan wanita itu terlihat ada beberapa varian coklat, yang sepertinya untuk Zain.
__ADS_1
"Kamu karyawan yang di ajak ayah survei lapangan itu ya?" Tanya wanita itu ramah sambil menyerahkan coklat di tangannya pada Zain
"Iya mbak! Maaf kalo saya mengganggu disini!" Kata ku ramah sambil membukakan bungkus coklat atas permintaan Zain
"Wah... nggak biasanya loh Zain bisa akrab sama orang, apalagi kalian kan baru ketemu hari ini!!" Kata wanita itu mengelus kepala Zain
"Eh... yang bener mbak! Saya liat Dian anaknya lumayan ramah kok!" Kataku menatap Dian dan wanita di depanku bergantian
"Ramah? Nggak salah tuh... Zain ini anaknya datar banget tau... bahkan saat bersama nenek kakeknya aja dia cuma diam... mungkin kayak ayahnya kali ya?" Kata wanita itu mengatakan kebenaran sifat anaknya
"Masa sih mbak! Barusan di kamar malah Zain banyak cerita sama saya!!" Kata ku sedikit meragukan sifat Zain menurut sang ibu
"Wah... kok bisa! Zain ini anaknya sulit banget di ajak berfungsi loh! Kalo nggak percaya tanya aja sama ibu... ya kan bu?" Kata ibunya Zain pada bu Darmawan
"Iya! Tapi kelihatannya kalian kayak udah akrab aja!" Kata beliau mengelus kepala Zain namun di tepi oleh Zain
"Nah kamu liat kan!" Kata ibu Zain
"Eh... kok Zain gitu sama neneknya sih! Lain kali jangan gitu lagi ya!" Kataku kaget dan repleks menasihati Zain yang di balas nya dengan anggukan kepala
"Nggak salah kalo ibu mau kamu jadi mantu! Anak kecil yang sulit di tangani kayak Zain aja bisa nurut kamu bilangin!" Kata beliau membuatku merasa malu
Percakapan terus berlanjut hingga makan malam, aku merasa seakan-akan melihat keluarga harmosnis yang selama ini kuimpikan. Keluarga ini benar-benar sangat ramah padaku, bahkan pak Darmawan yang bisanya ramah padaku, kali ini malah lebih ramah lagi padaku. Aku merasa canggung kembali saat menyadari jika bu Darmawan tidak main-main soal menginginkan ku sebagai menantunya.
Untuk menghilangkan kecanggungan yang kurasakan aku membantu beliau membereskan dapur sampai dengan mencuci piring. Tapi tanpa sadar aku malah mengerjakannya secara berlebihan, sampai-sampai peralatan dapur yang bagiku tidak tersusun sesuai urutan, malah kuperbauki tata letaknya. Hingga tuan rumah terkaget-kaget melihat dapurnya yang tertata rapi, seperti dapur yang belum pernah di sentuh.
__ADS_1
Setelah menyadari perbuatanku, aku malah semakin merasa tidak enak dengan keluarga ini, kenapa juga aku harus melakukan hal konyol seperti ini. Seharusnya tadi aku diam saja di tempat, tanpa harus melakukan apa-apa, agar rasa konyol ini nggak hadir di dalam pikiranku. Aku merasa malah menjadi terlihat seperti menunjukkan kemampuan kepada calon mertua saja, apa yang kulakukan kali ini benar-benar konyol.