
Gara-gara tadi malam pergi menemani para anak kecil itu jalan-jalan, sekarang aku malah telat bangun. Jadwal pesawat terbang tinggal 5 jam dari sekarang, sedangkan perjalanan ke bandara aja bisa memakan waktu empat jam lebih, kalu ada macet. Tapi ku harap hari ini tidak terjebak macet, biar cepat sampai di bandara untuk check in. Setelah aku selesai mandi, segera ku tarik kak Gaffar untuk segera mengantarku ke bandara, bahkan sarapanku kagak sempat.
Kali ini aku di antar banyak orang ke bandara, termasuk abah dan mama yang semalam bersikeras ingin ikut mengantarku ke bandara sekalian jalan-jalan katanya. Di dalam mobil terasa sangat sesak karena terlalu banyak orang, seharusnya tadi aku menyarankan untuk membawa tiga mobil aja, biar nggak sesak kayak gini. Walaupun sesak dan berisik aku masih bisa tidur selama di perjalanan, walaupun sedikit kurang nyaman tidurnya tapi tak apalah, yang penting bisa tidur. Sebenarnya mama dan abah mengajakku bicara, tapi maaf aku nggak tau jika mereka mengajakku bicara, kukira mereka sedang bicara dengan kak Gaffar yang fokus mengemudi.
Setelah perjalanan ngebut dari kandangan ke bandara Syamsudin Noor yang memakan waktu kurang dari 4 jam lamanya. Syukurlah nggak ada macet hari ini, jika terjebak macet sedikit saja mungkin aku akan tertinggal pesawat yang jadwalnya di majukan.
"Kalo ada apa-apa hubungi ke rumah! Jangan diam aja!" Kata abah saat aku memeluk beliau agak lama
"Iya abah ku sayang! Kalo ingat... hehehe!" Kataku melepaskan pelukan beliau yang terasa hangat
"Makan yang bener! Usahain jajan makan mie instan sering-sering..." kata mama lembut sambil mengelus kepalaku yang ada dalam jelakannya yang hangat
"Iya mah!" Sahutku masih di dalam pelukan beliau yang tidak ingin melepaskan ku pergi
Sebelum aku naik pesawat, tadi sempat menyelipkan uang di tas mama saat kami berpelukan. Biasanya beliau selalu minta uang kepadaku setiap kali pulang, walaupun aku tahu beliau hanya bercanda, tapi entah kenapa setelah mendapatkan kabar tentang kesempatan mereka berangkat ke tanah suci. Mama kagak ngungkit candaanya minta uang, membuatku sedikit resah dan sangat gelisah karena hal itu.
Di dalam pesawat aku kembali melanjutkan tidur, karena tidak ada yang ingin dipikirkan saat ini. Aku juga malas menyapa orang yang satu tempat denganku, biarkan aku tidur dengan nyenyak dan semoga pesawat cepat sampai di bandara Seokarno-Hatta.
***
Setelah pesawat mendarat dengan aman dan aku juga turun dengan perasaan sedikit lelah karena banyak tidur. Lisa menyambut kedatanganku, yang sebenarnya tidak ku tau jika dia akan menjemputku, anehnya disini, kenapa Aji juga ikut menjemputku. Eh... otakku mikir nya jika di antara Lisa dan Aji lagi ada apa-apa nya nih? Tapi ternyata tebakanku salah total.
"Gimana? Udah merasa tenang!" Tanya Lisa mengarah pada masalah Ain
"Ya gitu lah..." kataku segera masuk ke mobil
"Masih belum tenang ya pikirannya! Gimana kalo kita liburan ke pantai?" Ajak Aji
__ADS_1
"Gimana ya a! Kan harus kembali kerja!" Kataku hendak nolak tapi nggak tau harus bilang apa
"Kan bisa besok lusa..." kata Aji tersenyum hangat ke arahku
"Nanti di pikirin lagi deh a!" Kataku rada bingung
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Lisa terus mengajakku ngobrol dan tidak membiarkanku sedikitpun melamun. Beberapa kali juga aku terkejut dengan perkataan Aji yang entah kenapa terasa sebagai kalimat rayuan untukku. Katanya dia siap menggantikan Ain memenuhi janjinya kepadaku, sedangkan janji Ain kepadaku cuma ingin menikah denganku. Aji seakan-akan memberi kode jika dia hendak menempati hatiku yang sedang kosong, tapi emang selama ini kosong terus sih.
Dan Lisa malah menyemangati Aji untuk mengejarki demimendapatkan hatiku yang lagi nggak ada pemiliknya. Jujur, walaupun Aji lulusan dari pesantren Kairo aku tidak menyukai sifat nya yang terlalu terang-terangan sedang mendekatiku. Jika dia mendekati Lisa mungkin aku hanya akan acuh dengan sikapnya yang seperti itu, tapi ini arah harapannya selalu mengarah padaku. Aku takut dengan jenis cowok yang seperti Aji ini, karena aku merasa bakal hidup nggak tenang kalo hidup sama dia.
Wajahnya yang tampan putih berseri serta sifatnya yang terbuka dan ramah kepada siapapun inilah yang membuat ku sedikit khawatir. Di tambah dengan ilmu agamanya yang lebih banyak dari ku, membuatku semakin minder untuk berharap jika dia akan tulus mencintaiku. Gimana kalo salah satu sifatku yang nantinya dia tau, membuat dirinya menyesal telah memilihku sebagai dambaan hati, kan pilu di aku.
"Bisa mampir bentar nggak di supermarket!" Kataku yang tersadar jika belum memakan apapun sejak pagi
"Apa sih yang nggak bisa buat kamu!" Katanya membuatku malu
"Ahhkkmmm... akkhhhmmm... kasian yang janda!" Kata Lisa membuatku semakin malu
"Aku temenin ya!" Kata Aji membukakan pintu untukku keluar setelah mobil berhenti di depan supermarket
"Eh..."
"Sip! Gue sama anak gue biar nunggu di mobil aja!" Kata Lisa mendorongku agar cepat keluar dari mobil
"Apaan sih..." kesalku pada Lisa yang menggodaku dengan kedepan matanya
"Aji! Tolong jagain ya! Jangan sampai dia hilang di tumpukan makanan!" Kata Lisa juga menggoda Aji yang sejak tadi senyam-senyum
__ADS_1
"..." Aji memberi kode dengan tangannya yang mengatakan 'ok
Setelah masuk ke dalam, aku segera menuju rak makanan ringan yang berjejer rapi membuat perutku semakin terasa perih. Tanpa memikirkan jenis dan siapa yang memproduksi makanannya, aku meraih apa saja yang menarik perhatianku. Sampai keranjang belanjaan penuh oleh makanan ringan, barulah aku menuju kasir untuk membayar. Saat di depan kasir, Aji bersikeras ingin membayar semua makanan yang ku beli dan bersikeras pula aku menolaknya.
"Jadi... saya harus..."
"Gesek kartu saya aja mbak!" Kata Aji memotong kalimat mbak kasir dan menyerahkan kartu kreditnya
"Mbak! Saya bayar..."
"Gesek aja mbak nggak usah peduli dia! Ayo lah Ru! Biar aku aja yang bayar..." kata Aji memelas
"Tapi..."
"Tolonglah... ya... ya... ya!!" Kata Aji memasang wajah kucing
"Yaudah deh..." Aku menyerah dan kembali memasukkan kartu kredit ku ke dalam tas
"Gitu dong cantik!" Katanya menggodaku
"Makasih ya!" Aku tersenyum menerima bungkusan dari mbak kasir
"Biar aku yang bawain... sama-sama cantik!" Katanya dan segera menenteng semua belanjaanku keluar supermarket
"..." Aku hanya bisa tersenyum kecut mendapati usahanya yang berlebihan
Di dalam mobil aku makan semua snack bersama Diena dan Lisa tanpa ambil pusing siapa yang beliin, karena sekarang perutku lagi lapar. Satu kantong keresek besar berisi makanan ringan udah habis di lahap dan hanya menyisakan sampahnya saja, setelah sampai di apartemen. Saat turun dari mobil, Aji masih berniat untuk membawakan kantong kresek satunya sampai ke depan kamar apartemen ku yang bersebelahan dengan kamar apartemen Lisa.
__ADS_1
Aku di buat semakin kaget, saat Aji mengundang ku dan Lisa ke apartemennya yang tepat ia sewa beberapa hari yang lalu dan berada di lantai yang sama dengan kami. Aku tidak ingin berpikiran buruk tentangnya, biarlah dia tinggal di apartemen ini asalkan dia tidak mengusik kehidupan ku yang damai. Semoga saja, Aji cepat menyerah mengejar perhatianku yang tidak aka pernah sedikitpun melirik ke arahnya lagi, setelah tahu dia akan berbuat senekat ini hanya untuk mendekatiku. Kepergian Ain saja membuat ku pusing tujuh keliling, sekarang malah di tambah dengan kehadiran Aji yang terlalu terang-terangan, benar-benar membuatku muak dengan kehidupan ini.
****