
Benar saja setelah keduanya bangun tidur mereka merasa lapar, untung aku udah masak saat mereka tidur barusan. Tapi jangan bertanya tentang rasanya gimana, kalo abah sih bilangnya enak mama juga bilang gitu, tapi entah kenapa aku nggak yakin dengan apa yang mereka katakan. Mereka merasa gitu mungkin karena perut yang lapar, karena katanya sebelum berangkat mereka hanya makan sedikit dan saat di pesawat cuma minum dan makan separo biskuit, mana kenyang kalo gitu.
"Mah! Mama mau ngunjungin makan nenek kan? Gimana kalo kita berangkat setelah mama sama abah merasa lebih plong perutnya!" Kataku kepada mereka yang sedang duduk santai di sofa sambil nonton tv setelah selesai makan
"Yaudah berangkat sekarang aja!" Kata abah
"Eh... Setelah selesai nyuci piring dulu ya bah!" Kataku mempercepat mencuci piring nya
Sejak tadi mama hanya diam, karena aku menyinggung masalah nenek, setelah semuanya selesai, aku segera mengajak mereka keluar apartemen. Biar cepat aku menyarankan pakai kereta cepat aja, biar menghemat waktu, tapi ke stasiun kereta nya diantar taksi dulu. Di stasiun kereta api aku segera membeli tiket ke kampung nenek, syukurnya kereta akan berangkat beberapa menit lagi setelah kami sampai di stasiun. Kami bertiga segera mencari tempat duduk di dalam kereta, aku sengaja berdiri karena ada nenek dan kakek yang tidak kebagian kursi, lalu nggak ada yang ngalah pula. Akhirnya aku dan abah memberikan kursi kami kepada pasangan tua itu dan membiarkan mama duduk tenang di kursi, karena sejak tadi kerjaan mama hanya melamun.
Abah tertarik dengan jalur kereta yang kami lewati, sejak tadi beliau tidak henti-hentinya menatap keluar jendela dengan tatapan ingin tahu. Padahal naik kereta seperti ini bukan pertama kalinya untuk beliau, karena waktu muda dulu abah juga pernah merantau ke berbagai kota, hingga bisa mencicipi kereta jaman dulu. Hanya butuh waktu sejam lebih sedikit menggunakan kereta api, mungkin jika menggunakan mobil aan sampai 4 jam lebih belum lagi kejebak macet. Sebelum keluar dari stasiun aku menghubungi amang dulu, mengajarinya jika kami akan bertandang ke makam nenek.
"Mah! Kita udah sampai di tpu" kataku membuyarkan lamunan mama
"Taksinya gimana?" Tanya abah yang turun terakhir dari taksi
__ADS_1
"Udah di bayar pakai aplikasi pak!" Kata pak supir kepada abah
"Oh gitu... makasih ya pak!" Kata abah ramah
"Terimakasih kembali!" Kata pak supir sebelum pergi lanjut kerja
"Mang disini!" Panggil ku pada amang yang sedang berbincang dengan penjaga makam
"Diman apa kabar?" Tanya mama menyambut mang Diman
"Alhamdulillah... baik teh!" Kata amang segera menunjukkan keberadaan makam nenek
Langit yang awalnya cerah, mulai menampakkan mendung di atas sana, seakan-akan ikut merasakan kepiluan mama. Abah mengajak amang berbincang agak jauh dari mama dan diriku yang sedang duduk jongkok di bawah pohon bunga kamboja, sambil mengais-ngais tanah dengan ranting. Tidak terasa udah tiga tahun semenjak kepergian nenek ke sisi-Nya, kuharap dan ku doakan agar nenek di tempatkan di tempat yang paling megah di akhirat sana. Semoga kebahagian selalu menyertai beliau dan di berikan ketenangan yang kekal.
Setelah puas menangis dan bernostalgia, mama segera mengajakku pulang, katanya mama capek pengen cepat istirahat. Awalnya aku ingin mengajak keduanya berkunjung ke rumah amang, tapi aku tidak tega melihat wajah mama yang tertekuk sedih. Mungkin kapan-kapan bisa berkunjung ke rumah amang jika ada umur dan jodohnya. Setelah berpamitan dengan amang kami segera masuk ke dalam mobil taksi yang telah dipanggil amang untuk mengantar kami ke stasiun kereta.
__ADS_1
Sebelum pergi, tadi aku sempat meminta abah menyelipkan sebuah amplop berisi uang untuk amang yang telah merawat makam nenek dengan baik. Tidak lupa juga aku meminta abah agar memberikan amplop dan berterimakasih kepada penjaga makam, yang banyak berjasa menjaga ketenangan tpu. Saat di dalam mereka mama mulai menunjukkan semangat hidup lagi setelah hana murung berjam-jam.
"Mah! Nanti malam gimana kalo kita ke pasar malam!" Ajakku pada mama
"Pasar malam! Ngapain?" Tanya mama
"Ya jalan-jalan... Sebelum mama sama abah berangkat ke pelatihan, kan nggak ada salahnya liburan!" Kataku menatap mama dan abah bergantian
"..." Abah dan mama mengangguk mengiyakan
Aku tersenyum puas, karena akhirnya bisa mengajak orang tuaku pergi ke pasar malam seperti keluarga hangat yang biasanya membuatku iri di pasar malam. Setelah turun dari kereta hari udah senja aja, tapi lebih baik sih biar cepet pergi ke pasar malamnya. Tapi ada yang ditakutkan dengan acara nanti malam nih, sekarang kota Jakarta sedang dilanda mendung, karena udah masuk musim penghujan.
Mungkin kali ini aku akan menemui kota Jakarta yang terendam banjir lagi deh, rasanya ni pulau jawa semakin lama semakin memprihatinkan. Setiap tahunnya pasti terjadi banjir, aku takut jika pulau jawa akan menjadi laut jawa, tanpa pulau lagi. Aku juga penasaran kenapa pulau jawa ini ku ibaratkan sebagai kapal laut yang selalu bocor? Padahal setiap tahunnya pemerintah selalu menanggulangi masalah banjir dengan berusaha mencegah terjadinya banjir pada tahun yang akan datang dengan penghijauan.
Banjirnya kan ada di kota! Tapi kenapa penghijauannya dilakukan di luar kota? Coba aja pemerintah bisa pakai cara gila yang ku pikirkan mungkin banjir bisa di cegah. Ku sarankan agar pemerintah melakukan pembongkaran masal pada halaman-halaman gedung pencakar langit kota Jakarta dan sekitarnya. Gantikan halaman-halaman semen itu dengan susunan batu kerikil pantai yang memiliki celah agar air meresap ke dalam tanah. Bisa dikatakan jika pulau jawa itu kekurangan daerah resapan air, karena hampir seluruh permukaan tanah kota-kota di pulau jawa tertutup semen yang tidak memiliki celah agar air meresap ke dalam tanah.
__ADS_1
Lihat aja pulau Kalimantan yang sempat terendam banjir, bukankah masalahnya ada pada tanah resapan yang juga berkurang di daerah tinggi, hingga mengakibatkan dataran yang lebih rendah meresap air secara berlebihan hingga rongga tanah penuh dengan air, lalu menyebabkan bencana banjir. Sekalian masalah sampah yang di buang ke sungai oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab juga penyebab salah satu bencana banjir yang terjadi di setiap daerah. Intinya kalo mau tinggal di atas bumi yang bernama Indonesia di harapkan agar bijak dalam mengambil tindakan dalam hidup, agar tidak ada yang dirugikan dan merasa rugi dengan kehadiran anda.
Kalo emang suka tinggal di daerah yang berair, bangun aja rumah di dasar laut sono, semen aja dasar laut dan bangun ribuan bangunan yang anda inginkan di dasar laut itu. Anda yang memiliki uang untuk membangun gedung-gedung dan rumah-rumah bertingkat enak, lalu gimana nasib para saudara setanah air saya yang punya rumah kecil dan nggak bisa setinggi bangunan anda. Kasian para teman-teman saya yang punya rumah kardus, setiap tahunnya harus bangun rumah dengan bangunan baru, karena rumahnya keseret air banjir. Udah kayak kapal-kapal kertas aja rumah mereka di seret air banjir, mau ketawa tapi rumah yang di seret banjir rumah orang. Mau nolongin rumahnya, tapi yang di tolong in cuma segumpal kardus bekas, untung rumah jenis kek gitu mudah larut dalam air, kalo enggak kan cuma nambah-nambahin sampah sungai.