JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Rasa Sakit Ini


__ADS_3

Seperti yang telah di jadwalkan, abah dan mama di jemput oleh pihak pelatihan pada pagi harinya, sebelum aku berangkat kerja. Lisa, tetangga ku yang lainnya , termasuk Aji mengantar orang tuaku keluar dan melakukan perpisahan layaknya mereka semua udah kenal lama dengan kedua orang tuaku. Abah memelukku cukup lama dalam diamnya aku merasa terhanyut oleh getaran jantungnya yang penuh haru kebahagian. Begitu pula mama yang memelukku dan menciumi wajahku untuk pertama kalinya setelah aku beranjak dewasa. Awalnya aku ingin menepis, tapi aku juga mempertimbangkan tatapan orang-orang yang ada di sekitar, sehingga aku hanya bisa tersenyum kecut membiarkan mama melakukan apa up yang dia inginkan.


Rasanya hatiku sangat sakit dan perih, mengingat diriku yang selama ini mengharapkan kasih sayangnya, namun selalu diabaikan. Kini setelah aku tidak mengharapkan kasih sayangnya lagi, mengapa beliau menunjukkan sikap penuh kasih seperti ini padaku. Kemana sikap meremehkan yang selalu di tunjukkan padaku, kemana tatapan sinis yang selama ini menghantui hidupku. Kemana ibuku yang angkuh dan sombong kepadaku, kemana semua kesinisan beliau yang selalu merendahkanku di depan semua orang.


"Huhuhu..." Aku tidak bisa menahan tangis lebih lama lagi


"Hei! Kok malah nangis? Kan perginya juga nggak lama..." mama mengusap air mataku yang repleks ku tepis


"..." Aku tercengang kaget mendapati reaksi ku barusan


"Udah... jangan nangis..." beliau memelukku kembali sebelum masuk ke dalam mobil jemputan


Beliau pasti tau jika aku membencinya, tapi beliau pasti juga sangat yakin jika aku sangat mencintainya. Maka dari itu senyuman dan tatapan nanar di matanya menatapku dengan lancang ke arahku yang masih merasakan sakit mendapati perlakuan hangat itu. Abah juga memberikan pelukan hangat sebelum masuk ke mobil bersama mama, yang sudah duduk serta melambaikan tangan pada kerumunan. Aku memaksakan senyum serta membalas lambaian tangan mereka yang terlihat sedih entah karena apa.


"Ru! Kan mereka nggak selamanya pergi... udah jangan nangis lagi!" Kata Lisa merangkulku kuat saat mobil telah menghilang di telan keramaian lalu lalang kendaraan lainnya


"..." Aku memaksakan senyum, dan menepis rangkuman Lisa dan segera masuk ke dalam taksi yang sudah ku pesan


"Ru! Lo nggak mau bareng aja...."

__ADS_1


"Gue mau sendiri dulu!" Kataku memotong kalimatnya dan segera meminta pak supir jalan


Aku menangis dalam diam di dalam taksi, tidak menghiraukan keberadaan pak supir yang menatapku prihatin dari kaca spion. Hatiku sedang sakit dan sangat perih, lebih perih dari kehilangan sososk Ain beberapa hari yang lalu. Dulu, saat aku sangat mengharapkan kasih sayang mama, bahkan aku sampai mengemis-ngemis di bawah kakinya, hanya demi secuil kasih sayang yang tidak pernah ku dapatkan. Tapi kenapa sekarang beliau menorehkan luka yang begitu besar dalam benak ku hanya dengan satu kecupannya di keningku, yang masih terasa hangat sampai sekarang.


Aku membenci perasaan dan kehangatan yang hangat ini, aku membenci semuanya hingga aku ingin mencabik-cabik wajahku untuk menghilangkan bekas kecupan beliau yang hangat ini. Saat kecil aku selalu menanamkan dalam lubuk hatiku, jika mama menyayanginya tapi dengan cara yang berbeda dari yang lainnya, beliau marah padaku, karena beliau sayang kepadaku. Beliau memukulku karena beliau mencintaiku, hingga tidak ingin aku terluka, beliau menatapku dengan tatapan penuh kebencian, karena beliau bingung harus bagaimana mengekspresikan kasih sayangnya untukku.


Beliau tertawa saat aku sedih, karena beliau tidak ingin membuatku berkecil hati hanya karena kesedihan yang kecil. Beliau membanding-bandingkanku dengan yang lain, karena beliau ingin aku menjadi pribadi yang tangguh. Selalu begitu yang ku pikirkan saat mendapati perlakuan yang berbeda dari mama dan mama bukan pilih kasih, hanya tidak ingin terlalu membuatku terlena dengan kasih sayangnya hingga menjadikan ku anak yang angkuh dan sombong. Sekarang pemikiran itu membawaku pada kejayaan yang melebihi ekspektasi diriku yang dulu selalu di remehkan.


Aku bangga dengan diriku yang terlalu memandang tinggi mama saat itu, tapi kini aku tahu kebenarannya. Aku sudah tahu apa yang selama ini ku pikirkan adalah hal yang berkebalikan dengan kenyataannya, aku ingin tertawa. Tapi aku tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya ini kepada dunia, karena aku takut akan dirobohkan oleh kicauan burung pipit panggilan kerja. Setelah menata hati dan riasan agar terlihat seperti biasa, aku segera turun dari taksi dan dengan langkah tegap segera masuk ke dalam kantor.


"Selamat pagi mbak!" Sapa office girl padaku


"Pagi!" Aku membalas sapaan mereka dengan senyum ramah seperti biasa


"Begitulah..." sahutku sambil terus membalas senyum dan anggukan kepala orang-orang yang ramah padaku


"Walaupun mata lo sedikit sembab... Tapi tetap kelihatan sebagai karyawan yang handal kok!" Kata Lisa menepuk pundakku


"Oh iya... besok gue pindah departeman!" Kataku sebelum pintu lift tertutup saat Lisa turun di lantai departemen nya

__ADS_1


"Kok lo..." kalimat nya terpotong karena pintu lift yang keburu tertutup, tapi panggilan telpon darinya segera menggema di tas


Aku mengatakan sedikit informasi padanya sebelum menutup panggilan telpon dan segera menuju meja kerjaku untuk membereskan beberapa berkas yang harus ku selesaikan hari ini juga. Agar besok aku bisa beres-beres dengan tenang sebelum pindah kantor, aku melirik ke arah pak kepala yang sedang mengangkat telpon dari perusahaan lain. Beliau terlihat berwibawa, tapi siapa yang menduga perilaku liriknya yang tentu saja di pengaruhi sang istri.


Seperti biasa, segelas kopi selalu tersedia di atas meja, tapi kali ini mbak Rani yang membelikannya, sebagai ucapan perpisahan pada departemen ini. Mbak Rani telah di pindahkan ke kantor pusat hari ini, dan sekarang di meja mbak Rani duduk seorang laki-laki muda yang terlihat kelabakan. Karena tugas yang masih belum terlalu di pahaminya sama sekali, di serahkan pada anak baru seperti dirinya. Mbak Maya hari ini sepertinya akan terlambat, karena meja nya masih kosong.


"Jika ada yang ingin kamu tanyakan! Tanyakan saja,tidak usah sungkan!" Kataku yang terganggu dengan lirikan hendak minta tolong


"Oh... baik! Dari tadi saya bingung bagaimana menyusun berkas ini mbak...!" Katanya segera menunjukkan berkas yang sedang di tangannya ke meja ku


"Hmmm... ini memang berkas yang agak rumit! Biasanya mbak Rani yang menyusun berkas seperti ini... Tapi jika kamu menyusun bagian ini ke dalam bagian sebelah sini...lalu nanti kamu atur kolom sebelah sini ke sini! Kamu paham?" Tanyaku setelah menjelaskan panjang lebar


"Pa...paham Mbak!" Katanya dengan tatapan tercengang karena aku menjelaskan nya terlalu rinci mungkin


"Kalau paham kenapa masih diam disini! Cepat kerjakan apa yang kamu pahami saja... jika nanti ada yang ingin di tanyakan tanyakan saja lagi!" Kataku sambil mengerjakan laporan lainnya


"Eh... baik, terimakasih mbak!" Katanya segera kembali kemeja


"Sama-sama!" Kataku sambil terus mengerjakan laporan

__ADS_1


Sepanjang bekerja, aku merasa risih karena mendapatkan tatapan dari karyawan baru itu dan lirikan pak kepala yang sedang mengamatiku. Mereka membuatku merasa sesak, tapi setelah mbak Maya datang aku menghiraukan kedua orang itu, karena mbak Maya mengajakku berdiskusi tentang laporan yang sedang dj kerjakannya. Rasanya aku ingin cepat-cepat haru berganti, dan bebas dari ruangan yang membuatku sesak ini. Perasaan sesak yang kurasakan sekarang,itu karena mengingat perbuatan pak kepala kepada berkas yang ku kirimkan untuk mengajukan promosi.


****


__ADS_2