JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Turbulensi Pesawat


__ADS_3

Aku tidak bisa tidur, jadi kuputuskan untuk menghitung pengeluaran dan pemasukan akhir-akhir ini. Setelah berkutat dengan hitungan yang tidak terlalu kusukai, isi kepalaku menjadi lebih ringan sedikit dari sebelumya. Biarkan kepergian Ain sebagai ujian yang harus dihadapi dengan lapang dada, biarkan semua tentang Ain menjadi masa lalu yang akan terlupakan seiring berjalannya waktu.


Setelah di hitung-hitung tabunganku yang selama ini tidak pernah disentuh, hampir mencapai 100jt ditambah dengan uang simpanan, seandainya ada kondisi darurat yang mendesak. Nilai yang benar-benar fantastis, dengan uang tabungan ini aku bisa membeli rumah, belum lagi dengan uang yang telah ku depositkan pada tiket umroh untuk orang tuaku, ini benar-benar seperti mimpiku waktu kecil. Dengan uang ini, aku akan mulai membangun bisnis kecil-kecilan, serta mulai berinvestasi seperti keinginanku dulu.


Tapi yang jelas sekarang aku harus segera membeli tiket pesawat untuk pulang ke kalimantan, untuk mengabarkan keberangkatan jamaah haji yang tinggal kurang dari dua bulan lagi. Semoga kepulangan ku kali ini menjadi sesuatu yang bisa membuat keluargaku bangga dengan kepulangan ini. Aku segera memesan tiket pesawat yang ada pada esok hari, tidak lupa untuk mengambil cuti lagi, akhir-akhir ini aku banyak mengambil cuti. Biarlah, toh kontrak ku dengan perusahaan tersisa beberapa bulan saja lagi, aku tidak berniat memperpanjang kontrak jika tidak ada kemungkinan akan dikirim ke tempat yang baru, karena aku bosan dengan suasana kantor yang sekarang.


"Saatnya tidur..." aku menghempaskan tubuh lelah ini ke kasur dan dalam hitungan detik telah terlelap dalam tidur


***


Tempat duduk ku tepat berada di samping jendela sesuai harapanku, tapi sayangnya tempatku telah di tempati oleh seorang laki-laki. Wajahnya terlihat galak dan dingin, namun terlihat eksotis dengan bekas luka yang membelah batang hidung dan pipinya. Di kursi yang berhadapan dengannya juga ada dua orang laki-laki yang sedang asik main game online dengan serius. Tampilan mereka kayak berandalan pasar yang sedang melarikan diri, ingin rasanya tertawa.


"Maaf mas! Bisa minggir nggak... karena di sana tempat duduk saya!" Kataku dengan senyum ramah kepada laki-laki itu yang kini menatapku heran kenapa dari tadi nggak duduk-duduk


"..." dia diam dan kembali memejamkan matanya


"Mbak! Duduk di sini juga nggak apa-apa..." goda laki-laki yang ada di hadapan si codet dengan genit sambil memintaku duduk di pangkuannya


"Makasih tawarannya... Tapi kalau saya duduk di sana, saya takut paha mas nya nanti patah jadi dua!" Kataku dingin dengan senyum sambil menatap tubuhnya yang kerempeng


"Ppttt..." temannya yang sedang main game menahan tawa


"Kenapa lo ketawa!" Marah laki-laki genit itu pada temannya


Karena malas berdebat dan menimbulkan keributan, akhirnya aku duduk diam di samping sk laki-laki dengan wajah coret ini, sambil mendengarkan musik dari headset bluetooth. Lalu tertarik untuk main game yang udah lama nggak aku login, terakhir kali login kalo nggak salah beberapa bulan yang lalu, saat lagi puyeng-puyengnya dengan deadline laporan. Pesawat mulai mengepakkan sayapnya dengan gagah berani menantang ruang hampa di ketinggian.


Sampai sejauh ini, aku bermain belum kalah sama sekali, hingga membuatku bosan main game yang datar kayak gini. Sekarang aku mengalihkan kebosanan dengan membaca novel online yang beberapa hari terakhir juga terlupakan, namun aku kembali bosan tidak lama kemudian. Hingga akhirnya aku mengalihkan kebosanan dengan makan coklat, yang ku beli banyak sebelum naik pesawat.

__ADS_1


"Semua penumpang di harapkan pakai sabuk pengaman dan jangan berjalan-jalan! Semua penumpang di harapkan siap menghadapi turbulensi!" Kata pilot dari pengeras suara


"Ya Allah... ampuni hamba!!!" Teriak seorang ibu-ibu yang ketakutan karena pesawat berbincang hebat


"Allahu Akbar..." kata semua orang serempak karena ketakutan


Para penumpang pesawat berseru ketakutan, karena turbulensi tidak kunjung berhenti setelah beberapa detik. Dan anehnya sejak tadi aku berusaha menahan tawa, karena wajah laki-laki yang menggodaku tadi terlihat pias dan dia sedang komat-kami berdoa.


"Ya Allah... hamba tobat... tobat..." katanya ketakutan


"Ppttt..." bukannya merasa takut aku malah menahan tawa karena tingkah penumpang satu ini


Perasaan hanya aku seorang, yang merasa turbulensi kali ini sangat lucu, ada banyak raut muka yang membuatku hampir menyemburkan tawa. Walaupun hendak tertawa, aku tetap ingat dengan Tuhan dari lubuk hatiku, walaupun mati sekarang aku tidak akan menyesal karena semua hasil jerih payahku telah terkumpul untuk di nikmati, walaupun bukan aku yang akan menikmatinya.


"Astagfirullah..." kagetku saat laki-laki di sampingku tidak sengaja mencengkeram tanganku karena gemetaran


"..." aku balas menggenggam tangannya yang mencengkeram tanganku tanpa sadar


"..." dia menatap ke arahku yang sedang menahan tawa


"Tarik napas dan tenang... jangan sampai kehabisan napas!" Kataku segera menggenggam tangan laki-laki yang main game barusan saat kulihat dia menahan napasnya


"..." dia menatapku dengan wajah merona saat menyadari jika tangannya ku genggam


""Semuanya akan baik-baik saja... percaya pada kemampuan pilot dan tetap berdoa..." kataku menenangkan dua pemuda di depanku setelah pemuda di sampingku melepaskan cengkramannya


"Ba...baik..." kata pemuda yang main game dengan gemetaran

__ADS_1


Turbulensi tidak berhenti juga, banyak penumpang yang mulai shok dan mulai tegang hingga nggak bernapas dengan benar. Apalagi seorang nenek-nenek yang ada di sebelah tempatku duduk, beliau mulai mangap-mangap kehabisan napas, tapi anak dan orang yang ada di sampingnya tidak peduli. Walaupu aku malas bergerak, tapi akhirnya aku tergerak dan melepaskan sabuk pengaman dari tubuhku yang sempat di hentikan oleh pemuda yang duduk di sampingku.


Setelah aku tersenyum meyakinkan pemuda itu, barulah dia membiarkanku melakukan apa yang ku mau, para pramugari dan pramugara, sedang berkoar-koar agar semua penumpang tenag. Setelah melepas sabuk pengaman, pemuda yang ada di sampingku pindah ke tempat duduk ku dan memegangi ku untuk melakukan penanganan pada penumpang nenek-nenek yang hampir kehabisan napas karena kaget.


"Mbak! Tolong kembali pakai sabuk pengaman dan duduk tenang di kursi anda!" Teriak seorang pramugari padaku dan tentu saja kuabaikan


"Nenek... Nenek jangan tegang... aku pengangin tangan nenek kok! Sekarang nenek coba tarik napas dan buang perlahan-lahan... yup...hugh..." kataku ramah sambil mencontohkan


"Huhhh..." beliau memegang tanganku sangat erat


"Bagus... sekali lagi nek... waaa..." teriakku kaget karena tubuhku hampir terlempar namun sempat di tahan oleh tangan kekar pemuda codet itu "Nenek... jangan berhenti... terus bernapas... Bagus... Bagus nenek melakukannya dengan hebat..." kataku memuji usaha beliau yang sekarang sudah lebih baikan


Aku segera kembali duduk di kursi dan menghirup oksigen di tabung yang tersedia di atas kepalaku. Aku hampir kehabisan napas karena guncangan ini yang masih belum berhenti, kulihat dari kaca jendela diluar sangat gelap dengan kilat yang menyambar-nyambat tiada henti di ruang hampa ini. Di belakang ada seorang dokter yang sibuk menangani pasien yang Tiba-tiba terkena serangan jantung ringan.


Semua orang mulai saling menguatkan, dan menyeruakkan keyakinan pada kemampuan para kapten yang sedang bertugas mengendalikan pesawat agar cepet terbebas dari situasi maut ini. Sialnya, korban seperti nenek barusan semakin kesini mulai bermunculan, hal itu terjadi karena otot-otot yang menegang hingga mengakibatkan keterkejutan dan jadilah sulit bernapas. Aku kembali melepaskan sabuk pengaman, dan berjalan menghampiri seorang ibu-ibu yang kumat, anak gadisnya yang masih berusia sekitar satu tahunan, menangis melihat ibunya yang banyak.


Penumpang lainnya yang ada di samping ibu itu berusaha mendiamkan anak beliau namun malah melupakan si ibu yang sedang banyak hingga aku kembali turun tangan. Para pramugari juga sedang sibuk menenangkan penumpang lainnya yang mengalami gejala yang sama. Ibu-ibu ini sedikit lebih sulit di tangani karena sepertinya dia penderita penyakit asma, hingga membuat kondisi nya semakin parah. Aku yang mempelajari cara penanganan secara otodidak merasa kelabakan menghadapi kondisi ini, namun berkat bantuan dokter muda yang segera menghampiri ku yang terlihat kebingungan semuanya berjalan lancar.


"Apakah ada suaminya? Siapapun yang berkeluarga dengan ibu ini?" Tanya dokter itu pada penumpang di satu tempat dengan ibu ini


"..." semua orang menggeleng


"Kalau begitu kamu saja... berikan napas buatan pada ibu ini... cepet sekarang ..." perintahnya


"..." aku yang memang sejak tadi kebingungan tentang napas buatan, eh malah disuruh kasih napas buatan, sebenarnya kan aku nggak mau


Setelah kuberikan napas buatan si ibu mulai membaik, dan anaknya juga udah mulai diam tenang. Kondisi pesawat kembali stabil dan ucapan syukur alhamdulillah menggema di seluruh ruangan, begitupun aku. Tapi sekarang aku kembali duduk di kursi seperti kehilangan jati diri, karena telah memberikan napas buatan kepada ibu itu. Aku menyentuh bibirku yang selama ini ku jaga baik-baik, kinj telah menyentuh bibir ibu itu hingga membuatku galau. Semoga hal barusan tidak termasuk dalam ciuman, jika termasuk ciuman bukankah itu sangat menjijikan, aku tidak bisa menerimanya.

__ADS_1


Aku menutupi diriku sendiri dengan kedua telapak tangan karena merasa malu dengan hal itu. Dokter muda yang memintaku memberikan napas buatan itu, mengucapkan terimakasih serta mengacungkan jempol nya padaku sebagai rasa formatnya yang membuatku semakin kesal. Ciuman pertama ku, ternyata bukan untuk laki-laki tapi malah kuberikan pada seorang ibu-ibu yang udah masuk umur. Oh no, rasanya ingin bersembunyi di tempat yang tidak ada orang sama sekali.


__ADS_2