JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
CERITA PAK ZION!


__ADS_3

Karena tidak bisa tidur dengan pikiran kacau seperti ini, akhirnya aku memilih untuk keluar kamar, sekalian jalan-jalan menghirup udara segar di luar. Pagi berjalan seperti biasanya, tapi satu hal yang tidak wajar, kenapa mobil Tian masih belum berangkat ke kantor, ku harap dia tidak meliburkan diri.


"Pagi nyah!" Sapa pak supir


"Pagi pak! Tian belum berangkat ke kantor ya pak?"


"Kata pak Tian hari ini nggak ke kantor nyah!"


"..." Aku hanya bisa mendesah kesal


"Lagi berantem sama pak Tian ya nyah?"


"Eh..."


"Wajar kalo nyonya marah sama pak Tian! Saya juga pasti marah kalo jadi nyonya..."


"..." Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum


"Eh... Maaf ya nyah kalo saya lancang!"


"Eh... Bapak nggak salah apa-apa kok! Santai aja pak!"


Setelah berbincang dengan pak supir aku melangkah menuju kolam renang yang terlihat sepi. Aku duduk sambil mencelupkan kaki ke dalam kolam dan kembali lagi menatap kosong ke satu arah dengan wajah lesu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kupikirkan, yang jelas setiap kali aku menjadi seperti ini, itu berarti aku sedang memikirkan masalah yang berat dan rumit.


Beberapakali aku membuang napas panjang, sepertinya aku benar-benar telah kembali ke pengaturan awal. Aku tidak tahu sejak kapan pak Zion ada di belakang yang jelas beliau membuatku kaget saat menoleh ke belakang. Kagetnya pun hanya sebentar lalu kembali lagi menatap kosong ke satu arah, seakan-akan mengabaikan keberadaan pak Zion.


"Nyonya lagi ada masalah?"


"..." Aku menggeleng


"Lagi berantem sama tuan?"


"..." Aku kembali menggeleng


"Lagi ngidam sesuatu?"


"..." Menggeleng lagi


"Lalu! Sekarang nyonya lagi mikirin apa?"


" Entahlah pak..." Sahutku setelah menghela napas panjang


"..." Kini giliran pak Zon yang terdiam


"Rasanya serba salah... Saya bingung harus bagaimana lagi bersabar dengan hidup yang amat sangat konyol ini... Haaahhh... Rasanya saya hampir menyerah..."


"..." Pak Zion masih diam

__ADS_1


"Tapi... Jika saya menyerah sampai di sini... Anak yang belum lahir ini juga akan ikut terseret dalam masalah yang saya buat..."


"Apakah nyonya merasa terbebani dengan kehadiran..."


"Saya tidak merasa terbebani dengan kehadiaran mereka... Mungkin mereka yang terbebani, karena telah berada di rahim ibu yang salah!"


"Nyonya tidak salah! Semuanya salah pak tua ini..."


"Haaahhh... Bahkan yang tidak salah apa-apa! Ikut menyalahkan dirinya sendiri!" Gumamku kesal


"..." Pak Zion kembali terdiam


"Apakah bapak pernah mencintai seseorang?"


"Pernah!"


"Lalu bagaimana akhirnya bapak bisa memutuskan hidup melajang seumur hidup? Mungkin pertanyaan saya lancang... Maaf pak saya tidak berniat membuka luka lama bapak!"


"Tidak! Nyonya tidak perlu meminta maaf... Karena nyonya tidak salah!"


"Pak Zion terlalu baik..."


"Sebenarnya saya mempunyai seseorang yang saya cintai... Tapi karena terhalang restu... Saya tidak bisa bersama dengan wanita yang saya cintai... Memang cerita yang sangat konyol untuk di ceritakan..." Pak Zion terkekeh


"Semua orang memiliki ceritanya masing-masing..."


"Apakah bapak masih mencintai wanita itu?"


"Sepertinya 'iya'!" Kata beliau dengan nada lirih


"Apakah bapak tidak berniat mencari ataupun menutup hati bapak selamanya? Agar kalimat 'cinta' itu tidak mengusik kehidupan bapak?"


"Saya pernah berusaha menutup hati tua ini... Tapi begini lah akhirnya! Ternyata saya masih mencintai wanita itu..." Pak Zion kembali terkekeh


"Bapak hebat...!"


"Tidak ada yang perlu di banggakan dari kakek tua ini... Hahaha..."


"Pak Zion memang layak di jadikan panutan!" Aku tersenyum lebar menatap pantulan diriku di air


"Apakah sekarang perasaan nyonya menjadi lebih baik?"


"Begitulah..."


"..." Pak Zion terdiam begitupula aku


Setelah mendengar cerita pak Zion aku menjadi semakin yakin untuk menutup hatiku untuk sepenuhnya. Mungkin bibit cinta yang selama ini dipupuk Tian akan berakhir sia-sia seperti cinta Ain kepadaku dulu.  Setelah puas menghirup udara di luar, aku memutuskan untuk kembali ke dalam, dan sialnya membuatku jadi kembali kesal. Karena sosok Tian yang sedang berdiri membelakangiku sambil menjawab telpon, dengan kepribadian yang berbeda dari tadi pagi.

__ADS_1


Selagi Tian sibuk dengan telponnya, aku berlalu ke kamar untuk mengambil handphone milikku, yang sudah lama tidak ku mainkan. Setelah menyalakan handphone banyak sekali pesan masuk dan ada beberapa panggilan dari kenalanku. Semuanya tidak ada yang penting, mereka hanya basa-basi seperti biasa, setelah membalas satu-persatu pesan aku mulai beralih aplikasi.


Tapi sayangnya tidak ada yang membuatku tertarik hingga aku kembali memasukkan handphone ke dalam laci. Tiba-tiba aku malah ingin makan sesuatu, mungkin bawaan si bayi atau emang lagi pengen makan aja kali ya?. Setelah mengambil ikat rambut aku bergegas turun menuju dapur untuk membuat sesuatu yang bisa di makan, pengen makan sesuatu yang original buatan tangan sendiri.


"Nyonya! Ada yang bisa saya bantu buah?"


"Nggak ada!"


"Lalu nyonya mau ngambil apa di dapur?"


"Mau masak..."


"Nyonya pengen makan apa? Biar bibi buatin!" Tanya bi Murni yang tiba-tiba muncul


"Nggak usah bi! Saya lagi pengen makan masakan sendiri!" Tolak ku


"Tapi nyah..."


"Saya cuma mau bikin nasi goreng... Jadi nggak usah khawatir!"


Mereka sempat tidak mengijinkan ku memasak sendiri, tapi setelah kuyakinkan jika aku nggak bakal sampai membuat kebakaran di dapur. Akhirnya mereka mengijinkan ku untuk memasak makanan yang ku mau, ternyata aku masih terampil dalam urusan dapur walaupun udah satu tahun lebih vakum dari dunia dapur.


"Ternyata nyonya jago masak!" Puji Ica


"Biasa aja kali Ca!"


"Aromanya enak banget!"


"Pasti rasanya juga enak..."


"Husss... Kalian bertiga lanjut ngerjain tugas masing-masing sana..." Usir bi Murni kepada mereka bertiga


"Yah... Bibi!" Sahut mereka bertiga pasrah


"..." Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka


"Bibi sempat mengira kalo nyonya nggak bisa masak loh, tadinya... Tapi ternyata nyonya bisa masak seenak ini... Salut deh bibi!"


"Hehehe... Makasih pujiannya bi!"


"Sama-sama... Kalo nyonya mau makan yang lain bilang aja ke bibi ya! Bibi nggak mau liat tangan nyonya pegang pisau... Takut luka nantinya!"


"Bibi khawatir nya terlalu berlebihan ih..."


"Biarin... Karena bibi sayang sama nyonya..." Kata bibi lirih dengan wajah tersipu


"Aku juga sayang bibi!" Aku memeluk bibi sebagai rasa terimakasih karena telah menyayangi ku yang bukan siapa-siapa beliau

__ADS_1


Setelah nasi gorengnya jadi, aku segera memakan sesuap demi sesuap karena masih panas. Bibi juga udah buatin susu untuk ibu hamil untuk menemani ku makan nasi goreng, yang bagiku rasanya masih seperti biasa. Saat sedang fokus-fokus nya makan tiba-tiba Tian memelukku dari belakang dengan mesra, membuat ku merinding,  sambil membisikkan kalimat cinta yang hampir membuatku memuntahkan nasi di mulut. Nafsu makanku jadi hilang, tapi aku masih berusaha tersenyum karena bibi dan yang lainnya sedang mengintip dari balik pintu.


__ADS_2