JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Pembicaraan Dengan Ibunda Aji


__ADS_3

Keberadaan Aji selama satu minggu ini benar-benar membuatku semakin kesal, sebab seminggu terakhir ini dia selalu mengantarkan masakannya yang enak itu untuk mengusik hidupku. Setiap pagi atau setiap malam dia selalu menekan bel apartemen ku, sambil membawakan masakan, yang katanya sengaja di buatnya lebih karena mengingat. Awalnya aku merasa tersanjung, tapi setelah semakin kesini aku merasa terbebani dengan sikapnya yang terlalu menjadikan spesial, dan aku takut membuatnya semakin berharap.


Dan semoga malam ini Aji tidak mengantar masakannya lagi lemari, karen aku sedang malas bertemu dengan orang, karena seharian ini aku harus memaksakan senyum wanita karir kepada semua orang yang ku temui. Namun sialnya, bel apartemen berbunyi hingga membuatku menyempatkan kata-kata kotor.


"Aku kira kamu udah tidur!" Katanya tersenyum hangat dan syukurnya kali ini dia nggak bawa apapun


"Ada perlu apa?" Tanyaku dengan senyum ramah yang tentu saja sangat di paksakan


"Itu... Mama masak di apartemen aku! Lalu mama minta aku buat ngajak kamu makan bareng... Gimana kamu bisa?" Kata Aji yang membuatku terasa kaku


"Hahaha...ibu yang minta ya!" Tawaku canggung sambil memutar otak untuk menolak ajakannya


"Nak Ruka! Ayo kita makan bareng..." teriak beliau dari depan pintu apartemen Aji


"Eh... ibu apa kabar?" Tanyaku saat beliau berlari ke arah kami berdua


"Ibu baik! Kita ngobrolnya sambil makan malam aja gimana!" Ibu udah masakin makanan spesial khusus buat kamu loh!" Kata beliau dan menarikku pergi


"Aduh... jadi nggak enak, udah ngerepotin ibu!" Kataku pasrah di tarik beliau ke apartemen Aji


"Nggak ngerepotin sama sekali kok! Kamu harus cobain semuanya nanti..." beliau sangat bersemangat sehingga membuatku sedikit tidak enak jika menolak


Setelah duduk di meja makan, berbagai hidangan tersaji dengan tampilan menarik, membuatku sedikit tergiurkan. Aku di layani layaknya seorang tuan putri oleh ibu dan anak ini, mereka membuatku sangat kebingungan. Walaupun sekarang aku kebingungan, tapi makanan enak di depanku mengkhianati hati yang ingin menolak perlakuan keduanya yang terlalu menuan putrikan aku. Sial, aku benar-benar termakanrayuan makanan enak yang tersaji di meja makan saat ini.


Sepanjang makan malam, ibu Darmawan berceloteh ria, menceritakan berbagai keseharian dirinya dan keluarga. Beliau juga mengatakan semua kejelekan Aji waktu kecil padaku, layaknya menceritakan sebuah topik yang sangat menarik.


"Uuhhukkk..." Aku tersedak mendengar cerita masa kecil Aji yang sangat menarik untuk di lewatkan


"Mah! Udah dong bongkar aibnya... kamu nggak apa-apa kan?" Kata Aji menyerahkan gelas air minum

__ADS_1


"Aduh maaf ya nak... ibu aneh ya?" Kata bu Darmawan menepuk-nepuk punggung ku agar lebih enakan


"Nggak... ibu nggak aneh kok... hanya terlalu bersemangat aja!" Kataku segera merespon perkataan beliau setelah menghabiskan air di gelas


"Gitu ya... hohoho..." tawa beliau sambil mengelus-elus punggung ku, yang tentu saja tidak ku suka


"..." Aku tersenyum melihat beliau tertawa bahagia


"..." sejak tadi Aji hanya diam memandangiku yang asik makan sambil ngobrol dengan ibunya


Setelah selesai makan aku tidak di ijinkan membantu beres-beres di meja makan, Aji dengan senang hati membereskan semuanya, sedang kan aku di seret sang ibu ke ruang tengah. Beliau menunjukkan beberapa foto Aji waktu kecil yang memang terlihat bandel seperti yang beliau ceritakan, beliau kembali penuh senang membicarakan keluarganya yang terdengar sangat harmonis.


"Kalo kamu waktu kecil suka ngapain aja?" Tanya beliau menatapku hangat


"Nggak banyak bu! Kebanyakan cuma tidur dan berantem sama sodara!" Kataku mengingat kembali masa kecil yang telah terlupakan


"Hmmm... begitulah adanya bu! Soalnya saya banyak sodara jadi memilih hidup kayak gitu..." kataku tersenyum ke arah beliau yang manggut-manggut


"Sodara kamu berapa banyak?" Tanya beliau semakin mendekat duduknya padaku


"Ada tujuh orang bu! Dan saya anak tengah... bisa di bilang anak paling pemalas!" Kataku dengan mimik meyakinkan


"Jadi kalian semua delapan saudara? Tapi sodara tiri kan?"


"Alhamdulillah... semuanya saudara kandung bu!" Sahutku


"Banyak juga ya saudara kamu.... udah ada yang nikah?" Kepo nih emak-emak


"Alhamdulillah... kakak udah pada nikah dan masing-masing juga udah punya anak!" Kataku semangat mengingat para keponakanku yang imut dan lucu

__ADS_1


"Kalo gitu kamu kapan mau nikah?" Yah mulai mengarah ke sini


"Nggak tau juga kapan mau nikah... yang jelas sekarang Ruka lagi mau bebas aja gitu bu! Mau menikmati hasil usaha dulu baru mikir mau nikah!" Kataku hati-hati agar beliau nggak nyari celah buat nawarin anaknya jadi suamiku


"Nikmatin usaha kan juga bisa sambil nikah... lagian Kamu juga udah cukup umur buat berkeluarga... Gimana kalo sama anak ibu?" Nah kan emak-emak emang bisa banget nyari celah


"Ahaha... jangan ngomongin masalah nikah dong bu! Kan aku masih belum mau nikah!" Kataku berusaha agar jangan membahas topik nikah


"Mumpung lagi bahas masalah nikah... kamu juga harus siapain rencana punya anak berapa! Mah gimana kriteria calon suaminya! Kan kamu bisa berhenti kerja kalo udah nikah... biar fokus ngurusin suami!" Kata beliau kembali bersemangat


"Punya anak tiga bagus tuh, buat kamu! Aku yakin kamu jadi ibu sekaligus istri yang sangat baik nantinya!" Kata Aji sambil membawa minuman dan beberapa biskuit


"Dua aja juga cukup kok! Yang penting punya anak!" Kata bu Darmawan menanggapi omongan Aji


"Tapi aku maunya punya anak 7 bu! Kan seru kalo di rumah banyak orangnya... apalagi kalo mereka semua lagi ngumpul dan saling bercanda... ketawa bareng! Nangis bareng! Bahagia bareng! Saling menjaga satu sama lain! Wah... jadi nggak sabar punya anak!" Celotehku tanpa sadar


"Emang kamu sanggup ngelahirin anak sebanyak itu... ibu takut kalo nanti kamu kesulitan waktu persalinannya... apalagi waktu persalinan bisa merenggut nyawa loh!" Kata beliau menanggapi impianku dengan sikap khawatir


"Tapi... Punya anak banyak bagus juga kok bu!" Kata Aji setuju denganku


"Insyaallah... berapapun banyaknya harus ngelahirin! Aku siap mental kok bu! Tapi masalahnya sekarang aku lagi nggak mau nikah...mau bebas dulu selama beberapa saat!" Kataku di akhir kalimat agar celah buat beliau nyaranin nikah sama Aji tertutup


"Katanya mau punya anak banyak... tapi nikahnya kok di tunda-tunda..." kata beliau menggodaku


Aku terkekeh menanggapi kalimat beliau yang sepertinya sangat mengena di hatiku, mau punya anak banyak, tapi nikahnya mau nanti-nanti aja, gimana ceritanya tuh. Keburu kada luarsa lagi dong rahim, kalo nikahnya melewati usia ketuan buat nikah. Sebenarnya, bukan mau lama-lama juga nunda nikah, aku cuma nggak mau nikah sama Aji doang kok. Masih banyak perempuan yang lebih baik dari aku untuk Aji, so aku tidak bisa membuat diriku merasa layak untuk menjadi pendamping hidup Aji yang terlalu sempurna.


Lagian, aku juga nggak mau kalo nikah sama orang yang keluarganya adalah atasanku, walaupun nantinya bakal jadi mantan atasan, itu kalo berhenti kerja. Tapi kalo ternyata aku bisa mengembalikan rasa bosan kerja menjadi keinginan yang mennggebu untuk memperoleh lebih di tempat kerja, kan otomatis aku nggak bakal berhenti kerja semudah itu. Aku juga nggak mau nikah sama orang yang terlalu di kemang sama keluarga, apalagi bu Darmawan yang kulihat sangat membatasi dalam gerak-gerik calon nantinya nanti.


Setelah jam di dinding menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, aku segera pamit kembali ke kamar apartemen ku. Padahal jarak kembali ke apartemen ku sangat dekat, tapi bu Darmawan masih aja nyuruh Aji untuk mengantar ku sampai ke depan pintu, katanya hanya untuk memastikan aku baik-baik saja sampai apartemen ku. Jaraknya sangat dekat, bahkan apartemen kami di lantai yang sama, apa yang harus dikhawatirkan, dasar ibu-ibu yang suka memperhatikan detail. Tuh kan jadi kesal, karena permintaan beliau yang aneh-aneh gini, rasanya ingin menghilang selama mungkin agar tidak berpapasan dengan beliau lagi.

__ADS_1


__ADS_2