
"sayang! Kok pintunya di kunci?" Teriak Tian dari luar kamar mandi
"Aku lagi mandi! Tunggu bentar... Ini udah mau selesai kok!" Balasku berteriak sambil membilas busa sampo
"..." Tian menjadi hening
"Sayang!"
"..." Masih diam
"Sayang! Kamu masih di luar kan?" Tanyaku bergegas menyelesaikan ritual mandi
"..." Masih hening
Setelah memakai pakaian santai aku segera keluar, karena tidak ada sahutan dari Tian yang mungkin sudah sangat kebelet. Tapi, saat aku melangkah keluar tidak kudapati wajah kebelet sedikipun darinya.
"Kamu kenapa?" Tanyaku yang melihat wajahnya tertekuk
"Nggak kenapa-napa!"
"Kamu ngambek? Ngambek masalah apaan sih?" Aku berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambut yang sejak tadi ku keringankan dengan handuk
"Lain kali, kalo kamu mandi pintunya nggak usah di kunci!" Sahutnya mengambil hairdryer di tanganku
"Lah, emang kenapa?" Aku menatap wajahnya di cermin yang sedang mengeringkan rambut ku
"Ya nggak apa-apa..."
"Sayang! Kamu kok jadi gemesin gini sih... Kenapa? Ada masalah apa? Pembicaraan kamu sama kakek baik-baik aja kan?" Aku berbalik untuk menatap wajahnya dengan wajah penuh tanya tanpa lupa senyum
__ADS_1
"Semuanya baik-baik aja tuh..." Sahutnya memegang wajahkulrmbut
"Lalu kamu kenapa ngambek... Cup!" Aku mengecup tangan besarnya yang membelai wajahku
"Bukan apa-apa..." Sahutnya dan memintaku kembali berbalik agar ia bisa kembali membantuku mengerikan rambut
"Jadi sekarang kamu mau main rahasia-rahasian lagi nih..." Aku memasang wajah bete
"Ya nggak gitu sayang..."
"Lalu kenapa?"
"...aku cuma nggak suka aja kalo saat kamu mandi pintunya di kunci..." Lirihnya
"Apa? Emangnya kenapa kalo aku kunci? Kan biasanya juga gitu... Atau jangan-jangan..." Selidik ku
"Ya gitulah..." Tian malah jadi malu-malu kucing
"Tapi aku kan manja gini cuma ke kamu..." Katanya dengan wajah cemberut serta memutar-mutar jarinya di pundak ku
"Kamu pasti Der kan?"
"💯 Buat sayangku..." Katanya senang dan segera memelukku
"Aku sempat mengira kamu Kay loh... Soalnya sifat kalian hampir mirip... Bukan cuma kalian berdua, tapi semuanya juga makin sulit di bedain..."
"Ya udah, kalo gitu kamu nggak usah beda-bedain kita lagi aja... Kan orangnya juga sama!"
"Pendapat yang lain gimana? Nanti ada yang marah lagi kalo aku nggak bisa bedain kalian lagi!"
__ADS_1
"Siapa yang bakal marah coba! Kamu kan juga udah manggil kita semua SAYANG..."
"Kan aku sayang kalian semua..." Manja ku dan memeluknya sambil duduk
"I love you sayang!"
"I love you too sayang kuuuu....."
Setelahnya percakapan terus berlanjut hingga bibi memanggil kami untuk makan malam. Di meja makan kakek sudah menunggu dengan sebuah tablet Android di tangannya serta kacamata yang tersampir di hidung mancung beliau. Rasanya setiap kali melihat hidung kakek dan Tian aku merasa minder, karena hidungku pesek dan kecil.
Tanpa sadar aku selalu menyentuh hidungku jika melihat kakek ataupun Tian mengenakan kacamata. Dulu sempat Tian menawariku untuk operasi plastik di bagian hidung, dan tentu saja ku tolak dengan alasan takut sakit, yang pastinya bohong. Alasan aku menolak tawaran emas itu, karena aku sudah sangat puas dengan diriku yang sekarang.
"Ru! Kenapa makannya cuma dikit? Banyakin lagi... Biar cicit kakek pada kenyang..."
"Segini aja kek... Soalnya masih kenyang!"
"Tambahin lagi dikit!" Pinta kakek dan tentu saja harus ku iya kan agar tidak terjadi perdebatan panjang
"Nih... Makan telor setengah matangnya biar Dede bayinya kuat..." Tian meletakkan telor ceplok di piringku dengan kuningnya yang lumer keluar
"Sayang... Aku kan nggak suka telor setengah mateng! Kamu gimana sih... Hueekkk...." Aku segera berlari ke kamar kecil karena aroma telor setengah matang tercium oleh hidung pesek ini
"Sa...sayang... Maaf aku lupa..." Sesal Tian menyusul ku ke kamar kecil
Di kamar kecil yang ada di dapur aku muntah sejadi-jadinya, karena masih teringat aroma anyir kuning telor setengah matang barusan. Semua orang jadi kelabakan karena aku yang tidak berhenti-henti muntah, hingga memucat dengan tubuh dingin. Sepertinya semua makanan yang ku makan hari ini keluar semua lewat mulut deh.
Bi Murni yang menepuk-nepuk punggung ku dengan sabar, malah jadi sasaran tanganku untuk mencengkram sekuat tenaga. Rasa mual yang ku rasakan sekarang sangatlah sakit hingga rasanya, semua organ dalam tubuhku bergejolak hendak ikut keluar. Ternyata sakitnya muntah ibu hamil itu sangat keterlaluan seperti ini.
Kakek sudah meminta dokter Gina untuk datang sejak pertama kali aku muntah, sedangkan Tian yang syok dengan kondisiku. Malah marah-marah tidak jelas, Tian membanting apa saja yang ada di dekatnya. Entah kenapa dia jadi sosok singa yang sedang mengamuk, hanya kerena tidak tega sekaligus merasa bersalah karena aku muntah-muntah tanpa henti sejak tadi.
__ADS_1
Aku memang tidak menyukai telor mata sapi setengah matang, tapi ini kali pertama aku mengalami kejadian setragis dan semenyakitkan ini. Biasanya kalo liat terlor mata sapi setengah matang aku hanya merasa mual hingga membuatku semakin eneg kalo liat telor mata sapi. Walaupun ini bukan kali pertamanya aku melihat kuning telur setengah matang itu melumuri butiran nasi, tapi kenapa rasanya aku tidak bisa mengontrol rasa muak ku saat melihatnya.