
Ada terlalu banyak kejutan untukku hari ini, saat pertama kali membuka pintu kamar. Aku dikejutkan oleh seekor kucing belang hitam dan juga belang putih di dahi serta keempat kakinya. Awalnya kukira itu hanya ilusi, tapi saat aku mendekat ke kasur, kucing itu berjalan dengan anggun ke arahku.
"Allahuakbar... Ya Allah... kucing beneran!!" kagetku saat kucing itu mengelus tanganku yang tergeletak
"Meong...." kata si kucing entah kenapa seperti ada tekanan
Aku membelai kepala tu kucing dengan sedikit enggan soalnya, aku tidak menyukai yang namanya binatang. Setelah ku belai kucing ini semakin manja layaknya kucing biasa yang sering kutemui dimana-mana. Secbelum aku hanyut akan ni kucing, Segera kusingkirkan kucing ini kesamping dan aku pun beranjak keluar kamar. Diluar kamar kulihat Vina sedang asik chatting an dengan pacarnya, tanpa memperhatikan sekitar lagi. Biasalah namanya juga lagi pacaran jelas terhanyut ke dalam dunia mereka masing-masing.
"Vin! udah sholat belum!" tegurku dan beranjak ke tempat wudhu
"Bentar lagi!!" katanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar kecil ponselnya dengan senyam-senyum sendiri
"Jangan lupa sholat!" kataku sebelum membasuh wajah dengan air mengalir
Aku berwudhu seperti orang kebanyakan, kagak ada bedanya dengan orang-orang pada umumnya. Setelah selesai makan di warung Mak Haji tadi, kami diantar para cowok sampai kosan. Sebelum para cowok pulang ketempatnya masing-masing, kami masih sempat berbincang di depan kos selama satu jam. Tapi sepertinya para pasangan ini masih belum puas juga bertemu dan saling berbincang, hingga melanjutkan kemesraan mereka di media sosial.
Selesai wudhu aku segera kembali ke kamar untuk sholat, namun di kejutkan oleh teriakan Dewi yang melengking dari kamarku. Aku dan Vina yang kebetulan mendengar teriakan Dewi segera mendobrak pintu kamar...
"Kenapa Dew?" tanyaku dan Vina bersamaan
__ADS_1
"Kucing siapa ini? kok imut banget..." katanya dengan mata kagum sambil mengelus tu kucing
"Ya elah... gue kira apaan!!" kataku dan beranjak masuk mengambil mukena
"Sejak kapan Lo miara kucing?" tanya Vina menatapku intens
"Gue kagak miara tu kucing! baru juga tadi gue liat ni kucing ada di kamar... Dew! ambil ni kucing kalo kagak mau gue tendang!" kataku saat kucing itu mengarah kepadaku dengan langkah anggun
"Meongg..." kata tu kucing berhenti di tempat dan menatapku marah
"Bawa keluar ni kucing! gue mau sholat dulu!" kataku kembali melunak seperti biasa
"Kejam sekali anda! kucing seimut dan secomel ini mau di tendang!!" kata Dewi dan segera menggendong kucingnya keluar
Setelah keluar kamar, tu kucing berisik minta ampun sampai beberapa kali aku salah baca surah. Di tambah dengan mereka bertiga yang ikut ribut berusaha mendiamkan tu kucing yang katanya lagi laper. Aku mengulang sholat yang kagak khusyuk barusan setelah kucing diam, entah mereka apain. Sholatku masih sama seperti kebanyakan orang, kagak ada bedanya dengan cara sholat Islam lainnya.
Setelah selesai sholat aku memutuskan untuk ngaji dulu beberapa ayat, sekalian melepas kebosanan. Pikiranku menjadi lebih tenang dan hatiku seakan-akan terisi oleh sesuatu lagi, setelah sempat terasa kosong. Al-Qur'an memang obat sekaligus penawar segala kegundahan hati dan pikiran seperti yang kurasakan beberapa saat yang lalu. setelah selesai ngaji, aku hanya duduk merenung menatap Al-Qur'an di pangkuan dengan tatapan kosong dan pikiran tenang.
Saat ini aku benar-benar merindukan orangtuaku di kampung, bapak sama ibu apa kabar disana?. Disini anakmu sedang bermimpi akan bertemu dengan keberhasilan dan segeranya membawa kalian pergi mengunjungi tanah suci. Tunggu anak kalian yang durhaka dan bodoh ini beberapa waktu lagi, anakmu ini berjanji akan memberikan kehidupan yang lebih layak lagi.
__ADS_1
"Ya Allah..." desahku berharap beban ini ikut turun
Saat ini aku sedang nyaman dengan mukena yang kukenakan dan Al-Qur'an yang ada di dekapan. Aku ingin seperti ini beberapa saat lagi, kuharap tidak akan ada gangguan dari luar yang bisa membuyarkan ketenangan ku saat ini.
"Meongg..." kucing hitam ini kembali mengeluarkan tubuhnya di tanganku yang tergeletak
"Astaghfirullah... kapan masuk lagi nih kucing? jalan mana pula masuknya?" kagetku dan menatap pintu dan jendela yang tertutup
Aku segera melepaskan mukena yang ku kenakan, takut kalo tiba-tiba ni kucing pipis. Setelah meletakkan mukena dan Al-Qur'an pada tempatnya, aku segera keluar kamar yang di ikuti kucing...
"Lah... kok kucingnya ada di kalian... bukannya barusan ada di..." kataku terhenti saat tidak ada apa-apa di kamar
"Apaan? sejak tadi ni kucing sama kita juga!" kata Dewi sewot
"Perasaan tadi... udah kagak usah di ambil pusing.." gumamku dan hendak ikut gabung di sofa
Piw... sekilas tu kucing terlihat sedang mengedipkan matanya sebelah ke arahku yang sedang menatapnya penuh tanya. Aku membelalakkan mata meyakinkan penglihatan ku, tapi yang kulihat hanya tatapan manja dari si kucing. Setelah aku ikut duduk diantara mereka, tiba-tiba ni kucing lompat kepangkuanku yang segera ku pukul dan terlempar ke lantai, Murni karena kaget.
"Ruuuu!!!!" teriak mereka bertiga kaget dan kesal melihat aku menepis tu kucing hingga terlempar
__ADS_1
"Maaf! barusan murni karena kaget!" cengirku dan segera mengambil tu kucing dan membawanya kepangkuan ku
Tatapan mereka bertiga masih sangat tajam kepadaku yang sedang cengar-cengir mengelus kucing. Hanya karena terlempar dikit gitu aja mereka sampai mau mengajak ku berduel, serem tau.