JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Diriku Sendiri


__ADS_3

Aku tidak ingin menyapa dan berlama-lama bicara dengan kedua tetangga ku ini, setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi pada Lisa aku segera pamit masuk ke dalam. Karena efek lelah, tubuh ini langsung tumbang di sofa ruang tengah, kepalaku rasanya mau pecah dan kunang-kunang beterbangan memenuhi mata. Aku tidak tidur, hanya memejamkan mata selama mungkin untuk menghilangkan efek kunang-kunang yang sangat mengganggu ini.


"Hadeuh... Rasanya pengen cepet-cepet bebas dari tuntutan pekerjaan ini..." rintihku sambil memijit-mijit kening


"Bertahan sebentar lagi... dari dulu selalu berhenti di tengah-tengah! Ayo lah jangan malas lagi..." kata sebuah suara di dalam kepalaku


"Emangnya nggak capek harus mengerjakan sesuatu yang nggak disukai?" Tanyaku pada diri sendiri


"Kalo merasa capek! Berarti masih memiliki sisi kemanusiaan! Ku mohon bertahan sebentar lagi aja ya...ya... ya?" Katanya memohon


"Tau ah! Berisik!" Kesal ku meminta suara dari kepalaku agar berhenti bicara


Aku tidak ingat pastinya kapan aku suka bicara sendiri dengan pikiranku, rasanya sangat nyata setiap kali suara dari kepalaku mengajak ngobrol. Tapi suara itu, hanya kadang-kadang muncul, tepatnya di saat aku selalu merasakan sakit kepala seperti sekarang. Biasanya suara itu, akan bercerita tentang perjalanan dari orang-orang yang menuliskan biodata dirinya menjadi sebuah buku, yang hanya kulihat sampulnya doang. Entah bagaimana bisa pikiranku sendiri bertentangan dengan keinginanku seperti ini, di katakan sebagai kepribadian ganda bukan sama sekali. Dikatakan kelainan jiwa lainnya juga bukan, jadi aku hanya menebak jika aku suka berbicara dengan alam bawah sadarku saja, bukan kelainan jiwa, karena masih sangat waras.


Tapi orang yang memiliki riwayat sakit jiwa tidak akan mengakui dirinya sakit jiwa, lah kok aku malah meremehkan diriku sendiri kayak gini sih. Aku nggak bisa terima kalo diriku sendiri mengaku sebagai orang sakit jiwa, aku nggak akan pernah mengakuinya sampai kapanpun. Dulu sewaktu masih kecil para saudaraku, mengatai ku dengan sebutan orang gila, bodohnya aku malah mengiyakan sebutan itu. Hingga akhirnya membuatku sempat benar-benar bertingkah kayak orang gila, sumpah aku sangat menyesal mengiyakan sebutan itu. Sekarang aku hanya berharap, agar tidak kumat lagi penyakit gilaku yang udah lama nggak mampir, dan semoga nggak akan pernah mampir lagi kehidupku.

__ADS_1


Tanpa sadar aku merasa jika tubuhku serasa melayang-layang di udara, seperti ada yang mengangkat tubuhku. Saat ini aku malas membuka mata, dan mungkin rasa melayang ini hanya efek dari kelelahan yang mendadak saat ini. Yang jelas sekarang aku ingin tidur agar besok bisa kembali bekerja dengan semangat baru. Selamat malam semuanya.


****


Paginya aku bangun dengan kepala yang terasa sangat berat, badanku juga terasa panas ditambah dengan selimut yang menutupi tubuhku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata kebingungan saat melihat jika sekarang aku sedang berbaring di atas kasur, ya ini adalah kamar di apartemen ku, karena foto keluargaku yang tertempel di langit-langit kamar. Sejak kapan aku tidur di kasur, seingat ku tadi malam aku tidur di sofa ruang tengah, tapi kenapa bangunnya tiba-tiba udah di kasur.


"Apa jangan-jangan ada yang masuk ke apartemen ku tadi malam saat aku ketiduran di sofa..." kataku segera bangkit dari kasur hendak memeriksa ruang tengah


Sialnya saat aku berdiri dari kasur, kepala terasa berputar membuatku lemas seketika dan tubuhku tersengal hanya karena gerakan repleks seperti ini. Nafasku terasa memburu, rasanya sangat sesak jika aku tidak terus bernapas dengan buru-buru seperti ini, hawa panas menyeruak ke dalam seluruh tubuhku. Tiba-tiba semua sendi dan darahku seakan berdesir dengan gejolak membuncah hendak meledak di dalam tubuh.


Aku lelah bernafas, peluh membanjiri seluruh tubuhku, apa yang sedang terjadi dengan tubuhku saat ini. Saat hendak mendongakkan kepala, kamar kembali berputar dengan hebat hingga membuatku merasa mual. Kunang-kunang kembali memenuhi mataku yang menolak untuk memejam, rasanya begitu nyeri di bagian kepala dan persendian mataku. Nafasku kian memburu-buru udara segar, seakan-akan tidak ingin membiarkan udara segar terlewat sepersekian detikpun saat ini. Wajahku sangat dingin tapi bagian tubuh yang lain terasa panas, kulitku yang lain juga mulai dingin namun darahku terus berdesir kepanasan.


"Akghhh...." rintihku saat kepala terasa hendak meledak kesakitan


Saat itu sakitku ini tidak terlalu parah, karena ada Ain yang menemaniku lewat suaranya yang hangat terus menyanyikan lagu yang kuinginkan dan membuatku tenang hingga terlelap. Tapi sekarang tidak akan ada suara hangat yang akan menyanyikan lagu yang ku inginkan lagi, entah kenapa saat ini aku merasakan sakitnya kehilangan lagi setelah beberapa hari berlalu. Aku merindukan Ain yang selalu menatapku penuh cinta, aku merindukan perhatian Ain yang tidak terlalu lebay saat menemani hari-hariku bersamanya.

__ADS_1


Aku merindukan ketulusan dimata Ain setiap kali menatapku, aku merindukan semuanya pada diri Ain. Sekarang aku tidak bisa menahan haru lagi, biarkan aku mengatakan yang ingin kukatakan, dan biarkan aku merindukan umat-Mu secara berlebihan. Setiap kata yang terurai dari bibirnya, biarkan aku mengingat itu semua, biarkan aku terhanyut dalam kasih sayangnya yang tulus padaku. Saat ini hatiku penuh dengan dirinya, aku ingin kembali merasakan pelukan hangat terakhir kami di hari itu, pelukan pertama yang di lakukannya padaku setelah sekian lama. Hanya Ain yang bisa membuatku merasakan cinta dan semangat untuk hidup sebesar ini, hanya Ain dan hanya akan ada Ain.


"Akgghhhhh...." teriakku meningkahi suara tangisku sendiri yang begitu pilu menginginkan kehangatan dan kehadiran Ain yang udah tenang di sana


Kenapa, Tuhan begitu kejam? Tuhan telah merenggut seseorang yang membuatku merasakan hidup ini memiliki arti. Kenapa Tuhan merenggut seseorang yang membuatku merasakan kasih sayang dengan tulus yang tidak ku temukan di dalam keluargaku sendiri? Aku ingin membenci Tuhan, tapi mengapa tidak bisa kulakukan? Kenapa hatiku menjerit meminta tolong Pada-Mu lagi oh Tuhan. Semuanya kenapa harus berakhir dengan pertanyaan yang tidak akan ku mengerti jawabannya, aku tidak ingin berandai-andai, tapi mengapa aku harus merasakan sakit dari seseorang yang tidak pernah kucintai.


"Aku tidak mencintai Ain! Tapi mengapa? Mengapa? Mengapa kehadiran Ain mempengaruhi semua kehidupan ku?" Aku tidak bisa menghentikan air mata yang terus mengalir


Aku memukul dada ku sendiri, karena merasa sesak yang begitu menyakitkan, perasaan yang pernah kurasakan saat mama memarahi dan membentak ku saat kecil, kenapa harus perasaan seperti ini yang hadir? Apakah Tuhan ingin melihatku melewati ujian ini dengan wajah tersenyum? Ataukah Tuhan ingin menunjukkan sesuatu yang harus ku ketahui, melewati ujian ini? Tapi mengapa harus perasaan sakit yang sangat kubenci sebagai ujian hidupku? Mengapa dan kenapa Tuhan?


Aku ingin tahu kenapa aku harus hidup dengan bayang-bayang menyakitkan masa lalu seperti ini? Kenapa Tuhan sangat menyukai melihatku berjuang hanya untuk membuktikan diri kepada orang-orang yang meremehkan keberadaan ku? Mengapa Tuhan selalu memberikan kebahagian yang tidak kuinginkan di saat aku sedang tidak menginginkannya? Dan kenapa Tuhan memberikan ujian sesakit ini di saat aku hanya sendirian seperti sekarang? Bagaimana jika aku tidak bisa menahan sakitnya ujian ini dan menyebabkan kematian bagiku? Lalu bagaimana nasib tubuhku nanti jika tidak di temukan secepatnya oleh orang-orang? Pasti akan membusuk dan hanya akan menjadi bahan gosip para umat-Mu, yang suka menilai orang seenaknya kan?


Ku akui, jika aku memang hamba yang kurang ajar, aku hamba yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dihasilkan, aku yang tidak pernah tulus dengan perasaan orang lain. Tapi bukankah aku memang harus hidup seperti itu, jika ingin bertahan di dunia yang penuh persaingan ini? Aku memohon ampun, karena selama ini aku tidak terlalu mendekat kan diriku Pada-Mu oh Tuhan. Tapi aku selalu mengingat-Mu disaat dan dalam keadaan apapun, ku mohon jangan salahkan hamba-Mu yang kecil ini. Setidaknya biarkanlah aku kembali bernafas normal, agar aku bisa menunaikan sholat subuh pagi ini.


Biarkan kesakitan ini pulih, sebelum waktu baik untuk sholat subuh pagi ini terlewat sedikitpun dari genggamanku. Tak apa jika tidak pulih seperti semula, biarkan aku menunaikan sholat subuh seperti ini saja, biarkan rasa sesak ini masih terasa sedikit untuk menjadi pengingatku tentang-Mu. Walaupun dengan tubuh yang terseok-seok seperti ini menuju kamar mandi, untuk mengambil wudhu aku tetap mengucapkan puji syukur atas kesempatan yang Engkau berikan saat ini.

__ADS_1


Walaupun rasanya kepala ini hendak pecah, aku masih bisa menunaikan sholat subuh yang membuatku berangsur membaik dari sebelumnya. Saat keluar kamar, aku tidak menemukan siapapun dan juga tidak ada tanda-tanda jika apartemen ku kemasukan orang tadi malam, apa mungkin tadi malam aku tidur sambil berjalan menuju kasur? Entahlah, aku meminum segelas air putih untuk membasahi dahagaku yang terasa kering kerontang. Walaupun sakit yang kurasakan masih ada, tapi itu bukan menjadi halangan untukku pergi bekerja seperti hari-hariku biasanya.


Walaupun tidak dengan semangat 45 aku masih merasa puas karena masih bisa bernafas melewati jalanan kota yang selalu bising ini. Setelah selesai mandi dan siap-siap bekerja, di depan pintu ternyata Lisa sedang berdiri hendak menekan bel apartemen ku, bertepatan denganku yang membuka pintu. Dia kaget karena aku yang tiba-tiba membuka pintu, dan wajahnya saat kaget menjadikan alasan untuk ku tertawa, walaupun terasa hampa.


__ADS_2