JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Penampilan Kelompok Kami


__ADS_3

Sebelum para dosen datang, kami semua telah menyusun ulang posisi dan dekorasi tempat sidang seperti yang telah kami sepakati. Semuanya terlihat sedikit cemas, takut jika penampilan kami akan lebih buruk dari gladi bersih beberapa jam yang lalu. Aku juga melihat getir cemas di wajah Putri, yang beberapa hari ini sangat menantikan hari ini terjadi.


"Gugup ya?" tanyaku setelah berada di samping nya


"Lumayan..." katanya tersenyum getir


"..." Aku mengambil tangannya dan kuletakkan tepat di dadaku yang sangat kencang berdegup


"Gila!! kayak mau copot aja tuh jantung!!" kata Putrikaget saat merasakan debaran jantungku yang kelewat cepat


"Gue emang gugup sekaligus takut! tapi gue nggak bakal ngalah dengan argumen kalian berdua!!" kataku sambil tersenyum licik


"Gue juga nggak bakal ngalah kalo gitu!!" kata Putri disertai senyum sinisnya


"Kita bertaruh! yang kalah dalam permainan ini gue atau Lo?" tanyaku dengan senyum sinis


"Ya jelas Lo lah!!" katanya meremehkan ku


"Kalo gue menang gimana?" tanyaku tersenyum licik


"Gue bakal menuhin satu permintaan Lo! sebaliknya pun juga begitu..." katanya menggenggam tanganku erat


"Oke gue terima!!" balasku menggenggam tangannya


Rombongan dosen pembimbing datang dan memenuhi kursi penonton untuk menyaksikan pertunjukan kami. Budi segera mengisyaratkan kami agar segera menyusun formasi, untuk memulai permainan. Setelah menyampaikan beberapa parah kata, permainan pun dimulai.


"Jaksa penuntut dipersilahkan bicara!" kata Hakim meminta Jaksa penuntut mengemukakan argumennya


"Baik! terimakasih yang mulia hakim..." kata Putri berdiri dari kursinya dan memulai argumennya


"Apakah ada yang ingin di sampaikan oleh pengacara terdakwa?" tanya hakim saat jaksa penuntut mengakhiri argumennya dengan hebat


"Ada yang mulia..." kataku segera bangkit dari kursi


Kalimat demi kalimat pembantahan keluar dari mulutku dengan tegas, hingga membuat Putri membelalak kaget menatapku. Sepertinya dia mulai tertantang oleh pancingan dariku, yang sebenarnya kusengaja untuk membangkitkan jiwa gregetnya. Suasana mulai tegang saat Putri mulai memberikan kesaksian demi kesaksian untuk membalas bantahan ku. Kadang Putri juga memberikan kesempatan kepada Jihan untuk berspekulasi dalam permainan.

__ADS_1


Entah kenapa aku yang menjadi terbawa emosi untuk membebaskan tersangka dari tuduhan mereka yang ternyata mulai akur. Dasar Putri... Dia sengaja membuat dirinya membutuhkan bantuan dari Jihan agar perselisihan diantara mereka tidak terlihat. Mereka berdua sekarang bersatu untuk melawan semua argumen ku, namun hal ini membuatku semakin tertantang untuk mengalahkan kedua musuh yang kini bersatu itu. Sekarang ruangan ini hanya terasa ada kami bertiga yang sibuk mengeluarkan argumen masing-masing.


"Baiklah! Jaksa penuntut apakah masih ada yang ingin di sampaikan?" tanya hakim setelah semua tuduhan mereka semua berhasil kutepis


"Ada yang mulia! kami akan menghadirkan seorang saksi dalam pengadilan..." kata Putri meminta persetujuan hakim


"Silahkan..." kata hakim dan menopang dagunya dengan kedua tangan layaknya hakim yang sedang mengawasi jalannya persidangan


"Pada malam hari sekitar pukul 22:45, di jalan anggrek nomor 56, anda seorang karyawan bank yang tidak sengaja melewati jalan tersebut melihat sesuatu yang mencurigakan dari balik bangunan kosong disana... hingga membuat anda memeriksa tempat tersebut... dan secara langsung menyaksikan... pembunuhan seorang gadis remaja SMA oleh terdakwa! benarkah begitu?" kata Putri kepada saksi tersebut


"Benar!" kata saksi membenarkan


"Sekali lagi saya tanyakan! apakah benar orang itu yang anda lihat?" kata Putri memastikan


"Benar! saya yakin... walaupun saat itu pencahayaan tidak mendukung di dalam bangunan itu... tapi saya mengenali potongan rambutnya..." kata saksi menunjuk jam tangan yang di pakai tersangka mengikuti teks


"..." tersangka segera terlihat pasrah di tempat duduknya


"Sekian! terimakasih..." kata Jaksa penuntut dan kembali ke tempat duduknya


"Ada yang mulia... saya ingin menanyakan beberapa hal kepada saksi..." kataku segera bangkit dari kursi


"Silahkan..." kata hakim mempersilahkan


"Pada pukul 22:45, jalan anggrek nomor 56, di sebuah bangunan tidak berpenghuni... Anda menyaksikan secara langsung pembunuhan yang di lakukan oleh klien saya! apakah benar?" tanyaku pada saksi


"Benar!!" kata saksi masih mengikuti teks


"Saya ingin menanyakan beberapa hal kepada anda..." kataku sambil mengelilingi saksi "...pada malam itu anda melihat secara langsung klien saya membunuh gadis SMA tersebut... Apakah anda masih mengingat seperti apa pakaian klien saya saat itu?" tanyaku menatapnya tajam


"Ya... tentu saja saya ingat... dia berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga kakinya..." kata saksi menyadari sesuatu


"Ya dari ujung kepala hingga kaki... lalu bagaimana anda tau jika potongan rambut si pembunuh sama dengan klien saya?... apakah anda benar-benar menyaksikan pembunuhan itu?... lalu kenapa anda bisa melewati jalanan itu?, sedangkan rumah anda


sangat jauh dari sana!... mohon anda mengatakan yang sebenarnya..." kataku pada saksi penuh penekanan

__ADS_1


"Sa...saya..." katanya kebingungan karena di teks tidak menjelaskan siapa yang akan menang


"Sekian terimakasih!!" kataku penuh kepuasan dan kembali duduk


"Jaksa penuntut! apakah masih memiliki bantahan?" tanya hakim kepada jaksa penuntut


"Ada yang mulia!" kata Jihan setelah menggangguk pada Putri


"Silahkan!!" hakim mempersilahkan


"Saya akan membacakan alibi yang diterangkan saksi sekaligus menjawab semua pertanyaan dari pengacara tersangka..." kata Jihan menatapku tajam


"Dipersilahkan..." kata Hakim setelah berbisik dengan hakim 2 dan 3


"Pada malam itu saksi sedang menuju perjalanan ke rumah temannya dan sengaja memotong jalan hingga melewati jalan anggrek... Setelah menyaksikan pembunuhan saksi sempat mengejar tersangka hingga membuat penutup kepala tersangka lepas dan memperlihatkan potongan rambut yang sama persis dengan tersangka... dan sidik jari yang ada di pisau ini juga milik tersangka..." kata Jihan menyerahkan pisau yang telah di lumuri saus tomat sebagai bukti


Aku tidak mengetahui jika mereka menemukan barang bukti dalam kasus ini, mungkin inilah yang membuat Putri sangat yakin jika dia akan mengalahkan ku. Tapi aku juga mempunyai alibi yang cukup kuat untuk melawan bukti itu. Hehehe... kita belum bisa menentukan kemenangan hanya karena barang bukti.


"Yang mulia... saya ingin menanyakan beberapa hal lagi kepada saksi!" kataku sesegera mungkin angkat suara sebelum hakim mengambil keputusan


"Baiklah..." kata hakim mempersilahkan setelah melakukan perundingan Dangan hakim 2 dan 3


"Hmmm... jadi tersangka membunuh korban dengan pisau... apakah anda masih ingat tangan mana yang di gunakan tersangka untuk menusuk korban?" tanyaku


"Tangan kirinya..." kata saksi setelah melihat isyarat dari jaksa penuntut


"Apakah ada alasan kenapa tersangka menusuk dengan tangan kirinya?" tanyaku lagi


"Karena tersangka seorang ambidextrous... dapat melakukan segala hal dengan kedua tangannya secara fasih!" kata saksi memberikan argumen


Dia mengatakan sesuai kalimat dalam teks lagi, Hmmm... sekarang aku merasa sedikit terpojok.


"Tapi klien saya hanya kidal bukan seorang ambidextrous..." kataku mengatakan kebenaran dari si tersangka yang emang kidal "Sekian terimakasih..." kataku kembali duduk


Sekarang biarkan Hakim yang berpikir keras harus menentukan keputusan seperti apa. Karena barang bukti dan semua argumenku memang nyata adanya, dan akhirnya hakim memutuskan tersangka tidak bersalah. karena barang bukti bisa dipalsukan sedangkan argumenku tidak bisa karena memang Budi orangnya kidal. Kok aku pengen ketawa ya?

__ADS_1


"pak hakim anda memang adil" sorakku dalam hati karena kemenangan berada di pihakku


__ADS_2