
Malamnya aku menemui Dewi di kamarnya, yang gelap dan pengap, karena penghuni kamar ini sedang dalam fase tertekan. Tadi sore Vina kembali ke rumah orang tuanya yang tidak jauh dari kosan, untuk menenangkan diri, setelah kuberikan sedikit petuah. Aku menyalakan lampu kamar Dewi yang segera memancarkan cahaya di setiap sudut kamar. Kulihat tubuh Dewi di balik selimut masih sesenggukan, karena tangisnya. Sepertinya masalah kali ini bukan hal kecil seperti biasa.
Aku duduk diam di tepi kasurnya, menunggu dirinya tenang dulu baru mengajaknya bicara. Tapi tak lama setelah aku duduk, Dewi kembali menangis terisak, dan semakin membuatku bingung kenapa bisa seperti ini. Apakah masalahnya benar-benar sangat serius, hingga membuat Dewi sangat tertekan.
"Lo ngapain mau kesini? mau ngejek gue juga? mau ngatain gue munafik? mau tampar gue lagi?" kata Dewi dari balik selimutnya masih sesenggukan
"Kenapa? Lo rasa gue punya banyak waktu buat ngatain Lo kayak gitu? kalo soal tamparan tadi siang kalian berdua pantas mendapatkannya... hisss..." kataku mendesis menyentuh bekas cakaran Vina dan Dewi di wajah
"Dimana letak kepantasannya??" kata Dewi segera bangkit dari balik selimutnya dengan kesal
"Lo nggak liat... nih... nih... disini juga ada bekas cakaran kalian! gimana Lo mau tanggung jawab dengan wajah imut gue yang tergores ini!!" kataku kesal padanya
"Lo masih mending... coba liat muka gue!!" katanya memamerkan wajahnya yang penuh bekas cakaran
"Ya kan kalian yang berantem... pantas aja kalo penuh luka... lah gue! cuma mau nengahin tapi juga dapet hadiah!!" kesalku dan menjitak jidatnya
"Ya kan nggak salah gue sepenuhnya..." kata Dewi tersenyum simpul
"Lo masih mumet nggak?" tanyaku setelah diam beberapa saat
"Lo liat aja sendiri!!" katanya dan segera menarik selimut hendak menutupi tubuhnya lagi, namun segera kutahan
"Kita keluar yuk! jalan-jalan sekalian membuang tekanan bati !!" ajakku padanya
"Emmm..." dia mikir dulu
"Kelamaan mikir!!!" kataku segera menarik Dewi turun dari kasur
__ADS_1
"Tunggu! gue ngambil kerudung dulu..." katanya yang menarik sembarang kerudung yang berserakan di kasur
Kamar Dewi emang berantakan karena dia jarang merapikannya, kamar yang paling rapi di antara kami berempat. Jelas kamarku yang tidak memiliki banyak barang seperti mereka. Dan rekor kamar terabsurd dan paling berantakan, dimenangkan oleh Sierra. kenapa? karena dia kebiasaan dimanja di rumahnya jadi secara pribadi menjadikan nya malas. Walaupun pendiam, Sierra tetaplah bobrok banget orangnya, lebih bobrok ketimbang Vina si manusia sembrono dan nyablak itu. Tapi nyablak-nyablak Vina tetap lah pribadi yang mandiri.
"Ra! kita mau keluar dulu! Lo tolong jagain kosan ya!!" kataku di depan kamarnya
"Nggak mau sendirian!! gue ikut!!!" katanya yang segera bangkit dari kasur dan tersungkur karena tersandung pakaian dalamnya yang berserakan
"Lo nggak apa-apa kan?" tanyaku setelah memutar bola mata karena sikap cerobohnya
"Dasar bra sialan! nggak... gue baik-baik aja kok! katanya melemparkan bra kesembarang arah kesal dan segera bangkit berdiri
"Makanya! sekali-kali dirapiin nih gudang!!" kataku dan segera berbalik menghampiri Dewi yang melamun di depan pintu
"Emang kita mau kemana?" tanya Sierra saat aku memintanya mengunci pintu
"Tawaf sekalian Sa'i!" kataku malas
"Nyari angin!!" sahut Dewi
"Ngapai angin di cari! ntar juga datang sendiri!!" sahutku bercanda
"Cuma jodoh Lo aja yang nggak kunjung datang!!" kata mereka bersamaan dan membuatku kesal
Kami bertiga melangkahkan kaki keluar komplek, dan mulai menyusuri jalanan malam. Hingga sampailah kami di tepi sungai Barito yang merupakan anak sungai utama dari sungai Martapura yang melewati kota Banjarmasin. Di tepian aku dan Dewi yang diikuti Sierra berteriak sepuasnya, hingga membuat beberapa pasangan menoleh heran kepada kami bertiga. Sebelum kami berangkat kesini aku telah mengabari Vina, agar dia nggak ngerasa kalo kami mengabaikannya saat mengetahui kejadian ini nantinya.
Karena selama ini Vina sangat kukenal dengan sifat julid dan cemburuan. Makanya sering berantem ama Dewi, karena Vina merasa tersaingi oleh ketenaran Dewi di kalangan laki-laki. Sejak tadi sebenarnya aku merasa jika kami diikuti oleh seseorang, dan taunya orang itu adalah Vina yang sekarang lagi sembunyi di balik pohon agar tidak di lihat oleh kami. Sierra dan Dewi emang kagak sadar kehadiran Vina, karena mereka nggak terlalu waspada dan peka dengan lingkungan sekarang.
__ADS_1
"Dew... sebenarnya ada masalah apa lagi sih sama Vina?" tanyaku memulai percakapan saat Sierra kuminta untuk membeli minuman, disini Sierra nggak tau tentang pertengkaran mereka
"Gue juga kagak tau! tiba-tiba aja tu anak ngatain gue munafik, bangsat, gila, apalah itu... gue aja bingung salah gue dimana!" kata Dewi menjambak hijabnya sendiri
"Lo beneran nggak tau apa-apa atau cuma kagak ingat telah buat salah apa gitu?" tanyaku lagi
"Demi Allah... gue nggak tau masalah kali ini karena apa lagi!!" katanya menatapku dengan mata yakin
"Nggak usah bawa-bawa nama Tuhan deh... Lo itu pelakor munafik... percuma selama ini gue anggap Lo sahabat gue!!" kata Vina keluar dari persembunyiannya
"Vin! kalo punya mulut di jaga dong!!" kata Dewi kesal lagi
"terus aja berantem... biar semua orang tau kalo persahabatan kalian sangat rapuh... kayak tusuk gigi!!" kesalku dan membuang muka
"Emang gue udah apain Lo? jadi Lo bilang gue pelakor munafik?" kata Dewi sedikit melunak karena tidak ingin berdebat hingga terjadi perkelahian lagi
"Heh... Lo lupa! semalam Lo jalan sama cowok gue ke mall kan?" kata Vina mengatakan titik masalah
"Gue jalan bukan cuma sama pacar Lo, tapi sama pacar gue juga... Lo jangan sembarangan nuduh!" kata Dewi menjelaskan
"Heh... terus aja pakai alibi! gue nggak bakal percaya!" kata Vina sambil menopang tangannya didada
"Kalo gitu! kita pulang dulu... malu diliat orang-orang!" kataku menengahi mereka saat orang-orang mulai memperhatikan kami
"Gue nggak mau!!" kata Vina menepis tanganku
"Lo jangan gila! selesai in masalah ini dirumah! kalo Lo nggak mau malu!!" kataku tegas dan segera menarik mereka berdua segera kembali ke kos
__ADS_1
Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa? perhatianku sekarang hanya tertuju untuk segera melarikan mereka berdua ke kosan. keduanya hanya diam saat ku gandeng pulang dan saling diam walaupun tatapan keduanya terlihat masih bermusuhan. Sedangkan di tempat kami barusan Sierra celingak-celinguk mencari keberadaan ku dan Dewi yang telah lenyap di telan orang-orang yang telah berlalu lalang.
"Lah... kok gue di tinggal..." kata Sierra sedih sambil memandangi minuman kaleng di tengannya dengan bingung