
Lampu kamar kumatikan karena sinarnya terlalu terang karena aku selalu merasa tidak nyaman jika tidur dengan lampu yang terang. Tubuh ku memang lelah, tapi entah mengapa sangat sulit untuk istirahat dengan tenang, apa mungkin karena setiap kali aku pulang ke rumah ini tidak pernah tidur saat malam, hingga menjadikan itu sebagai sebuah kebiasaan saat berada di rumah?
Karena mataku masih malas untuk tidur, kuputuskan untuk duduk di depan jendela, menatap langit malam yang sangat indah dengan dihiasi ribuan bintang di langit, serta bulan sabit yang sangat menawan. Biasanya, aku selalu menatap bulan saat aku merindukan Ain, saat kami harus ldr selama beberapa hari bahkan minggu, biasanya kami berhubungan jarak jauh karena aku yang harus ke luar kota mengurus beberapa masalah yang di alami perusahaan. Tapi kini selamanya aku dan Ain akan ldr seperti ini, aku yang hanya bisa menatap langit malam saat merindukan sosoknya dalam hari-hariku.
Seandainya kejadian turbulensi tadi siang menenggelamkan pesawat yang ku tumpangi di laut jawa, mungkin sekarang aku dan Ain bisa bertemu. Tapi apalah dayaku, turbulensi tadi siang bukan termasuk bencana yang sangat berbahaya, karena langit yang menghubungkan dua pulau ini tidak terlalu memiliki bahaya saat cuaca sedang buruk. Walaupun ada kemungkinan pesawatp yang ku tumpangi tadi siang akan memakan korban, tapi entah kenapa aku merasa yakin jika hidupku masih belum akan selesai semudah itu.
"Sepertinya Tuhan masih menyayangkan nyawaku yang hanya secuil ini..." gumamku menatap langit malam yang indah dari lantai dua rumah
Aku selalu menghitung jumlah benda langit yang melintas, saat waktu kecil sering kukatakan sebagai bintang lewat. Seberkas cahaya terang yang selalu melintas di langit, yang selalu membuatku bertanya-tanya berapa kilometer benda itu melintas dalam waktu satu jam? Jika kecepatannya saja hanya sekilas cahaya lewat. Bagaimana akibatnya jika benda itu jatuh ke bumi dan menghantam laut Kalimantan? Apakah nantinya pulau Kalimantan akan terkena tsunami yang sangat dahsyat? Ataukah dunia akan kiamat jika tertimpa benda itu?
Aku selalu merasa penasaran akan segala hal, tapi rasa penasaranku terbunuh oleh jawaban kalimat dari para saudaraku yang mendengarnya. Mereka mengatakan jika aku gila dan sangat bodoh, karena hal tidak penting seperti itu saja di tanyakan. Aku memang gila dan sangat bodoh melebihi yang mereka katakan, karena aku menjadikan perkataan mereka sebagai sesuatu yang harus kupegang dan ku genggam sepanjang hidupku. Jujur aku merasa bodoh, karena hanya bisa menelan semua pertanyaan yang menggumpal membentuk kaset yang kusut dalam kepalaku.
Ingin rasanya aku pergi menjelajah dunia, untuk menemukan orang-orang yang memiliki dan sepemikiran denganku saat ini. Tapi apalah dayaku, karena termakan perkataan saudaraku lagi, aku kembali hanya membiarkan keinginanku pupus tertutupi waktu yang terus berlanjut. Memang sulit jika memiliki saudara yang terlalu rasional dengan hidup, aku tau jika mereka juga memiliki banyak pertanyaan dalam kepala mereka, tapi meraka mengabaikan pemikiran itu dan menganggapnya sebagai hal yang sia-sia untuk di pertanyakan, maka dari sanalah lahirnya sifat merendahkan yang mereka yakini.
Konyolnya sekarang aku sedang mempertanyakan siapa diriku sebenarnya? Kenapa aku harus terlahir? Untuk apa dan mengapa? Apakah aku di lahirkan hanya untuk menjadi pembanding di antara saudaraku? Tidak adakah seseorang yang bis memberitahuku, kemana aku harus melangkah membawa diri ini? Bisakah seseorang memberitahuku, dimana aku sekarang? Dimana aku berdiri? Apakah aku telah memilih jalan yang tepat? Haruskah aku kembali menelusuri perjalanan ini?
Dulu, aku sangat takut akan mimpiku, apakah mereka akan menghancurkan dan tetap meremehkan? Aku sangat takut dengan mereka yang sangat dekat denganku? Apa mereka akan membuatku merasa semakin hina? Apa aku rembulan? Atau hanya bayangan yang ada di dalam nya? Apa aku debu? Ataukah api yang membara? Apa aku tetesan air? Ataukah ombak yang besar? Apa aku membawa ketenangan? Ataukah aku melepas badai? Bisakah seseorang memberitahuku siapa aku?
Apakah aku punya tujuan hidup? Lalu apa alasan untuk menjalaninya? Siapa aku? Apa aku yakin dengan diriku sendiri? Apakah keberadaan ku penting? Di pelukan siapa aku harus mengeluh? Haruskah aku bergeming? Siapa yang akan menuntunku? Atau haruskah aku kehilangan arah? Haruskah aku meneriakkan yang sebenarnya? Ataukah harus tetap diam? Haruskah aku manggung jiwaku dengan kerapuhan dan kesendirian ini? Ataukah menghancurkan hatiku hingga tak bersisa? Haruskah aku melewati batas? Ataukah mengendalikan diri? Haruskah aku tetap berjuang? Ataukah menyerah begitu saja? Tolong siapapun beritahu aku harus bagaimana denga Hidup ini....
"Haruskah aku tetap acuh dengan diriku sendiri?" Gumamku di tengah kebingungan
__ADS_1
Aku selalu diam dan diam dengan semuanya, karena aku tau jika setiap kalimat yang keluar dari mulutku hanya akan diabaikan, layaknya seorang pengemis yang meminta belas kasihan orang yang kikir. Apakah benar bahwa aku sekarang bangga dan puas dengan diriku yang saat ini? Ataukah aku hanya berpura-pura? Akupun tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana menghadapi dunia yang kejam ini. Ku harap sebelum kematian menjemputku, aku telah menemukan semua jawaban yang menggumpal seperti kaset rusak di kepalaku.
"Kak..." panggil Aya adik bungsuku di luar pintu
"Masuk aja... kagak di kunci!" Sahutku malas bangkit dari kursinya saat ini
"Aku masuk ya..." katanya dan segera masuk dengan pelan seakan-akan menjaga kesunyian agar tetap utuh
" Kenapa belum tidur? Emangnya besok nggak sekolah?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari langit malam
"Besok sekolah... tapi aku males!" Katanya lirih
"Kenapa males sekolah? Kamu di bully di sekolah ya? Kalo mau cerita, cerita aja... mumpung lagi dalam mood bagus nih!" Kataku menghela napas berat
"Kalo masalahnya nggak malu-malu in nama keluarga... buat apa juga marah!" Kataku dan menatapnya penuh selidik
"Emm... janji dulu jangan marah!" Katanya menakutkan jari manisku pada jari manisnya
"Aku berantem sama temen di sekolah... lalu dapat surat pemanggilan orang tua! Tapi takut bilangnya ke mama... nanti mama bilang ke yang lain... lalu nanti yang lain malah marahin Aya... kan Aya takut!" Katanya terbata-bata
"Hahaha... kamu nggak usah takut... dulu yang lain juga gitu!" Kataku mengacak-acak rambutnya
__ADS_1
"Tapi kali ini masalahnya rumit kak! Aku bisa-biasa di keluarin dari sekolah..." katanya sedih
"Kamu jelasin dulu alasan kamu berkelahinya sama kakak!! Biar kakak ngerti jalan cerita!" Kataku manis meminta penjelasan
"Jadi gini kak...." Aya mulai menceritakan dengan lancar semua kejadian yang menjadi titik masalah
"..." Aku diam mendengarkan dengan seksama
"... Aku kan marah kalo udah sampai gitu!" Katanya di akhir cerita
"Pilihan kamu buat ngelawan udah bener... jangan takut salah, karena di Mata Allah kamu belum tentu salah dan belum tentu juga kamu bener! Biar besok ke sekolahnya sama kakak aja, kalo kamu takut kena marah!" Kataku akhirnya setelan memahami kalam keseluruhan cerita Aya
"Bener ya kak? Tapi jangan bilang-bilang ke yang lain..." katanya mengancam ku
"Iya! Udah sana tidur gih..." usirku padanya
"Aku mau tidur di sini..."
"Kalo kamu sampai nyentuh kasur kakak sedikit aja... kakak bakal bilang masalah kamu ke yang lain!" Kataku tegas melarangnya tidur di kamarku
"Yee... dasar pelit!" Katanya dan segera berlari keluar kamar
__ADS_1
Aku menghembuskan napas berat sekali lagi dan sekali lagi, hingga aku merasa benar-benar tenang. Dulu waktu aku di bully di sekolah, orang rumah nggak ada yang tau, karena aku takut jika masalah hanya akan di tanggapi sebelah mata. Walaupun pembulyan yang ku terima tidak sampai separah penyerangan fisik ataupun berbau hal-hal kejam lainnya. Pembulyan di sekolahku, biasanya hanya berupa di kucilkan dari geng di kelas karena saat itu aku emang nggak bisa mengikuti gaya hidup mewah mereka hingga menjadi bahan gosip yang tidak enak di dengar.
Kalau ada pembulyan yang sampai ke penyerangan fisik, biasanya aku akan melawan hingga orang yang membuly ku tidak bisa berkutik. Karena sejak dulu aku suka belajar bela diri secara otodidak, hanya untuk menjaga diri kalau-kalau di perlukan. Entah bagaimana kali ini kasus pembulyan terjadi lagi pada adik bungsuku yang kelewat manja ini, hanya Soraya yang nggak pernah ada kasus pembulyan, karena dia bisa membawa diri sesuai tren. Jika kudengar dari penjelasan Aya, kasus pembulyan nya kali ini karena laki-laki yang menyukainya disukai oleh anak cewek lain, hingga menimbulkan pembulyan secara batin.