JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
RASA INI TERULANG LAGI


__ADS_3

Setelah selesai mengganti baju aku segera keluar, Tian juga udah berhenti ngomel-ngomelnya. Aku mengeluarkan kepala untuk melihat kondisi di luar, kulihat Tian lagi minum mungkin kerena kekesalannya udah sampai ubun-ubun. Aku berjalan pelan-pelan menghampiri Tian yang masih belum menuntaskan minumnya.


"Sayang...!" Teriakku di telinganya serta memberikan pelukan dari belakang padanya


"..." Tian hanya diam saja tidak memberikan respon apapun


"Sayang! Maaf... Aku minta maaf... Udahan ya marahnya!" Aku mengusel-uselkan kepala ku di punggungnya yang lebar


"..." Dia masih diam


"Sayang!!! Aku kan udah minta maaf! Kok masih di diemin gini!" Rengek ku


"..." Masih bertahan dalam diamnya


"..." Aku juga ikut diam dan semakin mengeratkan pelukanku


"!!!" Tian melepaskan pelukanku


"...." Tiba-tiba hatiku rasanya seperti di tusuk-tusuk dengan pisau


"..." Tian malah berjalan menjauh dariku


"..." Aku tidak tahu harus mengatakan apa dan hanya bisa memandangi tanganku yang memeluknya barusan dengan tatapan kosong


"..." Bahkan Tian masih tidak bicara


"..." Air mataku kembali luruh karena diamnya Tian


"..." Kulihat Tian mengepalkan tangannya, mungkin jika aku orang asing aku sudah tidak bernapas di buatnya


"..." Aku ingat, ini rasa sakit yang pernah kurasakan saat kepergian Ain


"Ru! Kamu udah banyak berubah!" Kata Tian lirih yang membuat jantungku seakan terhenti

__ADS_1


"..." Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain berlari keluar kamar dan mengurung diri di tempat pelarian


Di kamar yang telah di hias dengan perabotan bayi ini aku menangis dalam diam. Aku merasakan sakitnya hati yang tidak pernah kubayangkan akan menjadi sesakit ini. Berubahnya sikapku hanya karena aku ingin menunjukkan pada Tian suamiku, jika aku juga bisa bersikap hangat dan manja padanya. Tapi apakah Tia. Mengganggap perubahan sikapku sebagai sesuatu hal yang terlarang dan tidak boleh ada.


Apakah salah jika aku belajar untuk mencintainya dengan sikapku yang sekarang, jika salah aku minta maaf. Seharusnya aku tidak perlu membuka hati ini untuk di isi oleh kehangatan yang di berikannya dulu dan beberapa jam yang lalu. Seharusnya aku belajar dari masalalu, jika mencintai seseorang itu akan sesakit ini, tapi apakah sekarang aku telah mencintai suamiku itu?


Tidak! Aku belum mencintainya, saat ini aku sedang berusaha membuka hati untuk memberikannya tempat di kekosongan diriku. Tapi sepertinya perkataannya barusan membuatku kembali bertekad untuk tidak pernah membuka hati ini untuk di isi oleh dirinya. Bercanda ataupun serius, kalimatnya yang menunjukkan ketidaksukaan itu membuat titik terang dalam gelapnya jiwaku kembali tertutup rapat.


Mungkin karena terlalu emosi, perutku juga ikutan sakit, demi kebaikan calon anak-anak ku. Aku harus mengesampingkan masalah batin yang sekarang menyiksaku, sudah cukup aku menangis untuk beberapa hari terakhir ini. Aku kembali bertekad menjadi wanita sekaligus istri yang tidak akan mempercayai siapapun lagi, aku akan kembali pada diriku yang kaku dan acuh dengan kehidupan.


"Ini sungguh konyol..."


Karena tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang menyiksa ini, aku memutuskan untuk meminum obat tidur yang ada di dalam laci meja samping tempat tidur. Akhirnya aku kembali menggunakan obat yang pernah kugunakan sebelumnya, karena selalu susah tidur di kediaman ini. Aku ingin tidur dengan tenang dan damai, biarkan aku terlelap untuk malam ini saja oleh obat tidur.


***


Paginya saat membuka mata, aku kaget karena sosok Tian yang sedang terlelap di sofa dengan posisi duduknya. Biasanya jika melihat wajah Tian sedang tidur aku akan otomatis tersenyum dan memiliki perasaan menggelitik untuk mengusiknya. Tapi pagi ini berbeda, entah kenapa saat melihat wajahnya yang tenang itu aku malah merasakan kemarahan sekaligus kebencian, bahkan aku sampai menggertak kan gigi karena marah.


"Maaf!!" Katanya sebelum sebuah kecupan mendarat di keningku


"..." Rasanya aku ingin berteriak di depan wajahnya


(Maaf mu terlambat brengsek!!!)


"Seharusnya aku tidak terlalu marah tadi malam... Aku salah! Aku minta maaf!" Tian menggenggam tanganku erat


"..." Aku membuka mata dan mendapatinya sedang membenamkan wajah di selimut dengan tubuh bergetar, mungkin menangis


"Maaf..." Lirihnya lagi


"..." Tanpa sadar aku melepaskan genggamannya dan berbalik membelakanginya serta menutup seluruh tubuhku dengan selimut


"Sayang! Maaf! Aku ganggu tidur kamu ya?"

__ADS_1


"..." Aku hanya diam saat tangannya menyentuh pundak ku


"Sayang! Aku minta maaf... Iya aku yang salah! Maafin aku ya? Sayang..."


"Aku maafin! Kamu bisa keluar sekarang kan!" Sahutku dingin masih di bawah selimut


"Sayang!" Terdengar nada kaget


"..." Aku kembali hanya diam


"Yaudah aku keluar sekarang! Maaf karena aku udah ganggu tidur kamu... Nanti aku bawain sarapan kamu ke kamar aja ya..." Tian mengecup kepalaku lembut dan berlalu pergi


Terserah apa maunya saja, yang jelas jika aku udah marah, marah ku nggak akan reda hanya dengan rayuan-rayuan basi. Setelah Tian keluar aku juga beranjak dari kasur untuk membersihkan diri, karena efek obat tidur, jadinya aku bangun agak kesiangan untuk sholat Subuh. Sebelum waktunya semakin lewat, aku segera sholat Subuh dengan tenang, dengan perasaan kembali ke pengaturan awal.


Setelah selesai sholat seperti biasa aku malas untuk melepas mukena, maka dari itu aku memilih duduk diam di atas sajadah dengan tatapan kosong menatap keluar jendela. Tanganku bergerak mengelus-elus perut, yang akhir-akhir ini sangat kusukai dari apapun.


"Sayang!" Tian masuk dengan membawa nampan berisi sarapan


"..." Aku melepaskan mukena dan meletakkannya kembali ke tempat awal dengan tatapan kosong


"Ini aku bawain sarapannya!"


"..." Aku tersenyum menyambut niat baiknya


"Kalo ada yang mau kamu makan, kamu bilang aja... Aku pasti beliin!"


"Makasih..." Aku menyambut nampan pemberiannya


"Aku yang suapin! Buka mulut kamu... Aaaa...."


"..." Entahlah, aku menurut dengan kemaunya tapi hatiku masih sangat marah padanya, hingga aku hanya bisa tersenyum menangapi ocehannya


Aku sengaja tidak menghabiskan bubur, agar Tian cepat pergi dari kamar ini sebelum dia semakin membuatku kesal. Sesuai harapan, Tian keluar setelah memintaku kembali untuk istirahat dengan nyaman. Setelah Tian keluar aku segera mengunci pintu dan menghalanginya dengan kursi agar tidak mudah di buka dari luar, aku sedang kesal dan tidak ingin di ganggu.

__ADS_1


__ADS_2