
Keesokan paginya aku berangkat ke kampus lebih pagian, karena ingin menghindari Dewi. Aku duduk melamun di dalam angkot, mencoba untuk meyakinkan diri sendiri harus balas dendam. Entah kenapa rasanya ada sesuatu dari dalam yang membuatku kembali berkali-kali memikirkan untuk melaksanakan pembalasan dendam. Akhirnya pilihanku berhenti tepat pada kata 'lupakan saja hal itu, kan udah jadi masalalu' bertepatan dengan pemberhentian angkot di seberang kampus.
Setelah turun dari angkot, aku menyeberangi jalan bersama anak-anak lainnya seperti biasa. Aku merasa marah sekaligus kesal saat merasakan sifat bodo amat ini kembali lagi dalam hidupku. Sepertinya aku memang benar-benar berjodoh dengan kepribadian yang satu ini. Yang jelas aku harus segera keluar dari kosan itu agar kagak sering ketemu Dewi lagi, kemanapun itu, yang penting harus menjauh. Sejauh-jauhnya dari kehidupan Dewi, karena bagaimanapun bodo amat nya kepribadian ku, tetaplah membenci yang namanya pengkhianatan.
"Ru!!" Panggil sebuah suara dari samping
"..." Aku menoleh ke arah suara
"..." laki-laki itu berjalan menghampiriku dan menyerahkan setangkai bunga
"Kita pernah ketemu sebelumnya ya?" Tanyaku heran menerima bunga pemberiannya
"Sepertinya ini yang pertama kalinya! Kita ketemu..." katanya dengan senyum ceria
"Lalu ni bunga atas dasar apa... Ouhh... apa jangan-jangan lo minta gue ngasih ni bunga ke salah satu temen gue?" Tanyaku menebak maksudnya
" ..." dia hanya senyum dan setelah itu berlalu pergi tanpa sepatah kata pun lagi
"..." Aku menatap punggung nya yang berjalan menjauh penuh dengan tanda tanya
Otak ku segera bekerja, memahami maksud dari si cowok tiba-tiba ini, aku memaksakan senyum saat dia kembali menoleh kebelakang dan tersenyum padaku. Rasanya benar-benar ada yang aneh dengan hari ini, bagaimana ceritanya bisa tu laki, nyasar ngasih bunga kepadaku dengan wajah sumringah namun tatapan penuh kekecewaan. Ini benar-benar rumit untuk bisa ku pahami, mana dia nggak kasih tau lagi sebenarnya ni bunga buat siapa.
Masa iya tu laki ngasih bunga buatku kan kagak lucu, kita nggak saling kenal dan kagak pernah ketemu juga. Kok tiba-tiba tu laki ngasih gue bunga mawar, apa mungkin dia jodoh yang sedang Tuhan rencanakan untukku di masa depan nanti. Semoga aja tu orang kagak ada niat jahat untuk kedepannya, setelah menyimpan bunga mawar kedalam tas aku segera mencari tempat duduk di taman.
Kelasku akan dimulai satu jam lagi, so masih ada banyak waktu untuk membaca buku yang beberapa hari lalu dipinjam dari Sierra. Sambil menikmati musik lewat headset aku lebih menjiwai buku yang bertajuk horor komedi ini. Sekalian mencoba untuk membuang jauh-jauh niat balas dendam yang bakal nggak ada faedah sama sekali di otakku ini.
"Hai..." sapa Rizal setelah duduk di kursi panjang di sebelah ku dengan wajah ramainya
__ADS_1
"Hai juga!" Aku mengangkat wajah membalas sapaan dan juga senyuman manisnya
"Emmm... lagi baca apaan?" Tanya Rizal segera mengalihkan tatapannya dari mataku yang tidak sengaja menatapnya juga
"Baca buku!" Sahutku sedikit malas dan kembali melanjutkan membaca
"Lo suka baca yang horor juga ya? Kalo lo suka, di rumah gue ada banyak jenis buku gituan!" Katanya setelah melirik judul dan cover buku
"Ya... gue sih suka semua jenis buku, nggak harus horor atau apa itu... buku pelajaran anak sd juga gue suka baca!" Kataku menutup buku karena udah selesai di baca
"Ngapain baca buku anak sd?" Tanya Rizal heran
"Biar berasa masih muda aja!" Kataku disertai senyum sengit
"Ya ampunan... kagak usah gitu juga kali!!" Gemesna dan mencubit pipiku
"Ehhmmm... di tempat umum di larang mesra-mesraan!!" Tagur Ari yang entah kapan nongol di sana
"Kenapa mau ikut... sini biar gue cubit juga jantung lo!" Kataku setelah melepaskan cubitan di pipi Rizal
"Kagak usah... gue takut ada yang marah kalo lo cubit jantung gue!!" Kata Ari sambil melirik Rizal yang sekilas kulihat mendelik ke arah Ari
"Apaan sih!" Kata Rizal bangkit dari duduknya dengan wajah memerah
"Perasaan gue cubitnya nggak pakai tenaga! Tapi kenapa muka lo jadi merah gitu?" Kataku yang menatap bingung Rizal yang terlihat salah tingkah
"Itu karena..." Rizal segera membekas mulut Ari
__ADS_1
"Gue kepanasan... tuh lo liat aja matahari udah tinggi!" Katanya dengan senyum canggung ke arah pohon di tengah taman
"He eh... matahari terik banget sampai-sampai langit aja udah mau nangis!" Kekehku yang menatap langit mendung
"Ppttttt..." Ari menahan tawanya setelah Rizal melepaskan balapan di mulutnya
"Kita ke kelas yuk! Bentar lagi kelas di mulai nih!" Ajakku setelah melihat jam di layar ponsel
Aku beriringan dengan mereka berdua menuju kelas yang akan kami hadiri sambil membicarakan beberapa topik bahasan. Kami bertiga sekarang terlihat seperti udah saling mengenal begitu lama, tapi sebenarnya baru kenal beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku ada tugas yang kebetulan satu kelompok dengan Ari, dan sejak itulah kami berteman yang bisa dibilang bukan temenan.
Tapi eh tapi, tidak beberapa lama kemudian dosen pembimbing masuk ke kelas, dan ngasih tugas lalu pergi. Katanya ada pertemuan dengan rektor yang tidak bisa di tunda lama-lama lagi, jadi beliau segera pergi dari kelas setelah memberikan tugas. Aku mengasah kesal karena hari ini cuma ada jadwal satu mata kuliah doang, sedangkan saat ini aku sedang malas untuk segera kembali ke kos.
"Ru!! Kita nyari makan yuk?" Ajak Putri yang tiba-tiba nongol dari belakang
"Enggak ah!! Gue lebih hemat nih!" Tolakku karena emang lagi menghemat uang
"Biar gue yang..."
"Kagak usah! Masa kalo mau makan harus lo mulu yang traktir, kan kagak lucu!" Potongku secepat mungkin
"Biarin! Mumpung duit gue masih banyak nih!" Ajaknya dengan tatapan memelas
"Ogah! Gue nolak... jangan di paksa lebih jauh kalo lo nggak mau gue marah!" Kataku dengan senyum menekankan penolakan
"Ya udah deh..." katanya dengan sedih dan duduk di sampingku dengan wajah menyedihkan
Dia kira, bisa membujuk ku dengan wajah kucing nya itu kali, biar bertingkah semanis dan semenyedihkan apapun itu. Kalo aku udah bilang nggak mau ya tetep kagak mau, karena aku bukan tipe manusia yang mudah di bujuk.
__ADS_1