
Malam datang menghampiri dengan segala keindahannya yang membuatku tidak berhenti tersenyum menatap bulan sabit yang di temani ribuan bintang di langit malam. Angin berhembus dengan dingin menerpa kulitku yang hanya mengenakan sehelai baju tidur yang agak terbuka di bagian lengan dan kaki. Aku mendekap tubuhku sendiri berusaha mencari kehangatan sambil terus menatap langit malam ini dari balkon kamar.
Sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihat Tian yang masih tertidur lelap dalam tidurnya. Malam memang sudah sangat larut, tapi aku tidak bisa kembali tidur setelah terbangun di tengah-tengah nikmatnya mimpi indah.
"Heii..." Aku terkejut saat merasakan ada pergerakan di dalam perutku yang memang sudah besar
"Sayang! Kamu ngapain malam-malam begini masih belum tidur?" Tanya Tian yang terbangun dari tidurnya
"Sayang! Coba kamu pegang deh... Tadi aku ngerasain ada pergerakan... Nah kan, kamu juga ngerasain kan?" Kataku bersemangat membawa tangannya untuk menyentuh perutku
"..." Tian hanya terdiam dengan wajah kagetnya
"Berarti... Anak kita tumbuh dengan baik kan sayang?" Entah kenapa aku jadi terharu dengan pergerakan kecil di perutku
"..." Tian masih diam karena tidak bisa berkata-kata lagi saking bahagianya lalu memelukku sangat erat
"..." Aku balas memeluknya dengan haru bahagia
"I love you sayang!" Lirihnya dengan nada bergetar
"I love you too sayang!" Aku semakin mengeratkan pelukan padanya
Setelahnya kami hanya saling diam karena bingung harus mengekspresikan diri bagaimana, karena hal yang kami alami sekarang adalah kali pertama untuk kami berdua. Kulihat mata Tian berkaca-kaca penuh haru menatapku dalam sekali, seakan-akan diamnya itu berbicara jika ia sangat mencintai ku.
Sekarang aku mengerti apa itu romantis, mungkin seperti keadaan kami saat ini. Aku merasa waktu berhenti bergerak karena tatapan Tian yang sangat dalam menatap diriku yang hanya di balut sehelai kain dengan tatapan tanpa adanya nafsu. Bola mata hitamnya itu seakan-akan menyedotku kedalamnya, agar membuatku sadar jika kehangatan yang di berikan Tian telah menjalari ruang hampa di hatiku.
Aku sangat bahagia sampai kebahagian itu sulit untuk di gambarkan dengan kata-kata, karena kebahagian yang saat ini kurasakan hanya bisa di rasakan bukan di gambarkan. Mungkin inilah kekuatan cinta, hanya perlu sedikit pergerakan kecil sudah bisa membuatku merasakan kehangatan sekaligus kebahagian.
***
Siangnya Tian kembali cuti dari pekerjaannya di kantor, karena ingin menemaniku melakukan pemeriksaan menyeluruh pada kehamilan pertamaku ini. Kadang wajahnya yang tampan itu terlihat tegang dan kadang terlihat sangat bahagia, yang membuatku tidak henti-hentinya tersenyum mengelus perut besarku. Karena saat ini aku hamil anak kembar, maka dari itu ukuran perutku lebih besar dari ukuran seharusnya perut orang hamil 4 bulan.
__ADS_1
"Sayang!" Panggilnya lembut
"Hemmm..."
"I love you..."
"I love you too...."
"Love you..."
"Love you too..."
"Love you sayang..."
"Love you too sayang..."
"Love you..."
"Love..." Aku menutup mulutnya dengan tanganku
"Kamu nggak pegel apa selalu bilang love you dari tadi malam?" Tanyaku penasaran
"Nggak... Love you sayang!" Katanya menggeleng
"Kamu ih..."
"Kamu nggak suka ya aku bilang love you ke kamu?" Tanya nya dengan wajah memelas sedih
"Bukannya nggak suka... Tapi kan..." Aku menatap kakek dan pak supir yang dari tadi senyum-senyum mendengar percakapan kami
"Biarin aja... Mereka kan juga pernah muda!" Kata Tian sambil mendaratkan ciuman beruntun ke perutku
__ADS_1
"Kalian tidak usah memperhatikan para orang tua ini... Silahkan kembali sibuk dengan dunia kalian..." Kata kakek yang membuatku semakin tersipu malu
"Tuh kan... Kakek aja nggak masalah kita kayak gini!"
"Tapi aku tetep aja malu tau..." Kesalku menarik hidungnya
"Sayang! Ternyata kalo kamu lagi malu... Kamu lebih seksi loh..." Katanya menggodaku yang semakin tersipu
"Kamu..." Kagetku dan sedikit memberi jarak di antara kami
Syukurlah mobil berhenti tepat saat Tian terlihat hendak menerkam ku dengan seribu jurus merayunya yang masih suka membuatku merinding. Aku di temani kakek dan Tian segera pergi ke ruangan dokter Gina spesialis kehamilan dan anak yang menangani ku selama beberapa kali pemeriksaan rutin belakangan.
Semuanya baik-baik saja dan pemeriksaan juga berjalan dengan baik, tidak ada masalah dengan kehamilan ku saat ini. Dokter hanya menyarankan ku menjaga pola makan, maksudnya jangan sampai lupa makan seperti kebiasaan ku ketika marah ataupun kesal dengan sesuatu. Perkembangan kedua janinku baik-baik saja, mereka berdua tumbuh dengan baik di dalam rahimku yang mungkin sesak untuk keberadaan mereka berdua.
Aku dan kakek meneteskan air mata saat melihat kedua janin ku bergerak-gerak dengan mulusnya di layar monitor. Walaupun Tian tidak menunjukkan kebahagian yang sangat-sangat saat ini, tapi aku tahu jika saat ini dia berusaha mengontrol diri agar tidak meledak karena sangat bahagia.
"Sayang!" Panggilku pada Tian yang jalan di sampingku dengan wajah bahagianya setelah selesai pemeriksaan
"Hemm... Kenapa? Kamu mau makan sesuatu?" Tanya nya peka
"Peka banget sih kamu..." Manjaku semakin merapatkan tubuh padanya
"Hehehe... Aku kan suami kamu! Jelaslah kalo aku peka... Oh iya, kamu mau makan apa?" Katanya membanggakan diri sendiri
"Sate! Aku mau makan sate" kataku dengan ekspresi, seperti hendak melakukan hal yang berbahaya
"Maunya di restoran mana? Apa kamu mau makan di restoran temen kamu yang waktu itu aja?"
"Nggak! Aku maunya di pedagang kaki lima... Yang ada di alun-alun kota... Sate di sana enak-enak banget soalnya!" Kepalaku udah ngebayangin tumpukan sate aja nih
"Yaudah ayo berangkat..."
__ADS_1
Tian benar-benar membawaku makan di pinggir jalan, yang masih di ikuti kakek dan pak supir. Bahkan Tian udah tau penjual mana yang ingin ku datangi, tapi sayangnya antrean pembeli terlalu panjang hingga kamipun tidak mendapatkan tempat duduk. Tapi tak apalah, demi makan sate di tempat ini aku rela menunggu selama apapun antrian panjang ini.