
Aku duduk memperhatikan Ain berkutat dengan aktivitas memasaknya yang terlihat begitua serius dan menawan. Bahkan kemampuan memasaknya itu membuat beberapa orang lainnya ikut memperhatikan aksi Ain memotong dan menumis sayur rasanya,malah nggak rela jika Ain jadi pusat perhatian orang banyak. Aku takut kalo nanti orang-orang malah penasaran dengan rasa masakannya lalu porsi yang seharusnya hanya untukku malah terbagi dengan orang lain.
Sumpah aku nggak rela kalau sampai ada yang bilang mau cicipin masakan Ain kalo udah selesai nanti, pengen deh semua orang di sini ku minta keluar. Dan membiarkanku hanya seorang diri yang menikmati aksi menawan Ain saat memasak. Di samping Ain, Aji juga terlihat cukup menarik perhatian banyak orang, sehingga orang-orang mulai bergosip mengidolakan mereka.
"Wah laki-laki sebelah kanan sangat tampan dan jago memasak pula... saya harus memperkenalkan putri saya padanya buru-buru!" Kata salah satu ibu-ibu memuji Aji
"Kalo saya lebih suka laki-laki sebelah kiri... pengen rasanya malam ini dia saya culik untuk ditiduri... tampang dinginnya itu membuat siapapun menginginkan dirinya" kata ibu itu dengan genit
"Uhuukkk... uuhhukkk..." aku tersedak biskuit yang ku makan saat mendengar ibu itu mengatakan hal yang tidak senonoh
"Sayang..." Ain yang mendengar ku tersedak segera menuangkan air
"Di minum dulu!" Tapi malah Aji yang duluan memberikan air padaku
"...uuhhukkk...uhhhuukkk.... hikkg ... hikkg.." saking kagetnya mendapati Aji lebih cepat dari Ain malah menjadikan ku cegukan
"Cepat minum dulu!!" Ain segera menghampiriku dan membantu ku minum serta menepuk-nepuk punggung ku agar cegukanku reda
"Masakan kamu... hikkg.. nanti... hikkg... gosong!" Kataku di tengah cegukan
"Biarin aja... kan bisa masak yang lain lagi!" Kata Ain datar namun penuh perhatian menepuk-nepuk punggung ku
"Udah mendingan... makasih sayang!" Kataku memintanya segera menghampiri masakannya
__ADS_1
"Nih... minum air hangat juga, biar cegukannya membaik!" Kata Aji yang sedari tadi berdiri memperhatikan kami
"Eh... makasih ya!" Kataku ramah menyambut gelas pemberiannya
Keduanya kembali pada kesibukan masing-masing, sedangkan aku masih merasa sesak karena cegukan yang kadang masih ada ini. Vera yang duduk di sampingku sesekali menepuk-nepuk punggung ku agar lebih enakan dengan senyum yang tidak ku ketahui artinya. Selagi menunggu masakan mereka siap, aku dan Vera berbincang hangat dan ringan setelah cegukanku benar-benar pulih. Ibu-ibu yang di belakang ku masih berceloteh ria, saling mengunggulkan kemampuan Aji dan Ain.
Aroma nikmat masakan yang mereka buat mulai memenuhi ruangan, aroma makan mereka seakan-akan saling berlawanan seperti air dan minyak. Jujur, masakan Aji lebih wangi agamanya ketimbang masakan Ain yang terlihat gurih dan nikmat. Aku takjub dengan kemampuan memasak Ain, karena ia telah berhasil membuat sambal terasi sesuai dengan seleraku, yang tidak terlalu pedas dan juga tidak terlalu manis. Sedangkan Aji memasak nasi goreng udang, yang sayangnya dengan telor ceplok setengah matang di atasnya, hingga membuatku sedikit risih, takut jika kuning telurnya masih meleleh.
"Eh... ini nasi uduk kan?" Tanyaku merasa familiar dengan aroma santan pada nasi putih di piring
"Iya... kan makan baby cumi, enaknya sama nasi uduk dan sambal terasi!" Katanya waras sambil menyajikan makanan di atas meja
"Hmmm... jadi terharu! Di masakin masakan spesial dari orang yang spesial..." kataku menatapnya dengan tatapan berbinar takjub
"Nanti kalo udah nikah! Kamu bakal makan masakan spesial lainnya kok..." katanya sambil mengedipkan sebelah matanya
"Kamu serius?" Tanya Ain dengan wajah merona dan nada semangat
"Eh..." lah aku bingung sendiri, kan selama ini dia udah sering ngelamar aku tapi selalu ku tolak
"Akhmmm... tolong kasihan para jomblowan dan jomblowati di tempat ini!" Dehem Vera membuatku malu karena tersadar jika orang-orang sedang menatap kearah kami
Suasana kembali netral, namun tidak dengan hati Ain yang menganggap perkataan ku barusan, sebagai isyarat untuknya, agar segera menikahiku. Jika benar Ain akan melamarku lagi, apa yang harus kulakukan? Aku masih belum menanyakan kepada orang tuaku, jika seandainya aku menikah dengan laki-laki yang berbeda agama, bagaimana tanggapan mereka? Dan lagi pula aku tidak ingin melihat Ain pindah agama jika tidak karena Allah.
__ADS_1
Sepanjang makan aku mendapati tatapan Ain yang penuh dengan binar cinta, apakah sekarang Ain sedang memikirkan cara untuk melamar ku? Semoga saja tidak, karena aku belum siap secara batin. Jam di dinding dapur umum menunjukkan pukul 1 lewat, sat kami selesai makan, masakan Ain rasanya sesuai dengan ekspektasi. Perutku terisi penuh dengan masakan lezat dari Ain dan Aji, hingga menimbulkan rasa kantuk.
Sekarang kami berempat sedang jalan santai menuju gazebo dekat kolam ikan di samping gedung apartemen, sambil berbincang hangat. Aji dan Vera banyak ngomong, sebaliknya dengan Ain yang memang pendiam, ia hanya sesekali ikut nimbrung dalam percakapan dan itupun hanya sepatah dua patah kata. Kami berempat duduk di gazebo mencari posisi yang nyaman untuk menyandarkan tubuh yang kenyang.
Walaupun aku duduk di samping Ain, tapi kami masih memberi jarak setidaknya, jarak yang aman dalam segi apapun. Langit masih mendung di serta kilat dan petir yang bagiku sangat mengagumkan, dan sangat mengerikan bagi sebagian orang. Aku dan Ain terhanyut menatap langit malam, karena kami sama-sama menyukai langit malam dalam kondisi seperti apapun itu.
"Sayang! Apa kamu serius dengan perkataan kamu tadi?" Kata Ain menatap ke arahku yang memperhatikan Vera mengusik ikan di kolam
"Aku... serius kok... tapi harus mendapat persetujuan dari keluarga aku dan keluarga kamu dulu kan... aku takut mereka menjadi penghalang..." kataku menundukkan wajah sedih menatap sepatu kets ku
"Kalau ketakutan kamu ada pada keyakinan aku... aku siap kok pindah keyakinan sekarang juga... lagian orang tua aku juga menganut agama islam!" Katanya mengangkat wajahku yang tertunduk
"Tapi kan kamu tau... aku nggak mau kamu pindah agama cuma karena mau nikah sama aku! Rasanya nggak nyaman di hati aja kalo kamu maksain pindah keyakinan!" Tepisku pada tangannya yang memegang pipiku
"Lalu kamu maunya giman?" Kata Ain mengacak rambutnya sendiri dan kembali memasang wajah datar saat Aji selesai dari toilet dan menuju kemari
"Aku mau! Kamu pindah keyakinan karena Allah bukan karena mau nikah... tapi kamu kalo emang yakin mau nikahin aku tapi masih belum bisa yakin dengan keberadaan Tuhan... mungkin kamu harus membuat orang tua aku setuju dengan hubungan kita... lagian orang tua aku juga nggak tau kalau aku udah punya pacar!" Gumamku di akhir kalimat
"Kalau itu mau kamu, aku akan usaha in!" Katanya penuh keyakinan
"..." aku menatapnya dengan senyum dukungan pada Ain
Saat Aji duduk di gazebo di sebelah Ain, kami mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang sedang hangat di perbincangkan akhir-akhir ini di televisi. Pembicaraan kembali di kuasai Aji dan Vera, karena Ain dan aku sibuk dengan pikiran masing-masing, hanya sesekali ikut menanggapi. Waktu berjalan sangat lamban, hingga membuatku jenuh hanya duduk mendengarkan mereka bicara, sampai-sampai aku merasa ngantuk.
__ADS_1
Ain yang melihatku beberapa kali menahan kantuk, segera memintaku masuk ke dalam dan segera tidur, saat di lihat nya jam di pergelangan tangan menunjukkan hampir pukul 4 pagi. Aku segera undur diri duluan masuk karena sangat mengantuk, sedangkan mereka bertiga masih melanjutkan perbincangan tanpa Ain ikut ambil bagian, bisa dikatakan hanya Aji dn Vera lah yang ngobrol.
Sebelum tidur, aku melihat keluar jendela sekalian menutup tirai dan melihat Ain yang tengah menuju motornya. Sepertinya Ain juga tidak ingin berlama-lama lagi duduk di gazebo, karena hanya akan merasa bosan jika mendengarkan perbincangan kakak dan adik itu. Setelah menutup tirai, aku segera merebahkan tubuh lelah ini sebentar, sebelum kembali bekerja keesokan harinya.