
Jadwal kedatangan keluargaku masih cukup lama, karena sekarang masih pagi, sedangkan kedatangan sanak saudara ku nanti sore. Setelah membubarkan kerumunan di kamar, yang tinggal menyisakan kakek dan pak Zion yang masih sibuk bermain dengan si kembar. Ada tamu terhormat yang datang dengan membawakan boneka beruang berukuran besar sekali.
"Kakak ipar! Apa kabar?" Teriak Rion menyapaku
"Eh... Rion! Kabar baik! Kamu sendiri apa kabar?" Kagetku balas menyapanya
"Selalu dalam keadaan baik! Oh iya... Mana si kembar?"
"Itu, sama kakek..."
"Eh... Ada kakek ya! Apa kabar kek?"
"Baik! Bagaimana dengan studi mu?" Kenapa kakek datar sekali dengan Rion
"Semuanya berjalan lancar... Aku ingin coba menggendong keponakan ku..."
"Nggak boleh! Gue nggak mau ya, kalo anak gue kenapa-napa saat Lo gendong!" Cegat Tian
"Yaelah bro... Pelit banget sih, gue kan cuma mau gendong keponakan gue..."
"Tetep nggak boleh... Jangan deket-deket sama anak gue! Lo bisa nularin virus ke mereka..."
"Gendong nggak boleh, deket-deket nggak boleh, sekalian aja Lo nggak bolehin gue nafas... Bikin emosi aja sih ni orang!"
"Yang sabar ya...adik ipar!" Kataku mengejeknya
"Hehehe... Udah sabar banget malah!" Kesalnya dan duduk di kursi samping tempat tidur
Aku yang jelas-jelas ibu dari si kembar aja dari tadi nggak kebagian jatah buat gendong mereka sejak ada di tangan kakek dan Tian. Apalagi manusia nggak jelas kayak Rion, tiba-tiba mau gendong si kembar jelas saja Tian dan kakek melarang. Sejak tadi pula aku menunggu salah satu dari anak ku menangis, kan biar aku bisa menggendong mereka. Tapi anehnya mereka nggak nangis sama sekali saat berada di gendongan Tian dan kakek.
Bahkan saat jam nya buat si kembar mandi, aku hanya kebagian melihat dari samping. Aku tidak di ijinkan melakukan apapun, kecuali bernafas dan bermalas-malasan doang. Entah kenapa aku jadi sama nasibnya kayak Rion yang hanya bisa penasaran dengan apa yang di lakukan kakek dan Tian pada si kembar. Setelah lama menunggu akhirnya aku memiliki kesempatan untuk menggendong si kembar, karena harus memberikan asi pada mereka setelah dokter mengingatkan jam makan si kembar.
"Ngapain Lo masih disini?" Judes Tian Pada Rion
"Gue masih mau liat keponakan gue lah..."
"Sekarang si kembar lagi mau makan... Keluar nggak Lo!"
"Emangnya si kembar bakal muntah gitu kalo makan liat muka gue!"
"Nggak sekedar muntah... Mereka juga eneg liat muka Lo..."
"Semuanya silahkan keluar dulu... Karena si kembar mau makan!" Kata dokter menengahi
"Kalo mau makan, ya makan aja..."
"Keluar nggak Lo sekarang..." Kesal Tian mengusir Rion
__ADS_1
"Sayang kamu juga keluar..." Usirku agar semuanya adil
Tian sempat hendak protes padaku, tapi akhirnya diam dan melangkah ke luar kamar karena kuberikan senyum manis. Setelah semuanya keluar aku mulai memberi makan kepada si kembar, sambil mendengarkan penjelasan Bu dokter tentang apa saja yang harus kuperhatikan saat merawat si kembar. Setelah menyusui keduanya sampai kenyang, mereka malah tertidur padahal aku ingin mengajak mereka bermain, dalam artian main lewat kata.
Bu dokter juga memberikanku beberapa jenis macam obat yang harus kuminum, karena katanya tensi darahku terlalu rendah setelah melahirkan. Darah rendah, mungkin penyakit bawaan dari mama yang juga mengidap penyakit darah rendah. Di luar pintu terdengar suara perdebatan antara Ica dan Tian mengenai siapa yang akan masuk membawakan sarapan ke kamar. Yang tentu saja di menangkan oleh Tian, karena Tian yang masuk Bu dokter mengatakan sekali lagi tentang obat-obatan yang harus rutin kuminum.
"Tapi, istri saya baik-baik saja kan dok?"
"Semuanya baik-baik saja! Cuma tensi istri anda saja yang terlalu rendah... Maka dari itu tolong perhatikan pola makan dan rutinitas minum obat!"
"Baik dok!"
"Kalau begitu saya pamit undur diri, jika ada apa-apa panggil saja saya!"
"Baik, terimakasih dok!"
"Sama-sama..." Bu dokter pamit undur diri
"Sayang! Nanti sore aku mau ikut jemput..."
"Nggak boleh! Biar aku aja yang jemput sama kakek! Kamu harus istirahat total, agar cepat membaik!" Potong Tian tajam
"Tapi kan..."
"Mama dan yang lainnya pasti mengerti! Buka mulut kamu... Aku suapin!"
"..." Dengan wajah cemberut aku menyambut makanan yang di sodorkan nya ke mulutku
"Sayang! Aku boleh minta sesuatu nggak?"
"Kamu mau apa? Bilang aja, aku pasti kasih semua yang kamu mau!"
"Aku mau... Ketemu sama kepribadian kamu yang sebenarnya..."
"..." Tian hanya diam menatapku dengan mata terbuka lebar
"Sayang! Aku mau kenal sama kamu yang sebenarnya!" Aku menatapnya dengan wajah memelas
"Kamu yakin?" Yang nya datar
"Kenapa aku harus nggak yakin? Aku kan mau kenal kamu yang sebenarnya..."
"Tapi kamu jangan kaget saat lihat kepribadian asli tubuh ini..."
"...." Aku mengangguk semangat
Aku sempat menahan nafas karena sangat penasaran dengan kepribadian asli Tian. Seberapa buruk kepribadian asli Tian yang selama ini mereka sembunyikan, aku penasaran dari dulu hingga beberapa detik yang lalu, sebelum melihat Tian yang sekarang ada di depan mataku. Walaupun wajahnya tetap sama dan tidak ada perubahan sedikit pun dari tampilan luarnya, tapi aku sadar jika Tian Yang ada di depanku sekarang sedang ketakutan.
__ADS_1
Sikapnya yang seperti anak kecil yang sedang meringkuk ketakutan, membuat hatiku perih. Tatapan matanya yang penuh amarah dan ketakutan terlihat jelas di dalam sosok nya yang sekarang. Bahkan sebelum tanganku berhasil menyentuhnya dia telah menepisnya terlebih dahulu dengan kasar. Dia sigap berdiri menatapku penuh amarah dan kebencian, kedua tangannya mengepal dengan keras.
Aku ingin memeluk sosoknya yang sekarang, tapi aku tidak bisa karena Tian saat ini bersikap sangat waspada. Mulutnya terlihat sedang menggunakan sesuatu yang masih berusaha ku pahami.
"Tian..." Panggilku lirih
"..." Dia menatapku bengis
"Oeeekkk...." Tiba-tiba Krisan menangis dengan kencang
Aku segera mengangkat tubuh Krisan yang bergetar karena tangisnya, setelah Krisan mulai tenang. Tangan Gian terulur hendak menyentuh Krisan yang gerak-gerak, hendak melepaskan diri dari lilitan selimut di tubuhnya. Raut wajah Tian saat ini benar-benar seperti seorang anak kecil yang penasaran dengan bayi. Saat mata kami bertatapan lagi, dia kembali menunjukkan sikap penuh kewaspadaan.
"Kamu pengen pegang..."
"..." Dia menatapku dengan mata membelalak lebar
"Sayang! Tian..." Panggilku khawatir karena tiba-tiba ia jongkok memegangi kepalanya
"Kamu baik-baik aja kan sayang... Kamu nggak diapa-apain kan sama dia?" Seperti nya Kepribadian Tian yang barusan udah hilang kembali masuk ke dalam
"Kamu kenapa tiba-tiba nongol sih!" Kesalku padanya
"Maaf... Aku cuma takut dia ngapa-ngapain kamu... Maaf sayang!"
"Padahal, barusan dia mau pegang Krisan... Kalian bisa bertukar lagi nggak?"
"..." Tian menggeleng
"Kenapa nggak bisa? Ada yang salah sama sistemnya gitu..."
"Bu...bukan!" Katanya tergagap aneh
"Trus kenapa?" Aku menuntut penjelasan
"Itu...itu... Anu sayang...."
"Itu, itu, anu apaan? Kamu jelasin dong biar aku ngerti..." Kesalku
"Kalo... Kepribadian asli Tian sering muncul, satu-persatu dari kami akan hilang... Aku nggak mau ngilang, aku pengen menemani kamu terus sama anak-anak! Aku mohon sama kamu, agar kamu lupain tentang kepribadian asli Tian!" Tian memelas dan memohon sambil berlutut dihadapan ku
"..." Aku terhenyak mendengar kenyataan tentang mereka semua
"Sayang! Aku beneran nggak mau pergi ninggalin kamu..." Tian mulai menangis
"Ba...baik, aku janji nggak akan minta ketemu sama Tian asli... Kamu jangan nangis dong!"
"..." Tian tersenyum lalu memelukku erat dalam diamnya
__ADS_1
Aku hanya bisa pasrah dengan rasa penasaran ku tentang kepribadian Tian yang asli. Karena aku juga tidak ingin kehilangan meraka satupun, aku sudah merasa nyaman dan terbiasa dengan cara perhatian mereka yang selalu unik dan berbeda setiap kepribadian nya. Mungkin hal inilah yang membuatku tidak pernah merasa bosan berada di dekat Tian, aku kan orangnya gampang bosan.
Entah kenapa aku merasa jika hidupku benar-benar konyol dan tidak masuk akal. Entahlah harus bagaimana aku menjelaskan tentang hal yang membuatku merasa hidup dalam kekonyolan ini. Yang jelas aku menyukai kehidupanku yang penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini.