
Keesokan paginya aku segera bersiap-siap ke kantor, aku juga meminta maaf ke pada mama dan abah, karena tidak bisa menemani mereka jalan-jalan. Padahal hari ini adalah hari terakhir mereka punya waktu bersamaku, tapi aku nya yang terlalu sibuk kerja hingga tidak punya waktu untuk menemani mereka. Besok pagi mereka akan di jemput oleh pihak pelatihan, karena dua minggu lagi mereka berdua akan segera pergi ke tanah suci. Di satu sisi aku merasa sedih tapi di sisi lain aku juga merasa bahagia, karena keinginan mereka selama ini telah berada di depan mata.
"Mah! Bah! Ruka berangkat sekarang ya..." kataku kelabakan karena udah jam 8
"Kamu nggak makan dulu?" Kata mama dari dapur
"Nggak sempat lagi mah! Assalamualaikum!" Kataku setelah mencium mereka berdua
"Wa'aikumsalam..." sahut mereka sebelum aku menutup pintu
Aku bergegas berangkat, karena janji temu dengan pimpinan perusahaan akan terjadi satu jam lagi, setidaknya aku harus hadir di kantor lebih awal dari waktu yang di janjikan. Hari libur seperti ini biasanya haru yang sangat sibuk bagi pimpinan perusahaan, karena harus mengurus banyak berkas dan meluangkan waktu menemani keluarga. Di dalam taksi aku meminta pak supir mencari jalan yang kemungkinan tidak terjebak macet, sekalian aku ingin berias diri dulu sedikit.
Kan nggak enak jika bertemu pimpinan perusahaan dengan wajah pucat pasi kayak orang sakit gini, kemarin malam aku tidak bisa tidur gara-gara teror ketukan pintu yang hanya ku dengar seorang diri. Karena aku tidur di sofa ruang tengah, makanya suara ketukan itu sangat mengganggu, biasanya kan aku tidur di kamar yang tentu saja sedikit lebih kedap suara. Katanya kalo kita buka pintu saat nggak ada pengetuknya, ada kemungkinan setan yang ngetuk pintu udah menyelinap masuk.
Maka dari itu aku hanya diam di atas sofa sambil berusaha menenangkan diri yang tegang karena ketukan itu terdengar berirama. Siapa bilang aku nggak takut dengan setan, seandainya aku nggak takut sama setan di apartemen ini, udah dari dulu para setan di sini ku ajak arisan, sekalian main mahjong biar seru. Alasan kenapa aku masih bertahan tinggal di apartemen ini, karena udah terbiasa dengan teror kayak gitu. Bahkan di tahun pertama aku tinggal di apartemen ini, saat itu hanya ada aku seorang yang menempati lantai 5 ini. Setiap malam aku selalu mendengar suara anak kecil yang berlarian di lorong-lorong, suara orang bertengkar bahkan sampai suara orang melakukan hubungan badan di bawah kasur ku. Bayangin aja gimana tersiksanya, diriku saat itu menghadapi ketakutan yang selalu menemani hari-hariku di apartemen ini.
Mengingat hal yang telah ku lalui di masa lalu itu aja udah buat sekujur tubuhku merinding, gimana seandainya aku bisa melihat mereka. Entah mengapa kehidupan ku tidak pernah bisa lepas dari teror makhluk gaib seperti itu, sejak masih kuliah dulu aku juga di teror oleh para setan bengek. Sampai-sampai membuat perteman ku dengan mereka merenggang hanya karena masalah setan brengsek itu. Pengen deh punya kemampuan bisa mukul setan, rasanya saat ini aku sedang ingin menghajar habis-habisan setan yang selalu mengganggu hidupku yang tidak tenang ini.
Sesampainya di kantor aku segera menuju meja resepsionis menanyakan apakah pimpinan perusahaan udah ada di kantor apa belum. Sekarang udah hampir pukul 9, tadi aku masih sempat terjebak macet, padahal udah nyari jalan yang bebas hambatan, tapi masih aja kena macet.
"Pak CEO, udah dari tadi pagi ada di kantor!" Kata Zia
"Emm... beliau lagi ada tamu nggak sih? Soalnya aku ada janji sama beliau nantinya 9... Katanya ada yang mau di bahas!" Kataku meminta agar Zia memeriksa jadwal pimpinan
"Oh... jadi kamu yang punya janji sama pak CEO! Kalau gitu masuk aja, kata beliau kalo kamu udah datang langsung aja ke kantor pak CEO!" Kata Zia ramah
"Gitu ya! Kalo gitu aku masuk dulu ya... makasih!" Kataku segera menuju lift
Di dalam lift aku mendapat kan pesan dari nomor tak di kenal, tapi setelah membaca sekilas pesan yang tidak ingin kubuka itu aku membelalak kesal.
"Sialan tuh Aji... mau nyari muka kek gimana sih, ke orang tua gue!" Kesalku sekali lagi memastikan pesan tersebut benar adanya
__ADS_1
Katanya Aji ingin mengajak mama dan abah jalan-jalan ke luar, sambil mengenalkan kota Jakarta kepada beliau. Walaupun aku juga berterimakasih, tapi rasanya nggak rela aja gitu jika Aji yang mengajak mereka jalan-jalan. Aku takut hal itu akan di jadikannya sebagai kesempatan untuk mendapat restu dari orangtua ku, untuk mendapatkan diriku. Kekesalan segera ku redam saat pintu lift terbuka di lantai kantor pimpinan. Aku pernah ke lantai ini satu kali, waktu itu aku lagi bosan seharian duduk mengerjakan laporan, akhirnya ingin jalan-jalan dan sampailah di lantai ini.
Saat itu pimpinan masih Pak Joko, nah di hari itulah aku mendengar jika pak Joko sedang berbicara di telpon tentang masalah korupsi yang beliau lakukan dengan seseorang yang beliau panggil pak Bos. Sepertinya orang itu adalah orang yang telah mencuci otak pak Joko yang bersih agar melakukan hal kotor seperti itu. Aku pernah beberapa kali bertemu dengan pak Joko selama 3 tahun bekerja di perusahaan ini, dari yang kulihat beliau adalah pimpinan yang baik. Tapi setelah tahun kedua aku kerja, sifat beliau mulai berubah seperti sedang dikendalikan dari jarak jauh oleh seseorang.
Walaupun beliau memang angkuh dan agak memandang tinggi dirinya di tahun pertama aku kerja, tapi sebenarnya beliau berhati bersih. Tekanan pekerjaan dan tekanan dari rumah adalah hal yang sangat mengerikan, istri dan anak pak Joko adalah orang yang terlalu hidup penuh kesosialitaan. Maka dari sanalah pak Joko tergiur untuk korupsi saat otak beliau di cuci oleh pak Bos yang beliau kenal itu.
Sekretaris Jenny dan sekretaris Eka tersenyum ramah padaku yang berjalan menghampiri mereka yang sedang sibuk. Seingat ku hari ini adalah hari libur kantor, tapi mengapa masih ada saja karyawan yang harus bekerja di hari libur begini, mereka terlalu giat bekerja.
"Ru! Silahkan tunggu sebentar... Aku sampaikan ke pak Hendry dulu!" Kata Eka ramah dan melakukan panggilan telpon ke kantor pimpinan
"Oke!" Sahutku
"Baik pak!" Kata Eka terlihat sangat profesional sesaat telpon di tutup "Silahkan masuk! Pak Hendry sudah menunggu di dalam... semangat ya!" Kata Eka di akhir kalimat membuatku tersenyum takut
"Pagi pak!" Sapaku kepada beliau yang sedang fokus bekerja
"Pagi... Silahkan duduk!" Kata beliau memintaku duduk di sofa yang ada diruangan ini
"Saya tidak suka berbasa-basi... bisakah kita langsung berbicara ke inti permasalahan?" Tanya beliau menatapku tajam sambil meletakkan sebuah selembar kertas dk depanku
"Tentu!" Kataku bingung antara bingung
"Pak direktur menginginkan kamu bekerja menjadi sekretaris pribadi cucu beliau yang akan bekerja di perusahaan pusat dan ini adalah kontraknya!" Kata beliau menyodorkan surat kontrak itu kedepanku
"Apakah ada alasan untuk semua ini pak?" Tanyaku kaget karena mendapatkan penawaran besar, (kamera, dimana kamera... ini bukan prank kan?) Teriakku dalam hati
"Direktur, tertarik dengan kinerja mu, sehingga beliau ingin mengamati semua pekerjaanmu dari dekat!" Kata beliau singkat padat dan semakin membuatku bingung
"Lalu apakah saya akan di pindahkan ke kantor pusat, jika menerima tawaran ini?" Tanyaku membaca isi kontrak
"Tentu saja!" Jawaban yang singkat
__ADS_1
"Bolehkah saya mengajukan perubahan pada kontrak ini?" Tanyaku yang tidak suka dengan salah satu perjanjian
"Akan dipertimbangkan! Tapi silahkan isi kontrak yang mana, yang ingin di rubah?" Beliau terlalu datar
"5 tahun terlalu lama bagi saya hanya untuk membantu pekerjaan satu orang! Lagi pula saya juga tipe orang yang mudah bosan dan tidak suka di kekang! Bisakah di rubah menjadi 1 tahun masa kerja saja?" Tanyaku dan meletakkan kontrak di meja se anggun mungkin
"Hmm... 1 tahun terlalu singkat, bagaimana jika di rubah menjadi 3 tahun masa kerja? Ada banyak hal yang harus kau pelajari dan itu pastinya butuh waktu... Sepertinya 3 tahun adalah waktu yang pas!" Beliau terlalu hebat membujuk
"Baiklah, saya terima tawaran besar bapak!" Kataku tersenyum anggun pada beliau
"Kalau begitu! Dua hari dari sekarang kamu bisa segera bersiap-siap untuk bekerja di kantor pusat!" Kata beliau menjabat tanganku
"Baik! Terimakasih atas kesempatan yang telah bapak tawarkan!" Kataku balas menjabat tangan beliau
Setelah keluar dari kantor pak Hendry aku akhirnya bisa bernafas lega, pertanyaan Eka dan Jenny terabaikan karena aku sekarang sedang linglung. Aku benar-benar tidak menyangka jika akan mendapat kan tawaran sebesar ini, apalagi tadi kulihat gaji yang di tawarkan sangat banyak. Maaf jiwa matrealistis dalam diri ku muncul seketika saat melihat nominal gaji yang tertera di dalam surat kontrak tersebut.
Tapi saat kaki baru melangkah ke luar pintu lift aku baru tersadar jika telah masuk ke dalam perangkap bawahan lagi. Bukankah selama ini aku inhin menjadi bos, kenapa malah terjerat kontrak dengan perusahaan ini lagi. Bayaran yang sangat besar pastilah pekerjaan yang akan kulakukan juga sulit, sekarang aku memerlukan air untuk mendinginkan kepala dan hatiku yang saling berlawanan. Langkah ku terhenti saat mendengar ada seseorang memanggil namaku dari balik dinding pantry, itu suara pak kepala.
"Mamah, tenang saja! Ruka juga akan berhenti dari pekerjaan ini tidak kurang dari sebulan lagi kok... yang penting sekarang Aji harus mendapat kan hati kedua calon mertuanya saja!" Kata beliau membuatku merinding
"...." Aku tidak mendengar jelas apa yang di katakan oleh orang di seberang telpon
"Tapi papa merasa bersalah dengan nak Ruka... tidak seharusnya papa menyembunyikan berkas itu! Hanya karena tidak ingin nak Ruka di promosikan dan bekerja lebih lama!" Kata beliau sedih dan tentu saja membuatku kaget sampai lidahku terasa kelu karena ingin memaki
"..." Aku benar-benar tidak bisa mendengar suara bu Darmawan
"Tapi bagaimana jika suatu hari nanti nak Ruka mengetahui hal ini..." kalimat pak kepala terhenti sepertinya di potong bu Darmawan
"Baiklah, baik... papa akan mengikuti semua perkataan mama! Karena papa juga ingin memiliki menantu seperti nak Ruka!" Kata beliau membuatku bergidik ngeri
Aku tidak ingin berlama-lama lagi mendengar perbincangan suami istri yang menghalalkan segala cara hanya untuk menjadikanku menantunya. Katanya Aji adalah lulusan dari pesantren Kairo, tapi kenapa kelakuan orang tuanya tidak sesuai perkiraan ku selama ini. Walaupun aku tahu, mau di manapun manusia menimba ilmu tidak selalu mencerminkan seperti itu juga dia akan bersikap di dalam kehidupan bermasyarakat. Sayang sekali jika suatu hari nanti aku terjebak dalam konspirasi ini, walaupun mungkin nantinya aku tidak akan peduli karena telah terlanjur.
__ADS_1
Tapi karena semua itu masih bisa di cegah, maka jangan salahkan aku bersikap tidak sopan kepada kalian, wahai keluarga yang penuh tipu daya. Bukannya kesal aku malah merasa geli karena konspirasi pak kepala dan istrinya yang sangat menggelikan bagiku. Biarpun Aji berhasil mendekati dan meluluhkan hati mama dan abah, tapi keputusan terakhir pasti kembali kepadaku. Aku menantikan saat dimana mereka menunjukkan wajah kecewa sekaligus marah, saat menatapku yang tersenyum kepada keluarga mereka. Aku ingin melihat seberapa gigih Aji menaklukkan hatiku, namun akhirnya di patahkan oleh keluarganya sendiri semua kegigihan itu. Kemungkinan Aji tidak mengetahui konspirasi orangtuanya, karena sifat Aji yang jujur dan lembut itu tidak mungkin mengkhianati kegigihan hatinya.