JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
ENTAHLAH!!


__ADS_3

"Ruka!" Panggil seseorang dari samping kami duduk


"..." Aku dan Tian otomatis noleh ke arah sumber suara


"Ari! Apa kabar?" Tanyaku segera berdiri dan tanpa sadar melepaskan genggaman tangan Tian


"Sayang!" Kesal Tian dan kembali lagi menggenggam tanganku


"Eh... Maaf sayang!"


"Dia siapa?" Tanya Ari dengan wajah yang terlihat tidak suka


"Ehh... Kenalin ini suami aku Tian! Sayang kenalin ini teman kampus aku dulu Ari, pemilik restoran yang waktu itu kita kunjungi..." Kataku memperkenalkan mereka berdua


"Suami! Kapan kamu nikah..." Ari terlihat hendak mencengkram bahuku sebelum di halangi Tian


"Jangan main pegang-pegang istri orang!" Kata Tian dengan nada tajam


"Kok suasananya jadi gini..." Lirihku bingung dengan suasana mereka berdua


"Ru! Lo beneran udah nikah?" Tanya Ari masih tidak percaya


"Eh... I..iya... Maaf ya karena gue nikah nggak ngundang-ngundang!" Kataku menyesali karena tidak mengundang satupun teman kampus di pernikahan ku


"Ru! Lo becanda kan? Hahhaahha..." Kekehnya tidak ingin percaya


"Ri! Gue nggak becanda!!"


"Tapi kenapa? Kenapa Lo harus nikah dan nggak bilang-bilang sama gue..." Teriaknya gusar


"Nggak usah teriak-teriak bisa kan? Emang kenapa kalo Ruka udah nikah sama gue!" Marah Tian karena teriakan Ari yang tidak terima dengan pernikahan kami


"Ru! Lo lagi becanda kan sama gue..." Katanya yang ingin mendekat padaku dengan emosi yang tidak terkendali


"Nggak usah deket-deket sama istri orang bisa kan..." Marah Tian mendorong Ari hingga kembali mundur

__ADS_1


"Eh... Kalian kenapa pada emosi gini? Jangan bikin gue bingung dong..."


"Ru! Lo tau nggak kalo selama ini gue itu suka sama Lo... Selama 7 tahun gue mendem rasa sama Lo... Keberadaan gue di sini juga karena gue pengen ketemu sama Lo... Gue berharap setelah kita ketemu, gue bisa nikah..."


"Jangan kurang ajar sama bini orang..." Tian melayangkan tinju dengan marah ke wajah Ari


"Sayang!!" Kagetku saat tubuh Ari jatuh tersungkur


Orang-orang yang penasaran dengan keributan kami mulai bergerombol membentuk lingkaran. Aku malu, sangat-sangat malu dengan situasi kacau sekarang ini, di tambah dengan Tian dan Ari yang mulai saling menantang satu sama lain. Kakek segera berlari menghampiri ku yang bingung harus apa di tengah-tengah keramaian seperti ini.


"Kek!"


"Kamu tenang! Biar kakek yang nengahin mereka..." Kata kakek yang melihat ketegangan sekaligus kebingungan di wajahku


"Ada apa sih?" Keramaian mulai berdengung


"Nggak tau juga!"


"Perasaan tadi mereka masih mesra-mesraan di bangku... Tapi tiba-tiba cowok yang pake kaos kuning datang, semuanya jadi kacau!"


"Bisa jadi! Ceweknya kan cantik gitu..."


"Tapi kedua cowoknya juga tampan-tampan gitu..."


"Liat tuh perut si cewek... Lagi hamil ya?"


"Iya tuh! Perutnya besar gitu..."


Aku mengabaikan prasangka orang-orang karena masih bingung harus apa dengan Tian dan Ari yang udah di ringkus. Keduanya masih terlihat emosi dan saling membenci, padahal kan mereka baru ketemu hari ini, kenapa udah kayak cerita sinetron aja nih hidup. Aku menghampiri Tian yang masih belum tenang di pegangan orang-orang yang memisahkan keduanya. Wajahnya terdapat beberapa lebam bahkan sampai luka, karena pukulan Ari, kondisi Ari pun tidak lebih baik dari kondisi Tian sekarang.


Saat aku mendekat ke arah Tian tiba-tiba dia kembali berontak hendak menyerang Ari, hingga tidak sengaja menyenggol ku. Sebelum aku jatuh ke tanah, seorang pemuda yang untungnya sigap segera menahanku agar tidak terbentur jatuh.


"Sayang!" Tian segera berlari ke arahku yang kembali menyeimbangkan diri


"Untung dia sigap nahan aku... Coba aja kalo nggak ada yang sadar, aku pasti udah jatuh..." Kesalku memarahi Tian yang juga mengkhawatirkan perutku

__ADS_1


"Ma...maaf sayang! Aku nggak sengaja!"


"Lagian... Kenapa kalian malah berantem gini sih... Kalo mau berantem di ring tinju aja sana... Biar semua orang tau kalo kalian itu bisanya cuma pakai emosi... Bikin emosi aja!" Kesalku menyentil lebam di wajahnya


"Aawww... Maaf sayang! Abisnya dia bikin aku..."


"Ru! Gue suka sama Lo!! Sampai kapanpun gue tunggu kalian cerai..." Teriak Ari sebelum berlalu pergi dan menyisakan kondisi memalukan


Tian terlihat kembali emosi, namun segera ku cegah sebelum dia berlari mengejar Ari yang melangkah pergi dengan percaya diri. Kakek menangani kerumunan yang masih penasaran dengan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan aku segera menarik Tian untuk kembali ke mobil untuk bersembunyi dari tatapan orang-orang. Di dalam mobil aku hanya diam karena kesal sambil mengobati lukanya.


Tian juga hanya diam saja saat ku obati, dengan tangan mengepal mungkin dia masih marah dengan kejadian barusan. Aku benar-benar tidak menyangka jika kejadian tadi akan mampir dalam hidupku, sekali seumur hidup seperti ini. Kuharap tidak ada kejadian yang lebih heboh lainnya lagi nanti, karena kejadian seperti itu cukup memalukan.


Setelah kakek selesai dengan kerumunan, beliau segera kembali ke mobil dan meminta pak supir segera jalan pulang ke rumah. Di dalam mobil kakek bertanya tentang masalah yang barusan terjadi kepada kami. Aku menjelaskan semuanya dari awal kedatangan Ari hingga kejadian mereka bertengkar, bahkan sesekali Tian menyela dengan kesal mengutarakan kemarahannya.


Aku tahu jika Tian cemburu dengan apa yang di lakukan Ari barusan di taman, bukan hanya cemburu tapi Tian juga marah. Akupun juga marah karena sikap tidak tahu malu Ari yang selama ini kukenal sebagai cowok kalem. Apa katanya tadi, selama 7 tahun dia mendam rasa kepadaku, nggak salah dengar kan kupingku barusan?. Aku nggak tau jika ternyata diriku banyak yang suka, kupikir selama ini aku cuma narsis doang karena menganggap semua orang suka denganku. Tapi, kini semua kenarsisan itu terjawab dengan tanda tanya yang semakin banyak.


"Sayang! Kamu pernah punya hubungan sama dia?" Tanya Tian saat aku turun dari mobil


"Kita cuma teman kuliah, nggak pernah lebih juga kurang... Kamu kan juga tau, kalo aku cuma punya satu mantan..." Sahutku dengan senyum agar Tian tenang


"Kamu nggak bohong kan?"


"Ngapain aku bohong! Nggak jadi duit juga kan... Udahlah, jangan masang muka masam gitu dong... Senyum!" Pintaku padanya


"..." Tian tersenyum canggung


"Tian! Kakek mau bicara sama kamu, temui kakek di ruang baca setelah mengantar Ruka istirahat... Sayang! Kamu jangan terlalu banyak pikiran, biarkan kakek tua ini yang menyelesaikan semuanya..." Kata kakek membelai kepalaku yang tertutup hijab


"Kakek juga jangan sampai kelelahan... Nanti sakit!"


"Baik... Baik! Kamu memang cucu yang perhatian! Khehehe..." Kekeh kakek dan berlalu masuk ke ruang baca Tian


Setelah mengantar dan meminta ku istirahat di kamar Tian seg3ra menemui kakek, entah apa yang ingin mereka bicarakan. Kuharap mereka tidak berniat membuat bangkrut usaha yang di garap Ari selama beberapa tahun belakangan. Aku hanya tidak ingin usaha yang di impikan Ari selama hidupnya hancur hanya karena salah mengusik orang.


Semoga saja apa yang kutakutkan tidak akan pernah terjadi, kuharap kakek juga bisa menangani masalah barusan dengan kepala dingin. Yang terpenting semoga mereka tidak membicarakan masalah kejadian di taman tadi saja, agar semuanya bisa kembali damai dan tenang menjalani kehidupan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2