
Entah sejak kapan aku tertidur yang jelas sekarang suasana kamarku udah gelap aja. Diluar hujan turun dengan derasnya, membasuh langit kota Banjarmasin. Aku bangkit dari tidur ku dengan kepala yang sangat sakit, mungkin karena kelamaan tidur. Sampai sholat asar pun terlewatkan olehku.
Diluar kudengar suara Dewi sedang ribut dengan seseorang dari seberang ponselnya. Saat membuka pintu mataku rasanya berkunang-kunang karena terpampang sinar lampu ruang tengah yang sangat terang. Aku berpegangan pada dinding kamar untuk menopang tubuhku yang terasa lemas dan tidak bertenaga. Hingga akhirnya tubuhku pun tumbang terduduk ke lantai cukup keras, hingga menimbulkan suara gedubrak yang cukup kencang.
"Ru....!!!!" Panggil mereka kaget yang melihat tubuhku rubuh
"Lo kenapa?" Tanya Dewi segera menghambur menghampiri tubuhku yang terasa lemas
"Ya Allah... tubuh lo panas banget!!" Kaget Vina saat menyentuh tanganku
"Kita gotong masuk kamar dia dulu!!" Kata Dewi bersiap hendak mengangkat tubuhku
"Hahaha... berat!!!" Tawa mereka saat mencoba mengangkat tubuhku
"Jangan pegang ketek gue... geli tau.. hahaha!!!" Tas aku menyembur karena Sierra memegang di bagian ketiak
"Hahaha... Lo jangan ketawa... udah berat nambah-tambahin ngakak aja lo!!" Kata Vina yang ikut ketawa disertai yang lain
Akhirnya setelah ngakak hingga sakit perut, mereka berhasil juga ngangkat tubuhku ke kasur. Padahal aku juga bisa jalan sendiri, tapi kata mereka biar adegan gue sakit kayak sinetron gitu. Tapi ujung-ujungnya malah bikin ngakak semua, kepalaku pun malah jadi tambah sakit gara-gara kebanyakan ketawa. Setelah mereka meletakkan tubuhku ke kasur, mereka juga ikut rebahan disana dengan tawa yang masih menggelitik.
"Wi... pacar lo kok di tinggal!" Kata Sierra mengingatkan Dewi akan panggilan telpon yang membuatnyamemosi barusan
__ADS_1
"Biarin aja... gue juga udah nggak kuat kalo di bikin... gue pengen putus!!" Kata Dewi sebelum menyemburkan tangisannya
"Ada masalah apaan sih?" Tanyaku kepo
"..." Dewi hanya diam dan memeluk tubuhku
"Vin... ni anak kenapa?" Tanyaku yang semakin bingung
"Tadi sore... Kita liat Jali jalan... sama cewek lain di mall..." bisik Vina
"Udah gitu... mesra lagi!" Bisik Sierra di kuping satunya hingga membuatku kembali terkikik geli
"Ru!!! Gue harus gimana dong? Jujur gue udah sayang banget sama dia... Tapi gue juga nggak bisa terima kalo dikhianati kayak gini..." tangis Dewi semakin pecah
"Kalo gue jadi lo sih! Ngapain harus nangis... besok biar gue temenin balas dendam yang sehat!!" Kataku kembali mengelus kepalanya
Akhirnya malam di tengah hujan kayak gini, kamarku menjadi sarang curhatan semua kawan kosanku. Mana curhat nya tentang hubungan asmara mereka lagi, kagak inget kah mereka dengan diriku yang masih sendiri sampai sekarang. Ada tawa dan ada juga tangis di kamarku yang tidak seberapa luas ini, padahal mereka punya selimut yang sangat hangat dan besar di kamar masing-masing. Tapi mengapa harus selimutku yang tipis dan bau ini yang jadi rebutan.
Tubuhku terasa lebih enakan setelah mendengarkan curhatan mereka semua, bahkan tubuhku udah berkeluh. Di tambah pelukan hangat ketiga orang ini membuatku semakin sehat, walaupun ujung-ujungnya sesak napas karena pelukan mereka yang kelewat erat.
"Waaaaaaa..." teriak mereka bersamaan saat sesuatu jatuh dan tiba-tiba mati lampu
__ADS_1
"Ya Allah... Ra!! Itu bukan setan kan?" Tanya Vina semakin erat memelukku
"Aaaaa... gue nggak mau liat!!!" Teriak Sierra ketakutan dan semakin merapatkan tubuhnya
"Kok tiba-tiba jadi serem gini!!" Kata Dewi yang telah berhenti menangis
"Ra! Lo periksa dulu gih! Siapa tau dia nyariin lo!" Candaku
"Aaaa... Ru!! Nggak lucu tau!" Cubitnya pada lenganku
"Katanya biar kayak sinetron! Yaudah sekalian aja kita bantu setan-setan itu menyelesaikan masalahnya!!" Candaku dan membuat pintu kamar di gedor dari luar hingga membuat kami semua menahan napas
"Ru!! Dia marah... Lo sih becandanya kelewatan!!" Kata Sierra pelan dan membuat Vina dan Dewi mencubitku penuh kemarahan
"Kenapa jadi dia yang marah! Harusnya kita dong yang marah sama dia... ini rumah kita dan ini juga dunia kita! Ngapain dia disini... lagian kita nggak ada yang ngundang juga..." kalimat ku terhenti ketika gedoran terdengar lebih mengerikan
"Lo bisa diam nggak sih!!" Kesal mereka bertiga menutup mulutku
Bukannya sok berani, tapi cuma penasaran aja gimana rasanya bikin setan marah kayak di sinetron biasanya. Setelah gedoran berhenti,Black yang kagak tau datang dari mana, tiba-tiba aja muncul di kamar gitu. Mengeong garang di depan pintu kamar, hingga membuat suasana semakin mencekam. Bahkan rasanya sebaran jantung Dewi dan Vina terasa kencang, karena mereka berdua nempel padaku.
Jujur aku itu takut kalo pas sendirian atau benar-benar liat makhluk yang nyari gara-gara. Jadi untuk kasus ini, aku memberanikan diri agar terlihat paling pemberani agar semuanya nggak terlalu tegang aja. Padahal jantungku juga gugup setengah mati, gimana kalo tiba-tiba tu setan nyerang kita berempat. Sedangkan kami semua adalah cewek, para cowoknya sedang ngumpul di belahan dunia bagian ujung.
__ADS_1