
Setelah selesai makan kami berdua segera menuju kamar utama yang ada di lantai dua, awalnya aku meminta kamar yang berbeda dari Tian, karena pernikahan ini masih sangat membanggongkan bagiku. Tapi saat aku mengatakan permintaanku kepada pak Zioan, Tian tanpa malu-malu malah menggendongku naik ke atas. Aku sedikit kaget karean aroma tubuhnya kali ini lebih halus dari aroma yang biasanya saat ke kantor, aroma dia waktu ke kantor lebih menyengat baunya dari yang ini.
"Kamu ganti varian parfum ya?" Tanyaku yang masih di gendongannya padahal udah di dalam kamar
"Kenapa?" Tanya nya balik
"Ih... kok parfum kamu bisa sebanyak itu sih variannya! Kamu kan laki... hihihi!" Tawaku terkikik geli
"Kamu suka aku dengan aroma yang mana?" Tanya Tian menurunkan ku yang emang minta di turunkan
"Hmm... yang ini..." kataku yang memeriksa setiap aroma parfum nya
"Kenapa? Kamu lebih suka yang ini?" Tanya Tian menghampiri ku dan memelukku dari belakang
"Yang ini... seperti aroma Ain! Tapi aku lebih suka aroma ini..." kataku mengambil parfum dengan aroma yang memikat hidung kecilku
"Kraukk..." Tian menggigit lehernya yang di lindungi hijab
"Kamu ih... sakit tau!" Kesalku
"Itu sebagai peringatan... karena kamu udah mikirin cowok lain saat bersama suami sendiri!" Kata Tian merajuk
"Siapa bilang aku mikirin cowok lain... Aku sekarang lagi mikirin tempat yang cocok buat liburan!" Kataku masih memegang parfum dan membayangkan tempat liburan paling indah
"Aku mau mandi dulu!" Tian masih kesal, kayak anak kecil tau
Selagi Tian mandi aku melangkah menuju balkon menatap langit malam yang gelap hingga tidak terlihat apa-apa di atas sana. Aku benar-benar tidak menyangka jika sekarang aku sudah menjadi seorang istri, yang tidak pernah dipikirkan selama ini. Rasanya sedikit ganjil dengan kehidupan dan lingkungan baru seperti ini, aku menikah tanpa adanya rasa cinta. Lalu bagaimana caranya aku bisa melayani suamiku layaknya seorang istri yang memenuhi kewajibannya kepada sang suami. Aku merasakan jika Tian benar-benar nyata dengan perasaan cintanya padaku, Tian adalah laki-laki seperti Ain. Mereka terlalu banyak memiliki persamaan, tapi bukankah aku telah berjanji jika menemukan laki-laki yang hampir sama seperti Ain aku akan berusaha untuk mencintainya.
Tapi apakah aku bisa mencintai laki-laki yang terlalu persis seperti Ain? Aku takut jika bukan kematian yang memisahkan kami, maka masalah lainnya yang akan menghalangi hubungan kami. Aku tidak bisa memberikan sedikit kepercayaan pada cintaku, karena aku tau jika kepercayaan yang sedikit itu akan terus berlanjut, hingga sepenuhnya percaya. Walaupun suatu hari nanti saat aku berpisah dari Tian dan akan mewarisi seluruh harta kekayaannya, bukankah saat itu yang kuinginkan adalah sosok Tian bukan hartanya yang terlalu berlebihan ini. Aku takut jika Tuhan akan kembali mempermainkan kehidupan ku yang sudah barkali-kali terasa di permainkan ini.
"Sayang! Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Tian memelukku dari belakang, aroma segar sampo dan sabun tercium darinya
__ADS_1
"Aku juga bingung!" Jawabku dan menyandarkan tubuhku di pelukannya, dan terus menatap kosong kedepan
"Sejak pertama kali aku ketemu kamu... Kamu selalu seperti ini!" Katanya memelukku semakin erat
"Seperti apa?" Tanyaku penasaran
"Setahun yang lalu... saat aku liburan ke Bali, aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis muda yang sangat cantik! Dia mengenakan pakaian tertutup dari atas kepala hingga ujung kaki... hijabnya yang di terpa angin terkibar-kibar, namun tak di hiraukannya! Karena gadis itu sedang sibuk menertawakan kedua temannya memperebutkan pelampung berwarna merah... gadis itu menarik beberapa perhatian pemuda lainnya yang ada di pantai. Lalu ada seorang pemuda yang melangkah dengan berani dengan membawa setangkai bunga... dan menyatakan cinta pada gadis itu! Bunga sang pemuda di terimanya tapi tidak dengan cinta pemuda itu... karena gadis itu memiliki seseorang di hatinya! Aku merasakan sakit yang tidak pernah kurasakan sebelumnya hari itu..." katanya panjang lebar
"Kamu lagi mendongeng ya?" Tanyaku dan terkekeh
"...malamnya, saat aku sedang jalan-jalan di tepi pantai pada tengah malam... Aku melihat silurpet tubuh cantik yang di terpa cahaya bulan... dia adalah wanita tadi siang, wanita yang semakin menawan saat malam hari tiba... tanpa sadar aku terus melangkah ke arahnya, yang tidak sengaja aku mendengarnya bergumam... "Aku ingin pulang" . Dia mendesah seperti ada beban berat yang sedang mengganjal hatinya... tatapan mata yang sedih dan penuh duka itu menatap bulan seakan-akan sedang curhat penuh kepiluan... gadis itu terkejut saat melihatku berada di sampingnya, dia mengumpat... "Dasar mesum" padaku. Huh... Aku yang tersadar dari keindahannya melangkah melajukan kakiku menelusuri tepi pantai... tak berapa lama kemudian, aku kembali berbalik... gadis itu menghilang, tidak ada di tempatnya semula, namun sedang melangkah dengan kepala menunduk serta langkah dengan langkah kecil..."
"Kok aku merasa familiar..." kataku memotong ceritanya
"...Aku terus memandangi punggungnya yang semakin menjauh... tapi tiba-tiba dia duduk jongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan kecilnya! Aku ingin menanyakan alasannya kenapa bisa terlihat sesepuh itu... tapi aku takut jika dia akan mengira aku sebagai orang aneh, yang suka ikut campur urusan orang lain... satu jam dia seperti itu, dan bangkit tiba-tiba setelah beberapa saat berlalu, gadis itu berteriak namun terdengar seperti teriakan tertahan... setelah dua kali berteriak seperti itu, dia melangkah pergi sambil sesekali menyentuh kakinya yang sakit..."
"Gadis itu aku kan?" Tanyaku berbalik menatap wajahnya
"..." Tian hanya diam dan tersenyum mengangguk
"Bukan hanya tau dari lama... Aku juga udah mencintai kamu dari pandangan pertama!" Kata Tian memegang kedua pipiku dengan tangan besarnya
"Aku mau mandi dulu..." kataku melepaskan tangannya dari wajahku dan beranjak ke kamar mandi
Saat memasuki kamar mandinya, aku kembali di buat heran oleh barang-barang yang ada di kamar mandi. Semuanya ada banyak dan berbagai merek, semuanya tidak terkecuali sabun mandi yang berjajar dengan merek yang berbeda juga, aku semakin yakin jika Tian memiliki kepribadian ganda. Semua varian barangnya ada 5, berarti kemungkinan ada 5 kepribadian pada satu tubuh, tapi juga ada kemungkinan lebih dari yang ku bayangkan atau lebih sedikit. Aku memilih memakai peralatan mandi yang sama dengan Tian barusan, karena saat ini itulah kepribadiannya, yang terasa manis dan penuh kasih.
Aku melepaskan semua kain yang menempel di tubuhku, dan membiarkan air di shower mengalir keseluruh tubuhku. Pikiranku menjadi lebih tenang dan relaks saat air meresap sampai akar rambutku, rambut panjang ku terurai basah sepinggul. Rambutku udah panjang lebar pula, jadi memerlukan sampo lebih banyak dari rambut orang pada umumnya. Walaupun kadang kesulitan mengurus rambut sepanjang ini, tapi aku menikmati kesulitan setiap kali mengurus rambutku. Dari kecil aku tidak pernah memiliki rambut panjang sampai bertahun-tahun seperti sekarang, karena dulu aku tidak menyukai rambut panjang, soalnya hanya bikin repot.
Setelah selesai mandi aku melilitkan handuk ke badan dan membiarkan rambut ku tergerai bebas, karena begitulah aku biasanya. Saat membuka lemari pakaian, aku kaget karena tidak ada pakaian wanita satupun di dalamnya, hanya ada beneran baju Tian yang sangat banyak. Tapi pakaian dalam wanita tersedia di lemari bagian bawah, macamnya juga banyak, dari yang cek di sampai yang normal. Aku memilih pakaian dalam hitam polos yang normal, sedikit sesak untukku, jadi bisa disimpulkan jika semua ini di siapkan bukan untukku. Untuk baju aku memilih pakaian yang paling panjang, tapi yang ku temukan hanyalah deretan kemeja panjang putihnya yang panjangnya hanya menutupi sampai setengah paha.
"Apa-apaan ini... dia niat nikah nggak sih!" Kesalku mendapati tubuh ku yang masih terlalu terbuka
__ADS_1
Aku jadi malas untuk keluar dengan penampilan seperti ini, karena biasanya di drama korea yang suka ku tonton, jika wanitanya berpakaian seperti ini. Pemeran utama laki-laki nya pasti akan bernafsu, dan aku tidak ingin hal itu sampai terjadi, tapi mau bagaimana lagi, masa aku harus tidur di kamar mandi, kan nggak lucu. Aku mengeluarkan kepalaku untuk melihat di mana posisi Tian saat ini, tapi ternyata dia udah di atas kasur sambil memainkan gadget nya.
"Tian..." panggilku padanya yang fokus menatap layar hp
"Hmm... Kenapa?" Tanyanya dan meletakkan hp di meja samping tempat tidur
"Kamu niat nikah nggak sih?" Tanyaku masih menyembunyikan tubuhku
"Emang kenapa?" Dia malah nanya balik
"Kenapa nggak ada pakaian buat cewek di lemari... malah pakaian dalam yang kayak gitu kamu koleksi!" Kesalku padanya
"Eh... Aku lupa nyiapin pakaian buat kamu... kamu kan bisa pakai punya aku dulu! Nanti pagi baru kita pergi beli!" Katanya membujukku yang lagi kesal
"Baju kamu nggak ada yang panjang!"
"Pakai kemeja aku... tapi pakaian dalam nya kamu suka kan!" Katanya dengan tatapan genit
"Semuanya nggak muat di aku..." kataku dan menyembunyikan wajah di balik pintu
"Kok bisa?" Katanya sambil mengerjap-ngerjapkan mata
"Gimana sih... Kamu kan belinya bukan ukuran aku!" Kesalku dan melemparkan tisu beserta bungkus nya kepadanya
"Kekecilan atau kebesaran?" Ih kok nanya gitu sih
"Kekecilan... Kenapa nanya kayak gitu?" Kesalku padanya
"Mana! Coba aku liat!" Katanya hendak turun dari kasur
"Kamu diam di sana! Kamu jangan mancem-macem ya!" Kesalku semakin bingung harus keluar apa kagak
__ADS_1
"Kenapa masih di sana... emang kamu nggak cape?" Kata Tian memintaku menghampirinya
Aku kesal karena sorot matanya yang genit itu, hingga membuatku menutup pintu dan bersembunyi di dalam. Aku bingung antara keluar apa tetap diam di sini, tapi kan kami sudah resmi menjadi suami istri, hak dia doang menuntut malam pertama. Tapi sialnya aku belum siap jika harus malam ini, karena aku harus menata ulang perasaanku dulu.