JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Tiba-Tiba Putus


__ADS_3

Kejadian itu telah berlalu selama dua hari, tapi entah mengapa obat bius yang di gunakan penjahat brengsek itu masih berefek padaku. Sudah dua hari pula aku sangat malas untuk beranjak dari kasur, karena obat bius sialan yang membiusku waktu itu. Bahkan saat ini bergerak untuk mengambil minum yang ada di meja samping tempat tidur pun aku sangat malas untuk menggerakkan tangan.


"Ahh... aku lupa jika aku belum mandi wajib! Pantesan malas amat ni tubuh buat gerak!!" Gumamku tiba-tiba membuka mata


Setelah meminum setebal air putih aku segera beranjak ke kamar mandi, untuk ritual mandi wajib. Saat memasuki kamar mandi ada sedikit perasaan kesal karena, di tempat ini lah pembiusan itu terjadi. Kemarin semua perabot di dalam apartemen ku di ganti oleh anggota polisi dengan yang baru, karena ada beberapa perabot yang rusak dan udah nggak bisa di pakai.


Setelah menyalakan shower aku segera melepas seluruh pakaian dan diam di bawah guyuran air yang akan membasahi seluruh tubuhku. Sempat melamun beberapa detik memikirkan kejadian heboh dua hari yang lalu, namun segera kembali tersadar saaterdengar suara ketukan di pintu luar. Aku segera menyelesaikan mandi, dan sesegera mungkin membukakan pintu yang beberapa kali telah di ketuk. Rambutku masih basah, jadi agak malas pakai jilbab, hingga rambut hanya ditutupi dengan handuk saja.


"Wa'aikumsalam... maaf tadi saya lagi man...di! Sayang..." kataku saat membuka pintu dan di kagetan dengan senyum hangat dari Ain


"Sayang! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu..."


"Tunggu sebentar... aku ambil hujan dulu!" Kataku dan bergegas mengambil jilbab di lemari


"..." Ain kembali tersenyum saat aku menemuinya di luar


"Kamu mau ngomongin apa?" Tanyaku setelah tepat di hadapannya


"Sebelum itu... aku mau peluk kamu dulu..." katanya dan menarikku masuk ke dalam pelukannya


"..." aku bingung harus bagaimana


"Sayang maaf ya, aku nggak bisa menuhin janji aku ke kamu... kita putus aja ya!" Katanya dengan nada bergetar sambil terus memelukku

__ADS_1


"Sayang, candaan kamu nggak lucu..." kataku hendak melepaskan pelukannya namun menjadi semakin erat


"Aku nggak lagi bercanda... dan aku benar-benar minta maaf!" Katanya dengan nada yang lebih menyedihkan


"Tapi kenapa! Muka kamu kenapa pucat banget? Kamu sakit ya...." kataku yang berhasil melepas pelukannya


"Aku harap kamu segera melupakan aku!" Katanya dengan senyum dan melangkah pergi meninggalkan ku yang masih terperangah kaget dengan kalimat putusnya


"Tapi... aku nggak mau pisah!" Gumamku masih menatap kosong dinding di depanku sebelum tersadar akan kepergian Ain


Aku tersentak kaget saat Lisa memanggil namaku dan baru sadar jika Ain sudah pergi dari depanku sejak tadi. Aku mengabaikan panggilan Lisa, dan segera berlari menuruni tangga darurat saat merasa lift sangat lama terbuka. Dengan pikiran kosong aku berlari menuruni anak tangga dengan cepat, hingga membuat kakiku keseleo saat baru menuruni dua lantai. Ku harap Ain belum pergi dari gedung apartemen saat ini, karena aku ingin menanyakan alasannya pisah denganku.


"Kenapa ini sangat tiba-tiba!" Berlaku sambil terus berlari menuruni tangga dengan kaki terpincang-pincang


"Ru..." panggil nya hendak keluar dari mobil


"Baik! Kita putus begini saja... Ku harap aku tidak bertemu denganmu lagi!" Kataku kesal karena apa, mungkin malu karena jatuh tersandung


"..." Ain mengurungkan niatnya keluar dari mobil


Aku bangkit berdiri dan segera kembali ke dalam dengan tergesa-gesa dengan langkah pincang karena kakiku yang keseleo ternyata sedikit berdarah. Saat ini aku merasa benar-benar malu, karena jatuh tersandung saat melangkah mundur barusan dan malu karena menyadari jika diriku selama ini merasa tertipu. Aku tertipu, oleh kata-kata Ain dan kehidupannya yang ternyata tidak seperti yang kulihat selama ini. Walaupun Ain tidak meminta putus haru ini, mungkin nanti aku lah yang meminta putus darinya saat mengetahui perbedaan gaya hidup yang sesungguhnya.


"Aku malu!!" Gumamku menutup wajah denga tangan serta jongkok di dalam lift

__ADS_1


Saat ini aku benar-benar mempertanyakan siapakah diriku sebenarnya? Apa yang kuharapkan dari hubungan yang penuh kebohongan ini? Seandainya, Ain adalah benar-benar seorang laki-laki yang tidak memiliki apa-apa, mungkin saat ini aku sedang berusaha mati-matian mempertahankan hubungan kami. Tapi karena Ain adalah seorang tuan muda, jadi aku tidak ingin mempertahankan hubungan yang hanya akan membuatku merasa kecil karena perbedaan level kedudukan kami.


Tapi sekarang perasaanku sedikit gundah, karena wajah Ain yang terlihat pucat setelah sekian lama nggak ketemu secara langsung. Pintu lift terbuka membawaku kembali kepada ingatan wajah Ain yang terlihat tidak baik-baik saja saat memelukku barusan.


"Sepertinya aku harus kembali mandi!" Gumamku mengabaikan ingatan perih itu saat menyadari jika aroma tubuh Ain menempel di bajuku


"Ru! Lo kenapa linglung gini sih?" Tanya Lisa yang membuatku tersentak kaget


"..." aku menoleh ke arah sumber suara sambil mengelus dada


"Gue panggil juga dari tadi... kenapa tadi lo lari sih? Lo berantem sama pacar..."


"Gue udah putus sama da!" Potongku secepat mungkin


"What! Kenapa putus? What happen?" Kata Lisa kepo


"Karena kita nggak jodoh... Gue masuk dulu ya, mau mandi nih!" Kataku segera masuk ke dalam


"Wait! Ada yang mau gue omo...ngin!" Kata Lisa saat pintu telah tertutup


Aku segera masuk ke kamar mandi dan segera melepaskan baju di tubuh serta melemparkan baju yang ku pakai barusan ke tempat sampah. Pelukan perpisahan yang di berikan Ain membuatku merasa jijik dengan semua yang berhubungan dengannya. Aku tidak menyangka, jika perubahan keyakinan Ain juga mengubah segalanya dalam hidup kami berdua. Aku tidak menyesal telah mengenalnya dan mengenalkan Allah swt kepadanya, malah aku sangat bersyukur karena Ain telah masuk ke dalam ajaran yang benar dan bersih.


Mungkin memang nasibku, selalu di permainan oleh yang namanya jodoh seperti sekarang, terimakasih untuk Ain laki-laki pertama yang pernyataan cintanya ku terima, namun tidak mendapatkan balasan cinta dariku. Dan mungkin juga karena aku tidak mencintai Ain lah, Tuhan memberikan perpisahan kepada kami berdua, yang telah mekbicarakan sampai ke jenjang pernikahan yang dimimpi-mimpikan. Terimakasih Tuhan. Karena telah menghadirkan seorang laki-laki yang menjaga dan menemaniku selama satu tahun lebih.

__ADS_1


__ADS_2