
Aku kembali masuk ke kantor CEO menuju meja tempatku bertugas, kulihat pak CEO sedang fokus dengan berkas di depannya. Walaupun dia angkuh dan keras kepala, tapi pak CEO tetaplah memiliki darah bisnis dan berjiwa kompeten. Aku juga mulai sibuk lagi memperbaharui jadwal pak CEO yang sempat kacau karena ulahnya sendiri. Aku beranjak ke meja pak CEO yang ada di dalam ruangan bersekat kaca dengan tempatku sekarang, untuk meminta persetujuan beliau dengan jadwal yang telah kuperbaiki.
"Permisi pak! Ini jadwal bapak yang telah saya perbaharui... silahkan bapak lihat, jika ada yang kurang berkenan maka saya akan merubahnya!" Kataku sopan saat beliau terlihat kesal dengan tumpukan berkas yang belum di setujui
"Letakkan saja disana!" Katanya kembali membaca berkas yang harus di setujui, sepertinya pak CEO sangat serius jika di harapkan dengan pekerjaan
"Baik!" Kataku dan handak kembali ke meja
"Tunggu dulu! Bukankah kau karyawan yang sangat kompeten... menurutmu bagaimana mengenai berkas satu ini?" Tanya beliau meminta pendapatmu pada berkas yang satu-satunya berbeda tempat
"Menurut saya lebih baik bapak jangan menyetujui proposal satu ini... karena terlalu banyak resiko berbahaya!" Kataku mengeluarkan pendapat yang juga sempat membuatku bertanya-tanya apakah nanti pak CEO akan setuju atau tidak dengan berkas ini
"Benar kata mu ! Tapi bukankah berarti kita melewatkan kesempatan bagus?" Tanya beliau menatapku
"Perusahaan ini terlalu banyak memproduksi limbah berbahaya ketimbang barang yang mereka produksi! Walaupun ini hanya resiko kecil bagi perusahaan tapi... akan sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar sana... Tapi jika bapak bisa membuat perusahaan ini berubah haluan menjadi perusahaan yang memproduksi barang yang tidak terlalu banyak menghasilkan limbah kimia berbahaya... mungkin kesempatan besar ini akan menjadi tangkapan yang sangat besar melebihi perkiraan semua orang!" Kataku mengeluarkan pemikiran yang sempat terpikirkan saat mencetak berkas satu ini
"Hmmm... Saya juga berpikir begitu! Tapi apakah perusahaan mereka akan setuju pindah haluan seperti ini? Walaupun perubahan yang kita rencanakan tidak secara keseluruhan, tapi pendapat dari pekerja di sana juga sangat penting!" Kata beliau membuatku mengangguk setuju
__ADS_1
"Apakah saya harus meluangkan waktu bapak untuk mengunjungi perusahaan ini? Kita survei lapangan secara langsung! Bagaimana pak?" Tanyaku mengusulkan
"Baiklah! Luangkan waktuku untuk pergi ke tempat ini!" Kata beliau dan menandai proposal itu dengan tinta merah
"Baik pak!" Aku segera keluar ruangan pak CEO untuk memperbaiki jadwal
Pekerjaanku bukan hanya memperbaiki dan merubah jadwal pak CEO, masih ada banyak hal yang harus ku selesaikan. Seperti menghubungi para kolega bisnis yang ingin bertemu dan membicarakan bisnis dengan pak CEO. Bahkan urusan kencan yang notabene sebagai urusan pribadi, aku juga harus menjadwalkannya, beginilah nasib jadi sekretaris pribadi. Pak CEO terlihat sedang tertekan dengan beberapa berkas, menurut jadwal ini saatnya pak CEO meminta di sediakan teh, tapi sepertinya beliau lupa.
Maka dari itu aku sendiri yang berinisiatif untuk membuatkan teh yang suka beliau minum di jam dan waktu seperti ini. Aku berjalan menuju pantry yang ada di lantai ini, kulihat para karyawan yang juga ada di lantai ini sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga tidak sempat beramah-tamah. Semua orang tergesa-gesa di kejar waktu deadline yang memang menyebalkan, aku juga pernah sesibuk mereka, tapi malangnya aku yang sekarang lebih sibuk dari aku yang dulu.
Sekarang hidupku selama tiga tahun kedepan akan menjadi milik pak CEO, selama 15 jam kerja waktuku adalah milik beliau juga. Semoga aku tidak bosan dengan jadwal yang beruntun di kemudian hari, setidaknya aku harus bertahan selama 3 tahun. Sesampainya di pantry aku segera membuat teh kesukaan pak CEO, sambil mendukung pembicaraan karyawan yang sedang beristirahat. Karena tidak ingin lama-lama meninggalkan pekerjaan, aku segera kembali ke kantor CEO.
Nanti sore aku harus menemani pak CEO untuk bertemu dengan kolega bisnisnya, yang terus menghubungi kantor CEO beberapa hari terakhir dari riwayat panggilan, yang juga sempat ku periksa. Setelah pekerjaan ku selesai, aku ingin tidur dulu selama sejam, untuk memulihkan tenaga yang hampir terkuras lagi. Aku sudah memasang alarm agar aku terbangun setelah satu jam kemudian. Karena sebentar lagi adalah waktu makan siang yang ingin kumanfaatkan untuk tidur dengan tenang.
***
Aku terbangun tepat saat alarm berbunyi, setelah merenggangkan tubuh aku menoleh ke ruangan pak CEO. Kulihat beliau sudah tidak ada di tempat, hingga membuatku sedikit kebingungan kemana beliau pergi tanpa meninggalkan pesan satupun padaku.
__ADS_1
"Apakah tidurnya nyenyak?" Tanya pak CEO mengagetkan ku
"Astagfirullah... bapak kapan berdiri di sini?" Kaget ku terperanjat karena beliau sedang berdiri di sampingku entah sejak kapan
"Sejak setengah jam yang lalu..." katanya melihat jam di pergelangan tangan
"Dasar mesum!!" Kataku melangkah mundur tidak percaya jika dari setengah jam yang lalu pak CEO memperhatikan ku tidur
"Ada masalah dengan itu!" Kata beliau dengan tatapan genit
"Hati-hati loh pak! Selama ini semua cowok yang suka bercanda sama saya... dalam sekejap bisa tiba-tiba bilang cinta ke saya!" Kataku memperingatkan beliau agar tidak memasang wajah bercanda
"Nggak percaya tuh... ikut denganku sekarang!" Katanya dan melangkah menuju lift khusus
"Saya akan menggunakan lift karyawan pak!" Kataku hendak melangkah pergi
"Kenapa? Bukankah semalam kamu juga telan memakai lift ini!" Katanya dan menarikku masuk
__ADS_1
"Karena waktu itu saya takut bapak melarikan diri! Tapi sekarang berbeda..." kataku hendak keluar namun di cegatnya
Pintu lift tertutup rapat sehingga aku hanya bisa pasrah, berdiri di belakangbtubuhnya yang tinggi dan berdiri angkuh. Entah hendak membawaku kemana pak CEO yang tiba-tiba menjadi ramah dan kadang-kadang memasang wajah dingin. Entah kenapa aku melihat sosok Ain dalam diri seorang Tiandra Saputra ini, dia membuatku mengingat hal yang telah ku simpan rapat-rapat di dasar hati. Kini setelah berhasil menghilangkan bayang-bayang Ain beberapa hari dari hidupku, sekarang kenapa harus kembali hadir.