JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
NGIDAMNYA BINI ORANG KAYA


__ADS_3

Selama beberapa hari ini, Tian selalu berada di sampingku dari pagi hingga pagi lagi. Pengawasan langsung darinya menjadi semakin ketat setelah hari itu, hari di mana aku kehilangan kontrol akan diriku sendiri. Abah juga sudah kembali ke kampung, walaupun komunikasi lewat video call ataupun telpon tidak pernah absen setiap hari, tapi tetap saja aku merasa kosong.


Yang ku butuhkan saat ini adalah kehadiran mereka di sisiku, seandainya aku tidak merasa mual saat naik helikopter, mungkin sekarang aku sedang bersantai di kamar villa keluarga ku. Tapi kekosongan yang kurasakan sedikit terobati karena Tian yang selalu ada di sampingku setiap saat. Urusan kantor, di serahkan nya pada Mirza dan asisten lainnya hingga membuatku sedikit khawatir.


Aku takut jika ternyata salah satu dari asistennya berkhianat, ataupun membuat kesalahan dengan sengaja karena tidak ada pengawasan dari Tian. Walaupun kakek masih aktif bekerja di kantor, tapi beliaukan juga sibuk dengan pekerjaannya. Semoga saja, mereka yang di berikan kepercayaan tidak mengecewakan sama sekali.


"Sayang!" Panggilku pada Tian yang ada di kamar mandi


"Hemm... Kenapa sayang? Kamu pengen sesuatu?"


"Nggak tau kenapa ya... Aku jadi pengen makan martabak telor, tapi telornya harus telor angsa! Trus, aku juga pengen makan hati angsa, daging angsa bakar! Sama daging unta yang di goreng pakai minyak zaitun... Lalu sesuatu yang terbuat dari daging hiu...!"


"Oke! Aku siapin semuanya dalam waktu 2 jam! Ada lagi yang pengen kamu makan?"


"Kamu yakin mau beliin semua yang aku bilang barusan?"


"Apa sih yang nggak buat kamu!"


"Tapi 2 jam kelamaan... Aku kan pengen makan sekarang!" Manjaku memain-mainkan ujung selimut


"Se...sekarang ya? Tapi kan... Yaudah aku usaha in secepatnya!"


Setelah memberikan kecupan di keningku Tian segera berlari keluar kamar, entah pertunjukan apa yang ingin dilakukannya. Tapi saat ini aku benar-benar menginginkan semua makanan yang kusebutkan tadi, lalu menikmatinya di Padang rumput yang hijau dengan angin yang bersapu lembut menerpa kulit. Lalu di tutup dengan berbagai varian rasa es krim beserta cookies yang manis-manis.


"Sayang! Ada lagi yang kamu pengen?" Tian kembali ke kamar beberapa saat kemudian


"Aku pengennya makan semua itu di Padang rumput yang hijau, sambil menikmati pemandangan berdua sama kamu... Lalu di tutup dengan berbagai varian es krim dan cookies yang enak! Tapi nggak usah deh... Nanti kamu jadi tambah repot!"


"Padang rumput! Gimana kalo di halaman belakang aja? Di sana kan juga ada kolam, tanaman bunga mawar... Gimana kamu mau?"


"Kalo kamu nggak kerepotan, aku sih mau aja!"


"Oke sip, setelah semuanya siap aku jemput kamu lagi..."


Aku sempat mikir, kalo semua yang kuinginkan pasti sulit untuk di penuhi, tapi aku sadar lagi. Jika suamiku adalah seorang CEO muda yang lumayan sukses, ditambah lagi dengan harta yang di milikinya sangat berlimpah. Emang ya, kalo orang kaya itu bisa ngelakuin apa aja hanya dalam waktu singkat. Dulu aku selalu khawatir saat menghabiskan uang 20 ribu dalam sehari, tapi sekarang uang 20 juta di habiskan dalam waktu sejam adalah hal yang wajar.


Dulu aku juga sempat kena marah oleh Tian karena terlalu hemat dengan uang. Setiap kali belanja, aku selalu mencari barang diskonan ataupun barang-barang kw, yang selalu membuat Tian marah. Setelah dia tau jika barang-barang yang ada di lemari, adalah barang kw semua. Tanpa ampun Tian membakar semuanya bahkan lemari yang tidak salah apa-apa juga kena imbasnya.


Kejadian itu, terjadi setelah kebenaran tentang Tian yang memiliki banyak kepribadian di ungkapkan olehnya. Waktu itu, dia benar-benar merombak gaya hidup hematku menjadi gaya hidup orang kaya. Bahkan baju santai yang ku gunakan saat ini saja harganya hampir satu juta, itu baru atasannya doang, belum lagi celananya dan aksesoris lainnya. Hp ku juga udah ganti jadi iPhone, yang harganya benar-benar gila dan konyol, hanya untuk sebuah alat elektronik.


Soal beradaptasi dengan gaya hidup baru mah gampang, yang sulit itu mengontrol diri agar tidak kelewat batas. Sampai saat ini aku masih menanamkan gaya hidup orang miskin agar membuatku sadar diri jika sedang mengahadapi gesekan kartu kredit tanpa batas. Nggak tanggung-tanggung, Tian memberikan 3 kartu kredit tanpa batas sekaligus padaku hanya untuk jajan. Lain lagi ceritanya dengan uang dapur, uang gaji pembantu, bahkan uang gaji miliknya juga di serahkan padaku, katanya biar aku saja yang mengelola keuangan rumah tangga kami.


Mungkin Tian terlalu percaya diri jika aku akan mengelolanya dengan baik, karena katanya aku adalah orang yang berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Tapi anehnya aku tidak merasa jika diriku begitu, soalnya aku kan bukan tipe pemikir.

__ADS_1


"Sayang!" Tian melongok kan kepalanya masuk


"Ada apa?"


"Semuanya udah siap... Sekarang saatnya kita ketempat yang kamu inginkan!"


"Udah siap? Kok bentar banget?"


"Inilah kekuatan seorang suami..." Lagaknya bak super Hero


"Beneran udah siap kan! Ughh..." Aku kesulitan bergerak karena perut besarku


"Biar aku gendong..."


"Nggak usah, aku berat loh..."


"Lumayan! Tapi aku kan kuat!"


"Udah, turunin... Aku bisa jalan sendiri!"


"Tapi lebih enak di gendong kan?"


"Iya juga sih... Tapi aku kan berat!"


"Yaudah, kalo gitu jangan banyak gerak... Biar aku nggak keberatan..." Dia tersenyum puas setelah aku mengalah di dalam gendongannya


"Sudah-sudah... Kamu tidak usah mempedulikan orang tua ini..." Kata kakek terkekeh kecil melihat kami


"Mumpung kakek udah datang... Gimana kalo kita makan sama-sama!"


"Kakek tidak ingin mengganggu..."


"Tapi kan, kalo kakek ikut jadi tambah rame..." Aku memasang wajah murung


"Baik-baik, kakek akan ikut!" Beliau luluh


"Turunin aku!" Pintaku pada Tian


"Tapi sayang..."


"Kalo kamu nggak nurunin... Aku lompat nih!" Ancamku


"Oke-oke, aku turunin... Tapi kamu jalannya hati-hati!"

__ADS_1


"Iya bawel!"


Setelah di turunkan oleh Tian, aku segera menggandeng lengan ny dan lengan kakek. Karena aku tipe orang yang suka jalan cepat, aku sempat kena marah oleh Tian dan kakek karena cara jalanku yang seperti di kejar sesuatu. Saat pintu belakang di buka oleh Ica dan Sasa, aku sedikit tertegun, soalnya halaman belakang benar-benar terlihat seperti Padang rumput yang luas.


Hanya dalam waktu singkat, Tian memasang layar yang mengelilingi halaman belakang dengan pemandangan virtual Padang rumput. Serta hamparan berbagai jenis makanan yang kuinginkan di atas karpet yang di gelar di dekat kolam. Aku merasa terharu dengan usaha Tian dan semua orang yang telah bekerjasama, hanya untuk membuatku merasa puas.


Tian segera memintaku duduk di karpet, karena khawatir aku akan pegal karena terlalu lama berdiri. Bahkan dari balik layar yang terpasang angin berhembus dengan lembut, aku penasaran dengan sosok yang di tempatkan sebagai pengatur laju kipas angin. Tapi rasa penasaranku seketika sirna saat aroma dari semua hidangan yang ada di depanku menerpa indera penciuman ku.


"Gimana! Enak?" Tanya Tian setelah aku mencicipi semuanya


"Lumayan... Aku paling suka sama daging unta ini! Dagingnya lembut dan nggak amis!"


"Kakek juga lebih suka daging unta ini..." Kata kakek setuju dengan pendapatku


"Kalo di masak pedas mungkin lebih enak lagi!" Kataku dan kakek bersamaan


"Aku jadi bingung, sebenarnya siapa sih cucu kandung kakek yang sebenarnya..." Kesal Tian


"Ya aku dong, kamu kan orang asing... Ya kan kek?" Candaku


"Pinter cucu kakek!" Kata kakek mengelus kepalaku


"..." Tian menjadi semakin kesal, lalu pindah posisi memisahkan ku dengan kakek yang dekat


"Kamu siapa? Kenapa ada disini?" Kakek pura-pura tidak mengenali Tian


"Tau... Siapa sih dia kek! Kok tiba-tiba muncul di tengah-tengah..."


"Sayang! Aku kan Tian suami kamu!" Matanya membelalak kesal


"Maaf ya... Suami aku lebih ganteng dari kamu!" Aku menepis tangannya yang memegang lenganku


"Tian yang kakek tau, sifatnya nggak kayak gini deh... Dia pasti bukan Tian! Sayang kita pindah tempat yuk?"


"Sayang... Aku kan Tian kamu!" Kesalnya memeluk ku erat


"Siapa sih kamu... Kok peluk-peluk..." Kalimatku terhenti saat Tian mendaratkan kecupan hangat di bibirku


"Masih nggak mau berhenti becandanya?"


"Akkhhmmm..." Kakek berdehem yang membuatku merona malu


"Kamu apa-apaan sih sayang! Kan malu..."

__ADS_1


"Aaawww..." Satu cubitan mendarat di lengannya


Kakek tertawa renyah melihat kami yang saling menyalahkan, aku masih malu di buat Tian. Kayaknya ni anak lupa kalo masih ada kakek hingga melakukan hal nekat seperti barusan, untuk menghentikan candaan. Karena kesal sekaligus malu, aku meminta Tian menghabiskan sisa makanan yang masih ada, dia menatapku dengan mata terbelalak. Sambil menunggu Tian menghabiskan sisa makanan yang ada, kakek mengajakku memancing ikan hias di kolam, yang segera ku sambut dengan senang hati.


__ADS_2