JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Masalah Lisa


__ADS_3

Keesokan paginya aku bangun dengan sedikit malas karena mengingat atasan yang selalu mencuri-curi pandang padaku setiap saat. Manajer Doni namanya, ia seorang duda anak satu, yang ditinggalkan istrinya selingkuh dengan laki-laki lain yang lebih mapan darinya. Setelah selesai siap-siap aku segera keluar apartemen dan pas sekali bertemu dengan Lisa, salah satu temanku di tempat kerja di dalam lift. Kami tinggal di apartemen dan lantai yang sama, namun beberapa hari ini ia jarang terlihat karena sedang ada masalah dengan rumah tangganya. Suami dan anaknya tinggal di kota lain, so ada kemungkinan masalah perselingkuhan.


"Lis! Apa kabar? Lama nggak keliatan, kamu sehat kan?" Sapaku ramah sekedar basa-basi seperti diriku di depan umum yang selalu peka dan ramah ke semua orang


"Eh... Ru! Baik aku baik! Kamu sendiri apa kabar?" Katanya tersenyum canggung balas menyapa


"Alhamdulillah! Aku sehat dan masih napas!" Candaku hingga membuatnya terkekeh


"Oh iya... Ru! Kamu punya waktu nggak dengerin curhatan ku?" Tanya Lisa dengan wajah tertunduk


"Tenang aja Lis! Aku selalu punya waktu buat dengerin curhatan kamu kok..." kataku dengan senyum ramah


"Makasih ya Ru! Kamu udah setia dengerin curhatan aku!" Katanya dengan mata yang berkaca-kaca


"..." Aku yang tanpa sadar malah memeluk menenanngkannya masuk ke dalam lift, berusaha memberikannya dukungan lewat pelukan yang ku berikan


Saat keluar apartemen kulihat Ain udah stand by dengan vespa nya untuk mengantarku kerja, tapi aku menolak tawarannya, karena ingin menemani Lisa terlebih dahulu. Terlihat raut wajah kecewa dari wajahnya saat aku hanya menggelengkan kepala saat ia tersenyum padaku menawarkan boncengan. Ku pikir Ain akan mengerti tindakan ku ini, jadi aku segera mengajak Lisa masuk ke dalam taksi online yang telah ku pesan saat di dalam lift.


"Nggak usah di tahan... nangis aja, nggak apa-apa kok!" Kataku lembut saat taksi udah meluncur menuju perusahaan


"Huuwwaaaa ..." tangis Lisa seketika pecah

__ADS_1


Di sela-sela tangisnya ia mulai mengatakan semua masalah keluarganya, yang segera ku cerna dalam otak. Aku berusaha memahami kesedihan sekaligus masalah yang di hadapi Lisa saat ini dengan perasaan yang tenang karena mendengar masalah yang di hadapinya saat ini. Ia delima harus memilih anak atau kebahagiaannya, karena sang suami mengancam Lisa dengan anaknya jika mereka bercerai.


Masalah ini tidak terlalu rumit bagiku, tapi sangat rumit bagi Lisa karena dialah orang yang mengalami masalah ini. Lisa diancam sang suami, jika mereka bercerai suaminya tidak akan mengijinkan Lisa bertemu dengan anaknya lagi. Hingga sampai dk titik itulah yang membuat Lisa sangat bimbang akan keputusan yang dipilihnya.


"Lis! Kalau kamu yakin ingin bercerai, kenapa harus mempertahankan hubungan yang hanya akan menjadi duri dalam hidup kamu? Masalah hak asuh anak, kita akan membawa masalah ini ke persidangan... dari segi manapun orang-orang akan memandang lebih baik anak kamu hidup bersama denganmu, karena bukannya selama ini kamu yang membiayai kehidupan anak dan suami bahkan keluarga suamimu? Kamu tidak perlu takut mengambil keputusan... selagi itu masih di akal sehat!!" Kataku lembut takut membuatnya semakin emosi karena perkataanku


"Tapi! Gimana kalo Diera nggak mau ikut aku... Selama ini kan kami jarang ketemu..." kata Lisa memprihatinkan


"Maka dari itu, sebelum kamu memutuskan sesuatu... lebih baik kamu dekati anak kamu secara emosional... kamu harus berusaha mencuri perhatian Diera! Pelan-pelan saja, nggak usah buru-buru... kalau kamu bertindak secara buru-buru takutnya malah membuat anak kamu ketakutan!" Kataku memberikannya solusi


"Tapi aku takut! Kemarin aja waktu aku pulang... Diera seakan-akan menjauh dariku!" Kata Lisa kembali terisak


"...." Lisa mengangguk dan kembali menangis


Aku berusaha menenangkan Lisa saat perusahaan tinggal beberapa ratus meter lagi di depan sana. Pemuda yang menyupir ini sengaja menekankan laju mobil, untuk membantu mengulur waktu selagi Lisa menenangkan diri. Setelah turun dari taksi, aku memberikan tip lebih kepada si supir, karena rasa terimakasih atas bantuannya mengulur waktu barusan. Walaupun masih ada bekas air mata di wajahnya, tapi kini Lisa terlihat lebih terkontrol dari beberapa menit yang lalu.


Aku dan Lisa berbeda ruangan kerja, karena aku di perusahaan ini bekerja sebagai asisten penasihat hukum. Yang kerjaannya mendengarkan keluh kesah para karyawan yang bermasalah dalam kinerja mereka. Walaupun begitu, pekerjaanku tetaplah berurusan dengan berkas-berkas yang menumpuk layaknya pekerja kantoran umumnya. Tapi untungnya asisten penasihat hukum perusahaan bukan hanya aku sendirian, masih ada Rani si wanita seksi yang menggoda serta Maya si ibu rumah tangga yang selalu kena marah atasan kerena pekerjaannya yang suka teledor.


"Pagi mbak Maya, mbak Rani..." sapaku kepada dua orang yang sedang sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk


"Ru! Pas banget kamu datang... kamu tau nggak dimana letaknya dokumen yang kita tangani sebulan yang lalu?" Tanya Mbak Rani yang membuat ku bingung dokumen tentang apa

__ADS_1


"Dokumen tentang kecurigaan korupsi beberapa karyawan!" Kata Mbak Maya menjawab kebingunganku


"Ouhhh... Dokumen yang itu!" Kataku segera menuju lemari berkas setelah meletakkan tas


"Ternyata letaknya di sana... Tapi tadi udah di cari deh!" Kata Mbak Rani yang segera merebut berkas di tanganku


"Di cariin kepala bagian humas perusahaan ya mbak?" Tanyaku pada mbak Maya


"I..."


"Iya... katanya ini masalah yang harus ditindak lanjuti! Kalo gitu aku anterin ke pak kepala dulu ya!" Kata Mbak Rani memotong kalimat mbak Maya yang baru satu huruf


"Dasar jalang sialan... maunya dipuji sendiri tu orang!!" Kesal mbak Maya yang emang nggak suka dengan sifat mbak Rani yang sesuka hati


"Udah lah mbak! Nggak usah di ambil pusing... mending kita kerjain tugas yang nyata dulu!" Kataku melirik tumpukan dokumen yang terlihat baru


"Huh... kesel tau! Yang harusnya di puji kan kamu bukannya jalang itu! Setiap kali..."


"Mbak! Udah nggak usah di ungkit lagi!" Potongku meminta mbak Maya duduk di kursi nya


Akhirnya mbak Maya menutup mulutnya, tapi wajah kesal masih terlihat kentara di wajah keibuannya itu. Mbak Maya lebih tua 5 tahun denganku begitu pula mbak Rani, mereka adalah senior ku di tempat kerja yang paling aneh. Kadang mereka berdebat seperti musuh bebuyutan, tapi kadang juga terlihat seperti rekan kerja yang sangat akrab.

__ADS_1


__ADS_2