JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
BEGINILAH HIDUPKU


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu semenjak aku menikahi seorang CEO muda yang selalu bersikap kekanak-kanakan saat bersamaku. Pernikahan ku tidak semulus yang ada di imajinasiku selama ini, beberapa kali pernikahanku hampir kandas kerena masalah-masalah yang entah kenapa berdatangan secara serentak. Pasang surut kehidupan pernikahan telah kami lalui bersama dengan penuh keteguhan hati yang masih belum bisa menyatu.


Seperti hari ini, aku di buat kesal dengan Tian yang sepertinya ingin mencari gara-gara dengan ku. Semenjak tadi pagi Tian tidak berbicara sepatah katapun denganku, wajahnya sangat-sangat dingin dan datar setiap kali berpapasan denganku. Mau itu di rumah ataupun di kantor, atmosfer yang terasa darinya hari ini sangatlah berbeda dari biasanya. Walaupun beberapa kali atmosfer seperti ini juga pernah muncul, tapi tidak bertahan selama ini juga.


"Huff..." Kudengar Mirza menghela napas tertahan di meja kerjanya


"Mir! Tolong kamu cetak dokumen yang saya kirim kan barusan lewat email!" Kataku pada Mirza sebelum berlalu masuk ke ruangan Tian


"Baik!" Sahut nya


"Permisi pak!... Ini berkas yang bapak minta tadi siang... Dan nanti malam bapak ada janji makan dengan..."


"Batalkan janji nanti malam!" Katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan yang di periksanya


"Maaf pak?" Kataku memastikan pendengaran


"Jangan banyak tanya! Batalkan saja." Katanya marah


"Baik pak!" Aku segera keluar ruangannya dengan wajah bingung


"Ada apa mbak? Kok keliatan bingung?" Tanya Mirza yang melihatku keluar dengan wajah penuh kebingungan


"Tidak apa-apa! Jika sudah selesai di cetak... Tolong kamu cek sekali lagi laporan tadi pagi!" Kataku dan segera menuju meja kerja


Aneh, beberapa hari yang lalu Tian mendesak ku agar mengatur jadwal makan malam dengan direktur dari perusahaan MYUT. Tapi kenapa hari ini dia malah minta di batalkan, benar-benar tu orang, bisa banget buat kerjaan orang makin banyak. Aku segera menghubungi perusahaan MYUT atas pembatalan janji makan malam, rasanya aku sangat merasa bersalah dengan direktur yang kena PHP itu.


"Eh... Bapak mau pergi kemana?" Tanya Mirza pada Tian yang keluar ruangannya


"Bukan urusan kamu!" Kata Tian dingin


"Maaf pak! Tapi rapat akan..."


"Batalkan semua jadwal saya hari ini! Semuanya." Kata Tian dan bergegas pergi sambil terus melihat jam tangannya


"Haaaa..." Desahku panjang menatap pintu lift yang tertutup

__ADS_1


"Pak CEO mau kemana mbak?" Tanya Mirza kepo


"Saya juga tidak tau... Tolong kamu kasih tau semua bagian departemen yang akan rapat hari ini, jika rapat akan di pindahkan kelain hari!" Kataku kembali sibuk menata jadwal Tian


"Baik mbak!" Kata Mirza segera menghubungi seluruh departemen yang ada di dalam daftar rapat hari ini


Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali saja terjadi, tapi udah sering banget terjadi. Walaupun Tian tidak mengatakan ia hendak kemana, aku juga tau di perginya kemana, pasti menemui pacarnya, entah yang dari mana lagi. Walaupun aku istrinya, aku tidak pernah merasa cemburu sedikitpun dengan perselingkuhan yang terus-menerus dilakukannya. Karena kepribadian yang menikah denganku bukan dia yang suka main wanita seperti itu.


Dari pengamataanku selama satu tahun penuh ini, aku menyadari jika Tian memang benar-benar memiliki kepribadian ganda. Tapi aku tidak tahu seberapa banyak kepribadian dalam satu tubuh itu, satu hal yang membuatku kesal. Saat kami melakukan hubungan badan kenapa harus semua kepribadiannya mencicipiku, kesal sekali jika mengingat hal itu. Tian tidak pernah menceritakan tentang kepribadian gandanya itu, hingga membuat ku malas juga bertanya.


Hidupku mah simpel, kalo aku menginginkan sesuatu tapi nggak kesampaian, yaudah lah ngapain harus di ambil pusing. Masalah perselingkuhan Tian juga biasa aja bagiku, yang penting duit bulanan lancar masuk ATM.


"Mbak...mbak... Udah waktunya pulang! Embak nggak siap-siap pulang?" Kata Mirza menyadarkan ku dari buaian pekerjaan


"Eh... Kamu duluan aja... Nanggung sedikit lagi selesai nih!" Kataku melirik jam di pergelangan tangan


"Yaudah kalo gitu saya duluan ya mbak!" Kata Mirza sebelum berlalu pergi


"Hmmm..." Sahutku masih fokus menatap layar


"Bibi masak apa ya untuk menu makan malam?" Gumamku sambil melirik jam di pergelangan tangan


Setelah selesai beres-beres aku segera bergegas pulang, karena tidak sabar untuk menikmati hidangan lezat di rumah. Ternyata pak Toni Supir pribadi ku telah menunggu di depan kantor dengan mobil mewah hadiah ulang tahunku yang di berikan Tian beberapa bulan lalu. Walaupun mobil pemberiannya tidak sesuai dengan selera ku, tapi aku tetap menerimanya tanpa protes.


"Ru!" Panggil seseorang dari belakang


"Eh... Ari bukan sih?" Tanyaku menco a mengingat-ingat siapa gerangan laki-laki yang menyapaku ini


"Udah lama ya nggak ketemu.. makin cantik aja sih!" Katanya mengulurkan tinju yang segera ku sambut


"Hahaha.... Sejak kapan cowok dingin dan kaku kayak Lo pintar ngegombal gini sih... Makasih pujiannya!" Tawaku hampir pecah karena mengingat sosok Ari yang dulu dengan sekarang


"Dari lahir juga gue udah jago ngegombal kali... Lo aja yang nggak tau " katanya ikut terkekeh


"Oh... Pantesan cewek-cewek di kampus kesemsem Ama lo..." Kataku menggodanya

__ADS_1


"Hehehe..." Dia terkekeh guys


"Btw... Lo kerja di perusahaan mana sekarang?" Tanyaku menatap baju kerjanya


"Di Perusahaan sendiri dong..." Katanya membanggakan jaket kerjanya


"Seriusan... Jangan bilang Lo buka usaha kuliner?" Tebakku ngasal


"Kok Lo tau?" Tebakanku tepat


"Eh... Gue cuma nebak... Soalnya dulu gue pernah nemuin buku agenda seseorang yang bercita-cita pengen jadi seorang koki hebat... Cita-citanya manis sekali..." Godaku pada Ari


"Jadi Lo yang...gue jadi malu nih!" Katanya tersipu


"Wahahaha... Astaghfirullah..." Kataku segera menyumpal mulut yang menyemburkan tawa


"Kapan-kapan mampir ke resto gue dong... Sekalian biar Lo lihat seberapa sukses cita-cita yang Lo kata manis itu..." Katanya menyerahkan kartu namanya


"Okeh... Kapan-kapan gue mampir deh..." Kataku juga memberikan kartu namaku


"Jadi Lo karyawan di perusahaan ini?" Katanya dengan mulut terbuka


"Begitulah... Uji nasib di kota orang bro!" Kataku menatap bangunan tinggi yang menjadi tempatku kerja


"Gila... Tinggi amat jabatan Lo?" Kata Ari entah muji apa nyumpah


"Bukan cuma jabatannya yang tinggi... Tapi lantai gue kerja juga tinggi banget..." Kataku sambil mendeskripsikan ketinggiannya


"Yah... Malah banggain lantai kerja yang tinggi! Dari dulu Lo itu emang nggak berubah ya...!" Kekeh Ari


"Berubah kok! Kata siapa nggak berubah... Nih liat aja tinggi gue... Sekarang gue tambah tinggi juga dong!" Kataku memperlihatkan tubuhku yang semakin tinggi


"Haduehh... Ni anak emang... Ish gemes gue!" Kata Ari geregetan


Setelah puas bertegur sapa, Ari segera pamit balik ke restoran miliknya setelah di telpon oleh manajer restoran nya. Sekarang banyak teman-teman ku yang udah jadi orang sukses, tapi kenapa aku masih merasa begini-begini aja dari dulu. Rasanya hidupku hampa dan nggak ada semangatnya gitu dari dulu sampai sekarang, walaupun udah punya suami kaya raya dan kerja di tempat bagus. Bingung biar ni diri merasa puas harus gimana dan bagaimana, karena aku sadar jika kekayaan ku sekarang bukan lah hal yang benar-benar kuinginkan.

__ADS_1


__ADS_2