JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
RIBET KAN JADINYA


__ADS_3

Setelah satu jam tertidur kami berdua terbangun, karena harus berangkat kerja. Tapi entah kenapa wajah Tian tidak terlihat kelelahan sedikitpun, padahal kan tidur cuma satu jam. Bahkan mata panda yang harusnya ada di bawah mata pun tidak terlihat sama sekali di wajahnya. Berbeda denganku yang terlihat sangat lelah dan kusut saat bangun, rasanya aku tidak memiliki tenaga lagi untuk bangun.


"Sayang... Hari ini kamu nggak usah ke kantor! Pekerjaan kamu lempar aja ke Mirza..." Kata Tian saat aku memasangkan dasi


"Kenapa?" Tanyaku kaget


"Aku takut kamu sakit! Nanti siang aku jemput kamu... Kita ke dokter kandungan sama-sama!" Kata Tian menatapku penuh cinta


"Tapi..."


"Kamu jangan terlalu banyak mikirin hal yang nggak perlu... Sekarang kamu hanya perlu memikirkan aku dan kesehatan kamu aja! Ngerti!" Kata nya dan hanya bisa kuanggukkan


"Masalah sekretaris baru! Biar aku yang bilang ke kakek buat di cari in sekretaris baru... Pokonya kamu jangan sampai banyak pikiran biar kondisi kesehatan kamu stabil!" Katanya sebelum mengecup bibirku lembut


"Aku anterin kamu..."


"Nggak usah... Kamu lanjut istirahat aja! Nanti aku minta bibi buat nganterin sarapan ke kamar... Istirahat! Jangan lakukan hal apapun sebelum aku jemput!" Katanya memintaku kembali tidur


"Sayang! Padahal kan nggak usah sampai kek gini juga kali!" Aku hanya bisa nurut pada akhirnya


"Love you..." Katanya setelah mengecup keningku


"Love you too..." Sahutku melepasnya


Benar saja apa yang ku khawatir kan, perhatian Tian yang terlalu berlebihan itu nular ke semua orang. Saking perhatiannya sampai-sampai Ica di tempatkan di kamar untuk menemani sekaligus memantau kegiatan ku apa saja selama di kamar. Akhirnya aku hanya bisa menikmati waktu istirahat yang tenang karena Ica tidak menjawab saat ku ajak bicara atas perintah bi Murni.


***


Siangnya Tian benar-benar menjemput ku di rumah, yang sebenarnya sudah siap berangkat bersama Ica ke rumah sakit. Tapi anehnya kenapa kakek juga harus ikut, sehingga membuatku merasa jika hal ini terlalu lebay. Kan tujuan ke rumah sakit hanya untuk melakukan pemeriksaan untuk persiapan kehamilan saja, nggak perlu lah semua keluarga ikut hadir kerumah sakit untuk menemaniku melakukan pemeriksaan.


"Harus dokter wanita!" Tian marah-marah di rumah sakit karena dokter kandungan wanita sedang cuti


"Maaf pak! Tapi saat ini di rumah sakit hanya ada dokter laki-laki di spesialis kandungan!" Kata suster semakin ketakutan karena Tian


"Sayang... Kamu nggak usah marah-marah juga kan! Ini rumah sakit..." Aku memintanya meredakan kekesalan karena aku akan di periksa oleh dokter laki-laki


"Kalau begitu panggil dokter wanita yang cuti sekarang juga! Saya akan membayar 5 kali lipat..." Kakek malah ikut memanas-manasi

__ADS_1


"Jika perlu 10 kali lipat pun akan saya berikan..." Tian masih emosi


"Maaf pak! Tapi saat ini dokter sedang liburan di luar negri..." Kata suster itu semakin gemetar


"Kenapa harus hari ini... Kan ada..."


"Sayang!... Kalau kamu nggak mau aku di periksa dokter laki-laki kan tinggal cari rumah sakit lain... Nggak usah bikin ribut kayak gini! Kan cuma mau pemeriksaan ringan!" Kesalku karena malu keributan ini menarik perhatian orang banyak


"Tapi rumah sakit ini yang terbaik di seluruh Jakarta... Aku nggak mau kamu melakukan pemeriksaan di rumah sakit sembarangan!" Kata Tian lembut memberikan pengertian


"Iya aku tau... Tapi kan dokternya lagi liburan..."


"Tinggal di jemput apa susahnya! ..." Kata Tian Memotong kalimatku


"Biar kakek hubungi kapten Adam untuk menjemput dokter itu... Katakan kemana dokter wanita itu pergi?" Tanya kakek kepada suster


"Kenapa jadi nyusahin gini sih... Kan cuma mau pemeriksaan ringan doang..." Kesalku semakin merapat pada Tian karena malu diliatin orang-orang


"Ada keributan apa ini?" Tanya sorang kakek tua yang di ikuti para dokter di belakangnya


"Tuh kan... Kenapa nggak keluar negri aja sekalian! Cuma pemeriksaan ringan aja sampai bikin masalah gini..." Kesalku mencubit Tian


"Udah kamu diam ih..." Kesalku menutup mulutnya


"Presdir Bram! Apa kabar? Ada apa ini... Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya direktur rumah sakit ini yang ternyata kenalan kakek


"Direktur Jaka! Kabar baik, anda sendiri bagaimana?" Kakek tartawa renyah menyambut pelukan kenalannya


"Baik... Baik sekali... Ada apa ini?" Tany pak direktur menatap kerumunan yang segera bubar


"Kenalin ini cucu saya dan istrinya... Kedatangan kami kemari ingin memeriksakan kesiapan cucu saya untuk rencana kehamilannya! Tapi katanya dokter wanita yang bekerja di bagian kandungan sedang cuti..." Kata kakek mengenalkan kami


"Ohohoho... Ternyata begitu! Tapi maaf Bram! Kami tidak bisa memanggil dokter yang sedang cuti untuk kembali bekerja sebelum waktu cutinya selesai... Bagaimana jika di periksa oleh dokter Mika saja?" Kata pak direktur mengusulkan


"Apakah dokter Mika spesialis kandungan?" Tanya kakek


"Setidaknya dia berpengalaman dalam hal itu... Walaupun bukan spesialis kandungan... Bagaimana?" Pak direktur memiliki pemikiran yang terbuka

__ADS_1


"Sayang! Kamu nggak masalah kan kalo di periksa oleh dokter yang bukan spesialis kandungannya?" Tanya Tian Kepadaku hingga membuat semua mata tertuju padaku


"Saya... Tidak apa-apa! Bukankah dokter Mika sangat berpengalaman seperti kata pak direktur... Saya merasa terhormat bisa melakukan konsultasi dengan dokter hebat seperti beliau! Maaf telah merepotkan semuanya!" Aku merasa risih karena tatapan mereka


"Baguslah kalau begitu...!" Kata Kakek dan pak direktur bersamaan


Setelah semua masalah di putuskan, aku diminta mengikuti seorang dokter wanita yang sepertinya berusia awal 40-an. Di dalam ruangan besar yang berisi berbagai alat medis rumah sakit ini, aku melakukan pemeriksaan menyeluruh dibantu oleh para tenaga medis yang seluruhnya adalah wanita. Sebelumnya Tian bersikeras ingin menemaniku melakukan pemeriksaan, tapi karena aku tidak ingin ada masalah lainnya, so aku melarangnya ikut masuk walaupun di ijinkan oleh dokter Mika.


"Sepertinya anda tidak perlu melakukan persiapan untuk kehamilan!" Kata dokter Mika membuatku kaget


"Ta... Tapi kenapa dok! Apa ada masalah pada rahim saya... Apakah saya tidak akan pernah bisa memiliki anak walaupun... Apakah ada masalah serius pada saya?" Aku mulai menitikkan air mata ketakutan


"Bu...bukan itu maksud saya! Maksudnya, saya menemukan pergerakan pada rahim anda yang menandakan jika rahim anda telah terisi dengan sebuah nyawa... Ja...jadi... Selamat atas kehamilan anda..." Kata dokter Mika gelagapan


"A...apakah... Huhuhu..." Aku menangis haru bahagia menyentuh perutku yang memang ada keanehan


"Benar! Kehamilan anda mungkin telah memasuki usia 3 bulan... Saya ucapkan selamat!" Kata dokter Mika menenangkan ku


"Alhamdulillah... Terimakasih Ya Allah... Terimakasih Bu dokter..." Tangisku semakin pecah


"Sayang... Ada apa?" Tanya Tian yang tiba-tiba menerobos masuk


"Sayang...huhuhu....." Tangisku semakin pecah saat pelukan hangat Tian mendarat


"Ada apa ini... Kenapa istri saya menangis..." Tanya Tian marah menatap semua orang


"Sa...sayang..." Aku menggeleng memintanya agar jangan marah, sambil berusaha mengatur napas untuk mengatakan alasanku menangis, tapi nggak bisa😭


"Lebih baik kita dengarkan dulu apa kata dokter!" Kata kakek sayu, mungkin beliau menebak yang tidak-tidak


"..." Aku mengangguk di tengah tangisku saat dokter Mika menatapku meminta persetujuan


"Jadi...." Dokter Mika sepertinya kesal, hingga memutar penjelasannya hingga panjang lebar dan akhirnya mendarat pada kata


"Selamat! Anda akan menjadi seorang ayah sebentar lagi!" Kata dokter Mika yang membuat Tian hampir tumbang karena kaget


"Alhamdulillah..." Gumam Tian lalu memelukku semakin erat sambil mengatur emosinya

__ADS_1


"Hohoho... Sebentar lagi aku akan melihat cicitku lahir... Aku merasa beruntung memiliki umur yang panjang..." Kata kakek penuh kebahagiaan dan membiarkan air mata bahagia membasahi pipinya yang sudah keriput


Setelah semua orang keluar meninggalkan kami berdua, barulah Tian menunjukkan kebahagiaan nya. Bahkan air matanya menetes dengan deras, membuatku semakin tarharu di buatnya. Apalagi setelah dokter mengatakan jika ada kemungkinan aku hamil anak kembar, rasanya terbayar sudah semua kemarahanku selama ini.


__ADS_2