
Ternyata benar jika selama ini aku merasa Tian yang dingin dan cuek sepertinya, kadang-kadang menatapku dengan hangat saat di kantor. Tapi aku mengira jika yang menatapku dengan hangat seperti itu bukanlah kepribadian nya yang sekarang, tapi salah satu kepribadian nya yang lain muncul kepermukaan sebentar.
"Jangan bilang... Selama ini kamu tidak cemburu dengan aku yang suka main perempuan karena udah tau... Jika sebenarnya di dalam tubuh ini ada banyak kepribadian?" Kata Tian masih memegang wajahku dalam tangan hangatnya
"Bisa di bilang gitu..." Aku menikmati kehangatan tangannya di kedua pipiku
"Cupp..." Tian mendaratkan sebuah ciuman hangat di bibirku saat mataku terpejam
"Tian..." Kesalku saat mendapati senyuman hangat di wajahnya
"Di dalam tubuh ini ada 6 kepribadian yang berbeda-beda... Tapi satu yang pasti... Kami semua hanya mencintai satu wanita... Dan wanita itu adalah kamu!" Bisik Tian padaku yang entah kapan jadi terlena dalam pelukannya seperti ini
"Yang mana... Kepribadian Tian asli?" Tanyaku masih di dalam pelukannya
"Dia... Kamu belum pernah bertemu dengannya..." Kata Tian dengan nada kesal
"Memangnya Tian yang asli seperti apa?" Tanyaku menatap wajahnya
"Untuk apa kamu tau... Kamu cukup tau aku saja!" Katanya kembali mendekapku
"Kan lucu kalo seorang istri nggak tau kepribadian asli tubuh suaminya..." Lirihku sambil memutar-mutar jari di atas dada bidangnya yang terhalang sehelai kain
"Sayang..." Katanya menatapku intens sebelum mendaratkan sebuah ciuman hangat di bibirku
"..." Aku bingung harus bagaimana
Awalnya aku memang hanya diam saja saat Tian mulai menikmati ciuman sepihaknya, tapi akhirnya aku terpancing juga untuk membalas ciumannya. Aku menarik wajahnya agar lebih turun lagi dengan kedua tanganku yang sekarang menggantung di lehernya. Aku hanya ingin membalas ciumannya saja saat ini, tapi Tian menginginkan lebih dari sekedar ciuman.
Tubuh kecilku terhempas di atas sofa yang segera di tindih oleh tubuh kekar Tian, yang penuh nafsu. Awalnya aku menolak, karena memang masih ada yang ingin ku bicarakan dengannya, tapi tenagaku kalah oleh Tian. Sehingga aku hanya pasrah menemaninya bermain dengan penuh gairah di siang hari begini.
"Aahhh... Sayang aku udah nggak kuat..." Aku menggigit bibir menahan birahinya yang masih besar
"Sekali lagi..." Katanya sambil melucuti semua pakaianku
"Sayang... Huhh... Ahhh... Ahhh... Hahh..." Aku menjerit mulai menikmati permainan saat Tian memperlakukan ku dengan lebih lembut nan panas
__ADS_1
"Uhh... Hahh... Hah..." Tian juga mengeluarkan suara yang membuatku semakin bergairah
Dari yang awalnya melakukan di sofa entah kenapa jadi tiba-tiba malah berpindah ke atas kasur. Yang membuat kami lebih leluasa melakukannya dengan sangat bergairah dan penuh nafsu. Rasanya aku terhanyut kedalam kenikmatan yang di berikan Tian saat ini, hingga membuatku ingin melakukannya lagi dan lagi. Tapi anehnya hari ini aku melakukan hubungan badan hanya dengan satu kepribadian tubuh ini saja.
***
Entah sejak kapan aku tertidur, yang jelas aku terusik dengan sebuah tangan yang sibuk memainkan kelinci kembarku dari bawah selimut. Perlahan-lahan aku membuka mata dan mendapati keadaan kamar yang temaram, karena lampu kamar tidak di nyalakan.
"I LOVE YOU!" Bisik Tian dari belakang dengan tangan yang masih bertingkah nakal
"Hemm... I LOVE YOU TOO!" sahutku setelah berbalik menghadap ke arahnya
"Kamu udah bangun..." Katanya dan mengecup puncak kepalaku
"Berapa lama aku tidur?" Tanyaku membenamkan wajah di dada bidangnya yang telanjang
"Sekitar satu jam lebih..." Katanya sebelum mengecup bibirku
"..." Setelah membalas kecupannya aku bangkit duduk mencari hp
"Kamu mau kemana?" Tanya Tian memeluk pinggangku dari belakang dan tiba-tiba menggigitnya
"Nggak ngapa-ngapain..." Katanya manja membuatku bingung siapa nih sekarang yang ada di permukaan
"Sayang... Aku mau mandi..." Kataku memintanya melepaskan rangkulannya
"Kalau gitu kita mandi bareng..." Katanya dan tiba-tiba berdiri menggendongku menuju kamar mandi
"Sayang... Turunin, kamu kan juga pasti capek..." Kataku memintanya menurunkanku setelah tertawa di buat tingkahnya
"Kata siapa... Aku kan baru muncul setelah mati-matian melawan tekanan si Jay...!" Kata Tian menyebut si cuek dingin dengan nama Jay
"Jadi sekarang kamu yang mana lagi?" Tanyaku terkikik geli melihat wajahnya yang merengut
"Aku... Suami kamu Kay yang paling setia!" Katanya membanggakan diri
__ADS_1
"Aku mau nanya sesuatu... Tapi kamu harus jawab tanpa banyak nanya!" Kataku setelah Kay meletakkan ku di dalam bathtub
"Oke... Silahkan yang mulia bertanya... Hamba akan menjawab semuanya!" Kata Kay membuatku kembali tertawa
"Hmmm... Yang lamar aku waktu itu siapa?" Tanyaku sambil menikmati guyuran air dari shower yang dinyalakan Kay
"Dia... Der! Si gegabah brengsek... Emangnya kenapa?" Kata Kay mulai memandikan ku
"Kalo yang ngucap Ijab Kabul saat kita nikah siapa lagi?" Tanyaku memainkan busa sabun yang di tambahkan Kay ke dalam bathtub
"Ain...!" Kata Kay membuatku terhenyak
"Ain... Kenapa harus nama yang sama!" Gumamku lirih namun masih bisa di dengar Kay
"Si brengsek Tian itulah yang memberi nama... Jika kamu nggak suka merubah nama panggilannya juga bisa..." Kata Kay menghentikan pijitannya di kepalaku
"Lalu satunya lagi siapa?" Tanyaku segera memintanya lanjut mijit
"Ken! Dia yang suka bikin kamu ketawa!" Kay mulai membilas rambut ku
"Hemmm... Berarti kamu si perhatian nyebelin itu kan?" Kataku terkikik mengingat kembali sifat menyebalkan Tian yang penuh perhatian
"Kata siapa aku nyebelin... Aku kan nggak nyebelin..." Katanya ikut masuk ke dalam bathtub setelah selesai membilas rambutku
"Hahaha... Udah aku nyerah... Hahaha..." Tawaku karena Kay menggelitik tubuhku
Setelah selesai mandi dan bermain air, Kay menggendongku ke kasur setelah memakaikan baju tidur. Setelah menaruhku di atas kasur, dia pamit ke dapur untuk mengambilkan makan malam untukku dan untuknya. Sambil menunggu Kay datang, aku memainkan ponsel milikku yang udah jarang ku sentuh. Namun tiba-tiba ponsel Tian berbunyi memperlihatkan nomer tidak dikenal melakukan panggilan.
Aku bingung harus menjawabnya atau mengabaikannya, hingga ku putuskan untuk mengantarkan ponsel itu pada Tian saja. Padahal tanganku rasanya sangat gatal pengen tau siapa yang menelpon malam-malam begini ke ponsel suamiku. Ya kan selingkuhan Ray banyak, jadi ini selingkuhannya yang mana nelpon malam-malam begini. Apa mungkin ini telpon dari selingkuhannya yang ingin mengabarkan kalo dia hamil seperti tadi siang.
"Sayang... Telpon kamu bunyi nih..." Kataku dari atas tangga
"..." Wanita yang menempelkan ponsel di telinganya itu bertatapan denganku yang sedang menatap ponsel dan dirinya bergantian
"Hallo..." Aku akhirnya mengangkat panggilan itu
__ADS_1
"..." Saat wanita itu menutup telponnya panggilan ini juga berhenti
"..." Aku semakin bingung dengan sosok yang entah darimana muncul itu, kenapa ada di rumah ini menatapku penuh kebencian seperti itu