JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Suasana Ini


__ADS_3

"Nyalain senter hp!!!" Kataku saat ketegangan masih bercampur dengan ketakutan


"Hp gue dikamar!" Kata Vina tanpa melonggarkan pelukannya yang sangat kencang


"Hp gue di luar..." sahut Sierra dan Dewi bersamaan


"Kalo gitu lepasin gue dulu... sekarang satu-satunya penerangan cuma hp gue!!" Kataku berusaha melepaskan pelukan mereka


"Nggak mau!!!" Kata Dewi kembali memeluk pingganggku erat


"Vin!! Tolong cariin hp gue di belakang lo..." kata ku setelah mendesah kesal


"Di mana... waaaa.... gue kepegang tangan siapa..." teriak Vina histeris dan loncat hingga menimpa tubuh Sierra yang sedari tadi diam ketakutan


"Aduh..." lirih Sierra entah kena mana


"Maaf ya Ra!! Gue kaget soalnya..." kata Vina dengan nada ketakutan


"Hpnya mana?" Pintaku

__ADS_1


"Tadi udah di tangan hpnya... Tapi tiba-tiba ada tangan yang megang tangan gue..." katanya masih ketakutan


"Lalu... Hpnya mana?"


"Nggak tau... Tadi gue lepas... au ah... gue takut..." kata Vina semakin ketakutan


"Vin!! Lo meluknya jangan kenceng-kenceng... gue kecekik!!" Kata Sierra


"Ya Allah... Ra!!! Gue megang tangan lo..."jerit Vina ketakutan


"Trus... ni tangan siapa di leher gue!!!" Bisik Sierra


"Jangan bawa-bawa gue... sejak tadi gue cuma meluk Ruka aja!!" Kesal Dewi


"Baca Ayat Kursi..." ajakku bersamaan


"Bismillah hirrahmannirrahim... Allahuma Bariqlana..."


"Kenapa baca doa makan?" Kataku kaget saat mereka salah baca doa

__ADS_1


"Maaf gue khilaf..." kata Dewi segara mengulang bacaan ayat suci


Suasana semakin di buat mencekam oleh petir dan deras nya hujan di luar sana. Setelah meminta mereka bertiga saling memeluk aku segera mencari-cari keberadaan ponselku yang katanya sempat di lepaskan Vina barusan.


"Meongg..." pekik Blacky kasar menerjang pintu hingga membuat mereka bertiga berteriak ketakutan


Aku yang sempat ikut kaget segera mengucap istighfar untuk meredakan debaran jantung yang hendak copot. Mungkin karena penglihatan kucing ini tajam, setelah Blacky mendekat dan mengarahkan tanganku menuju keberadaan ponsel yang ada di bawah meja belajarku. Setelah menyalakan tombol daya, layar ponsel mati, mungkin karena nggak sengaja di lempar hingga mati oleh Vina.


"Kalian dari kapan merem kayak gitu?" Tanyaku setelah senter hp dinyalakan


"Ru!! Di kamar ini selain kita ada siapa lagi?" Tanya Dewi


"Kalo itu tanya ama Sierra!! Kan dia yang punya indera keenam!!" Kataku kembali mendekat ke arah mereka


"Jangan tanya gue... gue nggak mau buka mata!!" Kata Sierra yang ketakutan semakin merapatkan matanya


Setelah menenangkan mereka aku meminta mereka untuk segera tidur agar rasa takutnya sedikit berkurang. Aku yang sedikit demam ini malah di minta mereka jaga malam, untuk jagain tidur mereka. Sialnya aku malah nurut aja gitu, padahal kepala kembali berasa mau pecah. Mereka bertiga segera menutupi diri dengan selimutku, karena ketakutan, aku dan Blacky hanya menatap ketakutan mereka bertiga dengan bingung.


Kadang gedoran di pintu kamar bergantian dengan cakaran di pintu dan dinding luar kamar. Membuatku merinding ketakutan, karena ketiga makhluk hidup itu udah tenang di balik selimut. Aku berusaha terjaga dari rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang ini, rasanya ingin sekali keluar kamar untuk membuat segelas kopi hangat ditemani biskuit. Mungkin rasanya akan menjadi lebih nikmat jika bisa menikmati biskuit dan segelas kopi sambil melihat keindahan hujan malam ini.

__ADS_1


Tapi apalah daya jiwa penakut ini, aku juga belum tau apa dan siapa yang ada di luar pintu kamar ini. Yang jelas dia memiliki kuku yang tajam, hingga membuat suara cakaran merusak seperti itu. Sialnya baterai ponselku udah hampir memasuki masa kritis, dan sebentar saja lagi senter ponsel ini akan mati. Aku buru-buru mencari korek api dan lilin di dalam laci lemari. Hanya ditemukan sepotong kecil lilin dan 3 buah batang korek api, hanya tunggu beberapa saat lagi kedua benda ini akan terpakai. Semoga pemadaman listrik ini cepat berlalu.


__ADS_2