JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Teh Buatanku


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku langsung duduk di sofa ruang tengah bersama Putri yang sengaja ku undang masuk. Dari kamar Vina terdengar lantunan lagu galau yang memang favorit tu anak. Sierra keluar dari kamar dengan tampilan yang sangat berantakan, dari wajahnya reaksi kaget terlihat jelas saat melihat kami yang sedang duduk santai di sofa. Sierra kembali masuk ke dalam kamarnya setelah tersenyum canggung kepada kami.


"Hehehe... lucu juga tu anak kalo lagi malu!!" kataku terkekeh geli saat mendapati reaksi Sierra


"Gue ganggu ya?" tanya Putri dengan wajah tidak enak


"Kagak! santai aja kali" kataku mengibaskan tangan


"Oke..." katanya kembali terlihat santai


"Astaghfirullah... maaf gue lupa! Lo mau minum apa?" tanyaku dan segera bangkit dari sofa


"Kagak usah... ntar ngerepotin Lo lagi!" tolaknya sopan


"Udah santai aja! tunggu di sini dulu ya gue bikin minum!" kataku sebelum berlalu ke dapur


Saat jalan menuju dapur, aku berpapasan dengan Vina yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Tampilan kurang lebih sama seperti Sierra barusan, acak-acakan dan terlalu dekil.


"Mau ke kampus ya say?" tanya Vina setelah selesai menguap


"Nggak!" sahutku dan segera menuju dapur di ikuti Vina


"Loh! kenapa nggak jadi?" tanya Vina sebelum menenggak minuman di gelasnya


"Lo tadi liat jam dulu nggak sih?" tanyaku sedikit kesal


"Kagak! emang sekarang jam berapa?" katanya dan mendekat ke arahku untuk mencicipi teh buatan ku

__ADS_1


"Sekarang udah pukul setengah sebelas! dan gue baru aja pulang dari kampus!" Kataku sambil menepis tangannya yang hendak di celupkannya ke dalam gelas teh


"Ohhh... minta dikit dong teh nya!" kata Vina dengan cengir lebar


"Ish... ini buat Putri! kalo mau yang ini aja!!" kesalku dan menyerahkan gelas teh milikku


"Makasih sayang..." katanya berlalu pergi setelah mencubit pipiku dan membawa gelas teh bersamanya


"Sama-sama..." kataku dan ikut keluar untuk mengantarkan teh untuk Putri


Setelah meletakkan teh di meja aku kembali duduk di sofa, sambil memperhatikan kesibukan Vina yang memberi makan Blacky di depan pintu kamarku. Putri terlihat menikmati teh buatanku yang sebenarnya asal-asalan kubikin.


"Tehnya enak! pakai teh apaan?" tanya Putri yang telah menghabiskan teh di gelas


"Teh kemasan biasa... rasanya enak banget ya?" tanyaku padanya


"Vin! kalo dia berak! Lo yang tanggung jawab ya!" kataku saat melihat Vina yang tidak henti-hentinya memberikan makan pada tu kucing


"Iya... iya... Bu bos!" sahut Vina


"Guys...." teriak Dewi kegirangan keluar dari kamar


"Kesambet toak mesjid kayaknya nih anak!!" kesal Vina yang mendengar teriakan Dewi


"Kenapa sih Dew... berisik amat!!" kataku padanya yang sibuk menatap layar ponselnya dengan tatapan bahagia


"Siang ini kita ke mall yuk!! mumpung lagi ada diskon besar-besaran..." kata Dewi penuh semangat

__ADS_1


"Seriusan...?" tanya Vina ikut bahagia setelah mendapatkan anggukan kepala Dewi


"Gue mau ikut...." teriak Sierra segera keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih rapi


"Put! kalo Lo mau ikut! ikut aja, lebih rame lebih asik!" ajak Vina pada Putri yang menatap kehangatan di dalam kos ini


"Eh... emang boleh?" tanya Putri menunjuk dirinya sendiri


"Siapa juga yang ngelarang... hari ini kita bakal belanja sepuasnya..." teriak Dewi kesenangan yang di ikuti Vina


Aku mah B aja, soalnya kagak kayak mereka yang setiap bulan duit lancar masuk rekening. Paling cuma 100 ribu dapat transfer an dari kampung, itu pun kadang nggak setiap bulan lancar di kasih. Yah... apalah dayaku yang hanya anak seorang petani, yang tidak memiliki penghasilan bulanan tetap seperti kebanyakan orang tua lainnya. Mana sodaraku semuanya juga banyak yang ada di perantauan, Tanggungan orang tuaku kagak main-main 10 orang tiap harinya.


Tapi syukurnya aku memiliki pekerjaan paruh waktu menjadi pembantu panggilan sekaligus pengasuh anak orang kaya dan menjadi guru les privat anak SD. Duit penghasilan itu semua tidak bisa kumakan sendiri, karena tiap kali gajian tu duit harus di tabung buat modal usaha nanti. Udah sedari SMA aku merencanakan semuanya, bisa di bilang sedikit demi sedikit apa yang kurencanakan tercapai satu-satu.


Bahkan kadang aku rela menahan lapar, asalkan duit gajian kagak dimakan. Tapi untungnya aku mendapatkan orang-orang yang peduli denganku seperti mereka ini, walaupun sedikit petakilan. Mereka bertiga bisa dibilang cukup besar hati, karena tiap kali beli sesuatu kagak pernah melupakanku, yah walaupun hanya sesibit pemberian mereka, tapi itu sangat berharga.


"Eh... kita siap-siap sekarang yuk!" kata Vina segera lompat kekamarnya mengambil handuk


"Gue duluan yang mandi!" kata Dewi yang lebih gesit sambil masuk kamar mandi


"Cepetan! jangan lama-lama!" kesal Vina dan menendang pintu kamar mandi


"Kalo gitu gue mau ngambil duit dulu kerumah ya!" pamit Putri padaku


"Sip sip... bawa yang banyak" candaku yang di acungi jempol olehnya


Aku segera masuk ke kamar setelah menengahi keributan yang terjadi di depan kamar mandi. Karena Sierra dan Vina juga sedang merebutkan posisi kedua untuk mandi setelah Dewi. Mereka berdua ada aja alasannya kalo mau ribut, dan akhir-akhir ini kulihat Sierra lebih aktif dari biasanya. Ada sesuatu yang aneh dengan perubahan Sierra! tapi ada juga beberapa alasan yang menyebabkan perubahan sikapnya. Nanti juga dia curhat sendiri kenapa bisa berubah banyak seperti itu kepadaku, kuharap alasannya bukan tentang hal yang buruk.

__ADS_1


__ADS_2