JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Ain Marah


__ADS_3

Awalnya bu Darmawan beserta keluarga memintaku untuk menginap dirumah beliau, tapi aku bersikukuh menolak tawaran menginap itu. Karena biar bagaimanapun rasanya tidak enak jika aku seorang wanita menginap di rumah orang lain, yang di sana notabene ada laki-laki perjakanya juga. Lagi pula sejak dulu kedua orang tuaku selalu melarang aku menginap di rumah orang yang lain, walaupun itu keluarga sendiri.


Beliau juga bersikukuh memintaku untuk di antar Aji pulang ke jakarta, tapi sangat bersikukuh pula aku menolak. Karena bagaimanapun tidak nyaman jika ada yang melihat aku di antar laki-laki lain, sedangkan aku sendiri memiliki kekasih. Tapi eh tapi emak sama anak sama keras kepalanya, saat aku masuk mobil taksi yang telah ku pesan, Aji juga ikut masuk dan duduk di samping supir.


"Lah a'a ngapain ikut?" Kagetku


"Kata ibu sama ayah, aku harus mastiin kamu sampai rumah!" Katanya lembut namun penuh penekanan


"Nggak usah! Takut nyusahin..."


"Pak! Kita berangkat sekarang!" Kata Aji memotong kalimat ku


"Baik!" Lah pak supir malah tancap gas


"..." aku kesal tapi bingung kesal karena apa


Sepanjang jalan menuju ke apartemen yang ada di ibukota, aku hanya diam karena malas bicara dengan orang yang telah membuatku tidak nyaman, yaitu pak supir dan Aji. Aku hanya mengatakan 'Iya dan 'tidak untuk menyahuti perkataan Aji, dia terlihat senang berbicara denganku, tapi aku malah merasa risih.


Kulihat langit begitu indah dengan nuansa mendung di sertai kilauan petir yang panjang dan menawan. Aku menurunkan kaca mobil untuk merasakan hembusan angin di wajah sambil memejamkan mata. Namun tiba-tiba aku teringat sosok Ain tadi pagi yang tidak ku hubungi sama sekali hari ini, entah sejak kapan kebiasaan saling memberi kabar ini hadir dalam hubungan kami. Yang jelas sekarang aku merasa gelisah, ku roboh isi tasku untuk mencari ponsel yang sejak tadi pagi tidak kunyalakan


"Ya Allah ...." gumamku yang menyadari jika ponselku mati daya


"Kenapa Ru?" Tanya Aji yang mendengar gumamku


"Nggak apa... Astagfirullah!!" Kataku kaget saat melihat layar hp yang memiliki 20 lebih panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama


"Hei... ada apa?" Tanya Aji semakin penasaran


"Ha-ha-ha... cuman ada sedikit masalah!!" Kekehku canggung sambil menghubungi nomor Ain


"Masalah apa? Perlu bantuan?" Kata Aji menawarkan bantuan yang tidak perlu


"Nggak usah! Aku bisa beresan sendiri kok!" Kataku pasrah kerena ponsel Ain tidak bisa di hubungi

__ADS_1


Akhirnya taksi meluncur di jalanan kota Jakarta setelah membuatku sedikit tegang, karena dari tadi nggak nyampe-nyampe. Aku mengatur napas se netral mungkin, untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Karena baru kali ini aku seharian tanpa memberinya kabar, walaupun di awal-awal hubunganku dengan Ain juga tidak setiap hari saling mengabari. Entah kenapa jantungku rasanya mau copot saat mobil memasuki kawasan apartemen tempatku tinggal, maka aku menjadi semakin tidak beraturan malah.


Di bawah lampu dekat dengan pos keamanan apartemen, aku melihat siluet Ain yang sedang duduk di atas motor vespa miliknya sedang berbincang dengan pak satpam. Sebelum turun dari mobil aku mengatur napas dulu untuk menghadapi kemungkinan Ain akan marah, dan kesal denganku. Sial kenapa malah aku merasa khatir akan kemarahannya saja, sedangkan tidak sedikitpun peduli jika hubungan kami akan berakhir.


"Ai..." panggilku padanya dengan senyum


"...." Ain bangkit berdiri dan menatapku tajam seakan ia hendak memakanku


"Nah... yang di tunggu sudah datang! Kalo gitu saya pamit mau keliling memeriksa keamanan... bicara baik-baik!" Bisik pak satpam sebelum beranjak pergi


"Ru! Jadi kamu tingal di sini juga? Kebetulan dong... adek aku juga tinggal di apartemen ini! Pak supir duluan aja... saya juga di anter sampai sini...." aku tidak mendengarkan perkataan Aji lagi karena sedang fokus pada tatapan Ain yang penuh amarah


"Ai..." sapaku canggung dan melangkah ke arahnya


"..." Ain masih diam, dan membuatku semakin nggak enak


"Ru! Kamu tinggal di lantai berapa?" Tanya Aji yang tiba-tiba muncul di hadapanku tanpa menyadari situasi


"Eh... anu... itu... lantai 5..." jawabku terbata karena kaget dirinya telah ada di depanku


"Ai! Kamu udah makan? Lama ya nungguin nya? Maaf ya... tadi siang aku ada tugas di luar kota... seharian aku nggak buka hp, jadinya nggak tau kalau kamu..."


"Kamu nggak bohong kan?" Tanya Ain yang membuatku mendongak kaget dengan nada bicaranya yang terkesan dingin dan tajam


"Iya aku nggak bohong kok! Kalau kamu nggak percaya tanya aja sama mbak Maya!" Kataku menyebutkan mbak Maya, kenalan Ain juga


"Lalu dia siapa?" Tanya Ain menatap tajam Aji yang berdiri terpaku di belakang


"Dia... dia Aji! Anaknya pak kepala... selama terjun ke lapangan konstruksi, aku di temenin dia... oh iya! Aji kenalin ini Ain pacar aku!" Kataku tersenyum manis memperkenalkan Ain pada Aji yang terlihat ada sebersit tatapan kecewa namun segera di pangkalnya dengan senyum


"Aji... teman baru Ruka!" Kata Aji mengulurkan tangannya hendak bersalaman


"..." Ain hanya diam di tempat masih menatapku dengan kecurigaan dan mengabaikan uluran tangan Aji di udara

__ADS_1


"Salam kenal..." kata Aji canggung menarik tangannya kembali


"Kamu udah makan?" Tanya Ain sedikit melunak


"..." aku menggeleng dengan senyum sambil menggelembungkan pipi, berusaha bersikap manis untuk meredakan amarah Ain. Sebenarnya udah makan :v


"Kok belum makan! Mau aku masakin!" Ain menunjuk ke arah bangunan, sepertinya Ain ingin memasak di apartemen ku


"..." aku kaget karena isyarat tangannya yang menunjuk bangunan apartemen, karena ini udah malam dan aku sangat melarang laki-laki manapun masuk ke apartemen ku, walaupun dengan niat baik sekalipun.


"Maksud aku... masak di dapur umum!!" Kata Ain mengelus kepalaku gemes


"Kebetulan... aku juga lagi laper nih! Mau cicipin masakan aku juga nggak?" Kata Aji yang tiba-tiba angkat suara setelah sempat kami abaikan kehadirannya


"Ya elah... di tungguin juga di depan lift taunya malah ngobrol disini... ngobrolin apaan sih?" Tanya Vera yang ternyata adik dari Aji


"Katanya kakak kamu laper, mau masak di dapur umum..."


"Serius kak! Yaudah kalo gitu tunggu apa lagi!" Kata Vera semangat dan segera menarik Aji masuk


"Kita juga masuk! Kamu pasti udah laper juga kan?" Kata Ain segera menarikku ke dalam setelah memberikan coklat


"Maaf ya... aku udah bikin kamu nunggu..."


"Nggak cuma nunggu, tapi juga khawatir... tau-tau pulangnya sama cowok, bikin cemburu aja!" Bisiknya diakhir yang hampir tidak kudengar


"Maaf! Lagian bukan aku kok yang minta di anter sama dia sampai ke apartemen... malah aku juga lagi kesel sama dia, huh..." kesalku menendang angin


"Kamu diapain sama dia! Dia ngelakuin hal yang nggak-nggak sama kamu?" Kata Ain mencengkeram bahuku penuh kekawatiran


"Dia nggak apa-apa in aku kok! Cuma kesel aja tiba-tiba dia semangat mau ikut nganterin aku sampai apartemen... padahal aku udah melarang nya!" Kesalku sambil menggelembungkan pipi


Ain terkekeh mendengar kekesalanku yang ia ketahui jika aku memang tidak suka jika keinginanku ataupun yang ku katakan tidak dituruti. Kami berdua segera masuk ke dalam menuju dapur umum, yang juga ada beberapa orang lainnya sedang menyantap hidangan. Biasanya sekali masak disini, harus bayar jika ingin menggunakan bahan-bahan di dapur, jadi aku berinisiatif untuk membayarnya. Tapi sebelum aku bertindak Ain udah ngeluarin dompetnya dan segera pergi ke kasir untu bayar.

__ADS_1


Mungkin lain kali harus giliran aku yang traktir dia, soalnya dari kemarin-kemarin dia selalu menolak jika aku yang bayarin apa yang kami makan dan lakukan. Jadi berasa kalau dia kerja banting tulang kesana kemari hanya untuk membuat diriku menikmati hasil jerih payahnya. Sifatnya yang seperti inilah yang membuatku selalu takut jika membuatnya kecewa ataupun marah, karena aku udah makan banyak hasil keringatnya selama ini.


__ADS_2