
"Kok gue bisa pelupa banget gini sih!!" kesalku pada diri sendiri sambil memukul-mukul pipi
Aku masih berusaha mengingat apa yang ingin kulakukan sebelum mandi barusan. Tapi sepertinya ingatanku sangatlah payah, hingga tidak mengingat apa-apa lagi. Hmmm... aku hanya bisa mendesah kesal, karena sifat pelupa ini sangat mengusik kehidupanku yang tenang.
Di depan sana kulihat ketiga sejoli sedang tertawa-tawa bahagia, sedangkan aku disini sedang duduk berusaha mengusir ketakutan. Tapi melihat ketiga pasangan itu membuatku sedikit terhibur, karena akhirnya Roni si laki-laki kagak laku itu akhirnya punya pasangan. Malangnya aku menyadari satu hal, jika sekarang hanya akulah orang yang tidak memiliki pasangan di dalam rumah ini. Pengen ketawa ngakak rasanya saat menyadari kesendirian diriku yang emang kagak mau pacaran ini. Gimana sih maksudnya? kagak jelas hidup gue mau gimana dan bagaimana.
"Hei... Ngapain disini?" tanya Roni setelah menghampiriku
"Eh... hah... kenapa?" tanyaku yang tergagap
"Hah... heh... hah... heh... gue nanya Lo ngapain disini?" ejek Roni sambil menjitak jidatku
"Apaan sih Lo! bukannya ngucap salam malah jitak jidat gue!" kesalku padanya
"Assalamualaikum... " katanya disertai yang lain
"Wa'alaikumsalam... ada bawa makanan kagak?" sahutku dengan senyum bahagia berharap mereka bawa makanan
"Eh... perasaan Lo kagak minta bawain makanan deh!" kata Dewi
"Yaelah... kagak peka amat Lo jadi kawan!" kesalku dan cemberut
"Kalian laper? gimana kalo kita nyari makan di luar?" usul Evan minta persetujuan yang lain
"Yah... gue lagi nggak pegang uang nih! kalian aja ya!" tolakku jujur lagi kagak punya duit
__ADS_1
"Gue yang traktir!" kata Evan dan Jali bersamaan
"Tuh Ru! udah ada yang mau neraktir! ikut aja ya!" bujuk Dewi dan Vina penuh harap
"Sip sip... kalo ada yang bayarin mah gue ngikut terus!" kataku dengan senyum cerah
"Ye... kebiasaan! kalo urusan gratis aja cepat..." kata Roni menarik ujung jilbab ku pelan
"Ye... biarin! yang penting perut kenyang!" kataku dan mengejeknya dengan menjulurkan lidah
"Kita mau berangkat sekarang?" tanya Sierra di sampingku
"Emm... mau sekarang juga bisa... emang kenapa sayang!" kata Roni pada Sierra lebay
"Hoekkk... sembarangan manggil temen gue! jijik tau!" kataku yang geram dengannya
"Ra! emang Lo mau pacaran sama cowok aneh kayak gini?" tanyaku yang di balas senyuman manis dari Sierra yang menunduk malu
"Eh... pantesan tadi di jalan soswiet banget! ternyata udah jadian ya? selamat ya say..." kata Dewi memberikan selamat kepada Sierra Yeng semakin merona malu
"Yuhu... hanya tersisa satu manusia jomblo aja lagi nih! selamat ya Ra!!" kata Vina ikut memberi selamat setelah mengejekku
"Apaan Lo? sok-sokan ngefek gue... siapa tau ntar gue yang pertama sampai di pelaminan sama jodoh gue!!" kesalku padanya yang sedang menahan tawa bersama yang lain
"Aminnn...." teriak mereka semua padaku
__ADS_1
"Yaelah bercanda kali!" kataku sambil mengusap telinga yang berdengung karena teriakan mereka
Semuanya masih melanjutkan candaan, saat tiba-tiba aku dan Roni menyadari jika Sierra menjadi diam dan pucat. Perasaanku juga udah mengarah pada setan yang nyari gara-gara barusan di dalam. Aku dan Roni saling bertatapan, mata Roni seakan-akan penuh kekhawatiran pada Sierra.
"Guys... kita pergi sekarang yuk!" ajakku pada semuanya agar segera pergi dari kosan angker ini
"Ra!" panggil Roni membuyarkan lamunan Sierra
"Hmmm..." sahutnya dan tersenyum kikuk
"kamu kenapa?" Tanya Roni khawatir
"Nggak apa-apa... Astaghfirullah..." kata Sierra dan menarikku segera menjauh dari pintu
"Guys... kita cabut yuk!" kata Dewi dan Vina yang juga menyadari jika ada yang aneh dengan Sierra
Kami bertujuh segera menjauh dari kosan yang terasa begitu mencekam. Ketiga cowok ini hanya saling bertatapan bingung mendapati tingkah aneh kami berempat yang tiba-tiba menjadi sepi. Mereka belum tau kalo kosan kami angker dan mereka juga kagak tau kalau Sierra bisa liat makhluk halus. Jadi mohon di maklumi aja ya kalo mereka bertiga keliatan bingung dan saling tatap-tatapan.
Namun setelah keluar dari komplek perumahan, kami kembali asik berceloteh dan melupakan kejadian angker barusan. Saranku di terima semuanya, jadi kami akan makan di warung sederhana Mak Haji langganan kami anak kosan. Selain enak, semua hidangan disana juga terbilang murah dan higenis, makanya anak kos rela ngantri untuk makan disana. Siang ini warung Mak Haji agak sepi, jadi lebih memudahkan kami mencari tempat duduk.
Sambil menunggu pesanan kami bertujuh sibuk membahas beberapa rencana muncak kedepannya. Kata Mereka ingin sekali pergi muncak dekat air terjun Haratai yang ada di Loksado. Aku sih ngikut aja kemana mereka mau pergi, yang penting mereka bawa banyak makanan.
"Kursi buat siapa?" tanya Vina pada Evan yang meletakkan sebuah kursi di antara aku dan Dewi yang kebetulan sedikit lapang
"Buat Haris! kebetulan dia juga lagi mau nyari makan ke luar, jadi aku ajakin kesini aja... nggak masalah kan?" tanya Evan meminta pendapat kami
__ADS_1
"Santai aja kali... sepupu Lo temen kita juga!" kata yang lain bersamaan
Aku sih iya aja! yang penting selagi makanan di bayarin mah bukan masalah mau siapa yang datang. Presiden sekalipun yang datang kesini aku mah iya aja juga, yang penting makan gratis. Maaf ya semuanya, otakku saat ini hanya terisi oleh makanan dan makanan, yang enak! kalo kagak enak mah ogah.