
Setelah lelah bermain segala jenis permainan, Ain memintaku menunggunya membeli es krim yang ku mau, kerena di sana ada banyak orang. Aku menatap punggung Ain dengan tatapan penuh haru, dia laki-laki pertama yang melindungiku secara terang-terangan dan ia juga yang telah rela berada di belakang demi menjaga keamanan hidupku. Walaupun dulu ada beberapa orang lainnya, tapi aku menganggap mereka hanya sekedar kebetulan saja dalam hidupku.
Aku mendongakkan wajahku ke atas, karena mataku yang berkaca-kaca hendak meneteskan sebuah berlian bening yang telah lama tidak hadir dihidupku. Saat membuka mata, aku melihat bulan bulat sempurna yang di keliling awan kelabu, yang mungkin nantinya akan segera menangis. Saat menatap bulan seperti ini aku malah teringat dengan masa kecilku yang sangat pemalas itu. Aku tidak ingin mengingat masa kecil ku, untuk saat ini, kerena saat ini aku seharusnya tertawa bahagia dengan Ain.
Kulihat Ain masih mengantri di barisan para pembeli hingga membuatku sedikit jenuh, rasanya ingin sekali jalan-jalan ke arah tempat yang terlihat menenangkan. Namun disana ada terlalu banyak orang, sehingga membuatku kembali mengurungkan niat itu. Tiba-tiba ada dua orang pemuda yang terlihat sedang mabuk berjalan ke arah ku, awalnya diabaikan tapi semakin kesini semakin menjijikkan. Karena mereka menatapku dengan tatapan nafsu yang sulit di jelaskan.
Saat ini aku memakai pakaian yang di bilang sangat sopan, tapi mengapa pandangan jahat masih saja menghampiriku. Apakah ini karena kemarahan Tuhan kepadaku yang telah melakukan perbuatan dosa pacaran? Tapi setahu ku ibukota memang tempat nya segala macam kejahatan, maka dari itulah aku memutuskan pacaran berharap ada yang melindungiku. Aku berdiri dari kursi, hendak menghampiri Ain sesegera mungkin, karena perasaanku udah nggak enak tentang dua orang mabuk ini.
"Cantik! Mau kemana sih? Kelihatannya kayak orang takut gitu... kalo ada yang gangguin bilang aja ke abang..." katanya dengan tubuh yang berdiri tidak stabil
"Bial kita yang... ikut gangguin kamu..." kata satunya tanpa huruf r yang jelas, cadel ni orang
"..." aku hanya diam dan berusaha menjauh dari mereka lewat samping, tapi kembali di tahan oleh mereka
"Ayo lah cantik... jangan jual mahal gitu dong..." katanya dengan tangan yang terulur hendak menyentuhku
"Jangan macam-macam ya!!" Kata ku tegas karena marah
"Di marah bro, hahaha!!" Yah mereka malah ketawa
Saat mereka sedang sibuk tertawa aku segera berlari menghampiri Ain yang masih sibuk mengantri. Sebenarnya dia sesekali menoleh ke arahku, untuk memastikan aku baik-baik saja duduk di kursi. Tapi saat aku digoda oleh laki-laki mabuk barusan, Ain malah terfokus dengan perdebatan kecil di depannya. Saat hendak menghampiri Ain, tidak sengaja aku menabrak seorang pemuda yang sedang terlihat kesal.
"Maaf mas, saya nggak sengaja!!" Kataku repleks melangkah mundur saat minuman di tangannya tumpah ke celana
"Gimana sih mbak jalannya! Punya mata nggak sih!" Kesalnya serta membersihkan noda minuman di celananya sendiri
__ADS_1
"Maaf mas saya nggak sengaja..." kataku diam di tempat dan menyesali kejadian ini
"Celana saya ini mahal loh mbak... baru tiga hari yang lalu saya beli, udah di kotor aja!!" Kesalnya menyela omonganku
"..." aku diam mendengarkan jalannya yang menarik perhatian orang-orang
"Ada apa ini?" Tanya Ain yang datang dengan membawa dua buah es krim di tangan
"Itu... Aku nggak sengaja nabrak dia!!" Kok aku terkesan laporan ke Ain jadinya
"Mas! Pacarnya tolong dijaga dong... jangan mentang-mentang mas nya punya pacar jadi di biarin kelayakan!!" Kesal laki-laki itu menyulut amarah Ain
"APA KAMU BILANG!..." Marah Ain membuat si laki-laki itu menjadi gelagapan
"Udah kamu jangan marah... ini emang salah aku kok!... lalu mas nya mau saya bertanggung jawab seperti apa?" Kataku berusaha meredakan amarah Ain yang terlihat buas
"Maaf sekali lagi..." kataku meminta maaf namun dia keburu lari ketakutan
"..." Ain masih menatap laki-laki itu dingin hingga menghilang di balik kerumunan
"Hei... Kamu jangan liat in orang kayak gitu dong! Nanti kalo orang yang kamu liat in jadi gila gimana!!" Kataku memukul lengannya pelan serta mengambil es krim di tangannya
"Berani ganggu wanitaku! berani tanggung resiko!" Kata Ain masih kesal
"Liat nih... stik es krim aja sampai kayak gini aku pegang!" Kataku memperlihatkan stik es krim yang patah karena cengkramannya
__ADS_1
"Maaf..." katanya kembali ke wajah asal yang emang sama-sama datar namun lebih lunak
Ain mengajakku memutari taman hiburan sekali lagi sebelum pulang, yang tentu saja ku iya kan. Sambil makan es krim kami melihat berbagai macam interaksi yang terjadi di taman, dan mataku tertarik dengan interaksi sebuah keluarga yang terlihat sedang berdebat. Dan kesempatan itu, dimanfaatkan oleh Ain untuk mencicipi es krim ku yang sejak tadi di liriknya.
"Loh kok kamu makan punya aku!" Kesalku saat melihat wajahnya nyengir puas
"Ternyata punya kamu lebih enak!" Katanya menjilat ujung bibirnya
"Aku juga mau punya kamu!!" Kesalku dan segera mengigit es krim di tangannya dengan gigitan yang besar
"Kamu curang... kan tadi aku cuma gigit sedikit! Tapi kenapa kamu gigit punyaku hingga setengahnya!" Kesal Ain melototin es krim di tangannya yang tersisa kurang dari separonya
"Unya... amu... uga... enak... ingin!!!" Kataku tidak jelas karena mulut penuh dengan es krim dingin
"Maksud kamu! Punya aku juga enak?" Kata Ain yang segera kulakan dengan anggukan kepala, lalu ia malah tertawa sampai matanya berair
"Jangan ketawa... Nggak lucu tau! Stttssstttt...." kesalku dan berusaha mengatakan huruf 's' untuk melunturkan lidah yang kaku
"Coba bilang 's'!" Kata Ain meledekku
"Sttstt...Nggak bistta!" Kataku yang membuatnya kembali menyemburkan tawa
Setelah meninju perut nya pelan untuk menghentikan tawa Ain, aku segera jalan duluan dengan kesal, karena baru sadar jika ia sedang meledekku. Ain segera menyusul ku dan meminta maaf atas candaanya barusan, aku yang masih kesal hanya diam dengan wajah cemberut, sambil sesekali mencoba mengatakan 's' namun masih nggak bisa. Setelah beberapa kali menahan tawa, akhirnya Ain mengajakku membeli minuman hangat untuk mengembalikan lidahku seperti awal. Tanpa disadari hari ini Ain banyak tertawa dan tersenyum hingga hanya terlihat ada kebahagiaan dalam matanya saat ini.
Dan hal ini membuatku bersyukur karena , bisa menjadi salah satu alasannya terlihat bahagia seperti sekarang. Setelah lidahku kembali seperti semula, Ain segera mengajakku pulang karena jam sudah pukul sepuluh lewat. Melenceng dari peraturan jam keluar malam ku, aku juga nggak sadar jika udah lewat jam sepuluh. Tapi emang waktu terasa sangat panjang berjalannya saat ini, bahkan beberapa kali membuatku merasa bosan.
__ADS_1
****