
"udah lama nunggunya ya pak?" Tanyaku menghampiri Pak Toni supirku
"Oh... Tidak terlalu lama juga kok Bu!" Kata pak Toni membukakan pintu mobil
"Makasih pak..." Kataku padanya yang bersikap ramah
Setelah memasuki mobil aku meminta pak Toni mematikan AC yang entah kenapa terasa sangat dingin menusuk tulang. Saat ku sentuh jidatku sendiri, terasa sangat panas pantesan sejak tadi kepalaku terasa berat dan sakit. Akhir-akhir ini sepertinya aku lebih banyak sakit ketimbang sehatnya, mungkin karena waktu olahraga tersita banyak oleh pekerjaan.
Kepalaku benar-benar terasa sangat tidak nyaman bahkan tubuhku juga mulai menggigil. Napas ku mulai terasa sesak dan berat, membuatku semakin yakin jika aku sedang sakit.
"Ibu sakit ya? Wajahnya pucat banget bu, mau kerumah sakit dulu..."
"Nggak usah pak! Saya cuma kecapekan... Istirahat di rumah juga udah cukup kok!" Kataku memotong kalimat pak Toni
"Tapi Bu... Bener nggak usah?" Kata pak Toni dengan nada penuh kekhawatiran
"Beneran nggak apa-apa kok pak... Terimakasih karena pak Toni udah khawatir tentang keadaan saya!" Kataku tersenyum
"Sama-sama Bu..." Sahut pak Toni membalas senyumku
Aku berharap rasa sakit di kepalaku sedikit mereda dengan menatap kondisi di luar mobil yang masih terjebak macet. Awalnya emang sedikit reda dan agak enakan, tapi tiba-tiba aku malah bertatapan dengan Tian yang sedang terjebak macet juga di mobilnya bersama seorang wanita dengan pakaian kentat dan menggoda sedang menempel padanya.
"Mampus gue..." Gumamku sambil menaikkan kaca jendela mobil dan pura-pura tidak melihat Tian yang sedang menatapku kaget
"Bukannya itu mobil pak Tian ya Bu?" Tanya pak Toni tiba-tiba
"Eh iya pak... Itu mobil Tian..." Kataku kaget menjawab pertanyaan pak Toni
"Pak Tuan mau kemana ya Bu?" Tanya pak Toni yang sepertinya tidak melihat ada wanita di samping Tian barusan
"Ketemu temen-temen nya..." Kataku malas sambil memijit kening
Entah percaya atau nggak yang jelas pak Toni menggangguk kan kepalanya ragu-ragu. Setelah terjebak macet sekitar satu jam lamanya, akhirnya mobil kembali melaju menuju rumah. Dalam pikiran ku saat ini hanya ada kasur empuk dengan penghangat ruangan yang akan menemani tubuh sakitku ini.
__ADS_1
Sesampainya di rumah pak Zion menyambutku dengan ramah, btw pak Toni dan pak Zion adalah sodara. Saat masuk rumah aroma nikmat masakan bibi menguat memenuhi penjuru rumah, tanpa sadar aku malah melangkah menghampiri meja makan. Sebenarnya kan aku ingin segera istirahat di kamar, tapi karena masakan bibi terlalu menggoda jadinya aku malah memilih makan dulu baru istirahat.
"Apakah nyonya sedang tidak enak badan?" Tanya pak Zion mungkin karena melihat wajah pucatku
"Sedikit..." Sahutku dengan senyum
"Ya ampun... Nyonya sepertinya demam, tubuh nyonya panas sekali... Ica! Tolong ambilin kotak obat di nakas dapur!" Teriak bi Murni kelabakan saat memeriksa suhu tubuhku
"Saya nggak apa-apa kok bi! Nggak usah panik..."
"Gimana nggak panik kalo suhu tubuh nyonya sepanas ini... Udah bibi bilangin juga istirahat yang cukup jangan mikirin kerjaan terus... Nyonya malah iya iya aja... Tapi nggak nurut... Tuh kan akhirnya nyonya jadi sakit kayak gini..." Omel bi Murni padaku
"Lebih baik kita bawa nyonya ke rumah sakit saja... Saya takut demam nyonya makin parah kalo nggak di periksa dan di obati oleh ahlinya!" Kata pak Zion ikut kelabakan
"Nggak usah... Beneran nggak usah... Saya kan cuma butuh istirahat yang cukup... Besok juga pasti sembuh kok!" Kataku mencoba menenangkan kericuhan semua orang
"Kalo gitu kita panggil dokter Nani ke rumah aja buat ngerawat nyonya..." Kata bi Murni
"Saya akan menghubungi Bu dokter sekarang..." Pak Zion segera bergegas menuju telpon rumah tanpa sempat ku cegah
"Ica! Kamu bantu bibi buat bubur buat nyonya di dapur... Lia kamu awasi makan nyonya!" Kata bi Murni meminta kedua junior nya bertugas melayaniku
"Ya Allah... Kan aku sakit bukan cuma sekali ini aja!" Gumamku kesal sebelum menyantap makanan
Hanya orang-orang rumah ini saja yang terlalu mengkhawatirkan ku secara berlebihan jika aku sakit ataupun terluka sedikit saja. Biasanya juga kalo aku di rumah orang tuaku, mau sakit seperti apapun itu sikap mereka tetap cuek bebek denganku. Kalo semisalnya di perhatiin juga paling-paling cuma di beliin obat dan di pijitin sebentar. Nggak sampai di perlakukan berlebihan seperti sekarang, dulu boro-boro disayang saat sakit, malah lebih banyak di omelin dan di beda-bedain sama yang lain.
Katanya, yang lain kalo sakit nggak nyusahin, nggak bikin ribet, sakitnya juga ada alasan. Lah aku nyusahin apanya? Paling sering juga sakitnya ku pendam sendiri sampai sembuh, makan juga nggak banyak, nggak minta ini itu kayak yang lain. Dan setiap orang sakit itu pasti punya alasan, begitu pula aku yang hanya manusia biasa ini. Ada kali sakit yang nggak punya alasan, kentut aja kudu ada alasannya kenapa jadi bisa kentut.
"Nyonya... Silahkan menunggu di kamar, dokter Nani sedang menuju kemari! Paling lambat 10 menit lagi sampai..." Kata pak Zion setelah aku selesai makan dan minum obat
"Pak Zion nggak maksa dokter Nani datang kan?" Tanyaku kaget
"Tidak nyonya..."
__ADS_1
"Kalo nggak, kenapa 10 menit lagi sampai! Klinik dokter Nani kan yang paling Deket setengah jam dari sini!" Kataku agak kesal
"Itu...itu... Kebetulan dokter Nani sedang... Sedang..."
"Udah lah... Terimakasih semuanya karena udah khawatir dengan berlebihan kepada saya!" Kataku sebelum berlalu ke lantai atas menuju kamar utama
"..." Semuanya diam sesaat
"Nyonya biar saya bantu naik..." Kata bi Murni memapahku ke atas
"Makasih bi... Maaf ngerepotin!" Kataku sambil memijit-mijit kening
"Tidak merepotkan sama sekali kok nyah.." kata bi Murni tulus
Agak kesel juga dengan pak Zion yang terlalu berlebihan mengkhawatirkan keadaan ku. Dokter Nani kan pasti punya pekerjaan yang lebih penting, daripada cuma memeriksa pasien demam yang sebentar lagi juga sembuh. Tapi aku tetap berterimakasih kepada beliau karena telah menunjukkan perhatiannya untukku yang baru satu tahun di kenalnya.
Pak Zion sudah seperti ayah ketiga dalam hidupku, caranya menunjukkan kasih sayang dan ketegasan membuatku merasa puas dengan kehidupan yang membosankan ini. Padahal pak Zion tidak punya istri apalagi anak dalam hidupnya, tapi entah kenapa kebijakannya seperti seorang ayah yang telah berpengalaman mendidik dan menjaga anak.
Dari cerita bi Murni pak Zion memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya dan hanya ingin fokus menjaga Tian yang telah dianggap nya sebagai anak sendiri. Jadi intinya pak Zion lebih memilih kebahagian yang sederhana namun sangat menyentuh seperti ini. Dokter Nani datang dan memeriksa kondisi tubuhku sebelum memutuskan untuk memasangkan infus di tubuhku.
"Apakah sakit nyonya sangat parah?" Tanya bi Murni yang kaget saat mendengar perkataan dokter Nani
"Saya tidak tahu sakit nyonya Tian separah apa... Tapi dari apa yang saya lihat... Sepertinya nyonya Tian memiliki masalah pada organ dalamnya... Yang mungkin di sebabkan oleh kelelahan yang terlalu tinggi... Saran saya! Jika sakit nyonya Tian tidak sembuh dalam beberapa hari... Lebih baik di periksakan ke rumah sakit sesegera mungkin... Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan!" Kata dokter Nani mendiagnosa sakitku
"Bukannya saya cuma demam ya dok?" Tanyaku heran
"Demam hanyalah gejala yang terlihat di luar... Apakah selama ini nyonya sering memiliki gejala sakit yang seperti ini sebelumnya?" Tanya dokter Nani sambil mengatur tetesan infus
"Sejak kecil sering seperti ini, tapi tidak pernah sampai berhari-hari lamanya... Sepertinya sakit saya memang keturunan dari ayah saya!" Kataku mengingat jika Abah juga sering merasakan sakit seperti ku
"Menurut saya, lebih baik nyonya memeriksakan diri secara menyeluruh ke rumah sakit agar semuanya kelas apakah ini penyakit atau hanya kondisi tubuh yang kurang stabil!" Saran dokter Nani
"Baik dok! Jika sakit nyonya tidak sembuh dalam 3 hari saya akan membawa nyonya ke rumah sakit!" Kata bi Murni penuh perhatian
__ADS_1
"Memang baiknya begitu!" Kata dokter Nani sebelum di antar keluar oleh BI Murni
Setelah semua orang keluar dari kamar aku merasakan kantuk yang mungkin efek samping dari obat yang telah kuminum. Kepalaku yang awalnya terasa berat berangsur-angsur mulai nyaman karena kesadaran ku terseret dalam buaian mimpi yang menenangkan. Rasanya aku ingin tidur seperti ini saja untuk selamanya, seperti waktu aku kecil dulu yang selalu tidur seharian penuh.