JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Menyelesaikan Masalah Para Pekerja


__ADS_3

Di awal tahun aku bekerja di perusahaan ini, mbak Rani dan mbak Maya banyak mengajari ku hal-hal baru yang tidak ku ketahui. Walaupun diawal-awal mbak Rani dan mbak maya suka mempersulit dan meremehkan pekerjaanku yang lambat namun bisa di katakan kompeten. Pak kepala juga sangat meremehkan pekerjaanku di awal tahun karena kerjaku yang lambat, namun seiring berjalannya waktu kini karyawan kontrak yang mereka remehkan menjadi karyawan yang sangat mereka andalkan.


Walaupun aku tidak bangga sama sekali di banggakan oleh para senior ku ini, mereka sudah seperti tetangga ku yang cerewet setelah kenal lama. Aku juga tidak menyangka jika aku akan bekerja serajin dan bisa di katakan kompeten dalam segala hal. Terimakasih kepasa perusahaan khususnya departeman penasehat hukum, karena telah memberiku banyak pengalaman baru yang sangat berharga.


Di kantin, aku duduk di sekumpulan penggosip yang sangat menyukai tren gosip, sekarang semua karyawan wanita di perusahaan ini sedang menggosipkan pimpinan baru yang sangat gagah. Aku mengikuti gosip sesekali sambil terus makan makanan di piringku, saat ini aku ingin segera kembali ke kantor, agar bisa cepet memperbaiki laporan. Tiba-tiba para karyawan wanita ini tercengang kaget melihat pimpinan baru masuk ke kantin dan ikut makan bersama karyawan lainnya. Aku kagum dengan beliau, karena terlihat lebih merakyat ketimbang pak Joko yang sangat memperhatikan pergaulan, namun juga ramah pada karyawan.


"Waaa.... kalian liat ka tadi! Pimpinan baru tersenyum ke padaku!" Kata Kiara kepedean


"Ge er! Pimpinan itu senyum ke furpe tau!" Kata Intan senyam-senyum sendiri


"Eh... Eh... Katanya pimpinan belum berkeluarga loh! Ayo yang masih sendiri bisa berharap tuh!" Kata mbak Ani


"Tapi kabarnya, pimpinan baru udah punya tunangan!" Kata Hana sedih


"Sebelum janur kuning belum melengkung, masih bisa di tikung!" Kataku bangkit dari kursi karena udah selesai makan


"Bener juga kata lo..." kata Kiara semangat


"Hati-hati terjebak cinta pak CEO... hehehe..." tawaku dan berlalu pergi keluar kantin setelah pamitan


"Ru! Tungguin..." kata mbak Maya yang juga telah selesai makan


"Udah selesai makannya mbak?" Tanyaku yang segera di balas dengan anggukan kepala


Kami berdua menyusuri lorong perusahaan menuju kantor departemen penasehat hukum, sambil membicarakan laporan yang hendak kami perbaiki. Mbak Maya mengutarakan pendapatnya dengan lugas dan baik padaku, hingga mudah di pahami dan di mengerti. Di dalam lift kami sedikit berdebat mengenai laporan tanpa memperhatikan sekitar, saat tersadar siapa yang ada di dalam lift bersama kami, kami berdua terdiam membisu. Karena bagaimanapun tidak enak jika membicarakan laporan yang kami kerjakan saat ada karyawan dari departemen lain.

__ADS_1


"Kenapa berhenti! Lanjutin aja ngobrol nya!" Kata pimpinan baru yang ternyata juga ada di dalam lift entah mulai sejak kapan


"Eh... itu, nggak enak takut ganggu yang lain pak!" Jawab mbak Maya ramah


"Ohh... saya kira karena ada saya!" Kata beliau terkekeh


"..." Aku hanya diam menatap langit-langit lift sambil menggelembungkan pipi


"Ru! Mbak nggak bisa lembur hari ini, anak mbak lagi sakit..." kata mbak Maya setelah membaca pesan teks dari ponselnya sesaat yang lalu


"Nggak apa-apa kok mbak! Semoga cepat sembuh anaknya ya mbak!" Kataku menatap mbak Maya dengan senyum hangat


"Oh iya! Ru! Masalah di kota Cirebon, kamu kapan punya waktu kesana... Katanya dari bagian sana ada sedikit maslah dan butuh penengah... kebetulan waktu itu kamu juga pernah ke sana kan! Nanti departemen lain minta temenin cek kesana! Gimana, kapan ada waktu?" Kata mbak Maya setelah pintu lift terbuka


"Hari ini juga bisa kok mbak! Departemen mana?" Tanyaku semangat


"Oke siap mbak!"


"Mbak hubungin mereka dulu ya!" Kata mbak Maya segera ke mejanya untuk menghubungi kedua makhluk yang di sebutannya tadi


Mumpung aku lagi mau jalan-jalan keluar, kan nggak apa-apa sekalian kerja sambil refreshing. Setelah di hubungi mbak Maya, Fendi dan Yudha menjemputku langsung dj depan pintu departemen, dan segera mengajakku meluncur ke tempat yang akan di tuju. Kami ke sananya menggunakan mobil perusahaan, karena Yudha yang nyetir mobilnya, tanpa terasa sampai aja di kota Cirebon. Aku yang biasanya nggak mabuk perjalanan darat, kini merasa sedikit puyeng gara-gara Yudha yang terlalu ngebut bawa mobilnya.


Bahkan Fendi yang cowok aja sampai muntah, saat sampai di tempat konstruksi bangunan yang setengah jadi ini. Seingat ku dua bulan yang lalu masih berupa kerangka, sekarang udah ada dindingnya aja, sedikit salut dengan pekerjaan para tukang bangunan yang rapi. Kali ini masalah bentrok bukan antara warga dengan tukang bangunan, tapi para karyawan keamanan dengan para tukang yang berselisih. Katanya para karyawan keamanan membuat masalah dengan para tukang duluan, jadinya ada sedikit bentrok karena karyawan keamanan tidak terima jika di salahkan.


Aku di temani dengan Yudha dan Fendi menyelesaikan masalah bentrok dulu, sebelum mereka lanjut dengan urusan laporan mereka. Sengaja didatangkan dua karyawan perusahaan yang sedang bentrok ini di satu ruangan, untuk membahas masalah yang terjadi. Di tengah pembahasan kedua karyawan ini kembali tersulut amarah namun bisa segera ku redam dengan cara damai dan tenang. Masalahnya memang tidak terlalu besar, ini hanya karena masalah karyawan keamanan yang memecahkan batu bata namun malah menyalahkan tukang yang ada di dekatnya, yaitu bapak Udin.

__ADS_1


Pak udin yang seperti preman ini pun nggak terima jika di salahkan, karena emang nggak salah, lah sebaliknya si karyawan keamanan ini yang salah. Tapi malah menyalahkan si pak udin yang tidak tahu apa-apa, hanya karena berada dekat dengan tempat perkara rusaknya batu bata. Setelah di telusuri lebih lanjut, ternyata masalah ini bermula dari candaan, tapi bagi pak udin candaan karyawan keamanan bisa menyebabkan pemotongan gaji, jelas dong pak Udin nggak terima.


"Jadi bapak maunya gimana untuk menyelesaikan masalah ini?" Tanyaku geram karena beberapa kali keputusan yang di ambil beliau bantah


"Ya jangan tanya saya dong!" Kata beliau melemparkan tanggung jawab padaku lagi


"Ya sudah begini saja! Mas Budi akan saya deportasiakan tugasnya ke daerah lain, tapi setelah di setujui para pimpinan lain... sedangkan bapak bisa kembali bekerja dengan tenang di tempat ini!" Kataku sekali lagi dengan ramah mengatakan urusanku


"Nah gitu dong dari tadi!" Kata pak udin sepakat


"Hmmm..." (Udah dari tadi saya ngomong gitu bapak! Tadi sebelum berangkat kerja tu kuping di bersihin dulu kagak sih) kesalku dalam hati


"Tapi sebelum di deportasi ke tempat lain! Saya masih kerja di sini kan bu?" Tanya Budi sopan


"Untuk sementara! Demi kenyamanan para tukang, kamu istirahat dulu kerjanya... nanti saya akan menghubungi kamu setelah surat pemindahan kamu di setujui! Akan sangat saya usahakan agar kamu secepatnya di setujui untuk pindah kawasan! Jadi untuk sementara kamu nganggur dulu di rumah! Nggak apa-apa kan?" Tanyaku takut ni mas-mas ngamuk


"Yaudah... nggak apa-apa deh bu!" Katanya pasrah


"Sekarang... bapak dan mas nya berjabat tangan, agar tidak ada dendam lagi ke depannya!" Pintaku ramah hendak menyatukan mereka


"Maaf ya pak... saya yang salah!" Kata Budi duluan mengulurkan tangannya


"Lain kali jangan di ulangi lagi! Kamu masih muda... masa depan juga cerah, nggak kayak saya yang kerjanya cuma jadi tukang bangunan!" Kata pak Udi. Menerima uluran tangan Budi hangat


"Kalau begitu masalahnya udah beres semua ya pak, mas!" Kataku mengakhiri perselisihan

__ADS_1


Aku mengikuti mereka keluar ruangan sekalian hendak menjelaskan kepada karyawan lainnya agar masalah seperti ini tidak terulang lagi. Semua karyawan kini terlihat lebih membaur ketimbang saat pertama kami datang barusan. Para tukang dan karyawan keamanan sedang beristirahat sambil berbincang hangat antara satu sama lain. Setelah di pikir-pikir kok kerjaan ku udah kayak guru BK aja, ya kan, tugasnya kalo nggak nasehati orang ya memberikan penyelesaian setiap masalah. S1 hukum emang sedikit tanggung pendidikannya, jadi pengen ngambil S2 advokat, biar lebih terasa kalo tidak ku adalah S.H bukan nya S.Pd.


Rasanya mau tepuk jidat, kenapa aku bisa mikir kayak gitu coba, ya namanya juga penasihat hukum milik perusahaan, ya jelasklah kerjanya kayak gitu. Selain ngurusin berkas dan laporan, sekalian mengembangkan bakat yang suka menasehati orang, tapi nggak bisa menasehati diri sendiri. Yudha da Fendi terlihat sedang berbicara dengan kepala mandor pembangunan, tugas mereka sedikit rumit karena harus berkutat dengan duit yang jumlahnya nggak sedikit. Salah satu angka aja bisa di bilang mau korupsi uang perusahaan, haduh, untung kemarin nggak jadi ngambil jurusan manajemen waktu daftar kuliah.


__ADS_2