JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
!!!!


__ADS_3

Pak Zion dan kakek berusaha menenangkan Tian yang sedang histeris menyalahkan dirinya sendiri. Gimana nggak frustasi coba, Tian itu udah tau kalo aku nggak suka telor mata sapi setengah matang, tapi tadi di meja makan dia malah menaruh telor mata sapi setengah matang dan membuat kuningnya meluncur keluar dengan bebas. Sumpah nggak kebayang gimana jijiknya aku saat di meja makan barusan liat kuning telur meluncur menuju nasi dengan bau anyirnya itu.


Dokter Gina juga tidak banyak membantu dengan kondisi ku sekarang, karena katanya ini kondisi yang wajar bagi ibu hamil. Tapi dimana wajarnya Bu dokter? Sudah keluar semua makanan dan minuman yang ada di perut, tapi mualnya belum juga berhenti. Setelah Tian agak tenang, ia menghampiriku dan meminta maaf dengan mata berkaca-kaca, penuh penyesalan.


"Sayang maaf... Maaf sayang!... Aku salah... Maaf..."


"Hueekkk..." (Sebenarnya aku mau bilang 'nggak apa-apa!" Tapi malah suara menjijikkan yang keluar


"Sayang!!... Maaf...!!" Sesal Tian bingung harus apa dan bagaimana


"Dokter! Lakukan apa saja agar cucu saya tidak merasakan penderitaan ini terlalu lama... Cucu saya seperti ini sudah hampir setengah jam... Berapapun akan saya bayar, asalkan penderitaan cucu saya berkurang..." Pinta kakek pada bu dokter penuh kekhawatiran


"100 juta... 1 miliyar... Berapapun itu akan saya kasih... Tapi tolong istri saya dok! Saya nggak tega liat dia seperti ini!" Kata Tian bergetar penuh kekhawatiran


"Ini bukan masalah bayaran pak! Tapi ini masalah yang memang sering di alami oleh ibu hamil... Tidak ada yang bisa saya lakukan! Bahkan obat barusan di muntahkan oleh istri bapak... Kita hanya perlu bersabar melihat kondisi istri bapak yang seperti ini!"


"Gimana saya bisa sabar! Kalo istri saya kesakitan gitu..." Marah Tian dan mencengkeram kerah baju Bu dokter


"Huueekkk.... Hueeekkk...!" Karena kepalaku masih teringat telor mata sapi setengah matang barusan, perutku kembali bergejolak


"Apapapun caranya... Tolong bantu istri saya dok! Saya... Saya..." Terdengar nada pasrah


"Sa...sayang...uhhuukk..." Rasanya tenggorokan jadi kering


"Sayang!" Tian menghampiri ku dengan tergesa-gesa


"Ambilkan air..." Kata kakek namun aku menggeleng


"Sa...sayang..." Tian menepuk-nepuk pipi ku, karena dia pikir aku mati kali


"Aku... Hueekkk..." Rasa mualnya kembali lagi


Sekarang Tian sedikit lebih tenang karena aku menggenggam tangannya erat, agar dia tidak kembali berulah. Rasanya kenapa mereka semua jadi khawatir berlebihan begini sih, emangnya dulu saat almarhum ibu mertua hamil Tian, nggak mengalami mual-mual kayak gini ya? Soalnya mereka semua kayak baru pertama kali liat orang mual-mual waktu hamil.


Setelah hampir satu jam, akhirnya rasa mual yang ku alami sedikit mereda dan lebih enakan karena bibi mengoleskan minyak kayu putih di sekujur tubuhku. Setelah tubuhku kembali agak memerah setelah pucat pasi dan dingin, Tian segera membawaku ke kamar setelah di minta oleh kakek agar memindahkan ku. Di dalam gendongannya, aku mendengar suara detak jantung yang sangat cepat dari dalam tubuh Tian.

__ADS_1


Pikiranku menjadi lebih plong, karena Bu dokter memintaku untuk mengalihkan perhatian dari apa yang membuatku mual-mual seperti barusan. Sebelum bu dokter di bolehkan pulang, tanganku harus di pasangkan selang infus agar tenagaku kembali. Sejak meletakkan tubuhku di kasur, Tian tidak bergerak sedikitpun dari sampingku, dengan memasang wajah super khawatir.


"Sayang... Aku udah nggak kenapa-napa kok..." Lirihku membelai wajahnya dengan sisa-sisa tenaga yang hampir terkuras habis


"Aku minta maaf..."


"Sssuuttt.... Kamu nggak salah! Udah jangan nyalahin diri sendiri... Aku jadi nggak enak!" Potong ku dengan nada bergetar


"..." Tian terdiam menatap wajahku yang lesu dan masih sedikit pucat


"Sayang! Aku mau tidur... Tapi harus kamu peluk..." Manja ku agar Tian tidak terlalu menyalahkan dirinya, kuharap


"..." Walaupun tidak ada senyum, tapi Tian tetap menidurkan ku di pelukannya


"Aku nggak apa-apa... Karena ini bukti adanya anak kita di perut aku..." Lirihku sebelum terlelap sambil mengelus-elus perut dengan tangan Tian


Walaupun rasanya sangat menyakitkan, tapi aku tetap bahagia karena hal itu bisa ku jadikan sebagai tanda bukti jika aku hamil seperti orang-orang. Namun, aku tidak pernah berharap Tian menjadi terbebani oleh rasa bersalah yang seharusnya nggak ada seperti itu. Ya, walaupun karena ulah Tian meletakkan telor mata sapi setengah matang di piringku, tapi itu bukan masalah besar buatku.


Jika aku merasakan kesakitan seribu kali lagi pun aku tidak akan menolaknya, asalkan ada Tian yang mendampingiku dari dekat. Serta anak-anak yang nantinya harus terlahir sehat dan tumbuh besar dengan bahagia di bawah asuhan kami berdua. Membayangkannya saja sudah membuatku senyum-senyum gimana gitu, rasanya aku ingin waktu berlalu dengan cepat.


Dan untuk suami tercintaku Tiandra Saputra, aku ingin kamu tau jika sekarang aku sedang berusaha mencintai dan menyayangimu segenap jiwa dan ragaku. Istrimu ini akan selalu berusaha agar selalu membuatmu tersenyum dan tertawa bahagia, tentunya di barengi tangis bahagia. Kita harus merawat buah hati kita sebaik mungkin, agar menjadi contoh yang baik bagi mereka tumbuh besar.


***


Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas tenagaku sudah terisi, walaupun tidak keseluruhan. Di luar juga masih malam yang sedang di guyur oleh hujan cukup deras. Aku tidak mendapati Tian di sampingku, hingga membuatku kaget dan bangkit duduk yang menimbulkan efek kunang-kunang di kepala.


Setelah efek kunang-kunang hilang aku mulai mengedarkan pandangan menyeluruh ke setiap sudut kamar. Dan tentu saja menemukan Tian yang sedang duduk lesu di lantai samping tempat tidur. Isak tangis yang cukup pelan terdengar darinya, hingga membuat hatiku getar-getir merasa sakit oleh suara tangisannya yang pelan. Aku masih belum berani mengusik kesedihannya yang terlalu larut seperti sekarang, tapi aku juga nggak kuat melihat bulir bening itu semena-mena membasahi pipinya.


"Hei... Kamu lagi ada masalah ya?" Tanyaku setelah turun dari ranjang dan memeluknya


"..." Dia balas memelukku masih dengan  isak tangisnya


"Kalo kamu mau cerita... Aku bakal dengerin kok!"


"..." Tian masih diam semakin sedih

__ADS_1


"Sayang!!... Kamu jangan buat aku bingung dong... Kalo ada masalah ceritain aja siapa tau, setelah cerita beban kamu bisa berkurang..."


"Aku... Aku..."


"Iya, kamu kenapa?"


"..." Tian diam dan semakin erat memelukku hingga membuat kepalaku jadi sakit


"Sayang..."


"Aku... Aku minta maaf, karena udah sering nyakitin kamu... Aku udah sering melanggar janji kita dulu... Tapi kenapa kamu diam aja saat aku melakukan kesalahan... Kenapa?... Kamu seakan-akan menjauh dari ku... Walaupun kamu membenci dan muak dengan suami bodoh seperti ku ini... Tapi aku nggak mau kamu semakin jauh bahkan lepas dari kehidupanku... Aku tulus sayang dan cinta sama kamu!" Akhirnya Tian mengeluarkan unek-unek nya


"Maaf..."


"Kamu nggak salah apa-apa.... Tapi kenapa kamu yang selalu memulai  kata maaf? Kenapa?... Apapun dan siapapun yang nantinya berebut ingin mendapatkan kamu... Aku tidak akan pernah melepaskan kamu... Walaupun kamu hidup sengsara dengan pernikahan kita... Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil kamu dari aku!"


"Iya, aku juga nggak bisa pergi kemana-mana kan... Jadi sekarang tenangin diri kamu dulu ya..."


"AKU SERIUS! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SIAPAPUN MEMBAWA KAMU PERGI DARI KEHIDUPANKU! AKU BERSUMPAH ATAS NAMA TUHAN, JIKA AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN KAMU!"


"..." Aku sedikit terhenyak dengan penekanan kalimatnya


"Kamu janji kan, nggak akan ninggalin aku?"


"Iya aku janji... Karena setelah anak kita lahir, siapapun tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua..."


"Bahkan sebelum anak kita lahir, tidak ada yang akan bisa mencuri kamu dari aku... Apapun rintangannya akan aku hadapi, demi kamu Dan anak-anak kita!"


"Aku percaya sama kamu..." Sahutku dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningnya


Kemarahan, ketakutan, kebencian, dan rasa tertekan takut kehilangan sesuatu dari wajah Tian mulai memudar, setelah dia mengatakan apa yang ingin di katakannya. Selama pernikahan kami, baru akhir-akhir ini aku merasakan apa itu kebahagian dari pernikahan. Aku yang dulunya menikah tanpa di dasari cinta dan rasa sayang, sekarang hatiku telah sepenuhnya tergerak oleh kehangatan dan ketulusan yang di berikan oleh Tian sepanjang waktu.


Sejak awal aku memang tidak menyesali pernikahan ini, karena saat itu obsesi ku menikah dengan Tian adalah karena harta yang di janjikannya. Tapi seperti kataku dulu, jika aku udah suka dan cinta dengan suami sendiri, bukan harta lagi obsesi ku melainkan diri suamiku itu obsesi baru bagiku. Entah kenapa aku merasa sangat bersyukur telah bertahan hidup selama ini, mungkin inilah balasan dari kesabaran ku saat menjalani hidup yang membingungkan.


"I LOVE YOU ALLAH SWT" karena telah mempercayakan cinta seseorang ke hamba mu ini😊

__ADS_1


*****************************~


__ADS_2