
Sebulan telah berlalu dengan cepat...
Pagi datang dengan cepat, sedangkan aku masih sibuk di bawah selimut menikmati kehangatan kasur. Setelah sholat Subuh beberapa menit yang lalu, aku memilih kembali tiduran di kasur tipis hangatku. Hari ini nggak ada jadwal di kampus hingga bisa membuatku berleha-leha di kamar ini menikmati kesendirian mewah milikku. Tapi oh tapi aku melupakan satu janji... Ya emang sengaja kagak mau mengingatnya aja.
"Ruuuu!!!! bangun!!! udah pagiiii!!!" teriak Dewi sambil menggedor-gedor pintu kamarku
"..." aku mendengarnya tapi malas menanggapi
"Ru!!! jadi kagak nih lari pagi?" teriak Dewi sampai tercekik
"..." aku masih diam
"Ru! kamu kan udah janji mau lari pagi bareng kita!" teriak Vina anak pemilik kosan ini, lebih pelan dari Dewi
"Ru!! jangan ingkar janji dong!" tumben Sierra angkat bicara
"Iya...iya...iya... Dasar bawel!" Dumelku dan segera memasang hijab dan membuka pintu
Saat membuka pintu, aku dikagetkan dengan dandanan mereka yang kayak mau pergi ke kondangan. Sierra yang juga jarang pake make up, hari ini malah terlihat manis dengan balutan bedak tipis serta lipstik senada warna bibirnya. Kalo Dewi sama Vina mah, kagak usah di jelasin juga semua orang tau, kalau mereka penggila yang namanya make up.
"Tunggu bentar! gue mau dandan juga!" kataku dan menutup pintu lagi
"Ru!! udah kagak sempat nunggu Lo dandan!" kesal Dewi memukul pintu kamar gara-gara ku kunci dari dalam
"Bentar doang!!" teriakku sambil memilih baju di lemari
Simsalabim abrak kadabrak... sat set sit... selesai juga dandannya dan cuma butuh waktu 6 menit. Aku segera keluar kamar setelah memasang sepatu kets kesukaanku dan menyusul mereka bertiga yang sedang duduk kesal menungguku di luar.
__ADS_1
"Let's go guys!!" teriakku semangat keluar rumah dengan gaya lompat terbang melewati pintu
"Tumben dandan! biasanya juga main buriq kalo keluar!" kata Vina menilai penampilanku
"Buriq-buriq cantik!!" kataku memasang wajah imut
"Iya in aja dah!!" kata Vina malas
"Btw kita mau kemana nih?" tanya Dewi
"Katanya lari pagi! ya udah ayo!!" kataku membalikkan badan bersiap-siap untuk lari
"Kita jalan-jalan aja sampai ke alun-alun kota!" kata Vina dan membuatku melongo
"Apa!! kenapa malah jalan-jalan! kita kan mau lari pagi?" tanyaku kesal
"Oke... gue duluan ya guys!!" kataku dan segera berlari mendahului mereka
"Hati-hati! tungguin kita di alun-alun kota!" teriak Vina yang kuacungi jempol
Dengan kesal aku akhirnya lari pagi sendirian, jarang-jarang loh aku rajin gini, biasanya juga malas kalo keluar. Hari-hari selalu kuhabiskan di dalam kamar dengan seribu tugas, hari ini mumpung libur sekalian aja refreshing. jalanan pagi lumayan ramai, ibu-ibu yang lagi beli dagangan tukang sayur terlihat sedang asik bergosip ria. anak-anak kecil berlarian kesana-kemari memainkan sebuah permainan lokal, jika disini menyebutnya sebagai permainan polisi-maling.
Permainan yang terbagi dari dua regu, regu satu menjadi polisi sedangkan regu dua menjadi maling. Ya sama kayak polisi ama maling, mereka saling kejar-kejaran menangkap maling-maling yang sibuk menghindari kejaran regu polisi. Liat anak-anak kayak gini udah jarang ada di kota-kota, gara-gara adanya gadget yang membuat anak-anak menjadi anti sosial. Tapi syukurnya di komplek ini, karena terbilang ada dikalangan sederhana, jadi hanya sebagian anak-anak yang tersentuh yang namanya gadget.
"Eh, nak Ruka! sendirian aja?" sapa seorang ibu-ibu yang sibuk mendengarkan gosip
"Yang lain di belakang! katanya mau jalan kaki aja!" sahutku sambil tersenyum ramah dan mengangguk
__ADS_1
"Oh... iya! tadi Hadi juga lari pagi! baru aja berangkat, cuman baru di depan komplek!" kata salah satu ibu berbadan gembor
"Siap makasih bu!" kataku dan melajukan lari untuk mengejar Hadi
"Iya sama-sama!" sahut sang ibu
Benar saja, di depan sana terlihat sebuah tubuh besar gembul sedang lari pelan sekali. Dialah Hadi, seorang siswa SMA yang berhasil ku motivasi untuk menurunkan berat badannya. Beberapa hari terakhir ini dari kabar yang ku dengar, Hadi menjadi giat olahraga dan pergi ke gym untuk menurunkan berat badannya. Aku sih merasa senang karena sekarang punya teman yang bisa di ajak lari bukannya jalan.
"Hadi! apa kabar bro?" sapaku sambil meninju bahu besarnya
"Baik! Lo sendiri gimana kabarnya?" tanyanya balik dan balas meninjuku
"Alhamdulillah... masih napas!!" candaku dan membuatnya terkekeh
"Kalo udah kagak napas lagi kabarin gue ya!" candanya
"Sip sip!! tapi dalam bentuk arwah gentayangan mau!!" balasku bercanda
"Nauzubillah... jangan sampai deh!!" katanya tertawa renyah seperti biasa
"Gue liat-liat! sekarang Lo agak kurusan ya? turun berapa ton?" tanyaku padanya
"Baru 20 kilo!" katanya sambil mengelap peluh
"Alhamdulillah... kagak jadi gue korbanin Lo tahun ini!!" candaku dan membuatnya tertawa dan meninju bahuku
Percakapan terus berlanjut hingga akhirnya sampai di alun-alun kota yang lumayan ramai. Kami berpisah disini karena aku harus nunggu trio lambat sedangkan Hadi mau lanjut keliling kota. Sambil nungguin mereka bertiga, aku memilih duduk di bangku bawah pohon beringin yang sangat rindang. Sambil sekalian liat kejadian tak terduga di dekat sana, maksudnya ada pasangan yang terancam punah! canda guys.
__ADS_1
Tidak jauh dari tempatku duduk ada sepasang kekasih yang sedang berdebat lumayan seru. Kayaknya si cewek minta putusan, tapi si cowok mati-matian ingin mempertahankan hubungan mereka. Sip lanjutin mas bro, penonton setia menunggu akhir kisah cinta kalian.