JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
26. Pertengkaran Lagi


__ADS_3

Sesampainya di kosan Putri segera pamit karena mendapatkan panggilan telpon dari nyokapnya. Wajah Putri terlihat sedikit ketakutan bahkan saat mengucap salam terdengar suaranya bergetar. Ada apakah gerangan? hingga Putri menjadi seperti itu. Aku ingin bertanya tapi Putri keburu tancap gas, untuk sementara tahan dulu pertanyaan ini.


"Assalamualaikum.... eitss... kalian kenapa sih!!" kataku yang kaget mendapati boneka milik Vina melayang ke arahku


"Bangsat!! Lo kira gue takut!!" tantang Dewi yang ada di samping pintu


"Dasar munafik!!! kalo mau berantem..."


"Kalian bisa diam dulu nggak!!" kesalku yang menyadari pertengkaran mereka


"Ru!! Lo nggak usah ikut campur... ini urusan kita!!" kata Dewi kasar padaku dengan mata yang memerah


"Urusan kalian urusan gue juga!" kataku menantang Dewi yang terlihat emosi


"Heh... Ru! Lo nggak usah pedulikan manusia munafik kayak dia!" kata Vina menghina Dewi


"Lo kalo punya mulut tolong dijaga..." kata Dewi marah menunjuk Vina yang berkacak pinggang


"Kenapa? nggak suka? makanya jangan jadi munafik..." kata Vina yang segera di lempari Dewi bantal di sofa


"Jangan mentang-mentang Lo yang punya kosan gue takut!!" kata Dewi segera menyerang Vina yang tersulit marah karena wajahnya di timpuk bantal

__ADS_1


Terjadilah adegan cakar-cakaran, dan makian yang saling mereka lontarkan kepada lawannya. Aku berusaha memisahkan perkelahian antar mereka, namun kagak bisa! malah aku yang terkena cakaran Vina yang sembrono dan membabi buta. Dewi masih bertahan di posisi unggulnya, karena berhasil menjabat rambut Vina, hingga membuatnya terdongak ke atas. Sedangkan Vina sedikit gagal melancarkan serangannya ke wajah Dewi, hingga terdapat beberapa bekas cakaran.


Aku dilanda kebingungan, namun di detik berikutnya segera berlari kekamar mandi untuk mengambil seember air. Setelah ember besar berisi setengah air, berada di tanganku, aku segera membawanya keluar. setelah dekat dengan keduanya yang telah guling-guling di lantai, aku segera menyiram mereka. Mereka berdua tersedak air yang kusiram hingga membuat kedunya menghentikan pertengkaran dan menatapku marah. Namun di detik berikutnya mereka malah melanjutkan perkelahiannya.


"KALIAN BISA TENANG SEBENTAR NGGAK!!!" teriakku kesal dan berhasil memisahkan keduanya yang basah kuyup


"Apa Lo... masih mau ngajak berantem!!" tantang Vina yang kutenangkan


"VIN!! LO BISA TENANG DULU NGGAK!!" kataku segera menenangkannya sambil mencengkram kerah bajunya hingga membuat Vina tercekik


"SIAPA TAKUT! SINI LO KALO BERANI..." tantang Dewi yang jalan menghampiri ku dan Vina


"DEWI!! DIAM DI TEMPAT!!" pekikku padanya dengan tatapan tegas, hingga membuatnya berhenti melangkah


Karena merasa tertantang, Dewi segera melompat kearah Vina yang sedang kupegangi dengan melayangkan tinjunya , hingga mengenai rahang Vina yang masih tidak bisa memberikan perlawanan karena pegangan ku. Mulut Vina berdarah karena tinju yang di layangkan Dewi, namun Dewi masih marah dan hendak melayangkan tinjunya lagi kepada Vina yang tersungkur di lantai.


"PLLAAAKKK...." aku mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras untuk menyadarkan Dewi


"RU!!!" katanya menatapku dengan air mata yang menetes


"..." aku diam dan menatapnya tegas

__ADS_1


"BRENGSEK!!!" umpat Vina segera bangkit berdiri dan segera kutahan saat hendak menjambak rambut Dewi yang masih mematung tidak percaya mendapatkan tamparan dariku


"Kenapa! sekarang Lo mau lindungin manusia munafik itu..." Kata Vina kasar yang segera kusumpal dengan tamparan yang sama kerasnya dengan tamparan yang diterima Dewi


Sekarang mereka berdua menjadi diam menatapku dengan mata berkaca-kaca tidak percaya. Aku sengaja memberikan tamparan kepada keduanya, karena aku juga kesal karena terlibat dalam perkelahian mereka berdua. Bahkan hidung pesek ku terasa perih yang terkena cakaran Vina.


"KENAPA!! MERASA NGGAK PERCAYA KALO GUE BAKAL TAMPAR KALIAN?" kataku penuh penekanan dan kembali membuat air mata Dewi menetes yang segera di usapnya


"Vin, Dew... kita udah saling kenal selama dua tahun lebih... pertengkaran inipun bukan yang pertama kalinya bagi kalian... tapi kalian sadar nggak sih... selama ini gue nggak mihak siapapun dan hanya membiarkan kalian berantem!!" kataku masih kesal


"Salah dia, siapa suruh nyari...." kata Vina menyalahkan Dewi


"Lo diam dulu!!!" kesalku menghentikan kalimat Vina


"Kenapa setiap kali pertengkaran harus gue yang salah dimata kalian!!" kesal Dewi dan segera masuk kamar


"Vin!! apa lagi masalah kali ini?" tanyaku menghentikan langkah Vina yang juga hendak masuk kamar


"Lo tanya sendiri sama tu munafik bangsat!!" kesal Vina menghempaskan tangan ku


Setiap kali pertengkaran pasti akan berakhir seperti ini, tapi ini pertama kalinya aku melakukan kekerasan fisik untuk menengahi mereka. Mungkin hal ini akan sangat membekas dalam batin Dewi yang telah mengganggapku lebih dari teman, melainkan keluarga. Entah kenapa juga hari ini aku bisa melakukan penyerangan fisik seperti tadi? aku pu. bingung, apa karena tekanan batin yang selama ini kupendam?. Entahlah yang jelas sekarang aku semakin kesal, saat melihat Blacky yang hanya diam santai di depan pintu kamarku memperhatikan pertengkaran ini.

__ADS_1


Aku hendak menemui Dewi untuk menenangkannya, tapi nggak jadi saat memikirkan jika Dewi saat ini butuh waktu untuk menyendiri. Mungkin beberapa jam lagi aku akan mengajaknya bicara empat mata, dan menenangkannya seperti biasa yang kulakukan. Beginilah peranku dalam hidup mereka semua, jika bukan sebagai tempat curhat, ya sebagai penenang sekaligus penyemangat mereka. Hmmm... aku juga butuh sosok yang seperti diriku dalam hidup ini. Masa aku harus curhat dan minta semangati dari diriku sendiri! kan kagak lucu, bukannya mengurangi beban pikiran malah nambah-nambah in aja. Aku pun capek harus hidup seperti ini!.


__ADS_2