JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
*AKU MENCINTAI SUAMIKU*


__ADS_3

Di luar langit bersinar dengan cerah setelah hujan sepanjang sore, malam juga telah larut. Aku sempat kaget saat terbangun dari tidur, karena ukuran perutku yang udah mengecil. Tian tidak terlihat di kamar, sayup-sayup aku mendengar suara tangis salah satu anak ku di luar. Setelah selesai melahirkan barusan aku hanya sempat menyusui mereka sedikit, tapi sepertinya mereka masih lapar karena sekarang malam juga telah larut.


Aku bangun dari tempat tidur, walaupun rasa sakit dan perih masih mendera tubuhku, tapi aku tetap memaksakan melangkah keluar kamar. Semua orang sedang sibuk menenangkan si kecil yang menangis dengan wajah penuh kebingungan. Baru beberapa langkah aku berjalan, rasanya tenagaku kembali terkuras habis dalam sekejap. Tapi aku tetap memaksakan diri keluar kamar, karena suara tangis si kecil mengusik batinku.


"Cup cup cup... Tuan muda kecil anak pintar..." Bi Murni berusaha menenangkan si kecil yang masih menangis


"Sasa... Cepetan! Bikin susu formula aja lama banget!" Kesal Ica yang ikut menenangkan si kecil


"Bi... Biar saya aja yang gendong..." Pinta Tian mengambil si kecil dari Bi Murni


Sedangkan si kecil satunya ada di gendongan kakek dengan tenang, satu cerewet satunya diam ayem dengan tenang. Masih tidak ada yang sadar dengan diriku yang sedang tertatih-tatih menuju sofa ruang tengah di mana mereka di bikin sibuk oleh si kecil. Sasa membawa susu formula dengan tergesa-gesa menuju ke arah Tian yang menggendong si kecil yang lagi cerewet.


"Sayang!" Panggilku pada Tian yang kebingungan karena si kecil masih menangis padahal sudah di kasih makan


"Sayang! Harusnya kamu jangan banyak gerak... Wajah kamu jadi pucat lagi kan!"


"Ooeeekkk... Oeekkk..." Tangis si kecil


"Sini... Biar aku yang gendong..." Pintaku pada Tian agar memberikan si kecil padaku


"Oo...oeek...ooeek..." Si kecil jadi sesegukan


"Cup cup cup... Sayang! Sini biar mama gendong...." Tangisnya mulai reda


"Ca! Ambilin kursi!" Perintah Tian pada ica


"Ini tuan..."


"Sayang! Duduk dulu..." Pinta Tian lembut


"Bismillah..." Saat hendak duduk rasanya tubuhku seperti di sayat-sayat sesuatu


"Kamu kenapa keluar? Harusnya tadi panggil aku aja..."


"Nggak apa-apa, sekalian perenggangan..."

__ADS_1


"Kamu harusnya jangan banyak gerak dulu... Kamu itu habis ngelahirin, harus istirahat yang banyak..." Omelnya


"Iya aku tau! Tapi kan si kecil nangis, sebagai ibu aku mana tega biarin dia nangis terus... kamu udah ngabarin Abah sama mama di kampung kan?"


"Udah! Besok semuanya bakal datang ke mari... " Katanya sambil mengelus kepalaku


"Sayang!..." Kataku meminta bantuannya untuk berbalik, karena aku hendak menyusui si kecil


"Pelan-pelan..."


Rasa hangat penuh kasih sayang menelisik masuk ke dasar hatiku yang paling dalam, saat aku merasakan sensasi si kecil saat meminum asi di tubuhku. Walaupun keduanya adalah kembar identik aku tetap bisa membedakan yang mana si kecil yang lahir dengan masih di balut ketuban. Si kecil yang kugendong sekarang yang lahir dengan balutan ketuban, sedang kan yang ada di gendongan kakek adalah anak pertama kami.


"Sayang! Kamu udah nentuin yang mana Tristan yang mana Krisan kan?"


"Udah! Yang ada di gendongan kakek Krisan, karena dia kakak! Sedangkan si cerewet ini namanya Tristan..." Gemas Tian mencubit pipi si kecil lembut


"Aku senang deh..."


"Karena?"


"Karena sekarang aku memiliki 3 orang Tian di sisi aku... Rasanya seperti mimpi!"


"Ooeekkk....ooeekkk...." Tiba-tiba Krisan yang ada di gendongan kakek nangis dengan kencang


"Eh... Dede bayi nya cemburu sama kembarannya ya?" Tanya Ica menoel-noel pipi Krisan lembut


"Ca! Tangan Lo udah bersih kan? Jangan pegang-pegang Dede bayinya... Tangan Lo ada kumannya!" Kata Sasa dan Lia mengomeli Ica


"Enak aja... Tangan gue bersih tau!" Kesal Ica pada Sasa dan Lia


"Sudah-sudah jangan ribut... Nanti dede bayinya bangun!" Tegur bibi menghentikan pertengkaran mereka karena melihat Tristan yang udah tertidur


Kakek memberikan Krisan yang lagi nangis padaku, lalu mengambil Tristan yang ada di gendongan Tian. Sempat terjadi adu mulut di antara keduanya karena memperebutkan Tristan yang diam ayem karena tertidur. Setelah Krisan dan Tristan tertidur, aku segera meminta kakek dan Tian meletakkan mereka berdua di tempat tidur bayi yang ada di kamar. Berhubung malam juga telah larut, aku meminta semuanya untuk beristirahat tidak terkecuali kedua Bu dokter dan perawat yang mengawasi si kecil.


Awalnya mereka tidak ingin pergi istirahat karena masih ingin memandangi wajah si kecil, padahal malam telah benar-benar larut. Bahkan kakek bersikeras hendak menemani si kecil tidur, hingga aku meminta bantuan Bu dokter agar membuat semuanya kembali istirahat. Setelah Bu dokter memberikan penjelasan jika aku dan kedua bagiku harus banyak-banyak istirahat untuk memulihkan tenaga. Akhirnya setelah setengah jam Bu dokter memberikan penjelasan semua orang memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


"Sayang! Kamu pasti juga capek..."


"Aku nggak capek... Kamu tidur aja duluan, aku masih pengen liat si kecil!"


"Sayang! Kamu juga butuh istirahat... Besok kan kamu masih harus ke kantor!"


"Aku mau cuti dulu, aku pengen habisin waktu sama kamu dan anak-anak untuk beberapa bulan ke depan!"


"Aku sih nggak masalah kalo kamu cuti lagi buat ngabisin waktu sama aku dan anak-anak! Tapi gimana pekerjaan kamu?"


"Masalah pekerjaan, untuk sementara aku akan memberikannya pada sepupu aku!"


"Sama Rion? Dia udah pulang ke Indonesia? Kapan? Kok aku nggak di kasih tau!"


"Dia juga datang secara tiba-tiba, karena dengar kamu mau lahiran... Katanya sih, baru sampai tadi siang!"


"Oohhh... Gitu! Yaudah, bagus deh kalo ada yang bisa gantiin kamu sementara di kantor... Tapi kamu harus istirahat sekarang! Kamu keliatan capek banget..." Aku membelai wajah lelahnya lembut


"Tapi aku masih pengen main sama anak-anak!" Manjanya


"Mereka kan juga udah tidur! Besok pagi kan bisa..."


Akhirnya setelah di bujuk untuk ke sekian kalinya, akhirnya Tian naik ke ranjang untuk membaringkan tubuh lelahnya. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 00.25 malam yang menjelang pagi hari. Walaupun aku yang lelah ngelahirin si kembar, tapi aku juga tau jika Tian lelah secara mental. Karena dia memiliki beban pikiran yang cukup berat jika di telusuri, memikirkan anak-anak yang masih kecil, memikirkan diriku yang baru selesai melahirkan, bahkan memikirkan pekerjaan yang lagi ada masalah.


Belum lagi memikirkan keluargaku yang akan datang, serta memikirkan tentang keputusan nya. Mengenai menyerahkan wewenang di kantor ke pada Rion sang sepupu yang baru saja menyelesaikan studi S3 di Amerika. Aku pernah bertemu dengan Rion, saat kami pergi jalan-jalan keluar negri waktu kehamilanku yang masih muda dulu aku sempat di kenalkan dengan Rion.


Rion adalah pemuda yang seumuran dengan Tian, sayangnya sampai saat ini Rion masih belum menemukan pasangan hidup yang sesuai harapannya. Soalnya Rion itu tipe fuckboy, yang suka sekali membuat lawan jenisnya baper, tapi hanya di awal kenalan doang.


"Sayang! Terimakasih karena kamu sudah sabar menjadi istri aku selama ini!" Lirih Tian dengan nada bergetar


"Aku juga berterimakasih sama kamu! Karena telah menjadi suami dan pendamping hidup aku, tanpa kenal kata lelah!" Aku tersenyum padanya yang tersenyum getir menatapku dengan penuh kasih


"Terimakasih banyak sayang..." Tian memberikan sebuah kecupan hangat di keningku sebagi rasa terimakasih nya


"..." Aku masih menatapnya dengan senyum

__ADS_1


Rasanya aku mengerti apa itu kebahagian, mungkin seperti yang kurasakan sekarang. Kebahagian yang sangat sulit di gambarkan dengan kata-kata karena hanya bisa di rasakan tanpa bisa di raba ataupun di sentuh. Ku harap rasa ini akan bertahan lama menemani hidupku yang sebelumnya sangat kacau.


"Aku mencintai suamiku" kalimat itu seakan-akan tercetak di hatiku saat ini


__ADS_2