
Aku benar-benar telah mengalihkan pikiranku sepenuhnya pada pekerjaan sekarang, saking fokusnya aku tidak sadar jika pak CEO menatapku dari depan meja. Aku masih fokus dengan layar komputer, mengerjakan semua berkas yang harus kuselesaikan, hingga membuatku tersadar akan jadwal pak CEO siang ini. Saat aku mendongak , aku hampir terjungkal ke belakang sama kursi yang menjadi sandaranku karena pak Tian sedang menatapku seperti itu.
"Astagfirullah... Sejak kapan bapak berdiri di situ!" Kagetku sambil mengelus dada
"Ikut aku ke dalam!" Katanya dan melangkah masuk ke ruangan
"..." Aku segera mengikuti langkah beliau masuk sambil membawa buku agenda untuk jadwal beliau
Pak CEO menutupi kaca pembatas dan pintu sangat rapat, seakan-akan tidak membiarkan seekor lalat pun bisa keluar. Aku mulai tegang karena beliau hany berdiri membelakangiku dengan tangan yang menopang pada meja, sepertinya pikiran beliau masih penuh dengan permintaan pak Presdir.
"Pak mengenai jadwal siang ini..."
"Apa pendapatmu tentang permintaan kakek tadi?" Potong Tian padaku datar
"Saya tidak akan menikah dengan bapak!" Kataku tegas
"Kenapa? Apa karena kamu masih mencintai laki-laki itu!" Kata Tian tiba-tiba emosi dan mencengkeram bahuku
"Laki-laki yang mana maksud bapak?" Tanyaku menghempaskan cengkramannya
"Aku tanya... Apakah kamu mencintai Ainsley Pradana?" Teriaknya dan kembali mencengkeram bahuku kencang
"Pak! Lepasin saya..."
"Jawab..." bentaknya padaku hingga membuatku terdiam bisu menatapnya
"..." Aku melihat ada kemarahan sekaligus kekecewaan di matanya
__ADS_1
"Kenapa diam..." teriaknya hingga muncrat
"Pak! Bisakah kita bicarakan baik-baik! Jangan pakai emosi seperti ini!" Kataku sambil ngelap wajahku yang terkena muncratan air lidahnya
"Kenapa! Apakah kamu masih mencintai nya?" Kata Tian dan cengkeraman di bahuku semakin kencang
"Aku tidak pernah mencintainya... Apakah kamu puas!" Kataku marah karena cengkramannya menyakitiku
"Lalu kenapa kamu tidak ingin menikah denganku?" Tanyanya gusar penuh kebingungan
"Karena saya juga tidak mencintai bapak... lagian saya baru mengenal bapak 3 hari!" Kataku merenggangkan otot bahu
"Lalu kenapa kamu pacaran dengan Ain, sedangkan kamu tidak mencintainya?" Kata Tian hendak mencengkeram bahuku lagi namun aku sempat menghindar
"Karena saya percaya Ain akan melindungi kehormatan dan keamanan saya! Lagi pula apa hubungannya saya dan Ain pacaran dengan bapak!" Kesalku masih merenggangkan otot bahu
"Aduh... bapak menyakiti saya... lagian kita baru ketemu tiga hari pak!" Kataku berusaha melepaskan cengkramannya yang tidak juga di lepasnya
"Aku akan menyerahkan setengah... oh tidak semua kekayaan yang akan ku miliki kepadamu... asalkan kamu harus menikah denganku!" Kata Pak Tian membuatku tergiur
"Bapak serius... tapi untuk apa juga saya memiliki kekayaan bapak..."
"Kita akan punya anak sebanyak yang kamu mau...aku tidak akan melarangmu bekerja... dan seluruh kekayaan yang menjadi milik ku akan ku berikan kepadamu... menikahlah denganku!" Katanya menatapku tajam
"Bapak... lamarannya unik!" Kesalku dan masih berusaha melepaskan cengkramannya
"Jika kamu ingin lamaran yang lebih formal... Aku akan segera pergi melamarmu kepada calon mertuaku, sekarang kita pergi ketempat mereka!" Kata Tian menarik ku keluar namun segera ku hentikan saat hampir mencapai pintu
__ADS_1
"Tunggu dulu... bagaimana jika ternyata bapak hanya terpengaruh oleh hasrat sesaat saat ini? Lalu bagaimana nasib saya kedepannya jika ketertarikan bapak kepada saya hilang? Lagi pula saya tidak mencintai bapak!" Kataku yang hanya mendapat tatapan tajam darinya
"Maka dari itu... Aku akan memberikan semua kekayaan ku padamu... agar aku tidak bisa macam-macam kedepannya!" Katanya dan segera menarikku keluar
Di dalam lift aku mendapati sosok Tian yang angkuh ini terlihat tidak stabil, dia terus-terusan mendesah entah kenapa. Kenapa rasanya situasinya sekarang benar-benar seperti novel yang pernah ku baca dulu, aku bingung harus bertindak bagaimana. Di dalam novel yang ku baca, wanita itu awalnya menolak namun akhirnya jatuh hati kepada pemeran utama Laki-laki nya, apakah aku juga akan berakhir seperti itu. Kulihat pak Presdir tersenyum puas melihatku yang diseret keluar dari perusahaan oleh cucunya yang angkuh ini. Mobil hitam berjejer rapi di belakang mobil Tian yang sekarang sedang melaju di belakang mobil polisi yang membuka jalan untuk kami.
"Pak! Hari setengah jam lagi kita memiliki janji temu dengan presdir Trad di lapangan golf..." kataku mengingatkannya tentang pekerjaan
"Berhentilah memikirkan pekerjaan... sekarang kita akan menemui orang tua mu! Aku akan melamar dan menikahiku secara resmi, hukum sekaligus agama!" Katanya memotong kalimatku
"Apa! Tapi nanti malam bapak harus menghadiri perjodohan..."
"Sudah ku bilang berhenti membicarakan pekerjaan!" Kata Tian tajam memotong kalimatku lagi
"Akghhh....ini sangat tidak masuk akal!" Teriakku kesal melemparkan buku agenda
"Apakah kamu pikir cintaku selama ini juga tidak masuk akal?" Kata Tian terkekeh
"Ya... itu sangat tidak masuk akal sekaligus sangat gila..." kesalku mencubit tanganku sendiri karena kesal
"Berhentilah menyakiti dirimu sendiri..." kata Tian meraih tanganku dan menggenggam nya dan kembali fokus menyetir
"Lepas nggak?" Kataku berusaha mengancamnya dengan tinju agar melepaskan genggamannya
Dia hanya terkekeh puas karena telah membuatku kesal sampai seperti ini, rombongan berhenti di sebuah bangunan. Aku tahu bangunan ini, tempat ini adalah asrama pelatihan abah dan mama sebelum berangkat ke tanah suci. Apa ini? Kenapa hidupku menjadi seperti ini, ini sungguh konyol karena lamaran yang di katakannya benar-benar sangat cepat. Walaupun aku di berikan waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan pun aku akan tetap menerima lamarannya, tapi tidak perlu secepat ini juga kali.
Hanya orang bodoh yang akan melepaskan kesempatan menikah dengan seorang konglomerat yang bahkan rela memberikan seluruh hartanya untuk lamaran. Sekarang aku benar-benar tercengang dengan mimpiku dulu, aku yang bermimpi ingin menjadi istri seorang konglomerat, hari ini akan menjadi kenyataan.
__ADS_1