JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Hadiah Terindah


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu dengan cepat, karena selama dua bulan ini kulalui dengan perasaan hampa dan tidak bersemangat. Beberapa hari yang lalu aku menyadari ada sebersit firasat tentang kehilangan dalam hidupku. Seperti waktu dulu masih berusia belasan tahun aku suka menebak tragedi kematian yang akan terjadi, dan sekarang firasat itu kembali menghantui diriku.


Dalam beberapa hari ini pula aku selalu meminta perkembangan keseharian yang di lakukan orang tuaku di kampung, dari adikku. Beberapa malam ini pula aku merasa sangat gelisah karena takut firasat kematian itu, terjadi di dalam anggota keluarga ku. Tapi sejauh ini dari kabar yang terus ku pantau semuanya baik-baik saja di kampung. Aku sadar jika firasat kematian yang kurasakan tidak mengarah pada anggota keluargaku, tapi pada orang-orang yang saat ini satu kota denganku, yang pasti kenalanku.


"Akghhh..." teriakku frustasi memikirkan firasat gila ini


Sekarang aku sedang berbaring di sofa ruang tengah menonton berita dari televisi untuk mengalihkan pikiran gila itu. Tapi tiba-tiba aku merasa ada yang aneh dengan diriku dan aktivitas keseharianku selama dua bulan ini. Aku baru ingat, selama ini Ain hanya menghubungiku lewat ponsel saja, selama dua bulan ini pula kamu tidak pernah bertemu. Ain memang bilang jika ia akan pulang kampung untuk waktu yang lama, makanya aku slow aja tentang dirinya yang jauh disana, mungkin juga karena ia setiap hari memberi kabar padaku.


Oh iya, aku punya kabar gembira tentang Ain, sebulan yang lalu tepatnya hari ulang tahunku, Ain memberikan kado terindah dalam hidupku. Tapi hanya lewat suara dan gambar wajahnya di layar hp, dalam kata lainnya video call. Waktu itu dengan wajah berseri, ia bilang gini...


"Sayang! Kapan-kapan kita sholat bareng ya!" Katanya dengan senyum bahagia


"Pasti... Tapi nunggu kamu percaya dengan Tuhan aku dulu!" Sahutku dengan senyum bahagia pula


"Aku udah percaya kok... bahkan aku juga udah percaya Rasulullah SAW adalah utusan Allah swt..." katanya merdu menyebutkan dua nama sakral itu


"Ka...Kamu udah masuk islam?" Tanyaku kaget dengan mata membelalak saat itu


"..." Ain mengangguk dengan senyum berseri


"Alhamdulillah.... Masya allah... Sayang..." kataku mengucap syukur yang di ikuti setetes air mata bahagia yang di ikuti tetes berikutnya


"Sayang... kok kamu nangis! Jangan nangis dong... " katanya sambil mengusap layar hp berharap air mata di pipiku ikut terhapus juga


"Ya Allah... ini kado terindah yang pernah aku dapat di hari ulang tahun... huhuhuhu...." tangisnya semakin menjadi-jadi


Saat itu Ain benar-benar merasa kesal karena saat itu ia tidak ada di sampingku untuk mengusap air mata yang terus membasahi pipiku. Aku bahagia sekaligus terharu dengan apa yang di katakannya saat itu, bahkan ia juga memperkenalkan kedua orang tuanya padaku lewat layar pada hari itu. Kedua orang tua serta adiknya menjalani ramah, dan mengucapkan beribu terimakasih padaku karena telah menjaga Ain selama di Jakarta.

__ADS_1


Tapi bukannya selama ini Ain yang menjagaku, seharusnya aku yang berterimakasih, karena mereka telah melahirkan dan merawat Ain menjadi laki-laki yang selalu ada di sampingku selama satu tahun lebih ini. Dan beberapa hari setelah memberikan hadiah terindah itu, Ain tidak pernah membahas tentang pertunangan yang sangat di nanti-bangunannya selama ini, mungkin ia akan memberikan ku kejutan lagi nanti.


Aku tersenyum-senyum sendiri saat mengingat hari itu sambil memeluk bantal sofa, ternyata keluarga Ain sangat ramah dan baik, itulah yang membuatku bahagia. Tapi yang anehnya disini, bukankah keluarga Ain sangat harmonis, lantas mengapa ia menjadi pribadi yang dingin dan cuek? Dan selama ini pula aku selalu melihat sinar matanya begitu sayu di beberapa kali kesempatan, seperti ada beban berat yang harus di pikulnya. Aku malah berpikiran, mungkin hal itu karena para penagih utang yang terus-terusan mengejarnya.


Aku membereskan gelas dan sampah Snack yang ku makan bersama Fitri beberapa jam yang lalu. Hari ini Fitri kembali menceritakan keluh kesah nya yang tak kunjung habis. Kali ini dia meminta saran kepadaku tentang pekerjaan nya yang katanya beberapa hari terakhir ini sering kacau. Sekacau perasaan ku saat ini.


"...biar aku yang pergi...🎶" nada dering panggilan telpon di ponselku berbunyi


"Assalamualaikum cantik sayangku!" Sapa Ain saat panggilan terhubung


"Wa'alaikumsalam calon imamku sayang!" Sahutku membalas gombalannya


"Di panggil sayang nih sekarang... Dulu sayangnya kemana?" Kata Ain menggodaku, karena dulu aku nggak pernah panggil dia sayang


"Dulu sayangnya keselip di gigi..." candaku


"Nggak tau! Mungkin sayangnya nunggu waktu yang tepat... buat bilang 'Aku rindu kamu'..." kataku sambil memilin-milin ujung rambut


"Aku juga rindu kamu... doa in ya biar waktu cepat mempertemukan kita lagi!" Katanya dengan nada sedih


"Makanya, biar kita cepat ketemu! Bilang dong alamat rumah kamu di mana!!" Kesalku yang beberapa hari ini terus menanyakan alamat kampungnya


"Nanti biar aku aja yang nyusul kamu..."


"Dari dulu sampai sekarang... Kamu selalu keras kepala! Kan aku juga mau kasih kejutan ke kamu... aku merasa jadi pacar yang terlalu di tuan putrikan, sementara nggak bisa bikin pacar sendiri di pangerankan!!" Kesalku karena selama ini dia selalu berusaha membuat ku bahagia


"Kan memang harusnya gitu..."

__ADS_1


"Gitu gimana maksud kamu? Aku nggak bisa di manjain terus sama kamu... sekali aja! Kasih aku ruang buat bisa manjain kamu!" Kesalku memotong kalimatnya


"Sayang! Kamu nggak usah manjain aku kaya gimana-gimana... cukup kamu ada di samping aku aja udah berasa di manjain!" Gombal Ain yang membuatku merona


"Sekarang aku jago ngegombal ya! Tapi bagus deh... ketimbang kamu yang selalu pasang muka dingin dan cuek tapi perhatian!"


"Kamu lebih suka aku yang kayak gimana?" Tanya Ain dengan nada lemah


"Aku suka semuanya dari kamu!" Kataku dan menutup muka dengan bantal yang sedari tadi di pelukan


"Hmmm..." sahutnya semakin lemah


"Kamu ngantuk ya?" Tanyaku saat menyadari nada suaranya


"Iya nih..." sahutnya lemah


"Yaudah kamu istirahat yang baik disana... jaga kesehatan!"


"Hmmm..." sahutnya kayak orang setengah tidur


"Assalamualaikum sayangku..."


"Wa'alaikumsalam sayangku tercinta..." sahutnya dan panggilan pun kuakhiri


Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 2 pagi dini hari, pantesan hawa dalam ruangan menjadi semakin dingin, karena bisanya di jam-jam segini bangunan apartemen bakal kedatangan makhluk ghaib. Aku beranjak masuk ke kamar, dan mengunci semua jendela dan pintu, memastikan semuanya aman pula sebelum tidur. Besok saatnya tidur sampai siang, karena perusahaan mengadakan cuti bersama memperingati ulang tahun direktur perusahaan yang udah mencapai usia senja.


Tapi nanti malam aku harus menghadiri acara ulang tahun beliau di city hotel bintang lima, karena undangan resmi dari direktur perusahaan langsung. Bukan hanya aku yang di undang secara eksklusif oleh direktur, tapi seluruh karyawan perusahaan . Niatnya aku nggak mau datang, tapi katanya aku sangat di harapkan untuk datang, entah karena apa dan siapa yang mengharapkan kedatanganku. Yang jelas sekarang aku ingin segera tidur dan terlelap dalam kehangatan selimut.

__ADS_1


__ADS_2