JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
Rencana Gila


__ADS_3

Aku sedikit waspada saat melangkah masuk ke dalam mobil hitamnya yang terparkir di depan kantor polisi. Sekilas kulihat dia tersenyum sinis yang membuatku sedikit merinding, takut dia melakukan hal yang tidak-tidak. Saat mobil meluncur meninggalkan kantor polisi tidak hentinya aku berdoa di dalam hati, agar semuanya baik-baik saja. Ketakutan ku sedikit mereda saat mobil melaju di jalan yang menuju ke apartemen, walaupun begitu aku tetap sangat waspada.


Aku kaget setengah mati saat mobil hendak putar balik, tapi taunya malah mau ngisi bensin dulu, membuat jantung ku hampir copot saja. Selama mengisi bensin kulihat dia seperti sedang mencari-cari sesuatu, mungkin cctv yang kemungkinan bisa menjadi celah penyelidikannya. Setelah selesai mengisi bensin ia kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemen setelah menghubungi rekannya untuk mencari setiap cctv yang ada di sepanjang jalan menuju apartemen.


Sesampainya di depan gedung apartemen, kami segera menuju lantai dimana tempat kejadian perkara terjadi. Aku hanya tersenyum seramah mungkin saat berpapasan dengan beberapa ibu-ibu yang menggosipkanku beberapa waktu lalu. Saat pintu lift terbuka, aku mulai ragu untuk melangkah keluar, karena untuk apa juga aku melihat kejadian perkara jika itu tidak berhubungan denganku. Ingin sekali mengutarakan Pemikiran ku saat ini, tapi saat di tatap oleh anggota polisi lainnya aku hanya bisa tersenyum kikuk dan melangkah masuk apartemen Fitri.


"Apakah ada yang di temukan?" Tanya detektif itu pada salah satu penyidik lainnya


"Sampai sejauh ini tidak menemukan apapun... sepertinya pembunuhan satu ini di lakukan dengan bersih!" Sahut kawannya sedikit kecewa


"..." aku yang berdiri di belakang detektif itu, mulai menebak adegan pembunuhan di kepqla saat melihat tumpukan darah di kasur yang tercecer sampai ke lantai


Tanpa sadar aku mulai melangkah maju, menuju beberapa tempat yang udah di periksa oleh para anggota penyidik. Di rak buku hanya ada beberapa buku tentang akuntansi dan novel romance yang sangat di sukai Fitri, bahkan buku novel yang di pinjam ya dariku pun masih ada di sana. Aku duduk jongkok, di depan rak buku sampul menangis kesal karena kepalaku sedang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan tidak berdasar.


Lalu aku teringat, jika beberapa kamar apartemen di lengkapi dengan ruang rahasia yang hanya di ketahui pemilik kamar letak ruangan itu di mana. Namun hanya ada beberapa orang yang tahu dengan ruangan itu, akupun baru tau setelah Lisa memberitahukannya padaku jika ada ruang rahasia di kamarnya. Ruang rahasia di kamarku ada di lantai depan televisi, aneh memang dekorasinya kenapa harus begitu.


"Walaupun kemungkinannya sangat kecil..." kesalku segera bangkit dan saat berbalik malah hampir menabrak si detektif yang berdiri di belakang ku, entah sejak kapan


"..." dia terlihat kaget sama sepertinya saat tubuh kami hampir bertubruk kan


"Eh... anu itu... di beberapa kamar apartemen mempunyai ruang rahasia... yang kemungkinan kecil juga ada di kamar ini!" Kataku dan melangkah menuju kamar mandi


"Coba kalian cari ruangan itu!" Perintahnya kepada yang lain


"Baik!!" Sahut yang lain serempak


"Apakah kamu menemukannya?" Tanya detektif itu setelah lama aku hanya berdiri melamun


"Eh... belum!" Kagetku dan bangun dari lamunan

__ADS_1


"..." dia ikut masuk dan juga terlihat sedang mencari-cari keberadaan ruangan itu


"Ada yang aneh..." kataku saat melihat saluran pembuangan air di kamar mandi tersumbat oleh serpihan putih yang sepertinya itu bekas tisu


"Kenapa?" Tanya detektif itu


"Mungkin hanya... Apakah tim forensik bisa meneliti tubuh korban! Jika dia belum atau sudah mandi?" Tanyaku berharap kecil


"..." si detektif hanya diam, dan segera menelpon tim forensik dan menanyakan pertanyaan ku barusan


"Bagaimana?" Tanyaku setelah ia menutup telpon


"Tidak di temukan zat kimia apapun di tubuh korban, selain obat bius!" Jawabnya datar


Sebelum aku sempat melangkah menuju saluran pembuangan, detektif itu melangkah duluan dan membuka saluran pembuangan, lalu memasukkan tangannya. Dan saat ia menarik keluar tangannya, di temukan bercak darah yang hampir membeku menempel pada tangannya. Eh... firasat ku benar, jika tersangka sempat membersihkan diri sebelum pergi meninggalkan tempat ini.


"Dimana ayah korban saat ini?" Tanyaku menghampirinya


"Tidak! Aku...."


"Pak! Kami menemukan urakan itu di dapur!" Lapor seorang polisi yang memotong kalimatku


Aku segera beranjak menuju dapur, penasaran dengan apa isi dari ruangan kecil itu. Karena waktu aku menemukan ruangan di depan televisi di kamarku dulu, di sana berisi beberapa barang elektronik yang telah rusak. Tapi saat melongo keriangan kecil yang gelap itu, aku tidak menemukan apapun di sana.


"Aneh nggak sih! Kok bagian sini tidak terkena debu?" Tanyaku menyadari ada bagian yang tidak berdebu, seperti barang di dalam ruangan ini telah di ambil oleh pemiliknya


"Mungkin telah dipindahkan oleh korban! Atau jangan-jangan..." kata salah satu polisi


"Jangan-jangan apa?" Tanya kawannya pemasaran

__ADS_1


"Emang kebetulan nggak kena debu!!" Sengitnya sambil menggaruk tengkuknya


"Jika di lihat dari segi manapun, ruangan kecil ini seperti udah lama tidak di buka... dan juga ada kemungkinan jika korban nggak tau ada ruangan kecil di dapurnya.... karena ruangan kecil ini hanya ada di beberapa kamar!" Kataku sambil kembali mikir


"Kalian berdua! Pergi ke ruangan manajer apartemen dan minta semua berkas-berkas orang yang sempat menempati ruangan ini tanpa kurang satupun!" Kata detektif itu meminta dua polisi bergerak


"Pak saya mau pulang aja boleh nggak?" Tanyaku saat memikirkan bahaya yang kemungkinan akan datang padaku


"Silahkan... tapi setelah melewati beberapa prosedur!" Katanya datar


"Pak! Gimana kalo nanti pembunuhnya menjadikan saya target berikutnya... karena terlalu ikut campur dalam penyelidikan? Apalagi, dari caranya membunuh sangat bersih hingga tidak meninggalkan jejak... ada kemungkinan pembunuhnya berpengalaman..." kataku mengatakan ketakutan yang ku rasakan


"Tenang kami, akan menyembunyikan identitas anda!" Kata salah satu polisi


"Tapi... yang namanya juga pembunuh berpengalaman, ya kan nggak mungkin diam menunggu mangsanya kabur... Mungkin saat ini saya lagi di awasi olehnya!" Kataku sedikit emosi


"Baiklah... kalau begitu kami akan memberikan pengawalan 24 jam pada anda..."


"Kalau saya di kawal oleh polisi... apa nggak terlalu mencolok, kemungkinan nyawa saya dalam bahaya semakin besar dong!" Kataku drmatisir gara-gara kebanyakan nonton film action


"Lalu kamu maunya gimana?" Tanya detektif itu tajam


"Saya juga bingung! Tapi kalau mau menangkap pelaku... berarti saya harus di targetkannya sebagai mangsa berikutnya agar pembunuh nya segera tertangkap! Mungkin jika tersangka belum tertangkap hidup saya nggak bakal aman!" Kataku sedikit muter


"Jadi sebenarnya mau anda bagaimana?" Geram detektif itu


"Bagaimana kalau... sebarkan berita jika saya adalah saksi mata yang melihat tersangka saat melakukan pembunuhan, untuk memancing tersangka dalam perangkap yang nanti di atur oleh kalian para polisi! Tapi berita saya sebagai saksi jangan terlalu besar... sekedar informasi yang di curi dari pihak polisi oleh sebuah stasiun berita... agar tersangka nggak curiga kalo ini perangkap... biarlah nyawa saya taruhannya! Yang penting tersangka di tangkap!" Kataku memberi usul yang tentu saja nantinya di lakukan oleh para polisi


"Baiklah jika itu mau kamu!" Kata detektif itu

__ADS_1


Hari itu juga semua rencana di atur semanis mungkin dan semenakjubkan mungkin, jantungku berdetak tidak jelas karena memikirkan kejadian action yang akan terjadi nantinya. Akhirnya apa yang hanya bisa ku bayangkan terjadi secara nyata dalam hidup ini, walupun nyawa taruhannya. Kita lihat sebagus apa permainan polisi dan tersangka yang akan di jadwalkan mulai satu jam kemudian.q


__ADS_2