
Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke kantor untuk menghindari kemacetan dan juga hukuman yang mungkin akan ku dapatkan jika bos ku itu ada di kantor duluan. Semalam aku masih ingat jika beliau memiliki niat jahat jika aku terlambat sedikit saja, jadi hari ini aku harus datang lebih pagi darinya. Aku akan membuatnya kembali sibuk seharian dengan berkas yang masih ada di daftar tugasku. Jadwalnya hari ini juga agak banyak keluar, nanti siang Tian harus menghadiri jamuan makan keluarga Trad, perusahaan yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Tr tempatku bekerja ini.
Lalu nanti sore pak Tian harus menemani pimpinan dari perusahaan lain bermain golf, udah kayak di novel-novel roman CEO yang biasa ku baca aja. Lalu malamnya ada janji temu dengan wanita yang di jodohkan keluarganya untuk Tian, manusia angkuh itu, apakah akan pergi nanti malam? Aku hanya akan berharap dia akan pergi, dan tidak akan menyulitkan pekerjaanku. Sesampainya di perusahaan aku berpapasan dengan atasanku itu, yang terlihat sedang sakit kepala.
"Pagi pak!" Sapaku padanya dan setelahnya segera berlari menuju lift karyawan yang penuh sesak
"..." pak Tian juga segera berlari menghampiri lift eksekutif miliknya
"Maaf ya... Aku harus cepat-cepat sampai di kantor CEO!" Kataku memaksakan masuk di kerumunan yang ngedumel karena terlalu sesak
Sialnya di lift kenapa lama banget sampainya, kenapa harus berhenti di setiap lantai pula, membuatku jantungan saja. Bisa gawat hidupku jika pak CEO angkuh itu sampai duluan di kantor, bisa-biasa aku tetap kena hukuman walaupun nggak telat. Aku selalu buru-buru menutup lift agar menghemat waktu, beberapa orang yang tidak sempat naik ke dalam sepertinya mengumpat kesal padaku yang terlalu buru-buru menutup pintu lift. Aku tersenyum ramah setiap kali menurunkan satu karyawan di lantai departemen nya, dan juga memberikan senyum pada karyawan yang masih tersisa di dalam lift.
"Kenapa lama banget..." runtukku pada lift yang belum juga sampai di lantai kantor pak CEO
"Santai aja... lagian kan masih belum telat!" Kata salah satu karyawan yang terusik denganku
"Telat kagak... tapi kalo duluan pak CEO sampai kantor kan aku bakal kena... hukuman..." kataku segera berlari secepat kilat setelah pintu lift terbuka
Orang-orang yang departemennya di lantai ini juga merasa horor saat aku melintas dengan kecepatan penuh menuju kantor CEO. Aku berlari secepat mungkin tapi tetep aja duluan pak CEO yang sekarang sedang berdiri dengan tangan yang masuk kantong dengan senyum liciknya.
"Pagi pak CEO!" Sapaku sambil mengatur nafas setelah sampai di depan beliau
"Kamu telat!" Katanya menatapku dengan senyum liciknya
"Saya datang lebih awal kok... masih ada lima menit sebelum jam masuk kantor!" Kataku melihat jam di tangan
"Jam kerja kamu bukan di tentukan oleh waktu... tapi keberadaan saya! Hohoho... karena saya datang duluan saya akan memberikan hukuman!" Katanya sambil memajukan wajahnya
"..." Aku terdiam karena wajah beliau dengan wajahku terlalu dekat
"Akhmmm... hukuman apa yang pantas untuk karyawan yang telat ya!" Katanya segera menarik wajahnya kembali dan memikirkan hukuman untukku
"Pak! Nggak adil dong kalo gitu... terserah bapak deh!" Kesalku dan beranjak ke meja kerjaku mengabaikan beliau yang masih mikir
"Aha... Aku tahu hukuman apa yang cocok! Sekarang juga kamu belikan kopi di cafe Litaa untuk semua karyawan di lantai ini!" Kata beliau membuatku membelalakkan mata
"Tapi pak..." Aku hendak protes
__ADS_1
"Kalo kamu tidak melaksanakan hukuman ini... jangan harap saya akan bekerja seperti jadwal!" Katanya puas dan berlalu masuk ke dalam kantornya
"Cafe Litaa kan jauh..." kesalku pasrah
Aku menatap sinis ke arahnya yang sedang mengancam ku dengan kemalasannya , jika aku tidak menuruti maunya, nanti aku juga yang susah. Akhirnya dengan terpaksa aku melangkah hendak menuju lift karyawan, tapi ada satu hal yang melupakan dan itu sangat penting dalam hukumanmu ini.
"Permisi pak! Uang buat beli kopinya mana ya pak?" Kataku kepada pak Tian yang sedang tertawa puas di kursinya
"Lah... pakai uang kamu dong!" Kata pak Tian menatapku kaget
"Kok pakai uang saya sih pak? Kan bapak yang nyuruh!" Kesalku, karena tidak ingin mengeluarkan sepeser pun uang untuk hari ini
"Kan kamu yang dapat hukuman!" Balas nya tajam
"Tapi kan..."
"Kalo kamu berlama-lama di sini, itu lebih baik! Berarti saya tidak perlu kerja hari ini... hahaha..." katanya memotong kalimat ku dan tertawa puas
"..." sekali lagi aku menatapnya dengan sinis serta penuh dendam
Dengan menggunakan mobil perusahaan kami bertiga berangkat ke kafe yang jaraknya 5 km dari kantor. Sumpah atasan brengsek kayak dia itu, hobinya cuma bikin susah karyawan doang, aku benar-benar sedang kesal.
"Akgrrhhh... kenapa macet..." teriakku kesal dalam mobil saat terjebak macet
"Sabar mbak! Namanya juga Jakarta..." kata Avian yang lagi nyupir
"Kenapa harus beli kopinya di cafe sejauh ini sih mbak?" Tanya Rian yang duduk di belakang
"Kalian tau pak CEO yang brengsek itu... ngasih hukuman ke aku hanya karena dia lebih dulu sampai di kantor... mana belinya harus pakai uang sendiri lagi... Sumpah pengen gue gigit tu kuping atasan brengsek!" Kesalku semakin menjadi-jadi karena ni macet baru jalan
"Kenapa nggak beli di kafe deket kantor aja mbak?" Usul Rian
"Kalo si brengsek itu tau aku beli di kafe dekat kantor... dia pasti nyuruh aku beli yang baru lagi... kan yang rugi aku lagi! Mana satu jam lagi harus menghadiri rapat pula!" Kesalku melihat jam di tangan
Sesampainya di kafe Litaa aku segera memesan 52 buah kopi berbagai rasa, karena tidak sempat nanya kopi apa yang mereka sukai. Kelamaan nunggu, setelah membayar semuanya aku segera pamit duluan dengan membawa dua buah kopi untukku dan atasan brengsek itu. Untung di dekat sini ada pengiklan ojek, dengan abang ojek aku menyelip di antara kemacetan yang terjadi. Kena getahnya semakin parah saat hampir mendekati kantor, bahkan yang awalnya masih bisa nyempil di celah-celah sekarang udah nggak bisa. Terpaksa harus pakai cara cepat sekaligus melelahkan, yaitu lari secepat mungkin.
"Bang! Ini ongkosnya... saya turun di sini ja! Makasih pak!" Kataku segera mengambil celah untuk naik ke trotoar
__ADS_1
"Mbak! Ini kebanyakan..." teriak abang ojek saat aku turun
"Rezeki abang..." balasku berteriak dan segera berlari
Aku melepaskan sepatu yang ber hak tidak terlalu tinggi ini, dan menentangnya di tangan satunya. Trotoar cukup panas, sampai membuatku beberapa kali mendesis kepanasan, kaus kaki hitamnya sepertinya udah bolong di bagian tumit, tapi aku nggak peduli. Karena jadwal rapat tinggal 20 menit lagi, aku berlari dengan kecepatan penuh, hingga membuat para pejalan kaki lainnya tercengang. Sesampainya di halaman perusahaan aku masih berlari kencang tanpa sepatu.
"Pak! Tolong bukain pintunya!" Teriakku membelah kerumunan karyawan yang berlalu lalang
"Hati-hati jatuh... hehehe!" Kata pak satpam saat aku lewat
"Makasih pak!" Kataku dn segera berlari ke arah pintu lift yang mulai tertutup
"Cepetan..." teriak karyawan di dalam lift menyemangatiku
"Makasih semuanya..." kataku terengah-engah setelah berhasil masuk ke dalam lift
"Abis dari mana? Kayak di kejar setan aja larinya... sampai kaos kaki aja sampai kayak gitu!" Sapa salah satu karyawan
"Abis beli kopi buat pak CEO!" Kataku dan mengatur nafas yang tersengal serta kembali menunjukkan sikap berdiri karyawan teladan
Setelah pintu lift terbuka aku mempercepat langkah ke ruangan pak CEO yang sedang memain-mainkan kertas yang di jadikannya pesawat kertas. Sebelum melangkah masuk, aku kembali mengatur napas yang udah lumayan tenang.
"Permisi pak!" Aku mengetuk pintu dan mendorongnya
"47 menit 18 detik... lama banget!" Kata pak CEO dan segera mengambil kopi pesanan nya di tanganku
"Hari ini rapat di adakan di lantai 30 kantor presdir, saya akan segera menyiapkan berkasnya!" Kataku segera mengambil berkas yang di perlukan
"Makasih, trektirannya!" Kata pak Tian mengejekku
"Sama-sama bapak!" Aku menyakitinya dengan senyum ramah penuh dendam
Setelah pintu lift yang akan membawa pak CEO ke lantai 30, aku segera menuju lift untuk karyawan menyusul beliau ke lantai 30. Waktu pintu lift terbuka ternyata pak CEO sedang di aan berbincang oleh beberapa manajer perusahaan yang juga menghadiri rapat ini. Raut wajah Tian menunjukkan jika dia muak dengan sekumpulan tikus yang hendak menjilatnya, setelah puas menjilat para tikus ini pasti akan memakannya perlahan-lahan.
Ada yang menggigit di bagian kepala sampai berlubang, hingga memperlihatkan otak dari manusia angkuh ini. Ada yang menggerogoti tangan nya sampai ke tulang, dan ada yang menggerogoti isi perutnya yang penuh organ sedap. Darah yang mengalir dari tubuh angkuh ini menjadi minuman para tikus yang haus dengan kekuasaan. Semua tikus saling berebut ingin mendapatkan mata nya yang hanya ada dua, mata yang sangat menawan, seakan-akan membawa ketenangan dan melepaskan badai kapan saja dia ingin. Aku ingin menggenggam bola matanya itu hingga menjadi penyek, aku ingin melihat seberapa keras bola matanya yang selalu mencuri-curi pandang kepadaku setiap saat itu.
Bola mata yang selalu membuatku terusik saat bekerja, bola mata yang kadang menatapku dengan mesum. Aku sangat ingin mencongkel kedua bola mata itu dari tempatnya, aku ingin melihat seperti apa bola mata yang selalu menatapku itu dari dekat. Membayangkan nya saja bisa membuatku deg-degan tidak karuan seperti ini, bagaimana rasanya jika hal itu benar-benar kulakukan?
__ADS_1