
Kulihat wajah pak CEO merah padam, menatap pak Presdir yang sedang membantuku menghentikan pendarahan. Tangan pak CEO berdarah karena terlalu kencang menggenggam ujung meja, aku segera berdiri karena merasa tidak nyaman.
"Jika anda sudah sadar akan hal itu... maka berhentilah membuat keributan dengan memaksa saya datang ke tempat menjijikkan ini!" Kata pak CEO dan hendak pergi dari ruangan
"..." Aku segera menghalangi pintu dengan tubuhku agar CEO angkuh ini tidak keluar
"Aa yang kau lakukan... minggir dari hadapanku sekarang!" Katanya menatapku tajam dan membuatku sedikit gentar
"Ti... tidak akan! Saya telah menyeret anda ke sini dengan susah payah... saya tidak akan membiarkan singa yang susah payah saya tangkap...pergi begitu saja sebelum menyelesaikan urusannya di sini!" Balasku menatapnya namun kalah dengan wibawanya
"Sudahlah... biarkan saja dia pergi... kamu akan di tempatkan ke departemen yang lebih baik dari ini... segera siapkan..."
"Tidak bisa begitu! Saya telah terikat 3 tahun kontrak untuk menjadi sekretaris pak CEO... saya tidak akan menyerah hanya karena sifat keras kepala pak CEO!" Kataku memotong kalimat pak Presdir dengan lancang
Aku ingin mempertahankan gaji yang besar ini, tapi mulutku telah lancang memotong kalimat atasan yang paling berkuasa, gaji besar lepas di pecat pula. Aku tidak ingin melepaskan dua hal besar ini begitu saja, walaupun taruhannya adalah nyawaku. Satu bulan bekerja menjadi sekretaris pak CEO angkuh ini, telah bisa menghidupiku selama 6 bulan, bagaimana aku tega melepaskannya.
"Menyingkir dari pintu sekarang!" Kata pak CEO semakin kesal
"Sudahlah... lepaskan saja anak kurang ajar ini! Aku akan menempatkan posisi yang pantas untuk mu nanti!" Kata presdir memintaku menyingkir
"..." Aku menyingkir bukan karena permintaan pak Presdir, tapi karena tatapan pak CEO yang seakan-akan hendak menerjang pintu ny jika aku tidak menyingkir sekarang juga
"Brakkk..." pak CEO membanting pintu dengan amarah
"Pak tunggu saya!" Teriakku segera meraih tas di meja dan berlari mengikuti pak CEO yang segera melangkah masuk lift
Aku berhasil masuk ke dalam lift saat pintunya hampir menutup sepenuhnya, kulihat pak CEO menatapku marah karena mengikutinya. Tapi syukurlah beliau hanya diam, tapi harapannya membuatku tertekan, aku pun melangkah mundur ke belakang beliau karena takut dengan tatapannya. Sekarang biarkan aku yang menatap beliau dengan marah dari balik punggungnya, jangan lupa aku masih kesal karena luka di jidatku adalah perbuatannya. Aku menutup luka di jidat dengan aku tangan yang ada di dalam tas, nanti jika ada kesempatan baru ku obati.
__ADS_1
Hal yang penting sekarang adalah, aku harus mengikuti bos ku ini kemanapun beliau pergi, karena aku bertanggung jawab atas pekerjaan beliau. Saat pintu lift terbuka, beliau melangkahkan kakinya lebar-lebar karena ingin menghindariku, tapi aku terlalu gigih dan akupun mengikuti beliau dengan lari-lari kecil. Tapi sialnya beliau sangat ingin menghindariku, sehingga saat telah keluar dari bangunan mewah ini, beliau berlari menuju mobil yang terparkir. Aku kaget, entah sejak kapan dia mengambil kunci mobil itu, dari siapa? Dan darimana ia temukan? Udah kayak sulap aja nih orang.
"Kita mau kemana pak?" Tanyaku setelah duduk sambil mengatur napas di dalam mobil, yang sudah beliau nyalakan mesinnya
"Apa yang kau lakukan... cepat turun sekarang!" Katanya marah mengusirku yang sedang memakai sabuk pengaman
"Tidak akan!" Kataku dan segera berpegangan pada pegangan di atas kepala setelah sabuk pengaman berhasil menempel. Biasanya kalo di sinetron laki-laki nya pasti akan membawa mobil dan ngebut, makanya aku siap-siap duluan
"Kau..." kesalnya dan segera menginjak pedal gas
"Lah kok pelan pak?" Kataku kaget saat mobil jalan dengan kecepatan normal
"Emangnya kamu pikir bisa ngebut di tengah kemacetan gini! Punya otak nggak sih?" Kesal pak CEO padaku
"Lah iya juga ya...! Maaf pak saya terlalu banyak baca novel.. hehehe!" Kataku malu melihat barisan mobil yang mengepung kami
"Hisssss..." desis ku saat luka di jidat kembali berdarah
"Maaf..." katanya sangat pelan
"Bukan masalah besar juga! Seharusnya saya yang meminta maaf kepada bapak, karena telah memaksa bapak untuk melakukan hal yang tidak bapak sukai... saya benar-benar meminta maaf!" Kataku menatap nya dan meminta maaf secara tulus
"Kalau begitu kamu bisa turun sekarang!" Kata beliau dan menepikan mobil
"Tidak akan!" Kataku segera berpegangan kembali
"Bukankah kamu bilang kamu menyesali perbuatanmu! Kalau begitu silahkan turun..." katanya membukakan pintu untukku keluar
__ADS_1
"Tidak akan! Saya tidak mengatakan jika saya menyesali perbuatan saya... saya hanya meminta maaf, karena telah memaksa bapak! Jika saya menyerah sekarang... saya akan kehilangan gaji besar yang tercantum di atas kontrak...saya tidak mau jika gaji sebesar itu lepas dengan mudah!" Kataku jujur sambil terus berpegangan erat
"Kau... hanya karena nominal yang tertera di atas kertas, membuat mu mempertaruhkan nyawa! Aku tidak percaya... ada orang sebodoh ini!" Kata pak CEO merendahkanku
"Saya memang bodoh... Tapi saya tidak akan melepaskan mangsa besar yang telah berada dalam genggaman saya lepas dengan mudah! Lagipula saya kerja untuk mencari uang... Jika saya mati pun saya tidak akan menyesal karena telah di gaji sebesar itu! Lagipula masa kontrak ini hanya 3 tahun bukannya seumur hidup..." kataku bangga dengan diriku yang bodoh ini
"Ahaha... Apakah kau berniat menjinakkan ku dalam waktu tiga tahun? Itu mustahil!" Katanya membuang muka
"Kata siapa saya ingin menjinakkan bapak! Saya hanya ingin berteman dengan seekor singa yang sulit mengendalikan emosinya saja!" Kataku dan kembali menutup pintu mobil
"Wanita yang hanya mengandalkan kata-kata sepertimu hanya akan kalah sebelum mengayunkan pedang..." katanya dan kembali membawa mobil pergi
"Untuk apa saya mengayunkan pedang... Jika ada pistol di genggaman!" Kataku membalas kalimatnya
"Hahaha... Aku menantikan pertarunganmu!" Tawanya pecah
"Sebelum saya bertarung! Maukah bapak menjadi partner saya? Jika bapak menolak tawaran ini... mungkin bapak tidak akan pernah melihat pertarungan saya!" Kataku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan beliau
"Kenapa?" Tanya pak CEO penasaran
"Karena... Jika saya lepas dari kontrak itu... saya akan memilih hidup bebas menikmati kehidupan saya, tanpa hasrat besar seperti sekarang... asal bapak tau! Saya menerima pekerjaan ini karena bayarannya tinggi!" Kataku dan tersenyum manis
"Semua wanita memang matrealistis!" Katanya dan menjabat tanganku
Sepakat, mulai sekarang kami adalah partner kerja yang terikat kontrak selama 3 tahun. Asalkan beliau sepakat maka aku tidak akan menyerah untuk melepaskan tangkapan besar ini, sedari awal aku hanya ingin menjinakkan uang saja. Aku tidak berniat menjinakkan manusia atau siapapun itu, karena obsesiku akhir-akhir ini hanya lah uang dan menginginkan kebebasan secepat mungkin.
Mobil berhenti di sebuah apotek, beliau berniat membantuku menghentikan pendarahan di jidat, yang sudah mulai mengering. Aku juga meminta beliau mengobati luka di telapak tangannya, yang tidak terlalu parah bagiku, tapi mungkin saja sakit. Awalnya beliau menolak, tapi akhirnya mengalah saat aku menariknya duduk untuk di obati setelah mukaku di obati. Kata dokter luka di jidatku ada kemungkinan memiliki bekas, tapi jika aku rutin mengoleskan obat yang di rasakan dokter, bekas luka ini mungkin akan hilang.
__ADS_1