JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
AWAL MULANYA


__ADS_3

Setelah selesai menghabiskan semua hidangan yang ada di atas meja Tian sempat berlari ke kamar kecil untuk memuntahkan muatan perutnya yang terlalu penuh. Bukannya merasa kasihan aku hanya bisa menertawakan wajah pucatnya saat masuk ke mobil, terlihat kekesalan di wajahnya. Mungkin karena kesal Tian seakan-akan mengabaikan ku sepanjang perjalanan pulang yang tentu saja tidak akan kuhiraukan, karena aku sedang dalam kondisi hati yang sangat-sangat senang.


Sesampainya di rumah Tuan segera masuk ke ruang kerjanya benar-benar mengabaikan ku. Rasanya aku mulai merasa bersalah pada Tian yang tambah kesal karena tidak kuhiraukan sejak di perjalanan pulang. Walaupun merasa bersalah, tidak sedikitpun aku berniat meminta maaf terlebih dulu padanya, malah aku semakin terbahak-bahak di kamar karena tingkah kekanak-kanakan nya.


"Nyonya!"


"Ada apa?"


"Waktu nyonya pergi tadi, ada paket dari keluarga nyonya di kampung..." Ica menyerahkan paket yang katanya untukku


"Hemmm... Makasih ya Ca!"


"Sama-sama nyah! Kalo gitu saya kembali kebawah ya nyah!... Kalo ada perlu panggil aja saya!"


"Sip..."


Setelah menerima paket dari Ica aku segera membukanya penasaran apakah isi dari paket tersebut. Seingatku tidak ada barang spesial yang harus di kirimkan dari kampung oleh keluargaku. Aku juga tidak pernah memesan sesuatu deh, soalnya kehidupanku di sini sangat berkecukupan bahkan lebih dari kata cukup.


"Ya Allah... Ini kan pisau yang dulu... Udah berapa lama ya ni pisau pisah dari gue..."


"...tapi bukannya dulu ni pisau ilang ya? Syukurlah kalo udah ketemu... Udah lumayan kangen juga sih sama ni pisau...!"


Kalo diingat-ingat lagi, dulu aku pernah punya keinginan ngoleksi pisau dan benda-benda tajam lainnya. Dan pisau yang sekarang kupegang adalah koleksi pertama sekaligus terakhirku yang sangat berharga. Karena berkat pisau ini dulu aku pernah hampir bunuh orang demi membela diri tentunya. Sejak hari berdarah itu, Abah marah besar dan menyita pisau ini, entah di taro di mana yang jelas aku udah lupa kalo dulu aku pernah bunuh orang.


"Tapi maksud Abah balikin ni pisau apa ya?... Jangan bilang... Stop berpikiran yang nggak-nggak..."

__ADS_1


Aku beranjak menuju lemari pakaian untuk menyembunyikan pisau ini, niatnya agar ni pisau nggak bakal di gunakan lagi kedepannya. Bukan karena trauma gara-gara pernah hampir bunuh orang, aku hanya tidak ingin mengusik ketenangan keluarga yang kumiliki sekarang dengan hal-hal tidak berguna.


"Btw... Kayaknya Tian masih marah deh..."


"Duh... Jadi makin merasa bersalah nih!!!"


"...yaudah deh! Gue duluan aja kali ya, yang minta maaf... Tapi emang gue kan yang salah duluan... Hihihi... Gemes deh jadinya!!"


Setelah menyimpan pisau di tempat yang tersembunyi, aku segera berlari keluar kamar untuk menghampiri Tian di ruang kerjanya. Tapi saat aku baru hendak menuruni tangga punggung Tian malah menghilang di pintu depan.


"Bik! Tian mau kemana?"


"Oh... Itu, katanya tuan harus kembali ke kantor karena ada rapat... Kenapa nyah?"


"Bukan apa-apa!!" Tapi sepertinya wajahku menunjukkan ada apa-apa


"Nggak usah bik! Saya balik ke kamar aja..." Jawabku lesu


Rasanya seperti ada yang mengambil jantungku karena rasa kekosongan yang ku rasakan saat menutup pintu kamar terasa begitu hampa. Tanpa sadar aku malah nangis dengan alasan yang tidak jelas, aku juga tidak tahu kenapa sebenarnya dadaku terasa sesak dan sakit, seakan-akan ada ribuan semut melewati hatiku.


"Kok jadi mewek sih... Huhu..."


Masih menyander di pintu kamar aku menangisi hal yang tidak jelas, bahkan tubuhku sampai merosot pasrah. Karena tidak tahu menangis karena apa, aku berusaha meredam suara tangisku dengan membekap mulut sekuat tenaga, hingga membuatku semakin sedih. Pikiranku berlalu lalang dengan ketakutan dan kebahagian, kedua hal itu silih berganti merasuki pikiranku hingga membuat diri ini merasa lelah dan lelah.


Aku bangkit dari posisi lemah ini dengan bersusah payah menuju kamar mandi. Berharap bisa menenangkan pikiran dengan berendam di dalam bathtub. Setelah bak terisi penuh tubuhku bergerak sendiri memasuki bathub tanpa melepaskan pakaian dan mulai berusaha menenangkan pikiran. Tanpa terasa aku mulai mengantuk dan tidak lama setelahnya aku tertidur di dalam bathtub dengan posisi seluruh tubuh terendam kecuali kepala.

__ADS_1


***


Entah berapa lama aku berendam, yang jelas aku terbangun saat berada di dalam pelukan Tian yang membawaku menuju kasur. Wajah Tian terlihat khawatir, rahangnya mengeras membuatku tersentuh. Aku mengalungkan tanganku di lehernya dan membenamkan wajah di dada bidangnya. Tian menghentikan langkahnya dan menatapku yang ada di dalam pelukannya masih dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Kamu... Sebenarnya kamu kenapa sih sayang... Kamu ngerasa nggak kalau kamu dari tadi siang bersikap aneh nggak jelas.. sekarang entah berapa lama kamu berendam di air dingin sampai ketiduran..."


"Maaf..." Potong ku karena malas mendengarkan omelannya


"Kamu pikir dengan minta maaf bisa bikin aku nggak marah gitu... Sayang!!! Walaupun kamu nggak peduli dengan tubuh kamu sendiri... Tapi kamu harus ingat, kalau aku peduli dan khawatir sama kamu... Apalagi sekarang kamu lagi hamil..."


"Awalnya aku juga nggak berniat tidur..."


"Diam! Aku belum selesai marahnya... nggak usah masang wajah imut gitu, sekarang aku lagi marah! Nggak mempan kamu bujuk bagaimanapun..."


"Yaudah kalo gitu turunin aku... Kamu pikir cuma kamu yang bisa marah! Aku juga bisa! Turunin nggak..." Balasku marah memintanya menurunkan ku dari gendongan hangatnya


"Ohooo... Sekarang kamu berani ngelawan gitu! Bagus! Bagus! Kamu mau bikin aku tambah marah!" Bukannya menurunkanku Tian malah semakin mengeratkan gendongannya


"Kamu pikir nggak dingin apa pakai baju basah gini... Mana AC nya juga nyala..." Berontak ku dan berhasil lepas dari pelukannya serta mendarat di kasur dengan mulus


"..." Tian terlihat kaget saat tubuhku terhempas di kasur


"Minggir! Aku mau lewat..."


"Mau kemana lagi... Kamu masih mau bikin aku tambah marah..."

__ADS_1


"Apaan sih... Emangnya aku nggak boleh ganti baju apa... Minggir!"


Entah kenapa rasanya sangat puas sekali setelah marah-marah, walaupun hanya sedikit tapi bagiku sudah sangat memuaskan. Sampai-sampai aku mikirnya jika marah-marah adalah bagian dari diri seorang perempuan, sumpah rasanya benar-benar puas bisa marah. Di luar pintu Tian menggedor-gedor pintu sambil ngomel kepadaku yang sibuk mengganti baju, pintunya sengaja di kunci biar Tian nggak bisa masuk.


__ADS_2