JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?

JODOH! KAPAN KITA AKAN BERJUMPA?
HANYA MIMPI


__ADS_3

***


"kenapa semuanya gelap!" Kataku dan entah kenapa suaraku bergema


Saat ini aku ada di sebuah tempat yang entah ruangan ataupun tempat terbuka yang luas. Yang jelas semuanya gelap tidak ada setitik pun cahaya di tempatku berdiri sekarang, bahkan aku tidak bisa melihat tanganku sendiri. Tapi samar-samar aku mendengar rintihan suara di tempat ini, rintihan itu terdengar sangat menyedihkan.


"Woi... Siapa disana! Kalo Lo setan jangan nyahut!" Teriakku melangkah mundur


"..." Tak ada sahutan sama sekali


"Waaahhh... Setan dari mana lagi nih yang nyari gara-gara denganku!" Kataku diam di tempat karena merasa takut


Kaki ku semakin gemetaran mendengar suara rintihan yang seperti suara tangis itu semakin lama semakin terdengar memilukan. Tapi rasanya aku mengenal suara rintihan itu, tapi aku harus melihat dulu apakah benar tebakan ku kali ini. Tapi sialnya sejak tadi tidak ada cahaya setitik pun di dalam kegelapan ini, hingga membuat dadaku terasa sesak.


"Aku menyukai kegelapan ini! Kuharap kegelapan seperti ini akan selalu menemani hari-hari ku!" Kata suara itu semakin meyakinkanku dengan tebakan di dalam kepala


"Lo manusia apa setan?" Tanyaku pada suara itu


"Aku membenci mereka semua! Tapi kenapa aku harus membenci mereka... Apa salahku hingga terjebak dalam belenggu sialan ini!" Kata nya lagi dengan nada marah


"Woi... Bisa denger gue nggak sih!" Teriakku gusar


Hening semuanya kembali hening dan menjadi dingin, tapi entah kenapa aku malah menikmati suasana menakutkan ini. Sudah lama aku tidak bisa mencari ketenangan senyaman ini dalam beberapa tahun terakhir. Jika ini mimpi kuharap tidak ada yang akan membangunkan ku dari tempat ini, aku menyukai tempat ini seperti kata anak kecil itu. Walaupun tempat ini asing dan gelap tapi aku menyukainya, aku betah tinggal di tempat gelap dan tenang seperti ini.


Tiba-tiba aku tersentak oleh sebuah cahaya dari lentera yang di bawa seseorang menuju ke arahku. Dari belakangku juga ada cahaya dari lentera yang lebih terang hingga membuat ku bisa melihat sosok pembawa lentera redup di depanku. Air mataku luruh seketika saat sosok itu tersenyum menyambutku dengan wajah penuh kebahagiaan.


"Ain..." Kataku lirih dan melangkah menghampirinya


"Ru! Berhenti di sana!" Katanya membuatku menghentikan langkah kakiku yang baru beberapa langkah


"Tapi kenapa? Aku kan cuma mau liat kamu lebih dekat!" Kataku dan kembali melangkah


"Sayang... Kembali kesisiku!" Kata pembawa lentera terang yang ternyata adalah Tian


"Tian... Kamu ngapain juga ada di sini?" Tanyaku kaget menoleh padanya


"Sayang... Ingat kamu adalah istri aku bukan lagi pacar Ain!" Kata Tian yang terbagi menjadi dua


"Loh... Kok kamu jadi du...a..." Kalimatku mengambang karena Tian mulai terbagi lagi hingga menjadi 6 sosok


"Sayang! Kamu ikut aku pulang sekarang ya!" Kata mereka bersamaan dan mengulurkan tangannya


"Eh..." Aku kaget dan tanpa sadar melangkah mundur


"Ru! Lebih baik kamu ikut dia sekarang!" Kata Ain dari belakang yang membuatku berbalik menatapnya


"Nanti... Sebentar lagi! Aku mau bicara dulu sama kamu... Mumpung kita ketemu..."

__ADS_1


"Ru! Dunia kita udah beda... Lebih baik kamu pulang sekarang!" Kata Ain memotong kalimatku


"Ya... karena dunia kita udah beda, makanya aku mau bicara dulu sama kamu... mumpung kita ketemu!" Kataku dan hendak melangkah menghampirinya


"Kalian siapa? Kenapa berisik sekali di tempatku!" Kata anak kecil yang merintih di kegelapan tadi dengan marah


"Kamu... Kamu..." Kataku tergagap karena anak kecil itu memiliki wajah yang sama dengan wajahku waktu kecil


"Kamu apanya? Kalian semua nggak di terima di tempat ini... Pergi kalian semua..." Teriaknya marah dan membuatku terlempar yang segera di peluk Tian


"Ain... Ain kemana?" Tanyaku gusar karena sosok Ain dan anak kecil itu menghilang menyisakan aku dengan enam orang Tian


"Sayang! Mereka udah beda alam sama kita!" Kata Tian menyentuh wajahku serta memberikan tatapan penuh kasih


"Tapi..." Kalimatku tergantung saat tubuhku terasa ada yang menggoyang


****


"Sayang... Bangun sayang... Bangun..." Aku membuka mata dan yang pertama kali kulihat adalah wajah Tian


"Ain... Mana Ain?" Tanyaku mengedarkan pandangan ke seluruh kamar


"Ain? Sayang ini aku Tian suami kamu!" Kata Tian terdengar kesal


"Ukgghh... Maaf sepertinya aku kebawa mimpi..."


"Iya... Tapi kamu juga ada di mimpi aku... Sakit lepasin dong..." Rintihku berusaha melepaskan cengkraman Tian


"Kamu nggak bohong kan?" Katanya meragukan kalimatku barusan


"Ngapain aku bohong... Nggak jadi duit juga kan kalo aku bohongin kamu!" Kataku masih berusaha melepaskan cengkraman Tian yang mulai melemah


"Bukannya aku nggak percaya kamu... Tapi aku cuma nggak suka kamu mimpi in cowok lain!" Katanya dan menarikku ke dalam pelukannya


"Maaf... Lain kali kalo aku mimpi tentang cowok lain... Pasti bakal aku tolak kok!" Kataku dan membalas pelukannya


"Janji ya!" Kata Tian dan mengecup puncak kepalaku lembut


Aku mengangguk dalam pelukan hangatnya yang membuatku merasa tidak nyaman karena ada aroma parfum wanita lain di tubuhnya. Sepertinya Tian yang sekarang bukan Tian tadi siang, soalnya sikapnya sekarang lebih lembut dan agak cemburuan. Tian yang selalu membuatku tertawa dalam kondisi apapun, adalah Tian yang sekarang ini ada di dalam pelukanku.


"Aku nggak suka kamu!" Kataku saat merasa sakit kepala karena aroma parfum yang menyengat di tubuhnya


"..." Tian melepaskan pelukannya dan menatapku penuh tanya


"Yang tadi siang cewek kamu yang dari mana lagi? Aroma kalian juga tercampur gini... Bikin aku tambah pusing!" Kesalku mendorongnya agar menjauh


"Sa...sayang... Ka.. kamu udah tau semuanya? Sejak kapan kamu tau?" Tanya Tian mengarah pada masalah perselingkuhannya

__ADS_1


"Beberapa bulan yang lalu... Aku juga sempat mergokin kamu main di hotel sama artis yang baru naik daun itu loh!" Kataku menggodanya


"Sayang! Kamu harus percaya kalau itu bukan aku... Entah itu masuk akal atau nggak, yang jelas kamu harus percaya kalau itu bukan aku!" Kata Tian menatap tajam mataku


"Bukan kamu gimana? Jelas-jelas itu kamu... Emang kamu kira aku nggak tau wajah suami sendiri!" Kesalku padanya


"Akghh... Sayang kamu harus percaya..." Kalimatnya terhenti karena tiba-tiba Tian merintih kesakitan


"Tian... Kamu kenapa?" Tanyaku ketakutan melihatnya yang hanya diam setelah kesakitan


"Aku nggak... Sayang kenapa kamu bisa di infus gini? Kamu demam! Kenapa nggak kerumah sakit..."


"Wait... Kok baru kaget sekarang... Bukannya kamu tadi udah liat aku di infus... Kamu aneh ih!" Kataku semakin bingung karena tiba-tiba dia berganti lagi cuma kulitnya doang yang tetap sama


"Itu anu... Akgghhh..." Tian kembali merintih kesakitan


"Tian... Kamu jangan main-main gini dong... Tian..." Kataku mengguncang tubuhnya yang kembali diam


"Maaf say... Aroma apa ini... Kenapa ada aroma aneh gini sih di tubuh..." Kalimatnya terhenti serta menatapku


"..." Aku yang di tatap entah mau bingung atau ketawa


"Ukghh... Sayang! Aku mau jujur sama kamu..." Katanya gusar setelah beberapa saat hanya diam


"Bentar... Aku mau ketawa dulu...!" Kataku dan segera menutup wajah dengan bantal sebelum tertawa terbahak-bahak


Tawaku semakin menjadi-jadi saat mengulang-ulang kalimat Tian dalam pikiran ku, yang katanya hendak jujur padaku. Entah dia mau jujur tentang masalah yang mana, yang jelas sekarang aku ketawa dulu ajalah. Setelah puas tertawa aku melepaskan bantal dari wajahku dan mendapati ekspresi bingung dari wajah Tian yang sedang menatapku.


"Oke... Sekarang kamu mau jujur tentang apa?" Tanyaku masih sesekali menahan tawa


"Aku... Tapi kamu jangan kaget ya!" Katanya dengan wajah ragu


"Kaget? Tentang apa... Tentang perselingkuhan kamu yang udah menyebar kesegala penjuru Indonesia?" Tanyaku penasaran


"Bukan... Kalo masalah itu... Aku minta maaf karena udah nggak setia sama kamu... Tapi yang selingkuh bukan aku kok! Aku cuma cintanya sama kamu dan selamanya akan cinta kamu... Kamu percaya kan?" Kata Tian imut


"Ya...oke..." Kataku entah mengangguk atau menggeleng


"Jadi... Sebenarnya..." Kalimat Tian terhenti karena suara ketukan di pintu


"Siapa?" Kataku hendak turun dari kasur untuk membuka pintu


"Biar aku aja yang buka... Kamu duduk diam aja!" Kata Tian mencegahku turun dari kasur


"..." Aku menurut apa kata Tian karena kepala ku kembali terasa nyeri saat hendak bangkit dari kasur


Saat pintu kamar di buka, kakek segera menyeruak masuk ke dalam dan menghampiriku. Detik itu juga aku kembali memasang telinga untuk mendengarkan Omelan kakek yang tentunya karena mengkhawatirkan kesehatan ku saat ini. Seperti biasa, kakek akan ceramah panjang lebar padaku setiap kali aku sakit. Jika di tanya apakah aku bosan, sudah pasti akan kujawab sangat bosan. Karena nanti ujung-ujungnya kakek malah membahas tentang cicitnya yang belum lahir.

__ADS_1


Katanya aku harus menjaga kesehatan agar nanti jika aku mengandung cicit beliau dalam keadaan baik dan nantinya saat lahiran semuanya akan lancar dan baik-baik saja. Walaupun kalimat beliau benar tapi kan bosan kalo ujung-ujungnya kembali membahas masalah anak.


__ADS_2