
Tidak lama setelah pingsan, aku terbangun mendapati Tian yang sedang duduk memegangi tanganku. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah tampannya yang masih terlihat samar-samar. Kepalaku masih terasa sedikit sakit saat ini, hingga membuatku menebak jika sakit itu akan datang hari ini. Kuharap sakitnya tidak akan berlangsung lama seperti biasanya yang kurasakan dan aku lebih berharap hal itu tidak akan pernah terjadi.
"Sayang! Berapa lama aku pingsan?" Tanyaku berusaha duduk menyandar
"Kamu udah bangun... Nggak lama, nggak nyampe satu jam..."
"Maaf ya sayang! Aku marah tanpa memikirkan hal lain..."
"Jarang-jarang kan kamu bisa marah... Lain kali kalo ada masalah jangan di pendam sendirian lagi, aku siap jadi pendengar kamu kok!"
"..." Aku tersenyum menanggapi kalimatnya barusan
"Sayang, aku serius loh..." Dia merasa tidak ku percaya
"Iya aku tau..." Gemasku mencubit pipinya
"Emm... Ada yang pengen kamu makan nggak? Biar aku ambilin di dapur..."
"Nggak usah aku nggak laper..."
"Tapi kalo kamu mau makan sesuatu bilang ya!"
"Iya... Siap komandan!" Sahutku sebelum dia mencubit hidung ku
Saat kami sedang asyik-asyiknya bercanda dan bertukar tawa, tiba-tiba dadaku mulai terasa sesak. Awalnya memang ku abaikan tapi tidak berapa lama, penglihatan ku menjadi gelap seluruhnya. Aku merasa buta sesaat, sebelum Tian mengguncang tubuhku karena aku diam tidak bereaksi.
"Sayang! Kamu kenapa?"
"Hemm..." Kepalaku jadi makin sakit
"Ada yang sakit? Dimana..."
"Nggak... Aku cuma..."
__ADS_1
Rasa sakit dan sesak kembali menghampiri tubuhku, kepalaku terasa sangat berat, hingga hanya ada kegelapan yang kulihat. Tian yang panik melihat ku tiba-tiba mengerang kesakitan, segera ribut memanggil Abah. Abah yang menyeruak masuk ke dalam kamar segera menghampiri ku dan menggenggam erat tanganku. Air mata karena sakit tidak bisa ku cegah turun membasahi bantal yang menutupi wajahku.
Aku membenamkan wajahku di bantal berusaha menahan rasa sakit dan agar meredam suara teriakan kesakitan ku. Walaupun saat ini penglihatan ku hanya ada kegelapan, aku mengetahui jika Abah dan semuanya pasti sedang menatapku penuh ke khawatiran. Harapanku hanya satu saat ini, aku tidak ingin di larikan ke rumah sakit, karena aku memang tidak sakit apa-apa.
Napasku terasa semakin hilang dan sesak, hingga menimbulkan efek kejang beberapa saat. Hanya sebentar tapi sangat mempengaruhi emosi Tian yang kalang kabut melihat kondisiku saat ini. Aku juga memegangi perut besarku yang terasa sedang menyerap sesuatu, semua indra di tubuhku menjadi semakin sensitif. Saat ini aku sedang merasakan kehadiran sosok lain di tengah-tengah kami para manusia, bahkan aku bisa mencium aroma busuk darinya.
"Bah! Aku udah nggak kuat liat Ruka kayak gini! Kita bawa ke rumah sakit..."
"Abah nggak setuju!" Tolak Abah tegas
"Tapi bah... Ruka, lagi kesakitan kayak gini, aku nggak bisa tenang!"
"Kalo kita bawa ke rumah sakit, mungkin pihak rumah sakit akan mengeluarkan dengan paksa anak kalian... Abah, nggak akan biarin Ruka tambah sedih hanya karena kamu gegabah!" Kata Abah tajam memarahi Tian
"Tapi Ruka, sekarang sudah jadi istri aku bah! Aku berhak membawanya ke rumah sakit... walaupun Abah melarang!" Kata nya tidak kalah tajam
"A...Abah...." Lirihku berharap mereka berhenti ribut
"Aku... Nggak mau ke rumah sakit... Ge...gejalanya nggak akan lama... Aku mau di rumah aja..." Bisikku lirih dengan menahan sakit yang masih mendera
"Sa...sayang, kita ke rumah sakit ya?" Bujuk Tian
"..." Aku menggeleng dengan mata terbuka yang hanya bisa melihat kegelepan
Rasa sakit ini, entah kenapa selalu hadir setelah aku selesai menangis mengingat semua kejadian masa lalu yang kelam. Aku lelah dengan rasa sakit yang tidak berdasar ini, aku juga sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh, tapi tidak di temukan satupun penyakit di tubuhku. Bahkan dokter mengatakan jika aku memiliki daya tahan tubuh yang sangat bagus melebihi 75% orang dengan daya tahan tubuh yang bagus. Mungkin rasa sakit yang kurasakan saat ini adalah rasa sakit yang berhubungan dengan yang gaib-gaib.
Setelah setengah jam aku menahan rasa sakit yang seperti nyawa tercabut dari badan ini, akhirnya kondisiku kembali normal. Badanku memang sedikit panas, bahkan peluh sudah membanjiri tubuhku yang tergeletak di kasur. Aku baru ingat, jika ini adalah pertama kalinya rasa sakit ini datang di saat ada orang-orang di sampingku, bukan saat aku hanya sendirian.
"Sayang..." Tian segera menghampiri tubuhku yang sudah terlihat stabil
"Aku nggak apa-apa kok!" Aku tersenyum berharap agar wajah paniknya berangsur-angsur membaik
"Nak! Kita pulang ke kampung yuk! Biar Abah cariin obat..."
__ADS_1
"Bah! Aku nggak sakit..."
"Abah tau... makanya kita perbaiki energi spiritual di dalam tubuh kamu di kampung! Supaya kedepannya kamu nggak sakit lagi..."
"Energi spiritual? Maksud Abah..."
"Abah pasti ngelantur kan?" tanyaku berusaha menampik kalimat barusan
"..." Abah diam karena malas menjelaskannya pada kami berdua
Tian memintaku beristirahat, setelah semua kekhawatiran sedikit reda. Aku juga segera istirahat agar tenagaku pulih kembali, seperti biasanya. Mengenai energi spiritual yang di katakan Abah aku sih biasa-biasa aja menanggapinya. Soalnya aku juga percaya dengan hal-hal yang gaib, walaupun kadang aku tidak peduli dengan hal-hal yang berbau ke arah sihir atau apalah itu. Yang jelas aku percaya dengan hal-hal yang gaib karena keberadaan Allah SWT. juga termasuk hal yang gaib kan?.
Tian beranjak ke kamar mandi, mungkin dia ingin mencuci muka yang terasa kaku, katena terlalu mengkhawatirkan ku. Saat Tian masih berada di kamar mandi, tiba-tiba remote tv melayang di udara membuatku tercengang. Setelah tv menyala, remote terlempar ke arahku yang hampir membentur perut besarku yang untungnya sempat ku halangi dengan bantal.
"Sayang..."panggil Tian yang entah melihat atau tidak kejadian itu
"Hah... Kenapa?" Tanyaku gelagapan
"Kamu kenapa?" Dia menghampiriku
"Aku nggak kenapa-napa kok..."
"Kalo masih sakit, kita ke rumah sakit sekarang..."
"Nggak usah... Lagian dokter juga nggak akan tau penyebab sakit aku!"
"Aku pikir kamu nggak percaya sama hal-hal yang gaib!"
"Sayang... Aku percaya sama hal-hal yang gaib juga karena Allah... Bukan kerena teori manusia kok!"
"..." Dia tersenyum dan mengelus kepalaku
Karena ada kejadian barusan, hari ini tidak ada acara jalan-jalan yang kuharapkan bersama Abah. Semua rencana hari ini batal total karena Tian khawatir aku akan kelelahan jika pergi keluar. Abah juga tidak mengijinkan ku pergi kemana-mana, karena takut bahaya apalagi dengan kehamilan anak kembar ku sekarang ini. Dan aku hanya bisa pasrah dengan semua yang mereka katakan.
__ADS_1