
Tiga hari telah berlalu dengan cepat...
Selama tiga hari ini pula aku hanya mengurung diri di kamar. Bahkan makanpun menjadi sangat malas, karena kejadian memalukan hari itu. Yang jelas memalukan bagiku, karena itu adalah pertama kalinya aku salah gandeng orang di tempat umum. Bahkan stres yang kualami sekarang hampir mendekati kata depresi berat, untung saja akalku masih waras sehingga aku segera sadar dari kelakuanku sekarang. Nanti siang aku harus pergi ke kampus karena sekarang giliran kelompok kami yang praktek di depan semuanya.
"Ru!! itu Putri udah nungguin di depan!" kata Dewi di depan kamarku
"Bentar lagi..." sahutku tanpa semangat sedikitpun
"Lo mau makan dulu nggak?" tanya Dewi membuka pintu kamar saat aku masih linglung di kamar
"Hah... apa? ... kayaknya gue langsung cabut aja deh!!" kataku segera bangkit dari duduk
"Lo kenapa sih? akhir-akhir ini gue liat kayak mayat hidup aja tingkah Lo!!" kata Dewi memegang pundakku
"Nggak apa-apa!!" kataku dengan tatapan kosong menatap lantai lalu segera berjalan keluar kosan
"Kalo ada masalah cerita dong ke gue!!" kata Dewi yang mengikutiku dari belakang
"Hmmmm..." sahutku sambil membuang napas berat
__ADS_1
"Put! tolong jagain ya!!" kata Dewi saat aku naik di jok belakang
"Tenang Ruka pasti selalu dalam pengawasan ku... Assalamualaikum!!" kata Putri segera tancap gas
"Wa'alaikumsalam... hati-hati di jalan!!" sahut Dewi sedikit teriak
Sepanjang jalan menuju kampus aku melamun dan menatap kosong ke samping kanan. Putri mengajakku bicara, namun aku malas menyahuti hingga sekarang dia bicara sendirian, namun masih kudengarkan. Walaupun biasanya aku terlihat melamun dan kosong tapi kewaspadaan diri nggak pernah melemah sedikitpun. Bahkan bagiku saat melamun dan kosong semua inderaku terasa lebih sensitif daripada saat aku sadar.
Setelah sampai di kampus, Putri segera menarikku menuju ruang serba guna menuju pertemuan kelompok kami untuk melakukan gladi bersih. Di dalam ruangan semua orang telah berkumpul, hanya menunggu kami berdua saja lagi. Dalam praktek kali ini aku bertugas sebagai pelaku yang diadili atas perbuatanku sendiri. Ceritanya, masalah yang akan kami tampilkan mengenai pembunuh berantai yang terjebak oleh siasat polisi dan detektif untuk menangkap pelaku, tapi pertanyaannya benarkah diriku pelaku sesungguhnya atau aku hanya pengganti!
"Assalamualaikum..." kata kami bersamaan saat melangkah masuk
"Udah lama ya?" tanyaku dan segera duduk di kursi pelaku
"Nggak juga!" sahut Anya pengacaraku
"Oke! karena kita semua udah berkumpul maka Galdi bersih ini di harapkan untuk teman-teman semua agar menampilkan kemampuannya sesempurna mungkin!" kata Rian yang bertugas sebagai hakim
"Baik semuanya!! mari kita tos dulu untuk memberikan semangat kepada diri sendiri!" katanya lagi meminta kami membuat lingkaran
__ADS_1
"SEMANGAT!!!" teriak semuanya penuh energi
Aku memperhatikan jalannya pengadilan ini dengan serius, saat di tengah-tengah pembahasan aku udah bisa liat jika pengacaraku akan kalah jika tidak bisa menunjukkan sedikitpun keyakinan atas teori yang dimilikinya. Jaksa penuntut yaitu Putri dan Jihan sebagai sekretaris jaksa penuntut sebenarnya terlihat tidak kompak, dan itulah titik lemah argumen mereka. Tapi karena Anya terlihat sangat gugup dan getar-getir saat menyampaikan argumennya, sehingga sangat mudah untuk di serang. Semua argumen yang di katakan Anya sangat masuk akal dan sulit di bantah jika Anya mengatakannya dengan penuh keyakinan. Tapi karena dianya gugup jadi terlalu mudah untuk di serang oleh jaksa yang terlihat tidak kompak itu.
"Anya... semangat! jangan gugup gitu dong!" kataku menyerahkan air mineral kepadanya saat istirahat
"Iya betul... Lo keliatan banget kalo gugup barusan! makanya bisa diserang lawan Mulu dari tadi" kata Putri menambahkan
"Gue nggak bisa! gimana dong Ru? gue nggak bisa mengendalikan diri gue agar jangan gugup!" kata Anya terlihat sedikit stres
"Coba Lo tarik napas dalam-dalam dulu... biar sedikit tenang..." kataku sambil mencontohkan caranya
"Kita tukeran tempat aja gimana? gue nggak bisa dan nggak yakin sama diri sendiri!" katanya memelas padaku
"Gimana ya... kita juga harus meminta persetujuan semuanya!" kataku sedikit bingung
Karena Anya benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya, kami semua pun merembukkan lagi masalah pertukaran posisi. Dan akhirnya Aku di tunjuk sebagai pengacara sedangkan Anya di tempatkan sebagai saksi dalam jalannya sidang. Untuk korban di gantikan Budi yang tempat awalnya di posisi Anya sekarang. Gladi bersih kali ini benar-benar bersih membuat para pemain ganti, awalnya aku hanya ingin menjadi penonton tapi. Ya udahlah... udah terlanjur juga! mana yang pernah baca teori Anya hanya aku dan putri, jadinya akulah yang di tunjuk sebagai pengacara pengganti.
Dari detik pergantian pemain, aku berusaha semaksimal mungkin untuk meresapi dan mendalami peran ku di permainan kali ini. Seorang Ruka tidak boleh kalah jika berargumen dengan seseorang, mau itu masuk akal ataupun tidak. Gladi bersih dilakukan sekali lagi, dan hasilnya cukup memuaskan, hingga aku udah Fix menjadi pengacara dalam permainan ini.
__ADS_1