
Pulang dari kantor mbak Rani mengajakku dan beberapa karyawan lainnya termasuk Lisa, untuk merayakan kenaikan jabatan mbak Rani. Kata mbak Rani terserah mau makan di restoran mana saja yang kami mau, karena terserah. Aku mengusulkan kami makan di restoran bintang 5 yang ada di dekat hotel bintang 5 paling wah se Indonesia. Mbak Rani tidak menolak usulku, berarti mbak Rani emang udah siap mental dan kantong untuk mentraktir kami makan enak. Akhirnya setelah 3 tahun tinggal di Jakarta, malam ini aku akan mencicipi gimana rasa masakan bintang 5, kuharap tidak lebih enak masakan pinggir jalan yang biasa menjadi langganan ku makan bersama Ain.
Stop mikirin Ain, dia udah tenang di saa dan aku juga harus hidup tenang di dunia ini, Ain, Ain, Ain... Kenapa setiap kali melakukan apapun selalu teringat Ain si peminat hati ini. Saat memasuki restoran yang lainnya terkagum-kagum melihat kemewahan yang ada di restoran ini, aku juga sempat tercengang, tapi nggak selama mereka. Mbak Rani terlihat lancar memesan meja untuk kami, saat berhadapan dengan pelayan di restoran ini, mungkin mbak Rani udah sering makan disini.
"Kita ke lantai dua!" Kata mbak Rani meminta kami naik ke lantai dua restoran
"Dan! Lo bawa duit banyak kan? Jangan sampai kita selesai makan karena lo lupa bawa dompet kita semua diminta cuci piring!" Kata Mona bercanda
"Tenang aja kali! Kan kalo uang gue nggak cukup kita bisa gadai in lo, yang paling banyak lemaknya! Siapa tau ni restoran mau bikin menu baru dari daging manusia!" Canda mbak Rani membuat kami tertawa
"Wah kayaknya enak tuh kalo menununya Mona panggang!" Canda Rita yang segera kena timpuk Mona
"Lo mah! Sekalian aja sushi Mona!" Kesal Mona
"Wah bener juga tuh..." sahut Zia yang mengundang tawa
"Pesen aja apa yang kalian mau... Tapi untuk menu Mona! Belum tersedia kata nya!" Kata mbak Rani kembali mengundang tawa yang udah sedikit rasa
__ADS_1
Awalnya aku ingin duduk di pojokan, tapi karena di tarik mbak Rani duduk di sampingnya, mau nggak mau aku jadi duduk di tengah. Saat ini kepalaku terasa sedikit sakit, kerena biasanya efek samping dari kejadian tadi pagi kambuh lagi, tadi pagi aku minum obat buat meredakan pusing akibat nggak tidur. Semuanya terlihat bahagia sekarang, tapi entah kenapa hatiku terasa hampa dan kosong, walaupun ikut tertawa dan bercanda. Tapi kekosongan dari dalam diriku tidak bisa di anggap remeh begitu saja.
Saat makanan datangpun, kami masih asik bercanda ria, malam ini aku ingin bermain sepuasnya, agar kesendirian tidak menghampiriku. Aku menutupi kehampaan yang ku rasakan dengan banyak bercanda dengan yang lainnya, walaupun tertutupi dari mata mereka, tapi tidak bisa tertutupi dari perasaanku yang sesungguhnya.
Aku bermain sampai lupa waktu seperti ini, jam di tanganku telah menunjukkan pukul 11 lewat, hingga membuatku sedikit kelabakan, karena nggak biasanya aku bisa lupa waktu kayak gini. Aku segera berpamitan dengan rombongan yang ingin melanjutkan bermain ke tempat lainnya setelah puas di ytempat karaoke. Lisa yang melihatku agak tergesa-gesa pulang, malah ikut pulang denganku karena dia ingin mengantarku, sekalian katanya ada yang mau di bicarakan.
"Ru! Lo kok nggak ngirim berkas kemarin?" Tanya Lisa setelah mobil menyusuri jalan pulang
"Gue udah ngirim! Tapi nggak tau ngilang kemana!" Kataku memijit kepala yang sakit
"Lo nggak curiga sama Rani atau maya gitu!" Kata Lisa membuatku sedikit kaget
"Mau gue bantu mengungkap dalang di balik hilangnya berkas lo?" Tanya Lisa menoleh padaku yang sibuk memijit kepala
"Nggak usah! Lagian gue juga udah mau berhenti! Kontrak gue bulan depan udah selesai!" Kataku mengambil minyak kayu putih pemberian Lisa
"Ru! Sayang banget kalo lo berhenti... gue denger lo juga udah banyak membantu departemen yang selalu kacau itu!" Kata Lisa sedikit membuatku kaget
__ADS_1
"Kacau gimana maksud lo?" Tanyaku penasaran
"Sebelum adanya lo di departemen itu... pekerjaan di departemen lo itu selalu tidak becus! Dalam setiap laporan tahunan pasti departemen lo itu paling banyak bikin salah... Tapi setelah lo datang dan mulai menunjukkan bakat di tahun kedua kerja... seakan-akan dunia terbalik! Dari yang dulunya punya gelar nggak becus berubah menjadi departemen terbaik! Itu semua berkat kehadiran lo di sana!" Kata Lisa sedikit berlebihan nggak sih
"Yang bener..." Aku meragukan apa yang di katakan Lisa
"Emangnya lo nggak baca sejarah di departemen lo itu?" Tanya Lisa gemas
"Baca, cuman gue nggak terlalu ambil pusing masalah masa lalu kek gitu!" Kataku mengatakan perasaanku saat membaca riwayat departemen di tahun pertama kerja
"Kalo lo bosan sama kantor yang gitu-gitu aja! Coba deh kirim cv lo ke perusahan pusat... si aa tau di terima, kan prestasi lo udah banyak!" Saran Lisa yang sepertinya akan ku pikirkan
"Oke, gue pikir-pikir dulu deh!" Kataku bersamaan dengan sampainya kami di parkiran gedung apartemen
Percakapan berakhir sampai di depan pintu apartemen masing-masing, Hari ini aku sedikit lega, karena Aji ataupun ibunya tidak muncul secara tiba-tiba di depanku lagi. Aku segera masuk ke dalam, takut kalau lama-lama di luar Aji ataupun ibunya melihatku, bisa rumit urusannya. Untuk Aji, dari sudut pandang dia terlalu gigih untuk mendapatkan perhatianku, perhatian nya emang dapet, tapi rasa eneg juga dapet. Pengen pindah apartemen jadinya, tapi mengingat jika aku udah nyaman dengan tempat tidur di apartemen ini, masalah ingin pindah pikir nanti-nanti lagi deh.
Besok lusa harusnya abah sama mama bakal datang ke apartemen ku, karena beliau berdua harus mengikuti pelatihan sebelum berangkat ke tanah suci. Aku sengaja memilih tempat pelatihan yang ada di Jakarta, biar abah sama mama bisa jalan-jalan di Jakarta selama beberapa hari dulu. Aku ingin memperlihatkan, jika anaknya selama ini hidup enak di tempat perantauan yang keras ini. Semoga mama dan abah tidak kecewa dengan pencapaianku kali ini, kuharap mereka juga bisa bernafas lega setelah mengetahui bagaimana kehidupan ku di kota perantauan.
__ADS_1
Setelah membersihkan tubuh aku langsung terjun ke atas kasur berharap waktu cepat berlalu dan besok lusa tiba dengan cepat. Aku udah nggak sabar ingin menunjukkan kota Jakarta kepada mereka, sekalian, aku ingin mengajak mereka mengunjungi makam nenek yang telah merawat mama sejak kecil hingga memiliki anak. Nenek yang menjadi keluarga pertama ku di pulau jawa itu telah wafat di usia senjanya, dengan senyum bahagia karena salah satu cucunya yang tidak pernah ditemuinya. Datang ke kota kelahiran beliau dengan gelar sarjana serta memiliki pekerjaan yang menjanjikan.
****